
"Sudah mas, sepertinya dia tau kau sedang menyentuhnya, ini akan semakin menjadi." Reva terlihat kesulitan.
"Oh baiklah, dia nakal sekali." Aldo beranjak kembali duduk merangkulnya.
"Mas Al, makannya udah siap!" Terdengar teriakan maut dari Bi Tuti, suaranya dahsyat sekali, satpam diluarpun kalau makan langsung di teriakan oleh Bi Tuti.
"Ayo sayang, kita makan bersama. Mungkin si kecil ini juga lapar." Aldo menunjuk perut Reva yang membuncit.
"Sayang nanti malam aku ke Cafe, aku harus bicara dengan Anggara, juga ada Abidzar yang perlu bicara dengan David, karena besok Senin Abidzar akan menyerahkan kuasa sementaranya pada Ayu. jadi lusa akan menjadi hari pertama Ayu bekerja di perusahaan barunya." Aldo mengakhiri makan sorenya. Sedikit melirik reaksi wanita cantik itu tak ada jawaban, dia terus mengunyah makanan dengan nikmat sekali membuat Aldo berpikir berbagai hal.
Lama tak ada yang berbicara, hingga makanan ibu hamil itu habis dia menyandar dengan wajah yang segar. "Sudah kenyang sayang?" Aldo mendekatkan wajahnya.
Reva mengangguk mengukir senyum di wajah Aldo. Sungguh itu membuatnya lucu, tak pernah terbayangkan gadis bertubuh kecil lembut dan cantik itu kini sudah tampak gendut dan semakin besar. "Kita cek ke dokter lagi hari Senin." Aldo melihat wajah itu.
"Sekalian aku ingin membeli kurma mas." Reva memiliki ngidam yang baik, semenjak mengandung, dia bisa menghabiskan berbagai macam makanan tanpa rasa mual atau muntah.
"Kalau kurma tak usah menunggu Senin sayang, aku akan mencarinya nanti." Aldo menatap wajah itu dengan iba, akan terlalu lama jika menunggu lusa, bahkan keinginan kecil baginya adalah harus di penuhi.
"Akan sulit menemukannya jika tidak bulan puasa." Reva membalas tatapan itu dengan manja.
"Kata siapa? Aku pasti akan menemukannya. Mungkin di toko khusus buah ada, atau aku akan online dari Arab." Aldo mengajaknya bercanda.
"Itu jauh sekali." Reva ikut tertawa mendengar candaan itu.
"Untuk anak dan istriku pasti akan ku beli." Aldo merayunya, mendekatkan wajah tampan itu hingga tak berjarak.
Reva semakin tertawa, menghabiskan sore hingga tak terasa malam menjemput untuk kembali memamerkan cahaya bulan yang tak kalah indah.
"Kau di rumah saja ya sayang." Aldo membujuk Reva untuk tidak ikut, mengingat tadi sore dia bahkan tak menjawab apapun tentang itu.
"Aku mau ikut." Jawabnya singkat. Aldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sudah ia duga istrinya akan menjawab itu karena tadi siang sudah di tinggalkan ke perkebunan, mana mungkin malam ini dia bisa di tinggalkan.
"Di rumah saja ya, besok kita jalan-jalan." Aldo mengecup pipinya dengan mesra berharap bujukannya akan berhasil.
__ADS_1
"Aku tetap akan ikut ya mas." Ungkapnya menatap wajah Aldo yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Baiklah" Aldo melepas pelukannya, dia mengalah karena sudah tak mungkin untuk di rayu. Tentu membuat wanita itu senang sekali, dia bergegas mengganti pakaian dan sedikit berdandan untuk menyenangkan suaminya.
***
"Dia selalu datang terlambat." Ricky sang pengacara kocak itu sedang membicarakan Aldo.
"Sudah ku bilang, dia akan kesulitan membujuk istrinya yang ingin selalu ikut." David terkekeh kecil.
"Kau juga akan mengalaminya." Anggara membela Aldo, sekilas melirik Ayu yang sudah duduk di meja depan.
"Benar sekali, aku berharap secepatnya merasakan itu." David masih tertawa.
"Kau kapan?" Ricko yang sedikit polos itu menanyai Anggara, membuat pria bermata coklat itu sedikit terkejut.
"Aku belum menemukannya." Jawab Anggara salah tingkah.
"Belum menemukannya atau sudah menemukannya tapi malah diambil orang!" Ricky menyahut.
"Tidak, aku tidak ingin berpisah dengannya." Dia menunjuk Rikco yang masih menatap tajam padanya.
"Kau kirim saja, aku tidak peduli." Ricko menimpali dengan tatapan tak suka.
"Tidak Anggara, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Jawanya takut dan duduk manis seperti anak TK yang sedang mematuhi perintah gurunya.
David hanya terkekeh menyaksikan kelakuan ketiga orang di depannya. "Dimana kau menemukan dua pengacara antik ini?" David menunjuk kedua orang di samping kiri kanan Anggara.
"Dosen temanku bilang mereka ini pintar dan cerdik, mengingatnya membuat aku menyesal." Anggara masih terlihat kesal sekali.
"Maaf." Ucap Ricky singkat.
"Kalian pasti sudah lama, maaf aku terlambat." Aldo datang dengan istrinya tak lepas menggandeng lengan besar itu.
__ADS_1
"Hay Reva!" Dua pengacara itu menyapa secara bersamaan.
"Hay." Reva tersenyum ramah, Reva bahkan sedikit tertawa geli dengan sikap dua orang yang tidak kembar tapi terlihat menyatu sekali.
"Ayu ada di sana." David menunjuk meja tak begitu jauh di depan mereka. Tampak Ayu melambaikan tangannya.
"Mas aku ke sana." Reva menggoyang bahu tempat dia melingkarkan tangannya.
Aldo mengangguk dan tersenyum mengizinkannya, walaupun mata pria itu masih tak lepas hingga istrinya duduk di dekat Ayu.
"Sudah ku duga kakak akan kemari." Ayu berbicara padanya setelah mereka berdua duduk berhadapan.
"Aku akan bosan sendirian." Reva melihat ke kiri dan kanan mereka.
"Lihat itu ada balon di atas meja, sepertinya itu belum selesai di pasang." Ayu beranjak mengambil balon yang beberapa masih belum berisi angin.
"Sini kita selesaikan saja." Reva terlihat membuka balon yang masih kempes itu dan meniupnya.
"Ini banyak, kita bisa kehilangan nyawa jika mengisinya dengan nafas satu persatu!" Ayu mengambilnya dari tangan Reva.
"Satu saja, aku akan mencobanya." Reva mengambil kembali seperti anak kecil yang tidak terima mainannya di ambil.
Ayu melihatnya sedikit aneh, percuma di larang dia tak akan mau, lalu membiarkan dia meniup sesukanya sampai puas. Hingga akhirnya balon itu besar sempurna, Reva mengikatnya hati-hati dan tak di duga balon yang besar itu melayang.
Reva beranjak mengikuti balon itu berjalan, berguling hingga keluar, Reva berjongkok mengulurkan tangan untuk mengambil balon yang sudah melambat tapi tak berhasil. Sampai akhirnya balon itu berhenti menyangkut kaki tegap di depannya. Reva mendongak, tak di sangka pria itu menatapnya dengan tersenyum, perlahan dia ikut berjongkok untuk mengambilkan balon wanita yg kini sudah berdiri.
"Ini." Pria itu tersenyum menatap wajah itu masih terlihat cantik sekali, ia memberikan balon itu dengan kagum.
"Terima kasih." Reva sedikit tersenyum lalu meninggalkannya kembali masuk.
Pria itu masih menatapnya sambil melangkahkan kaki masuk kedalam, hingga akhirnya tak sengaja menabrak laki-laki yang sedang berdiri melihat dirinya. "Tidak sengaja!" Ucapnya berlalu.
"Dia memandangi istriku, sampai menabrak ku tapi dia bilang tidak sengaja?" Aldo berbicara sendiri.
__ADS_1
"Kenapa kau mengajaknya?" Rey yang baru datang menjawab dan ikut berlalu meninggalkan Aldo sendiri.