Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
146. Dimi


__ADS_3

"Siapa namamu?" tanya Anggara pada bocah kecil itu.


"Dimi." Jawabnya singkat, mata bulatnya tampak berbinar seakan ia telah terbiasa dengan orang baru.


"Nama yang bagus." Anggara mengajaknya duduk bersama Aldo.


"Kau dari ma_" ucapan Aldo terhenti saat melihat anak kecil yang di bawa Anggara, mata Aldo tak luput dari wajahnya menelusur hingga ujung kaki.


"Kau mengenalnya?" Anggara bertanya pada Aldo.


"Aku seperti melihat dia saat kecil." mulut Aldo sedikit terbuka. "Iya, mirip sekali!" Aldo bergumam sendiri.


Anggara masih menatap rekannya melongo sangat lama. "Aku takut ada lalat yang lewat dan masuk ke dalam mulutmu."


Aldo menutup mulutnya, membuat Anggara terkekeh geli.


"Kau tinggal disini?" Aldo menanyai anak kecil itu.


Dia mengangguk.


"Unik sekali, kau persis seperti temanku." Aldo semakin melotot menatap wajah anak laki-laki itu.


"Mana orang tuamu?" Aldo sibuk menanyainya sedangkan Anggara sibuk memesan makanan.


"Ibu sudah meninggal paman."


Sekali lagi Aldo di buat takjub, suaranya persis dengan temannya saat kecil.


"Ayahmu?" tanya Aldo lagi.


"Kau mau jadi detektif?" Anggara jadi kesal dengan tingkah Aldo yang begitu penasaran.


"Kau mengganggu saja." Aldo menepiskan sebelah tangannya, matanya masih fokus di wajah tampan anak kecil itu.


"Ibu bilang ayah ada di tempat yang jauh." jawabnya terdengar begitu sedih.


"Kau disini dengan siapa?" Aldo semakin penasaran.


"Aku hanya tinggal dengan teman-temanku saja." jawabnya polos.


Aldo sangat sedih mendengar ungkapan itu, sudah pasti ia tahu bagaimana rasanya hidup tanpa ayah ibu.


"Makanlah." Anggara menyodorkan piring besar di hadapannya, sebenarnya Anggara juga penasaran.


Aldo tak henti menatap wajah anak kecil yang mirip temannya, sungguh ia tidak menyangka ada orang yang sama namun berbeda usia, jika di lihat-lihat lagi, lebih cocok jadi anaknya.


Anak!


Aldo jadi memikirkan satu hal, apa sebaiknya anak ini di bawa saja mana tahu Dev ingin mengadopsinya. Bukankah dia tidak bisa memiliki anak?

__ADS_1


Jika dia tidak mau Aldo jadi berpikiran untuk mengurusnya, anak laki-laki tidaklah buruk. Aldo memikirkan banyak hal dengan hadirnya bocah itu.


"Paman, aku harus pulang." pamitnya pada Anggara dan Aldo.


"Kau pulang ke mana?" Aldo ingin sekali mengetahui rumah tempat tinggalnya.


"Di rumah sederhana itu, itu rumah ibuku." jawabnya dengan senyum polos namun terlihat menyayat hati.


"Baiklah, aku akan mengunjungimu besok." Aldo mencoba berteman dengan anak itu.


"Aku senang bertemu denganmu." jawabnya sangat sopan.


"Aku juga." Aldo melambaikan tangannya setelah anak itu menjauh.


"Dimi! Terimakasih." Anggara sedikit berteriak.


"Kasihan sekali." Aldo masih bergumam.


"Bawa saja pulang jika kau menyukainya." Anggara seakan tau isi kepala rekan kerjanya.


"Aku akan memikirkannya malam ini." jawabnya tersenyum manis.


"Tidak usah tersenyum padaku, aku tidak menyukainya!" Anggara meninggalkan Aldo duduk sendiri.


"Bilang saja kau iri." balas Aldo pada pria yang sudah beranjak menuju hotel.


Malam hari di kota Bali, suasana sejuk dengan segala ciri khasnya membuat semua orang betah berdiri di luar hotel walau angin berhembus kencang. Begitu juga Aldo sedang menikmati suasana indah itu seorang diri, mata beningnya terlihat indah dengan pantulan sinar bulan utuh.


"Assalamualaikum mas. Aku rindu!" suara itu semakin membuat Aldo gelisah.


"Wa'alaikum salam sayang, aku juga sangat merindukanmu." jawabnya begitu mesra, tapi hanya bisa melihat wajahnya melalui layar ponsel saja.


"Apa Zahira sudah tidur?"


"Sudah, aku jadi kesepian tanpamu." Reva semakin menggoda suaminya.


"Tiga hari saja sayang, malamnya aku akan terbang untuk segera menemuimu." senyum dan tawa tak henti mengembang di wajah tampan Aldo. Hatinya selalu bahagia mendengar kata rindu dari istri tercinta yang wajah cantiknya terlihat sempurna di seberang sana.


"Aku harus bersabar." suara merdu itu semakin membuat Aldo gemas sekali.


"Anggap saja kita sedang pacaran, kekasihku cantik sekali." telunjuk pria itu menyentuh layar ponsel, ingin rasanya menyentuh wajah yang selalu membayangi hari-harinya.


"Itu benar, suamiku juga tampan sekali." Reva tertawa bahagia.


"Oh iya sayang, tadi aku melihat anak kecil yang mirip sekali dengan Dev. Kau tahu, dia juga yatim piatu sama sepertiku." suara Aldo terdengar serius, ada getar kesedihan menyertainya.


"Benarkah? Kasihan sekali mas." Reva jadi ikut membayangkan kesedihan.


"Iya, aku jadi teringat saat aku bersama Dev waktu kecil."

__ADS_1


"Kau bawa saja kemari, dia bisa sekolah dan setelah ia lulus bisa bekerja di cafemu atau perusahaan kita." Reva tampak begitu bersemangat, menolong orang adalah hal biasa baginya.


"Lihat nanti, aku rasa harus mengurusnya dengan pemerintah setempat." Aldo tampak setuju walau dia masih butuh waktu untuk berpikir.


"Kau atur saja, aku tak akan keberatan memiliki anak laki-laki." ungkapnya dengan senyum lebar.


"Sebenarnya aku ingin membuatnya lagi, tapi aku teringat kau sampai tak sadarkan diri karena melahirkan anakku, aku sungguh tidak tega sayang."


"Itu jihad mas, kau tak perlu khawatir aku pergi." Reva meyakinkannya.


"Tapi aku khawatir jika tidak bersamamu, aku sangat menyayangimu." sungguh rayuan itu tak pernah ia lupa untuk mengatakannya.


"Ah mas, jangan merayuku saat jauh begini." rengeknya begitu manja, tampak di layar dia sedang memeluk bantal guling.


"Baiklah. Besok aku akan menelepon mu lagi, aku mencintaimu."


Hingga akhirnya mereka mengakhiri kerinduan di malam itu dengan tersenyum hangat penuh rindu, tiga hari saja! Pria yang tidak pernah pacaran itu sungguh menggila memikirkannya.


Tiga hari kemudian.


"Sayang aku pulang!" suara Aldo menggema di ruangan besar itu.


Reva menyambutnya dengan hangat, memeluk dan mengecup kedua pipi Aldo dengan sedikit berjinjit.


"Aku merindukanmu sayang." bisiknya mesra sekali.


"Aku juga mas." Reva mengeratkan pelukannya.


"Sayang aku membawa seseorang." Aldo melonggarkan pelukannya, menoleh di belakangnya ada anak laki-laki yang terdiam dan mungkin sedikit takut.


Reva tersenyum ramah dengan mata tak lepas dari wajah anak itu. Sungguh ia tahu foto Dev saat kecil memang sangat mirip dengan anak kecil itu.


"Kau tampan sekali sayang, siapa namamu?" Reva menyapanya.


"Di_ Dimi Tante." jawabnya terbata-bata.


"Jangan takut, sekarang panggil aku ibu, dan ayah!" Reva menunjuk Aldo suaminya.


"Iya." jawabnya menunduk.


"Ini rumahmu dan di sana kamarmu." Reva menukik kamar depan.


"Bi!" Reva memanggil Tuti.


"Iya non?" asisten rumah tangga itu segera datang.


"Antar Dini ke kamarnya, dan belikan dia baju yang banyak." Reva masih tak berpaling dari wajah bocah yang menunduk tak berani menatapnya.


"Iya Non, ayo sayang!" ajak Tuti dengan ramah.

__ADS_1


"Terimakasih Ibu." ucapnya sopan sekali, wajah yang selalu menunduk itu membuat Reva semakin iba.


__ADS_2