
Hari pertama pulang menemui kekasih hati dan memutuskan hubungan pertunangan, menyakiti hatinya walaupun yang paling tersakiti adalah dirinya, membuatnya menangis walau hatinya jauh sudah menangis.
Hingga tiba di mana malam itu bertemu teman lama, sahabat sekaligus saudara. Entah hanya kebetulan atau memang Tuhan sudah mengatur hingga akhirnya Aldo dan Reva bertemu.
Sore itu Dev sedang melakukan pemeriksaan di rumah sakit pusat, menerima kabar buruk dan membuat harapan semakin kecil. Dengan hati yang hancur Dev melajukan kendaraannya menuju puncak dimana gadis pujaan hati ada di sana, berharap setelah melihatnya kegundahan hati akan berkurang. Tampak di sana Reva sedang duduk menyaksikan anak-anak remaja bernyanyi bersama, namun di belakangnya Aldo berdiri menjaga dan memperhatikan gadis itu diam-diam, memberikan jaket dan menatapnya penuh cinta.
Dengan diselimuti rasa cemburu, Dev mencoba untuk tidak menemui dan hanya memperhatikan dari jauh, dan pada akhirnya dua orang itu berpindah duduk di teras bilik mewah. Jelas sekali mata gadis itu begitu mengagumi wajah Aldo, seakan berharap sesuatu yang lebih dari sekedar memandang. Tatapan keduanya terlihat jelas mengatakan bahwa mereka ingin saling memiliki.
"Reva, kau melihatnya seakan kau meminta untuk disentuh. Berbeda jauh jika saat bersamaku, aku menyentuh sedikit pipimu kau malah menghindar." Dev terduduk lemas.
Mencoba menahan rasa sakit yang bertubi-tubi menghukumnya, penyakit yang tak ada obatnya, Vonis kematian yang semakin dekat, dan Reva, dia mencintai pria lain tanpa ia sadari. Dan parahnya lagi, Aldo juga mencintainya.
"Mungkin ini hukuman atas dosa-dosa ku di masa lalu, mungkin Tuhan sedang marah padaku, mungkin Tuhan sedang menegurku, mungkin, aku memang tak layak bersanding dengan gadis baik-baik seperti Reva sedangkan aku hanyalah sisa-sisa kubangan dosa, dan banyak lagi mungkin yang lainnya."
Dan pada akhirnya, Tuhan memang menulis takdir untuk mereka berdua, bertemu, dekat, akhirnya menikah dan saling mencintai. Dev ikut bahagia dengan pernikahan mereka, walau tak harus memiliki paling tidak bisa melihat wanita tercintanya bahagia, tidak menghilang begitu saja.
Tapi
Rasa cinta itu tak kunjung padam, semakin berusaha melupakannya tapi semakin teringat saat-saat bersamanya.
Terkadang rasa tak rela muncul melihat kebahagiaan itu begitu sempurna, dan berharap masih ada waktu memilikinya.
Terbayang saat dulu sering menggodanya, membuat wajah cantik itu memerah dan menunduk. Tak terbayangkan bagaimana rasanya saat berhasil memiliki dan menyentuhnya lebih jauh, wanita yang tak pernah tersentuh sudah pasti membuat Aldo sangat beruntung memilikinya. Membayangkan hal yang seharusnya ia miliki kini sudah milik orang lain, membuat Dev emosi, marah, dan kembali seperti semula, menghancurkan diri sendiri.
"Orang yang baik untuk orang yang baik, orang yang buruk untuk orang yang buruk pula, tulang rusuk dan pemiliknya tak akan pernah tertukar." begitu ucapan gadis itu selalu terngiang, sungguh dia sangat menyadari wanita yang tidak tersentuh hanya untuk laki-laki yang tidak pernah menyentuh, itu pas sekali dan selalu ia ucapkan di dalam hati.
Ingin rasanya merebut dia kembali, tak masalah dia mengandung anak orang lain bahkan sepuluh anak sekalipun. Tapi masalahnya cintai itu sudah tak ada lagi.
__ADS_1
Dan entah karena apa, tadi malam Aldo datang dan menyaksikan kehancuran hidup Dev begitu nyata, pulang larut dengan tubuh lemas tak berdaya, menghabiskan uang dan bermain-main saja. "Sepertinya dia sedang mengasihani ku, atau aku yang tidak tahu diri bahwa aku memang tak pantas bahagia. Jujur saja hubungan baik itu masih terlihat begitu nyata, dan dia masih peduli terhadapku. Terkadang aku berpikir akulah yang terlalu egois, memintanya menikah dengan Reva, lalu setelahnya ingin mengambil Reva kembali. Mungkin disini akulah yang salah, tidak ikhlas melihat kebahagiaan mereka."
Lamunan pria itu berhenti saat ponselnya berbunyi.
"Halo!"
"Apa kabarmu? Kau sombong sekali semenjak terakhir bertemu tak pernah menghubungiku." suara seorang gadis di seberang sana.
"Apa kau merindukan aku?" jawabnya tak peduli.
"Jika iya?" gadis itu memang sangat berani.
"Kapan kau datang kemari?" Dev jadi tak menahan apapun saat bicara dengannya.
"Kapan kau meminta?" jawabnya singkat.
"Nanti malam aku tiba di tempatku menginap seperti biasa." sepertinya gadis itu langsung bersiap.
"Aku menunggumu." Dev menutup panggilan teleponnya.
Sejenak ia berpikir, mungkin jika ada orang yang siap menerima dia apa adanya mengapa harus selalu memikirkan masa lalu. Bukankah masa depan lebih menantang dari pada masa lalu yang telah berlalu. Seulas senyum terbit dari bibir tipisnya wajah tirus itu masih terlihat tampan walaupun sudah tak berisi seperti dulu, wajar saja jika gadis itu selalu memikirkan dan merindukannya.
*
Sementara di tempat yang berbeda sepasang suami istri sedang bermain dengan putri kecil yang menggemaskan, mata bening yang sudah terlihat tajam saat usia masih hampir dua bulan, lesung pipi dan hidung mancung terlihat cantik sekali saat ia sedang meminum ASI.
"Sayang siapkan botol susu di kulkas, nanti biar aku saja yang bangun jika dia menangis." malam itu Aldo sedang berbaring di samping istri tercinta yang sedang menyusui Zahira.
__ADS_1
"Iya mas, jika kau lelah biar aku saja yang bangun menjaganya." ucap Reva menoleh pria tampan itu sejenak.
"Aku tidak lelah, hanya semalam aku batal mengambil jatahku, jadi malam ini aku ingin mendapat dobel."
Reva menoleh dengan tatapan aneh, memang suaminya sudah lama berpuasa. Akhirnya ibu muda itu hanya menghembuskan nafas pasrah.
"Sayang harus ikhlas." Aldo seakan tau apa yang di pikirkan istrinya.
"Ikhlas mas, tapi kata orang harus pelan-pelan, rasanya akan sakit atau perih.
"Benarkah?" Aldo beranjak dari tidurnya, duduk di samping istrinya dan menatap heran.
"Kata orang, aku tidak tau." jawab Reva lagi.
"Kalau begitu harus di coba agar tau." Aldo memeluknya erat dan hangat, menghisap wanginya pundak Reva yang saat ini masih berisi, setelah dua bulan melahirkan wanita muda itu masih terlihat sedikit gemuk, tubuh yang tadinya semampai sekarang menjadi sintal.
"Nanti setelah Zahira tidur." Reva menoleh hingga Aldo dapat menyentuh pipinya.
"Ah, mengapa lama sekali dia bahkan masih membuka mata." Aldo menatap bayi kecil itu malah membalas tatapannya, seakan mengerti ayahnya sedang membicarakan dirinya.
"Mas, dia anakmu!" Reva menjadi kesal dengan tingkah Aldo yang semakin tidak sabar.
"Tentu saja dia anakku, aku yang membuatnya bersamamu. Kau ingat tidak?" Aldo semakin mengerjai istrinya yang tak bisa melakukan apa-apa karena memangku dan menyusui Zahira.
"Malam ini kau tidur di bawah saja!" Reva sangat kesal.
"Sayang jika malam ini tidak jadi, milikku bisa karatan dan tidak bisa berfungsi lagi."
__ADS_1
"Terserah saja mas." Reva malas berdebat, sungguh dia tak akan menang.