Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
31. Mawar Putih


__ADS_3

Pagi itu mereka semua bersiap akan kembali. Reva sudah berada di dalam mobil sedangkan Aldo masih mengemas barang di belakang.


"Oppa, aku ikut denganmu." Bella akan membuka pintu, tapi ia terperangah tak bergerak karena ada Reva di duduk di dalam.


"Bella, kau pulang naik mobil saja, aku masih banyak urusan bersama dengan Reva." Aldo mendekati Bella.


"Tapi aku ingin pulang bersamamu." Bella masih tak beranjak.


"Aku akan ke kantor mereka dulu, setelahnya akan ke kantor papamu." Lagi-lagi Aldo menarik tangan Bella menuju mobilnya. Seperti anak SD Bella masuk setelah Aldo membukakan pintu dan menutupnya kembali.


"Apa harus seperti itu setiap kali bertemu dengannya?" Reva bertanya setelah Aldo duduk bersamanya memegang kemudi.


"Dia tidak akan mau pergi jika tidak di paksa." Ucapnya kemudian menghadap istrinya.


"Aku tidak suka melihatmu terus-terusan memperlakukan dia seperti itu." Dia berucap dengan menunduk sedih.


Aldo menatap istinya, kemudian meraih tangan kecil yang lentik." Apa kau cemburu ?" Tanyanya sambil tersenyum.


Reva tak menjawab. Tentu saja sangat cemburu, istri mana yang tidak cemburu jika suaminya memegang tangan gadis lain, terlebih lagi gadis itu lebih muda dan pakaiannya sangat terbuka. Membayangkan mereka satu mobil berdua membuat pikirannya menjadi kacau.


Aldo memeluk istrinya. "Aku bahagia jika kau cemburu." Ucapnya tersenyum.


"Kau bahagia melihat ku marah?" Reva mengerucutkan bibirnya.


"Tentu saja, artinya kau mencintaiku. Dan aku sangat bahagia." Aldo terus memeluk dan menciumi pipi istrinya.


"Aneh sekali." Reva mendorong tubuh Suaminya. Dan memasang sabuk pengaman di tubuhnya.


"Aku mencintaimu." Ucap Aldo, sambil menghidupkan dan mulai melajukan mobilnya.


***


Siang itu Aldo kembali kekantor setelah mengantar Reva ke kantornya terlebih dahulu. Dia berjalan masuk menuju ruangan keuangan, niat hati ingin segera menyelesaikan pembayaran jasa kontraktor perusahaan istrinya, tapi tak terduga ternyata.


"Siapa kau, di mana Bayu." Aldo bertanya kepada perempuan yang duduk di kursi teman kerjanya.


"Saya staf yang baru menggantikan pak Bayu, baru hari ini saya di rekomendasikan oleh Bu Amelia langsung." Jelasnya, matanya terpana melihat ada laki-laki tampan sekantor dengannya.


Kemudian Aldo keluar langsung masuk keruangan pak Hartawan. Ternyata benar seperti dugaannya. Ny. Amelia sudah ada di sana.


"Selamat siang nyonya, aku ingin bicara tentang penyelesaian proyek pembangunan Vila. Uangnya harus segera di bayarkan." Aldo tanpa berbasa-basi.


"Setelah kau abaikan putriku kau malah ingin mengaturku?" Wanita itu tersenyum sinis.

__ADS_1


"Maaf aku sedang bekerja. Tak seharusnya Anda membiarkan Bella menyusulku ke sana." Aldo menjelaskan.


"Berani sekali. Kau bertingkah seperti kaulah bosnya. Apa kau menolak putriku ?" Dia menatap tajam.


"Sudah ku katakan sejak awal, aku bukanlah orang yang pantas untuk mendampingi putri anda." Jawabnya menahan amarah.


"Kau pikir aku tidak tau, kau mengantar kekasihmu itu, dan mengacuhkan putriku. Dan satu lagi, anak haram itu ada bersamanya." Ny. Amelia mendekati Aldo.


Aldo sangat terkejut mendengarnya, ternyata dia sudah tahu. Aldo kalah telak kali ini, entah dari mana perempuan itu bisa mengetahuinya.


"Kenapa diam, apa kau takut?" Amelia duduk di meja.


"Aku tidak takut, hanya ternyata anda bergerak terlalu cepat." Aldo berusaha setenang mungkin.


"Aku tidak akan membayar sisa uang itu, sampai anak haram itu mencari ku. Atau kau terima menikah dengan putriku." Amelia memberikan pilihan.


"Mereka bisa menuntutmu, kau melanggar perjanjian kontrak." Aldo tak mau berdebat lebih banyak.


"Tak masalah, aku ingin melihat, ada siapa saja yang berada di belakang perusahaan receh kekasihmu itu." Ny. Amelia beralih duduk di kursinya.


Aldo mendengus kesal, ia keluar meninggalkan ruangan tanpa permisi.


***


"Apa jangan-jangan!" Reva mengusap wajahnya, mencoba berfikir positif.


Satu jam kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman. Reva segera turun membukakan pintu untuk suaminya.


"Sayang kenapa belum tidur." Aldo mencium kening istrinya yang hanya diam saja melingkarkan tangan kecilnya di pinggang.


"Harusnya kau tidak menungguku, ini sudah lewat tengah malam." Aldo duduk di tepi ranjang dan memeluk tubuh kecil itu.


"Aku takut terjadi sesuatu padamu, biasanya kau mengirim pesan jika lembur." Reva memegang lengan suaminya.


"Aku sedang ada urusan yang lain di luar, jadi tak sempat mengabarimu." Tak henti menciumi rambut istri kesayangan.


"Mandilah mas, kau bau keringat. Biasanya tak separah itu keringatmu?" Reva menatap curiga.


"Kenapa menatapku begitu?, apa istriku ini sedang curiga?" Pertanyaan itu membuat Reva menunduk.


"Aku tidak melakukan hal yang menyakitimu sayang. Aku pastikan itu tak akan pernah terjadi." Ucapnya pelan.


"Iya, aku percaya." Reva menatap suaminya.

__ADS_1


Aldo menunduk mencium bibir istrinya sejenak. "Bahkan malam panjang kita belum sempat kita nikmati." Aldo berbisik di telinga istrinya itu, membuat Reva memeluknya erat sekali.


"Aku mandi dulu sayang." Aldo mencium keningnya lalu pergi ke kamar mandi.


Tak begitu lama, tapi ternyata Reva sudah tertidur. Mungkin ia sangat mengantuk menunggunya pulang. Aldo ikut berbaring di samping istrinya lalu ikut terlelap hingga pagi.


"Sayang kau sudah bangun?" Aldo mengusap matanya, melihat Reva sudah mandi dan sedang berdandan.


"Aku harus kekantor mas." Reva menoleh suaminya yang baru saja bangun.


Aldo termenung sejenak.


"Sayang, ada yang ingin ku katakan padamu." Aldo memandang serius pada istrinya.


Reva beranjak dan mendekat duduk di samping suaminya. "Ada apa mas?" Ucapnya.


"Nyonya Amelia, sudah tahu tentang Ayu yang sedang bersamamu. Dan buruknya lagi, pembayaranmu di tunda." Aldo tampak ragu mengatakannya.


Reva memijat keningnya, "Tapi karyawanku harus gajian Minggu depan mas!" Ungkapnya khawatir.


"Berapa Total semua anggaran untuk menggaji karyawanmu?" Tanya Aldo.


"Lumayan mas, Ratusan. Tapi mungkin untuk bulan ini aku bisa memakai uang pribadiku." Ucapnya sambil memejamkan mata.


"Sayang. Maaf, ini gara-gara aku juga." Aldo menunduk.


Reva sudah bisa menebak arah pembicaraan suaminya, tapi ia tak mau mendengar dan segera mengalihkan pembicaraan.


"Aku akan cari solusinya nanti di kantor." Reva kembali bersiap.


"Aku akan mengantarmu." Aldo segera beranjak mengikuti istrinya.


"Belum cuci muka mas!" Reva melihat wajah suaminya.


Aldo membuka pintu mobil untuk istrinya. "Aku masih tampan walaupun tidak cuci muka." guraunya. Membuat senyum lebar di wajah istri kecilnya.


"Kau tidak bekerja?" Tanya Reva setelah keduanya ada di dalam mobil.


"Nanti aku bekerja, setelah mengantarmu." Ucapnya kemudian melajukan mobilnya.


Setibanya di kantor istrinya Aldo ikut masuk kedalam, entah kenapa kalo ini ia ingin masuk. Di ruangan berukuran sedang milik istrinya dia melihat sekeliling, tak sengaja matanya menangkap sesuatu yang mengganggu penglihatannya.


"Mawar Putih"

__ADS_1


__ADS_2