
"Aku akan melihatnya, aku rasa dia sangat cantik." Anggara berlalu menuju box bayi tanpa menunggu jawaban siapapun.
"Dia sangat ingin melihat anakmu, apa dia sedang menginginkan punya anak?" Ricky kembali berulah.
"Aku rasa kita harus mencomblangi Anggara dengan model cantik yang kemarin itu." Ricko tampak sedang berpikir.
"Benar juga." Ricky jadi bersemangat, Aldo hanya menggeleng mendengar kedua orang kembar tapi tak seibu itu selalu saja membuat ulah.
"Jika dia setuju." David yang sedari tadi diam ikut menimpali.
"Jika tidak kita usahakan, dia bisa jadi perjaka tua." Ricky menunjuk Anggara, tampak Anggara menggendong Zahira dengan penuh kasih sayang. Mata pria tampan itu tak beralih, juga nyaris tak berkedip menatap bayi mungil yang sedang di gendongnya.
"Tatapannya romantis sekali." kali ini Ricko yang berbicara.
"Mungkin karena terlalu lama tidak punya kekasih, jadi dia jatuh cinta pada putrimu." Ricky menyenggol bahu Aldo.
"Jika di dengar olehnya, kau bisa di buang ke Belantara Kalimantan. Dan yang paling ringan dia akan memulangkan dirimu ke rumah orang tuamu tanpa gaji apalagi pesangon." bisik Aldo pada pengacara yang sedikit oleng itu.
"Ah, aku tidak mau. Kalau begitu jangan kau katakan bahwa kita sedang menggosipkan dirinya." jawabnya menjadi sedikit khawatir.
"Bukan kita, tapi kau saja. Dasar asisten durhaka!" Ricko menyahut, dia sedikit lebih penakut di banding Ricky walaupun dari segi penampilan mereka selalu terlihat sama keren dan berkelas.
Hingga malam hari, kediaman Aldo sudah terlihat sepi. Malam ini Ayu dan David juga sedang tidak menginap, mereka harus bersiap perihal pekerjaan esok pagi.
"Mas itu kadonya banyak sekali." Reva menunjuk ruangan bayi itu penuh dengan barang-barang dari rekan kerjanya.
"Ini ada selimut sayang kiriman dari anaknya paman." Aldo membuka selimut yang masih terbungkus rapi.
"Apa anak paman sudah tiba mas?" Reva bertanya, mengambil selimut itu dan memakaikannya pada bayi Zahira.
"Yang laki-laki sudah sayang, yang perempuan katanya masih ada pekerjaan, mungkin satu atau dua Minggu lagi." Aldo menjelaskan.
__ADS_1
"Oh, padahal jika Erita sudah tiba aku bisa memintanya menjaga Zahira sekalian menginap disini bersama kita." ucapnya, dia masih memangku Zahira, bayi itu sedang menyusu.
"Nanti aku akan bicara pada paman." Aldo duduk mendekati ibu dan anak itu, matanya begitu takjub melihat bayi itu sedang meminum ASI.
"Mas jaga pandanganmu." Reva terkekeh geli melihat suaminya nyaris tak berkedip.
"Ah, aku jadi lupa sekarang harus berpuasa selama empat puluh hari." Aldo terlihat putus asa.
"Bukankah sudah puas selama ini aku milikmu, sekarang aku milik anakmu." Reva semakin menggodanya.
"Tidak ku sangka setelah punya anak aku harus berbagi." Aldo tidur di samping Reva, memejamkan mata.
"Hanya empat puluh hari mas." Reva mengelus rambut Aldo yang sedikit berantakan, di balas pelukan hangat untuk kedua ibu dan anak itu.
"Sayang, jangan pernah berpikiran untuk meninggalkan aku." Aldo menyembunyikan wajah di balik punggung istrinya.
"Tidak akan pernah mas, kau adalah suamiku." Reva berhenti sejenak, wajah itu terlihat sedang berpikir. " Tapi sepertinya aku ingin bertemu dengan sahabatmu itu mas." Reva menoleh.
"Untuk apa sayang?" Aldo beranjak kembali duduk dan menatapnya serius.
"Biar aku saja yang menyelesaikannya." jawabnya terdengar khawatir.
"Tidak mas, masalah tak akan selesai jika hanya mengandalkan ujung tombaknya, tapi akan lebih mudah jika ditelusuri akar masalahnya. Aku hanya meminta izin padamu." Reva begitu berharap, dan sepertinya dia yakin akan hal itu.
Aldo tak menjawab, memeluknya erat namun hatinya kembali gelisah, mata beningnya terlihat menerawang jauh seakan menembus waktu. Tentu seorang Aldo tak akan membiarkan sesuatu terjadi pada keluarga kecilnya.
"Kita akan selesaikan bersama, agar kau dan aku tidak merasa bersalah atau berhutang padanya." Aldo mengecup kening istrinya, namun sejenak ia kembali melonggarkan pelukan itu. "Kapan Dev memintamu menikah dengan rekan kerjanya?" Aldo menatap wajah itu penuh tanya.
"Saat dua bulan dia berada di Papua, dia memberikan nomor ponselku dan laki-laki itu menghubungiku. Kami hanya mengobrol, dan aku merasa ada yang salah, mungkin karena aku menyukai laki-laki yang sopan." Reva tersenyum sedikit.
"Tidak usah dilanjutkan, nanti aku bisa darah tinggi." ucapnya kembali memeluk Reva dari belakang.
__ADS_1
"Itu hanya masa lalu." Reva menoleh hingga hidung mancung suaminya mengenai pipi.
"Masa lalu yang menjengkelkan." ucapnya lagi, Aldo beranjak mengambil Zahira dari pangkuan istrinya lalu menidurkannya di kasur bayi.
"Terima kasih mas." Reva meraih tangan Aldo, pria itu memang selalu mengerti apa yang membuat istrinya nyaman dan bahagia.
"Tidak perlu sayang, akulah yang harus berterima kasih. Kau sudah mengandung dan melahirkan putriku, kau luar biasa." ucapnya.
"Mari kita istirahat, sebelum putri kesayanganmu itu merengek minta di gendong." Reva menarik tangan Aldo untuk berbaring di sebelahnya.
Subuh yang dingin tak menjadi alasan untuk tidak menunaikan sholat, bayi kecil itu sudah bangun lebih dulu dengan suara kecilnya begitu mengusik telinga ayah dan ibu. Aldo sholat dan langsung menggendong bayi Zahira sejenak, membiarkan Reva melanjutkan tidurnya dengan tenang. Walau hanya sebentar tapi bagi ibu yang baru memiliki bayi adalah sangat berharga, begitu nikmatnya istirahat sampai akhirnya kembali mengurus si kecil dengan sepenuh hati.
"Mas, apa Zahira kembali tidur?" Reva bangun dengan mata yang terlihat kembali segar.
"Sudah sayang, tadi dia ku beri susu yang sudah kau siapkan semalam." tampak Aldo sudah bersiap untuk bekerja.
"Maaf mas, kau jadi repot sendirian." Reva mendekati Aldo dan membantu pria itu memakai jas dan merapikan dasi.
"Tidak apa sayang, aku yang menginginkan kesibukan ini." Aldo mengecup kening istrinya dengan begitu hangat. "Kalian adalah harta ku." Aldo berucap begitu tulus.
"Katakan pada Anggara, terimakasih untuk hadiahnya." Reva bertitip pesan karena memang hari ini Aldo akan pergi berdua dengan Anggara.
"Nanti akan ku sampaikan, sepertinya dia sangat menyukai bayi kita." Aldo sedikit tersenyum, dia tak habis pikir dengan kelakuan rekannya itu.
"Mungkin setelah melihat Zahira dia akan menemukan gadis yang bisa di ajaknya menikah." Reva berjinjit memberikan ciuman hangat untuk Aldo, melepasnya berangkat bekerja.
Di perjalanan Aldo tampak sedang berpikir, sejenak ia ragu di persimpangan menuju kantor istrinya, ingin rasanya datang ke rumah lama untuk segera menemui sahabatnya yang terkadang ia rasa seperti musuh dalam selimut. Tapi kembali ia berpikir, akan lebih baik menemuinya di malam hari, itu akan membuatnya leluasa untuk bicara, berharap bisa bicara baik-baik dan berakhir dengan baik. Entah jika sahabatnya itu bersedia, jika tidak?
*
*
__ADS_1
*
*Terima kasih masih setia membaca Novel sederhana ini, terima kasih juga atas like dan komen yang begitu memberi semangat. Nanti di beberapa bab selanjutnya akan membahas kehidupan Dev.*