Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
155. Pertengkaran di mulai


__ADS_3

"Baiklah. Ayo!" dan melangkah dengan gayanya yang aduhai itu.


Lama Aldo dan Reva masih menatap kepergian mereka, hingga menghilang jauh di balik gerbang yang dapat di lihat dari ruang tamu.


Reva dan Aldo saling pandang sejenak, lalu kemudian tertawa, terlebih lagi Aldo yang menyandar dan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tak habis pikir bagaimana sahabatnya itu menghabiskan hari dengan wanita seperti itu.


"Apa yang membuat ia merasa beruntung?" tanya Aldo bergumam sendiri.


"Mungkin memiliki kehidupan yang bahagia dan sudah berhasil membeli rumah di depan itu mas." jawab Reva dengan berusaha tidak ikut meneryawainya, walau jujur saja hatinya merasa lucu.


"Aku rasa dia tidak waras." ucap Aldo.


"Sudah mas, lupakan saja." Reva berusaha mengakhiri kekesalan suaminya.


Aldo segera mengajak Reva menuju kamarnya walau masih tak habis pikir dengan wanita itu.


*


Sedangkan di rumah depan, Dev sedang menemaninya Dimi tidur di kamarnya, pria itu tampak sangat menikmati kebersamaan mereka, mengelus dan mengusap kepalanya hingga mata bulat itu mulai merapat. Dev tersenyum menyaksikan malaikat kecil peninggalan kekasihnya itu, mengelus kepalanya menginginkan Dev pada sosok Mey yang imut dan begitu manja, rengekannya selalu membuat Dev tertahan dan tidak bisa menghindar. Wanita sembilan belas tahunan itu dulu sangat memujanya dengan segenap jiwa raga, tidak mau jauh apa lagi melepaskannya. Tangan kecil yang selalu memeluknya erat, memberikan kelembutan dan kehangatan luar biasa, sungguh ia sulit melupakan itu.


Entahlah, beberapa tahun yang lalu ia mati-matian berusaha melupakan Mey dan akhirnya berhasil dengan adanya Reva menjalani hari sebagai calon istrinya, namun kini ketika ia sudah menikah dan menemukan Dimi malah bayangan Mey ikut kembali hadir bersama putranya.


Apa memang Mey tak mau pergi dari hatinya, bahkan dia mengirimkan Dimi agar ia selalu mengingat dirinya. Dia memang sangat mencintai Dev hingga sangat menginginkan anak darinya. Lalu apa artinya Reina? Dev hampir lupa jika dia sudah menikah dan memiliki Reina di sampingnya.


Dev segera keluar, mungkin istrinya sudah menunggu untuk menghabiskan malam bersama.


Pagi hari ini Dimi bersiap dan berangkat dari rumah Dev, tampak pria itu begitu antusias mengurus dan menyiapkan segala kebutuhan putranya. Dan setelah selesai bocah kecil itu berjalan ke halaman rumah menunggu Dev masih memakai sepatu.


"Wah Dimi, siapa yang menyisir rambutmu?" Tuti yang sedang berdiri di halaman menyapa anak kecil tampan itu.


"Ayah Bibi." jawabnya.


Tuti tertawa geli melihat rambut yang sudah tersiram penuh dengan minyak rambut itu. Sisiran yang mengeras dengan garis-garis kaku di kepalanya.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Dimi tetap tampan dengan rambut seperti itu." satpam di gerbang ikut menimpali.


"Tidak usah banyak bicara, kami orang tuanya dan sudah pasti kami mampu mengurus dia." Reina menyusul mendekati Dimi yang sudah berdiri diluar gerbang bersama Bibi Tuti.


"O memang harus seperti itu, anak kecil itu sangat mengerti dengan perangai orang dewasa, kalau perangainya jelek dia gak akan betah, kabur terus ke rumah tetangga." BI Tuti menyindirnya, wanita super kepo itu terlihat begitu bersemangat berhadapan dengan Reina.


"Bilang saja kalian itu iri dengan hidup kami." jawabnya menatap sinis.


"Ala Mak, iri kok sama orang sinting. Iri itu sama majikan kita noh, setiap hari mesra dan harmonis, mulutnya manis enggak pedes kaya sambal rawit." Tuti tak mau kalah.


"Tidak mau mengaku, dasar pembantu, miskin!" Reina membuang pandangan dengan sombong.


"Hah, dia ngatain kita miskin. Gedean gaji kita daripada gaji suaminya lho!" Tuti dan pak Dwi sangat kompak kali ini.


"Jadi pembantu sombong, sudah miskin, iri hati, kalian semuanya sama saja mengganggu suasana pagi hari." Reina jadi marah dengan mereka berdua.


"Kenapa sih dia Ti?" pak Dwi jadi heran sekali dengan tetangga baru.


Wanita itu semakin gusar karena tidak sempat membalas kata-kata Tuti, matanya masih melotot pad apak Dwi namun pria itu malas melihatnya dan pura-pura tidak melihat apa-apa.


Namun Dev sudah menghampiri keduanya. "Ayo sayang!" Dev sudah siap dengan sepeda motor untuk menghantarkan Dimi pergi ke sekolah.


Reina berusaha tersenyum mengantar kepergian mereka, namun hatinya masih sangat kesal berdebat dengan Tuti.


Entah apa yang membuat ia sangat menyukai perdebatan, tak sekali dua kali wanita itu mencari lawan beradu mulut, sikap sombong dan merasa dia yang paling beruntung, membuatnya merendahkan semua orang, dan sering terdengar dari mulutnya mengatakan semua orang itu miskin, tak hanya sekali namun berkali-kali.


Hingga satu hari tak sengaja, Reva menggendong Zahira di depan rumahnya. Dimi berlari menyeberang jalan gang itu untuk menghampiri mereka, mungkin anak itu kesepian tak memiliki teman bermain.


"Zahira." panggilnya pada anak kecil dalam gendongan Reva itu.


"Iya sayang, apa sudah makan?" Reva bertanya pada anak laki-laki itu.


"Sudah ibu." jawabnya lembut.

__ADS_1


"Dimi!" suara Reina sedikit berteriak memanggil namanya.


"Iya ibu." jawab anak itu menoleh pada Reina.


"Ayo pulang!" ucapnya tanpa tersenyum.


"Sebentar ibu, aku rindu bermain dengan Zahira." jawabnya memegang tangan kecil Zahira.


"Tapi ibu malas menemanimu." ucapnya lagi.


Reva menangkap gelagat tak suka di raut wajah wanita itu.


"Sayang, kau ambil mainan di rumah tengah, kau bawa pulang ya. Ibumu mungkin sedang lelah." Reva merayunya.


Tampak ia tersenyum dan menurut.


"Tidak usah, kami punya banyak uang untuk membelinya. Suamiku bekerja, dia bukan pengangguran dan sengsara seperti suamimu." dia mulai lagi.


"Maaf Reina, kau tidak berhak menghina suamiku. Harusnya kau sadar diri dengan kekurangan dirimu, jangan selalu berpikir bahwa hidupmu paling sempurna. Aku tidak suka kau menghina suamiku!" Reva jadi tersulut emosi kali ini.


"Mengapa tidak suka, suamimu memang miskin, susah dan hanya menumpang hidup padamu." dia masih tak menyerah menghina dan mengatai.


"Kau sangat senang sekali mengatai orang lain 'miskin'. Apa kau merasa sudah sangat kaya? Ku harap di rumahmu masih memiliki kaca." Reva sudah tidak tahan melihat wanita berwajah bulat dengan hidung pesek itu.


"Tentu saja, dan ku harap kau juga memiliki kaca untuk dirimu sendiri." jawabnya lagi.


"Sudah tentu aku memiliknya, dan aku sudah sangat sadar diri, bukan seperti dirimu tidak tahu diri." Reva mendorong sepeda bayi dan membawanya masuk ke dalam.


"Bilang saja hidupmu susah dengan suamimu miskin." dia masih berteriak.


Sampai di dalam rumah Reva sudah tidak tahan dengan apa yang di dengarnya, menghina dan mengatai Also membuat ia sangat emosi. Dia meraih ponsel Aldo dan segera mencari nama Dev!


"Mas, tolong kondisikan istrimu, aku tidak suka dia selalu mengurusi dan selalu ingin tahu kehidupanku. Aku terganggu dan aku tidak suka!" Reva mengakhiri panggilan teleponnya dan melempar ponsel itu sembarangan di atas kasur miliknya.

__ADS_1


__ADS_2