Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
72. Suasana hangat


__ADS_3

"Ini sudah sore, aku harus pulang lebih awal, nanti istriku bosan sendirian." Aldo melihat jam tangannya sambil berbicara dengan David.


"Iya aku paham. Aku akan pulang dulu lalu menjemput Ayu dan ibu untuk datang ke rumahmu." David juga sedang bersiap pulang.


"Adi, mulai besok, aku akan jarang kemari, mungkin hanya Sabtu Minggu saja aku bekerja. Kau harus bisa menghandle pekerjaan disini, jika kau merasa pegawaimu kurang, silahkan kau tambah jumlahnya." Aldo bicara serius.


"Baik, aku akan bekerja semaksimal mungkin." Adi merasa yakin.


"Aku percaya padamu, lagi pula David akan menikah Minggu depan, jadi Minggu depan itu kau sendirian, jika dirasa tidak mampu di tutup saja satu hari." Jelas Aldo lagi.


"Akan aku pertimbangkan, sayang sekali jika harus ditutup walau satu hari." Adi menyampaikan pendapatnya.


"Terserah, jika kau siap silahkan saja. Tapi jangan di paksakan." Aldo memberi saran.


"Iya pak." Adi mengangguk mengerti.


Aldo melaju dengan kecepatan sedang, sesuai permintaan istri tercinta pulang sebelum gelap, dan pergi bekerja setelah subuh.


Sampai di rumah dia langsung mencari istrinya, tampak dari ruang tamu yang ia lewati, istrinya tengah sibuk memasak bersama bi Tuti.


"Bi sepertinya ini sudah matang." Reva mematikan kompornya dan menyiapkan tempat untuk menyisihkan makanan.


Aldo mendekat perlahan menyaksikan istrinya memasak, lama dia bersandar di pintu tanpa suara hingga akhirnya Reva melihatnya.


"Mas." Reva terkejut juga sangat bahagia, Reva mendekat dan memeluknya. Sudah tentu Aldo menyambutnya dengan senang sekali, senyumnya mengembang sempurna sambil mengelus pundak istrinya dan satu tangan memeluknya erat.


Bi Tuti senyum-senyum menyaksikan pemandangan yang begitu romantis itu. Pasangan yang sangat menggemaskan membuat orang yang melihatnya ikut meleleh.


"Apa tidak lelah masak-masak begitu?" Aldo menatap wajah istrinya sangat dekat.


"Tidak mas, aku jadi larut dalam keseruan bersama bibi." Wajahnya tampak berseri.


"Ah baiklah, jika itu menyenangkan lakukan saja, tapi sekarang istirahatlah dulu." Aldo mengajaknya naik ke atas, Reva menurut memeluk pinggang suaminya.


"Tadi masak apa sayang?" Aldo membuka pintu kamar mereka.


"Bikin udang saos kesukaanmu mas, dengan rendang sapi yang juga di sukai Gara." Reva melihat wajah suaminya, dia takut Aldo marah.

__ADS_1


Aldo mengeryitkan keningnya, tapi dia tidak marah kali ini. "Tidak masalah, aku juga menyukainya." Reva membantu melepaskan Jas Aldo dengan sabar.


"Aku rindu sekali dengan istriku ini." Aldo kembali memeluknya, membuatnya senyaman mungkin dan melupakan hal yang membuatnya berpikir.


"Aku juga, apa aku boleh ikut kau bekerja mas?" Reva mendongak, tertawa hingga menyipitkan matanya.


"Boleh sayang, besok aku akan ke kantormu. Kau boleh ikut jika tidak lelah, kita akan menghabiskan waktu berdua, kau hanya perlu duduk santai dan tidur jika mengantuk. Biar aku saja yang bekerja, aku akan bekerja untuk istriku." Aldo tersenyum menyentuh ujung hidung istrinya yang mancung.


"Aku bosnya?" Reva tertawa.


"Tentu saja." Aldo tak pernah melepaskan istrinya, tidak boleh jauh walau sejengkal saja. "Aku akan melakukan apa saja untukmu." Bisiknya tulus sekali, menciptakan bahagia di telinga orang yang mendengarnya.


***


"Sayang apa sudah siap?" David menjemput Ayu, dia sedang menunggu di ruang tamu.


"Iya." Ayu keluar dari kamarnya, yang ternyata ibu juga sudah siap dan mengobrol dengan David.


"Ayo kita berangkat, kita harus membantu ibu hamil yang manja itu." Ibu merangkul Ayu.


"Ibu benar sekali." Jawab Ayu, mereka bersama masuk ke dalam mobil Aldo yang masih bertukar dengan David gara-gara kuncinya sempat hilang hari itu.


Tiga mobil mewah datang beriringan memasuki halaman rumah, Aldo menyambutnya dengan ramah sekali. Aldo memintanya segera masuk ke dalam duduk bersama.


Tak lama setelahnya Reva turun bersama Ayu dan ibu.


"Gara, selamat datang." Reva menyapa Anggara yang duduk lebih dekat dengan suaminya.


"Terima kasih sudah mengundang kami semua." Jawabnya tersenyum senang sekali melihat Reva yang semakin bercahaya dengan hijab panjang menutupi seluruh bagian perut hingga menyentuh paha.


"Kami yang sangat berterima kasih pada kalian semua, sudah bersedia menolongku." Reva sedikit menundukkan kepalanya menyapa semua yang hadir di sana dengan ramah.


"Benar sekali, jika tak ada kalian entah apa yang akan terjadi." Aldo ikut menyela sambil memeluk pinggang istrinya.


"Ibu juga mengucapkan terima kasih untuk bantuanmu." Ibu mendekati Anggara.


"Ibu tidak perlu berterima kasih, aku yang berhutang nyawa pada putri ibu, dan ini belum seberapa." Anggara mencium tangan ibu dengan tulus.

__ADS_1


"Kau ini, itu sudah lama jangan di ingat-ingat lagi." Ibu mengelus pundak pria bermata coklat itu.


Aldo sedikit tercengang dengan apa yang di dengarnya, dia belum sempat menanyakan hal apa yang sudah terjadi di masa lalu. Tapi dari semua yang dia lihat, sedikit yakin Galih Anggara (Gara) adalah orang yang baik.


"Dia adalah sepupu ku." Abidzar menyela pembicaraan ibu dan Gara.


"Benarkah?" Aldo menatap tidak percaya.


"Ah ternyata kita semua adalah keluarga." Ibu tersenyum senang, lalu meninggalkan mereka untuk menyiapkan makanan.


"Iya." Gara menjawab yakin.


"Aku berhutang nyawa padanya." Abidzar menunjuk Aldo. Aldo hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.


"Wah, kalian punya hutang dua nyawa kalau begitu." Pengacara Anggara menyela juga mendengar keseruan mereka.


"Haha itu berlebihan, hanya kebetulan saja." Aldo tidak ingin di sebut Abidzar berhutang nyawa padanya.


"Apapun itu, jika kau butuh bantuanku, aku akan datang membantu." Abidzar berkata serius.


"Benar sekali." Gara tak mau ketinggalan. "Ah iya, tadi aku melihat Praka yang menjemput Reva di kantor polisi waktu itu, kenapa dia tidak ikut masuk?" Gara heran karena tak melihatnya bergabung.


"Dev? Dimana kau melihatnya?" Aldo melihat Anggara dengan penasaran.


"Di depan, ku pikir dia akan kemari." Jawabnya lagi.


"Oh, mungkin dia ada urusan." Aldo jadi tak enak hati.


"Sayang ajak mereka makan, makanannya sudah siap." Reva mendekati Aldo.


"Baiklah, kita makan bersama, mari silahkan." Aldo mempersilahkan tamunya lebih dulu mengikuti Reva yang menuju ruang makan.


"Kau masak apa?" Gara bertanya pada Reva yang berada agak jauh darinya.


"Semua, semoga kalian suka. Jangan lupa di habiskan." Reva bercanda dengan semua orang.


"Tenang saja, aku akan menghabiskan semuanya." Salah satu pengacara Anggara masih muda dan mudah bergaul, mereka juga suka bercanda seperti sudah lama saling mengenal.

__ADS_1


"Aku juga bersedia." Yang satunya ikut menyahut.


Mereka tanpa malu-malu langsung makan dan tampak begitu menikmati, Reva senang sekali menyaksikan suasana hangat itu. Begitu juga Aldo, temannya semakin banyak, tak salah membuka hati sedikit untuk orang yang baru, mana tahu orang baru itu adalah bagian dari sumber kebahagiaan kita.


__ADS_2