
"Reina!"
Gadis itu menoleh, rambut ikalnya berayun mengikuti gerakan tubuhnya.
Dev tersenyum mendekati gadis itu, mencoba mencari hal yang bisa di kagumi dari gadis yang selalu terlihat berani.
"Kau menungguku?" tanya gadis itu tersenyum, tentu saja dalam hatinya ingin berteriak bahagia. Mengingat sebelumnya pria tampan itu sangat cuek sekali.
"Iya." jawab Dev singkat dengan masih menatap wajah gadis itu, kali ini lebih fresh dan manis.
"Ayo masuk saja, aku sangat lelah." Reina berjalan lebih dulu menuju kamar yang sudah biasa dia pesan di penginapan yang lumayan nyaman itu.
"Kau sering di sini apa memang menemui seseorang?" Dev bertanya setelah berada di ruangan berukuran 4x4 itu.
"Tidak, aku hanya bosan seperti yang ku katakan padamu." jawab Reina.
"Apa yang membuatmu bosan, bukankah hidup sepertiku lebih membosankan?" Dev duduk di sebuah sofa satu-satunya.
"Aku malah tertarik dengan kehidupanmu?" jawabnya ikut duduk di sisi Dev.
"Hidup yang kacau begini tak ada yang menarik. Sendirian, kesepian, menunggu kematian." jawab Dev tersenyum kecut.
"Jika kau bahagia kau tidak akan mati secepat itu." Reina menyandar lelah.
"Benar juga, tapi kebahagiaan itu sudah tak ada, aku sudah merelakannya walaupun masih mencintainya." Dev ikut menyandar dan sedikit mendekatkan kepalanya pada Reina.
"Hentikan cintamu itu, dan bukalah hatimu untuk orang lain." Reina menoleh sehingga membuat wajah mereka berdekatan.
"Aku harus mencobanya." ucap Dev pelan.
"Mau mencoba bersamaku?" tanya Reina semakin mendekatkan wajahnya.
"Aku ini sakit Reina, sakitku menular." Dev menjelaskan dengan sedikit menekan di akhir kalimat.
"Aku tak masalah." jawabnya tak peduli.
"Aku rasa otakmu yang bermasalah, mau ku ajak ke psikiater?" tanya Dev kesal.
"Aku tidak gila!" teriaknya marah, membuat wajah gadis itu semakin bulat.
__ADS_1
"Kalau bukan gila lalu apa? Hanya ada dua macam orang yang mau menerima orang seperti diriku, yang pertama dia gila yang kedua dia bodoh!"
"Kau jahat sekali!" kali ini Reina merajuk.
"Kau mengerti tidak aku ini menderita sakit apa, bukankah kau sudah sarjana?" tanya Dev lagi.
"Aku tahu, kau terinfeksi HIV, tidak ada obatnya, menular dan kau juga sudah di vonis umurmu tidak lama lagi. Puas!"
"Nah itu kau tahu." Dev menunjuk wajah yang sedang marah itu.
"Bilang saja kau sedang menolakku." ucapnya pelan.
"Tidak, tentu saja aku tidak akan menolak, aku hanya takut kau menyesalinya." Dev mendekati gadis itu, mencoba membujuk dan merayu.
Jika soal merayu Dev memang sudah ahlinya, wajah yang manis dan tatapan sendu sudah pasti berhasil membuat gadis itu kembali melirik, di tambah lagi sikap lembut dan mengalah yang di milikinya akan semakin membuat wanita meleleh.
"Aku datang sejauh ini, apa masih belum mengerti juga?" Reina masih kesal, namun ini adalah kesempatan baginya untuk mengatakan semua isi hatinya.
"Aku mengerti Reina." Dev meraih kedua tangannya. "Jika kau sudah menjadi istriku, aku tidak mungkin bertahan untuk tidak menyentuhmu, maka dari itu kau harus memikirkan keputusan ini lagi." jelasnya lebih pelan.
"Aku tidak peduli." Ucapnya, Reina menatap bola mata Dev, dia benar-benar serius.
"Baiklah. Kita jalani ini semua mulai hari ini." Dev tersenyum tulus, sungguh ia tahu rasanya jatuh cinta. Dulu saat bersama Mey dia bahkan tidak peduli Mey adalah seorang simpanan, cap buruk itu malah tak mengurangi cintanya. Dia begitu menikmati hari-hari itu hingga berpisah akhirnya menghancurkan segalanya.
"Dev."
"Iya."
"Kau memikirkan apa?" tanya gadis itu masih memeluk Dev.
"Tidak ada." jawab Dev pelan.
"Kau begitu mencintai mantanmu itu sehingga saat ku peluk kau malah melamun."
"Tidak, kami bahkan tidak pernah berpelukan" jawab Dev, satu tangannya membalas pelukan itu.
"Karena dia berhijab, jadi kau tak pernah memeluknya?" Reina mendongak wajah Dev, bertanya dengan heran.
"Karena dia sangat menjaga dirinya untuk tidak di sentuh, dan aku tidak bisa melupakan itu." jawabnya jujur.
__ADS_1
"Aku jadi heran." gumamnya kembali memeluk Dev dengan mesra, gadis itu semakin penasaran.
Sementara di tempat lain, sepasang suami istri sedang sibuk menikmati waktu berdua yang begitu bergelora. Hampir dua bulan berpuasa membuat pria tampan itu tak melepaskan istrinya.
"Mas aku lelah." rengeknya namun tak di dengar sedikitpun oleh Aldo yang sedang sibuk. Sampai akhirnya rengekkan itu berubah menjadi panggilan sayang yang tak tertahankan menyebut nama orang yang sedang memanjakan dirinya.
Cup
Cup
Kecupan hangat di kening dan pipi itu terasa begitu hangat, tapi tak ada respon dari istri cantiknya ia sudah terlelap dalam nikmat di hujani cinta dan kasih sayang.
Hingga pagi menyambut pria tampan itu sudah bangun lebih dulu, sholat dan menggendong putri kesayangan yang sudah mulai unjuk suara.
"Anak Ayah, anak pintar." ucapannya sayup-sayup terdengar di telinga ibu muda yang masih tertidur dengan di balut selimut.
Perlahan membuka mata dan pemandangan yang indah itu langsung terlihat di depan mata. Aldo sedang menggendong anak gadisnya dengan hati-hati, wajahnya begitu terlihat bahagia, tak henti menatap wajah putri kecil itu dan mengajaknya bicara.
Reva beranjak dari tidur menghampiri kedua orang itu di balkon dan memeluknya dari belakang.
Aldo menoleh menikmati pelukan hangat istrinya, pagi yang indah semakin indah dengan kebahagiaan yang lengkap ini. Tak henti senyum itu mengembang dari ke duanya.
Memiliki suami yang tampan, setia dan penuh kasih sayang, serta kehidupan yang cukup juga hadirnya buah hati. Sungguh nikmat yang tak tertandingi untuk selalu disyukuri.
"Mas, terima kasih sudah mencintaiku sepenuh hati." ucapnya masih memeluk dan menciumnya memejamkan mata.
"Akulah yang sangat berterima kasih padamu sayang, sudah bersedia menerimaku, mencintaiku dan memberikan bidadari kecil ini untukku." Aldo menoleh wajah yang bersembunyi di belakang punggungnya, menikmati hangatnya jari-jari lentik yang menyusup di dada dan perutnya itu.
"Aku mencintaimu mas." ucapnya lembut.
*
"Reina, bangunlah!" Dev menggoyangkan tangan gadis itu, semalaman bercerita membuat Dev malas pulang.
"Apa." Reina membuka mata.
"Aku harus bekerja, nanti siang aku akan menjemputmu datang ke rumahku." Dev meraih jaketnya.
"Iya." jawabnya singkat.
__ADS_1
Dev berlalu meninggalkan gadis itu keluar, tanpa menoleh dan menghilang.
"Apa dia sudah tidak menyukai wanita, dia bahkan tidak menyentuhku sama sekali?" wajahnya yang baru bangun tidur itu tampak semakin bingung.