Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
61. Bebaskan istriku


__ADS_3

"Aku tidak ingin istriku di tahan terlalu lama!" Jawabnya kesal.


"Aku juga tidak ingin dia di sana!" Dev meninggikan suaranya.


"Kau masih memikirkan istriku." Tawanya sinis.


"Apa aku pernah bilang padamu bahwa aku berhenti memikirkannya?" Tatapannya semakin tajam.


"Aku tidak punya waktu berdebat denganmu." Aldo kembali meninggalkan pria yang sedang emosi.


Kembali Dia menarik bahu Aldo hingga merapat ke dinding. "Setelah kau membuatnya mengandung anakmu kau malah ingin menyakitinya. Apa dia kurang cantik, kurang menurut, kurang puas bermain dengannya hingga kau mencari mainan yang lain?" Tampak rahangnya mengeras.


"Jaga ucapanmu." Aldo tersulut emosi, menatap tidak terima dengan tangannya mencengkeram kerah baju temannya. "Aku sangat mencintainya lebih dari nyawaku. Aku tidak mau dia di dalam sana tidur kedinginan dengan perut yang besar. Aku menikah karena ingin istriku bebas." Geramnya.


"Alasanmu bagus juga, lalu setelahnya kau bisa menikmati keduanya." Dev melepaskan tangan Aldo dan mendorongnya menjauh. Dev meninggalkan Aldo dengan tatapan kecewa.


"Lalu bagai mana denganmu? Kau bilang melepasnya agar dia bahagia. Jika kau bisa meninggalnya demi melihatnya bahagia, aku juga bisa melakukan apa saja agar dia tidak menderita." Ucapnya lantang, membuat langkah Dev berhenti.


"Tapi tidak mendua." Sahut Dev marah,


"Apapun itu sama saja, kau marah saat aku berkorban untuknya, apa hanya kau saja yang boleh melakukannya?" Aldo tersenyum kecut mendekati Dev, "Kau pikir dia tidak tersakiti ketika kau meninggalkannya? Aku yang menyaksikan dia menangis, aku yang menyaksikan dia bersedih setiap hari. Kau pikir mencintai orang yang mencintaimu itu mudah? Aku mati-matian berusaha membuatnya jatuh cinta, setiap hari aku ketakutan dia akan meninggalkan aku karena orang yang berkorban untuknya adalah dirimu. Kau pikir itu tidak lelah?" Aldo mengeluarkan semua kekesalannya yang selama ini tidak pernah dia ungkapkan pada siapapun.


Dev terdiam tak bergerak, tidak juga menjawab apa-apa.


"Kau memukulku seolah-olah aku satu-satunya orang yang bersalah. Lalu perasaanku ini apa? Sudah ku katakan padamu jangan pernah berniat mengambilnya kembali karena aku tau kau masih memikirkan istriku. Kau marah seperti ini karena apa? bukankah sudah sangat jelas!" Aldo berbalik meninggalkannya pergi, entah akan kemana dia sendiri bahkan tidak tau.


Dev masih membeku, sesak di dadanya tak juga reda. "Andai saja aku sehat, aku tidak akan membiarkan ini terjadi padamu." Tangannya menggenggam erat seakan ingin memukul sesuatu.


***


"Kak, ada apa kenapa kau gelisah?" Ayu ikut terbangun melihat Reva tidak bisa tidur.


"Entahlah, mungkin bawaan sedang hamil jadi aku merasa posisi tidurku serba salah." Reva duduk menyandar.


"Aku akan memijatmu, berbaringlah kak." Ayu menepuk bantal dan menyiapkan selimut tipis milik kakaknya.

__ADS_1


"Tidak usah, kau istirahatlah Ayu." Reva tersenyum menatap wajah Ayu.


"Mana bisa aku tidur meninggalkanmu." Ayu balas tersenyum.


"Aku berharap kita bisa secepatnya keluar dari sini, rasanya di dalam sini waktu berjalan sangat lama." Reva mensejajarkan kakinya.


"Tentu saja, Aldo sangat mencintaimu dia pasti akan melakukan apa saja untukmu." Ayu mencoba menghiburnya.


"Kau benar, dia sangat mencintaiku tanpa lelah." Dia tersenyum mengenang kebersamaannya dengan Aldo. "Aku sangat mencintainya Ayu." Akunya.


"Aku tau kak, cintanya padamu luar biasa. Bahkan sedikit gila." Ayu terkekeh menggoda kakaknya yang juga ikut tertawa, tentu saja Ayu tau dia sedang merindukan Oppa bucin itu.


"Ayo kita tidur." Perasaannya sudah membaik setelah mengingat suami yang begitu dia rindukan. Hingga akhirnya tertidur lelap dengan menyingkirkan rasa tak nyaman di sekelilingnya. Ayu menatap wajah yang sudah terlelap itu, sungguh ia khawatir akan hari esok.


***


Pagi-pagi sekali Aldo kembali mendatangi rumah mewah itu dengan menaiki sepeda motor besar, seperti biasa tiba di sana dia masuk dengan tanpa berkata apa-apa, wajahnya terlihat dingin dan mata yang tajam. Masuk ke ruangan besar itu dan duduk dengan gelisah.


"Rupanya kau sudah tidak sabar." Wanita arogan itu duduk di hadapan Aldo.


Wanita itu mengeluarkan kertas dan pena berwarna hitam dari laci di samping kursinya. "Bacalah." menyerahkan kertasnya pada Aldo.


Aldo membacanya sejenak lalu menandatangani dengan cepat. Tak lupa dia foto sebagai salinan.


"Bebaskan istriku pagi ini, jam delapan aku akan kembali menikahi putrimu." Aldo beranjak meninggalkan wanita itu.


"Jam delapan istrimu bebas." Wanita itu setengah berteriak, Aldo tidak menolehnya.


Hingga pukul Delapan. David sudah ada di kantor polisi, sengaja Aldo memintanya datang untuk memastikan kebebasan Ayu dan istrinya.


"Pak Galih Anggara!" David terkejut melihat CEO muda dan tampan itu ada di sana, sedangkan di belakangnya tampak Reva dan Ayu sedang berdiri bergandengan.


"Ah pak David jangan sungkan begitu, aku lebih muda darimu, panggil aku Anggara." Dia tersenyum ramah dan sopan sekali.


David masih melongo penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Aku datang karena tadi pagi anak buahku menemukan kakek itu," Dia menunjuk kakek yang sedang berada dalam ruangan bersama dua orang berjas rapi dan dua orang polisi. "Jadi Reva dan Ayu bebas hari ini." Senyum sumringah terukir indah di bibirnya yang tipis.


"Bukankah Nyonya Amelia yang mencabut tuntutannya?" David masih tidak yakin.


"Tidak, itu pengacara keluargaku sedang mengurusnya." Ucap Gara yakin.


"David, kita harus!" Ayu menghentikan ucapannya, demikian David melebarkan matanya.


"Reva." Suara familiar itu sudah lama tidak menyebut namanya, membuat Reva menoleh sangat terkejut. "Aldo memintaku menjemputmu." Dia mengangkat kunci mobil di tangannya, memperlihatkan kunci mobil milik Aldo.


"Dimana dia?" Pemilik suara lembut itu melihat kesana kemari.


"Dia sedang ada urusan, ayo kita pulang ibu sedang menunggumu." Dev mengajaknya dengan lembut sekali, seperti sedang merayu anak kecil yang tidak mau pulang.


"Kak, kau ikut saja dengan pak Dev dan langsung pulang aku dan David ada urusan yang sangat penting." Ayu mengucapnya cepat sekali,dan langsung berlalu menarik tangan David.


"Gara aku sangat berterima kasih, tapi sungguh saat ini aku harus pergi." David berbicara sambil mengikuti Ayu.


"Ayu aku ikut." Reva merasa tidak enak harus ikut dengan mantan tunangannya.


"Pulanglah." Kali ini Gara memintanya segera pulang, senyumnya sungguh tulus sekali.


"Terima kasih Gara." Ucapnya lembut.


"Tidak perlu." Jawabnya lagi, menyuruhnya pulang.


"Ayo." Setelah di luar Dev membukakan pintu mobilnya.


"Kita ikuti Ayu, perasaanku tidak enak." Reva menatap Dev sekilas.


Tapi suamimu meminta kau segera pulang." Dia masih menahan pintu belakang mobil, berharap Reva segera masuk.


"Tidak, jika kau tidak mau, kau pulanglah lebih dulu." Reva bersikeras.


"Baiklah." Dev menghembuskan nafasnya.

__ADS_1


Akhirnya Reva menurut, duduk di belakang dengan perasaan gelisah, entah apa yang kan terjadi setelahnya.


__ADS_2