
"Mas." Reva datang memanggilnya dengan membawa piring, sudah pasti dia sedang lapar, ingin makan di temani suaminya.
"Iya sayang, kau ingin makan?" Aldo menghentikan aktivitasnya dan segera menghampiri. "Sebentar, aku cuci tangan dulu." Aldo meninggalkannya sebentar lalu segera kembali.
"Mas, air minumnya habis." Reva duduk dirangkul suaminya.
"Biar ku ambilkan di belakang." Aldo beranjak, di ikuti mata David yang memperhatikanya.
"Dia benar-benar bucin, dan membuat istrinya tidak melakukan apapun." David bergumam menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tak berapa lama Aldo sudah kembali dengan segelas air putih. Pria itu duduk, tangannya melingkar di kursi yang duduki istrinya. Seperti menunggui anak balita yang sedang belajar makan sendiri.
"Apa yang sepeti itu pantas di curigai?" Alisa berbicara pada Rey yang juga tengah memperhatikan kedua orang yang duduk di meja taman itu.
"Aku rasa tidak." Rey menoleh Alisa dengan senyum manis.
"Itu hanya salah faham, lagi pula David juga pernah bekerja dengan Hartawan itu kan?" Alisa menambahkan.
"Benar, dan kata ibu memang David yang memakai mobil Aldo selama satu Minggu ini." Rey tampak tersenyum tenang sekali.
"Kau harus membantu mereka, kalau bukan kau siapa lagi. Aldo sedang mati-matian mempertahankan adikmu, jangan biarkan mereka berada dalam dilema." Alisa berbicara, menyandarkan kepalanya di bahu Rey, rambutnya yang coklat menempel di dada bidang milik suaminya.
"Dan aku sangat bahagia memiliki istri sepertimu." Rey meraih tubuh sintal milik istrinya, istri yang begitu mencintainya, menggilai seorang Rey sejak awal bertemu hingga saat ini.
"Aku juga, bahagia bersamamu." Alisa balas merayu suaminya.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu bahagia bersamaku?" Rey semakin memeluknya.
"Kau sangat lembut dan lebih banyak mengalah, itu sangat menghanyutkan Rey." Alisa sedikit tertawa.
"Aku sangat mencintaimu, kau wanita sempurna yang tak pernah ku bayangkan bisa memilikimu." Rey semakin membuat wanita dewasa itu tersenyum bahagia.
David yang merasa jadi obat nyamuk segera meninggalkan mereka masuk ke dalam, hingga malam akhirnya semua orang bisa beristirahat. Reva dan Aldo masih menginap di rumah ibu, demikian Ayu dan David masih menikmati suasana kamar pengantin di rumah itu.
"Sayang, besok kita akan pulang ke rumah kita." David menatap istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kalau begitu aku harus berkemas." Ayu berbalik membuka lemari pakaiannya. "Pakaianku masih banyak di apartemen kakak, karena aku memang selama ini tinggal di sana." Ayu menoleh David sekilas.
"Nanti kita ambil saja, sekalian kau kembalikan apartemen itu pada kakakmu." David memberi usul untuk istrinya.
"Benar juga, mereka itu sudah sangat baik padaku. Aku tak mungkin bisa membalasnya." Ayu kembali duduk dan tampak bersedih.
"Kau benar." Ayu memandangi wajah David. "Terima kasih untuk semuanya, kau juga orang yang sangat baik padaku." Ayu sedikit tersenyum.
"Tak perlu berterima kasih, aku suamimu sudah tentu harus menjaga dan mencintaimu sepenuh hati. Dalam suka atau duka, kita akan selalu bersama." David menatap bola mata hitam dan bening itu.
Ayu tersenyum, matanya yang sipit itu semakin mengecil membuat David gemas sekali, meraihnya dan memeluknya. Sungguh gadis kecil yang menjadi impiannya selama ini, tak kuasa menahan rasa bersyukur karena sudah memilikinya dia sangat mencintainya.
"David." Panggilnya masih menyandar di dada David.
"Hemm, ada apa?" David tak melepas pelukannya.
__ADS_1
"Besok aku ingin berziarah ke makam papa." Ucapnya sedih.
"Baiklah, kita akan ke sana, aku akan memberi tahu almarhum pak Hartawan bahwa aku sudah menjadi menantunya. Aku akan menjaga putri kesayangannya sepenuh hati." David menghiburnya.
"Apa kantor baru yang di bangun papa sudah selesai?" Ayu mendongak kali ini.
"Kemarin sudah hampir selesai, tinggal serah terima saja. Abidzar belum sempat mendatanginya kembali karena dia baru saja kehilangan istrinya, tapi nanti aku akan ke sana." Jawab David.
"Abidzar yang memegang kuasanya?" Ayu masih penasaran.
"Iya, sampai gedungnya siap dia akan menyerahkan semuanya padamu, dan ku rasa satu minggu lagi kau sudah bisa menempatinya." Jawab David lagi.
"Di mana lokasinya?" Ayu bahkan tak tahu.
"Tidak jauh dari hotel Anggara, di sana sedang banyak perusahaan melakukan pembangunan cabang, gedung-gedung baru dan berbagai macam perluasan lainnya." Jelas David.
"Oh, satu Minggu ini aku akan menganggur." Ayu kembali mengeratkan pelukannya.
"Kau tidak akan menganggur, aku yang akan membuatmu lelah." David mendekap tubuh kecil itu dan berbisik di telinganya. Semakin membuat Ayu bersembunyi di dada David. "Setelah di rumah kita, kau harus persiapkan dirimu." David menggodanya lagi.
Memeluk tubuh gagah dan hangat itu membuatnya nyaman dan menginginkannya, gadis yang sudah cukup dewasa pasti akan merasakannya, tapi untuk memulai tentu tak mungkin ia lakukan. Tubuh gagah dan mengagumkan sudah selalu membayangi dirinya, membayangkan betapa hangatnya berada dibawah dekapan itu. Tentu jika di rumah ibu membuatnya tak leluasa melakukan kewajiban untuk suaminya, sama halnya David juga merasakannya.
Dua hari sudah David dan Ayu menikah, hari-hari yang biasa dilalui sendiri kini sudah berdua, aku dan kamu menjadi kita, memendam rindu dan cinta tak lagi gelisah, orang yang selalu dipikirkan sudah ada di depan mata, malam yang sepi kini menjadi indah.
"Sayang kau sedang apa?" David mendekati Ayu yang asyik berdiri di balkon kamar mereka, meski tak seluas balkon di rumah Reva dan Aldo tapi desain rumah David masih sedikit mirip dengan rumah rekannya, mereka memang selalu kompak, termasuk dalam pembelian rumah. Bahkan saat memutuskan untuk berhenti bekerja juga membuat usaha bersama, tak di sangka mereka juga menikahi wanita yang bersahabat seperti saudara. Dan lebih beruntung lagi, mereka adalah wanita-wanita yang memiliki aset melebihi yang mereka punya, sungguh keberuntungan yang terkadang membuat mereka rendah diri. Kisah hidup yang tak mudah membuat mereka saling terikat, Aldo dan David bekerja tanpa peduli bahaya bahkan mengancam nyawa, saling menjaga, saling melindungi, sama halnya dengan Reva dan Ayu, Reva selalu memastikan Ayu dalam keadaan nyaman, sedangkan Ayu selalu memastikan Reva dalam keadaan aman. Ikatan yang sulit di jelaskan, tapi sulit di pisahkan.
__ADS_1
"David, aku tak menyangka bisa berada disini bersamamu." Ayu tersenyum manis sekali dengan rambut yang lurus panjang diterpa angin.
"Apalagi aku, aku bahkan tidak pernah menyangka akan memiliki istri seperti dirimu." David mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang Ayu, gaun tidur panjang yang di kenakannya ikut berayun mengikuti hembusan angin yang sejuk. Menambah suasana romantis diantara kedua insan yang saling mencinta.