
"Sayang aku masih normal, aku hanya ingin hidup bersamamu dan anak kita, sebentar lagi dia akan lahir." jelasnya sedikit mengajak bercanda.
"Iya, dan setelah lahir kau minta aku kembali pada temanmu, anak kita akan memanggilmu ayah, dan papa untuk temanmu! Benar-benar menjijikkan." jawabnya terlihat marah, Reva mengambil koper pakaian dan mengeluarkan setumpuk pakaian bayi dan memasukkannya. Tangan lentik itu meraih semua peralatan bayi lainnya dan menyusunnya ke dalam satu koper.
"Sayang, aku suamimu, kau tidak bisa pergi tanpa izinku." Aldo membungkuk mensejajarkan diri dengan Reva sedang sibuk dengan pakaian.
"Entah jika besok mas. Kau tahu, manusia itu semuanya egois, aku juga egois ingin selalu merasakan sikap hangatmu dan selamanya bersamamu, itu manusiawi. Dan bagaimana denganmu? Apa kau sedang merelakan aku untuk pergi darimu? jika iya kau tidak secinta itu padaku." Reva mulai menarik koper yang sudah ditutup rapat keluar dari kamarnya.
Aldo meraih kunci mobil dan mengikuti Reva yang berjalan ke lantai bawah. "Kita akan ke rumah sakit bersama." Aldo membukakan pintu mobil dan meraih pinggang istrinya.
"Aku bisa sendiri." Reva menuju mobilnya.
"Tidak, kau akan pergi bersamaku." Aldo menghadang Reva yang sudah menghadap mobilnya.
"Mas!" Reva semakin marah.
"Sudah kubilang hanya akan pergi bersamaku!" Aldo meninggikan suaranya.
"Aku tidak mau!" Reva sedikit berteriak.
"Lalu apa maumu?" Aldo sudah sangat kesal.
"Pergi dari hadapanku aku tidak mau bersamamu!" Reva mendorong tubuh yang selama ini begitu ia inginkan.
"Kau ingin bersama Dev begitu?" Aldo terbawa emosi.
"Kau yang membawanya dalam pikiranmu, kenapa sekarang kau balik menuduhku? Kaulah yang ingin aku kembali padanya!" Teriaknya lagi.
"Kata siapa? Aku bahkan berpikir untuk membawamu jauh dari kota ini agar tidak bertemu dengan pria itu lagi." Aldo membuka pintu mobil dan meminta Reva segera masuk.
"Aku tidak akan ikut denganmu!" Reva masih terlihat marah.
"Aku akan memaksamu, kau bilang kau egois tentu saja aku bisa lebih egois. Dan jangan berharap untuk bisa kembali padanya." tatapan pria itu begitu menakutkan.
"Kau pikir aku takut." ucapnya terdengar pelan.
"Kalau tidak takut ayo masuk." Aldo masih memegang pintu mobil.
__ADS_1
"Tidak."
"Mau masuk atau tidak?" Aldo setengah membentak.
"Jangan membentakku!" Reva terlihat sedang meringis, tangannya menekan pinggangnya.
"Sayang." Aldo jadi khawatir dan melupakan amarahnya.
"Sakit." ucapnya pelan, tangannya meraba pintu mobil ingin mencari tempat duduk.
Aldo segera meraih dan menggendong tubuh ibu hamil itu. "Pak tolong bawa mobilnya!" Aldo berteriak pada satpam yang berjaga di rumahnya, lalu membawa Reva masuk ke dalam mobil duduk di belakang.
"Ke di rumah sakit mana mas?" tanya satpam itu menoleh Aldo.
"Yang dekat sini saja pak, tempat biasa Reva periksa." Aldo tak melepaskan wanita yang sedang meringis itu, menggeleng ke kiri dan kanan menahan nyeri di perutnya. Tangannya di genggam erat Aldo, sesekali genggaman itu semakin kuat karena Reva meremas jari-jari Aldo sebagai luapan rasa sakit.
"Sabar sayang, kita akan segera sampai." Wajah Aldo begitu panik, tetap memeluk dan sesekali mencium wajah yang meringis sakit.
"Mas, ini sakit sekali." ucapnya setengah menangis.
"Aku tau sayang." Aldo yang tadinya kesal sekarang menjadi sangat khawatir dan begitu takut dengan rasa sakit yang sedang di derita istrinya.
"Cepat sedikit pak." Aldo berbicara dengan satpam yang sedang mengemudi.
"Mas ini sakit sekali!" Reva sedikit berteriak, tangannya meremas baju Aldo.
"Iya sayang, apa yang bisa ku lakukan untuk mengurangi rasa sakitmu." Aldo Semakin khawatir melihatnya.
"Aku tidak tau mas." jawabnya dengan berurai air mata, tangannya tak henti menarik dan memeluk Aldo.
"Aku mencintaimu sayang, maafkan aku sudah membuatmu kesakitan." Aldo mendekap erat, mengecup pipi dan kening istrinya.
"Ini memang gara-gara kamu mas." ucapnya berhenti sejenak dari rasa sakit dan gelisah, menyandar dan memeluk suaminya.
"Maaf sayang, aku sangat ingin memiliki anak darimu, dia akan mengikat kita selamanya." Aldo menatapnya penuh cinta, sepertinya kata-kata Aldo membuatnya lebih tenang.
"Kita sudah sampai mas." ucap sopir sekaligus satpam itu, mobil sudah berhenti di depan rumah sakit.
__ADS_1
"Ayo sayang." Aldo menggendongnya masuk ke dalam, sebelum akhirnya masuk ruang bersalin.
"Mas." Reva menggenggam tangan Aldo yang berdiri di sampingnya.
"Iya sayang." Aldo menatapnya sendu, hatinya sangat tidak tenang.
"Aku memang pernah berjanji dengan Dev, tapi itu sebelum bertemu denganmu. Aku pernah bilang aku akan kembali lagi padanya walaupun dia memintaku menikah dengan orang lain." ucap Reva sambil meringis menahan sakit.
"Dia pernah memintamu menikah dengan orang lain sebelum aku, siapa orangnya?" Aldo jadi begitu heran mendengar ungkapan istrinya, hatinya berkecamuk kesal dan marah.
"Seorang tentara juga, yang pangkatnya lebih rendah darinya." Reva menangis, tangannya tak ingin lepas dari genggaman Aldo.
"Kau menerimanya?" Aldo menatapnya dengan penasaran, ingin sekali bertanya lebih banyak namun tak mungkin untuk saat ini.
"Tidak, ku hanya pernah berbicara lewat telepon." Reva semakin tidak tahan dengan rasa sakitnya.
"Sudahlah, fokus saja pada kelahiran anak kita, tapi jika kau merasa tidak kuat aku akan mengajukan operasi pada Dokter." Aldo mengelus perut yang sudah semakin menegang itu.
"Maaf jika aku belum bisa menjadi istri terbaik untukmu mas." Reva terus menangis.
"Kau yang terbaik sayang, tak ada yang lebih baik dari dirimu." Aldo mengecup keningnya.
Tak lama setelahnya Dua dokter dan tiga orang suster masuk mendekati Reva, mereka memakai sarung tangan dan bersiap dengan segala alat yang di bawanya, juga infus yang sudah di pasang di pergelangan tangan Reva.
"Darahnya tinggi Dok!" salah satu suster sedang mengecek tekanan darahnya.
"Suntikan obatnya." ucap dokter berkaca mata itu, dia menatap wajah Reva dengan sedikit khawatir.
"Bukaannya sempurna Dok!" Suster yang satunya melepas sarung tangan dengan yakin, lalu mengganti dengan sarung tangan yang baru.
"Bu, tarik nafas, hembuskan. Rileks ya Bu, jangan memikirkan apapun ingat anak ibu akan segera lahir." Dokter itu menyemangati Reva. "Pak, bantu untuk membuat istrinya agar lebih tenang, karena tekanan darah istri anda agak tinggi." ucapnya pada Aldo.
"Apa kau sedang memikirkan aku sayang?" Aldo menatap wajah Reva dari dekat.
"Mas." jawabnya manja.
"Iya, ada apa?" Aldo semakin mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
"Sakit mas." ungkapnya lagi, menggeliat kesana-kemari semakin tak tertahankan.
"Tapi setelahnya kita akan memiliki putri yang cantik seperti dirimu. Aku sudah tidak sabar menimang anak kita." Aldo tersenyum hangat.