Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
40. Apakah kau bahagia


__ADS_3

Pagi ini tampak ketiga orang di dalam ruangan itu sangat sibuk, Reva sedang mengotak-atik laptopnya, Ayu sibuk dengan kertas-kertasnya, dan pak Rudi sibuk dengan pena dan ponselnya.


"Bu, jam berapa kita berangkat ke lokasi?" Pak Rudi bertanya dengan sekilas melirik bosnya itu, tangannya masih sibuk memegang pena dan ponsel.


"Setelah makan siang pak Rudi. Kita masih punya waktu mengerjakan persiapan pembangunan tahap awal, agar bisa langsung di setujui pak Galih." Reva menjelaskan lalu kembali fokus mengetik dengan jari lentiknya.


"Banyak sekali cabang perusahaan pria itu, namanya juga berbeda-beda." Ayu menyahut sambil menghitung kertas di tangan.


"Dia sudah kaya sejak lahir, tak perlu bekerja keras seperti kita." Reva menghentikan aktifitasnya. "Beruntung dia adalah orang yang baik dan jujur, jadi aku tidak meragukan apapun darinya." Sambungnya lagi.


"Dia masih menyimpan perasaan padamu, aku melihat dari sorot matanya." Ucap Ayu kemudian.


"Mungkin, tapi kita sudah menerima kontrak kerja ini, kita harus profesional. Dia juga tak akan menggangguku, aku yakin." Jelasnya lagi.


Tiba-tiba pintu ruangan mereka di ketuk. "Masuk." Ayu mengizinkannya.


"Bu Ayu ada tamu untuk anda, seorang wanita." Pegawai perempuan itu menjelaskan.


"Siapa, aku bahkan tidak punya teman perempuan." Ayu merutuki tamunya.


"Masih muda Bu, cantik sekali." Jelasnya lagi lalu permisi. Membuat Ayu memandang Reva dengan tatapan yang sama.


"Temui saja, nanti aku menyusul." Reva memintanya.


Ayu beranjak dari tempat duduknya lalu keluar menemui tamu yang membuatnya penasaran. Sampai di ruang tunggu Ayu sedikit menghentikan langkahnya, Bella, dialah tamu yang membuat hatinya tak nyaman.


"Selamat pagi nona Bella!" Sapa Ayu dengan muka datar.


"Selamat pagi. Papa sudah memberi tahukan bahwa kau adalah saudara ku." Jawabnya sedikit gugup.


Dan entah mengapa, Ayu sangat tak senang dengan kedatangannya. Ayu kemudian duduk berhadapan dengan saudara barunya itu.


Diam, tak ada yang bersuara. Hingga akhirnya Reva menyusul Ayu dan ikut bergabung dengan mereka.


"Bella." Ucap Reva terkejut. Tapi segera menutupi keterkejutannya dengan senyuman hangat. "Kau biasa minum apa Bella?" Reva akan memanggil OB untuk menyiapkan minum.

__ADS_1


"Ah tidak usah kak, aku hanya sebentar." Jawabnya gugup.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan hingga datang kemari?" Ketusnya, Tak merubah muka dingin andalannya.


"Aku hanya mengunjungimu."Bella mulai memberanikan diri.


"Tapi aku tidak sepenting itu bagimu. Lagi pula ibumu tidak akan suka jika kau menemuiku. Jadi lebih baik kau menjauh." Ayu tak memberinya kesempatan.


"Ayu kau tidak boleh begitu." Reva menegur adik angkatnya.


"Ah tidak apa-apa kak, kalau begitu aku permisi. Lain kali aku akan menemuimu kembali." Kata-katanya membuat Ayu menatap semakin tajam.


"Sebaiknya tidak usah, kau hanya akan mendapatkan kekecewaan jika sering kesini. menyaksikan kemesraan orang yang kau anggap saingan bisa membuatmu jadi gila. Jika kau berfikir dia tidak bahagia, itu sangat salah!" Ayu menatapnya sengit, dan akhirnya Bella keluar dengan wajah tak suka.


"Ayu..!!!" Kali ini Reva meninggikan suara menegur adiknya.


"Kakak tidak akan mengerti. Seekor ular akan bersedia bersembunyi berbulan-bulan untuk mengintai dan mengawasi gerak-gerik mangsanya, dia menunggu celah untuk menjatuhkan, mencari tahu kekurangan untuk membalikkan keadaan. Terkadang dia akan berpura-pura menjadi teman demi mendapatkan informasi dan kelemahan lawan, Ular sangat sibuk mencari kekurangan orang lain, tapi tidak sadar dengan kekurangan dirinya sendiri. Satu lagi, lidahnya bercabang sama seperti otaknya, sombong dan culas. Bukan hanya pada mangsanya, bahkan sesama ular tak akan segan saling menghabisi jika dia merasa tersaingi. Jadi kuharap kakak berhati-hati." Ayu berlalu meninggalkan Reva yang masih menatapnya dengan tak percaya.


***


"Sayang apa sudah berangkat?" Suara Aldo di seberang sana.


"Jangan macam-macam di sana. Aku tidak suka dia menatapmu lama-lama." Suaranya terdengar tak rela.


"Kalau dia menatapku sebentar boleh mas?" Reva terkekeh geli menggoda suaminya.


"Reva sayang, jangan memancingku. Aku bisa saja datang ke sana, aku akan membuatmu tak bisa berjalan."


"Ah mas, Aku hanya bercanda." Suara lembut itu terdengar salah tingkah. Membuat orang yang meneleponnya menjadi gemas.


"Baiklah hari ini kau bebas, tapi tidak nanti malam. Hati-hati dan-- Aku mencintaimu." Ucapnya dengar suara berat.


"Aku juga mencintaimu mas." Balasnya, lalu kemudian mengakhiri panggilan telepon.


Seperti biasa Reva dan kedua rekannya akan pergi bersama, mereka memiliki kemampuan kerja yang berbeda tapi menghasilkan kualitas luar biasa jika bersama. Reva dengan bijak dan kesabarannya, Ayu dengan kecerdasan dan insting yang tajam, pak Rudi dengan ketelatenan dan ketelitian yang sangat baik, hampir semua pekerjaannya tak mendapatkan kesalahan.

__ADS_1


Satu setengah jam di perjalanan, hingga akhirnya mereka tiba di lokasi yang masih asri, masih banyak rumput hijau di sekeliling lokasi. Sebuah mobil mewah juga telah sampai berhenti di dekat mereka.


Pria yang masih begitu muda turun dari mobil mewahnya. Tampak begitu mahal dan tampan sekali, berpakaian santai membuat pesonanya semakin terpancar. Dia mendekat dengan memamerkan senyum manis dengan gigi yang rapi.


"Pipinya mulus sekali, seperti pantat bayi." Ucap Ayu seperti tanpa dosa, Reva menyenggol tangan Adiknya. "Maaf." ucap Ayu kemudian.


"Siapa yang seperti pantat bayi?" Suaranya terdengar santai tapi membuat nyali Ayu menciut. Ayu pura-pura tak mendengar, wajahnya di buat setenang mungkin.


"Gara!" Reva menengahi pembicaraan yang mulai mengeluarkan aura peperangan. Dipanggil dengan nama khusus membuat pria itu melupakan kekesalannya.


"Apa sudah lama?" Tanyanya dengan senyum kembali ia tunjukan.


"Baru saja." Reva membalas senyumnya. Kemudian di lanjutkan dengan mengukur area yang akan di bangun, terlihat Pak Rudi dan Ayu mengeluarkan kertas yang berisi ukuran dan desain yang sudah mereka bawa. Dilanjutkan dengan saling menyampaikan presentasi singkat, dan semua selesai sesuai rencana.


"Aku harap hujan tak sering turun agar lokasinya tidak terlalu basah, dan lagi agar tak menyulitkan pekerja." Reva berjalan pelan mengelilingi lokasi bersama dengan Galih Anggara.


"Kau benar." Jawabnya sambil terus melangkah, "Terimakasih karena sudah bersedia mengerjakan proyek ini." Ucapnya lagi.


"Sama-sama Gara. Aku pun tak kalah membutuhkan proyek ini." Reva tersenyum kecut mengingat keuangan perusahaannya beberapa Minggu lalu.


Mereka berhenti sejenak melihat posisi miring di bagian belakang lokasi. Reva nampak serius memperhatikan, kiranya bangunan apa yang akan di dirikan di bagian sudut itu.


"Reva." Panggilnya.


"Iya." Reva menoleh melihat wajah pria yang sedang menatapnya serius.


"Apa kau bahagia menikah dengannya?" Tatapannya tak berpaling.


Reva tersenyum mendengarnya, "Tentu saja Gara, dia sangat menyayangiku." Jawabnya dengan pasti. Di iringi senyum tipis dari pria tampan di dekatnya berdiri.


"Jika kau tak bahagia, kembalilah padaku, aku masih menunggumu." Ucapnya, lalu membuang pandangan kearah yang jauh.


"Tuhan tidak mengizinkan kita berjodoh. Nanti akan ada wanita yang baik dan tulus serta sangat mencintaimu, aku yakin kau juga akan bahagia." Reva meyakinkannya dengan suara yang lembut.


"Aku mau, jika dia seperti dirimu. Dan ku rasa dia belum ada di dunia ini." Guraunya dengan tertawa lebar, padahal di dalam hatinya tidak sedang bercanda. Dia hanya menutupi kesedihan yang ada di dalam sana.

__ADS_1


Reva melanjutkan berjalan ke arah mobilnya untuk bergabung bersama yang lain, tapi tiba-tiba kakinya terpeleset membuat tangannya bergerak bebas untuk menyeimbangkan tubuh yang akan ikut terjatuh. Gara segera memegang kedua tangan Reva namun kakinya malah menginjak rumput yang licin karena ada genangan air di sana. Hingga tanpa rencana keduanya terjatuh, Gara jatuh dengan posisi telentang sedangkan Reva jatuh dengan posisi duduk, tangan gara masih memegang erat lengannya sehingga terlihat seperti memeluk jika di lihat dari belakang.


"Sayang!!" Suara datar itu memanggilnya, terdengar sangat familiar.


__ADS_2