
Satu Minggu sudah berlalu, akhir pekan yang semakin sibuk tentunya sejak sore David sudah ada di rumah Ayu. Mereka sedang berencana membeli cincin pernikahan.
"Besok aku akan menjemputmu." David sedang bersiap untuk pergi ke cafe, karena malam Minggu tentunya sangat ramai pengunjung.
"Aku pikir kau akan menghabiskan malam Minggu ini bersamaku?" Ayu bersandar dengan wajah yang cemberut.
"Maaf sayang, aku harus bekerja malam ini. Minggu depan kita akan menghabiskan malam bersama." David mendekatkan wajahnya.
"Iya." Ayu hanya bisa menjawab singkat, dia sedang gugup walaupun bahagia.
"Kita akan selalu bersama setelah ini." David mengelus pipinya sekilas, sedikit jahil menggoda calon istrinya. Ayu menghindari jari David yang mengelus pipinya walaupun percuma.
"Aku pergi dulu." David tersenyum beranjak di iringi Ayu berjalan sedikit di belakangnya.
Tiba di cafe, David tidak menyangka di sana sudah ada Anggara, dan dua pengacara yang selalu mengekor itu. David segera menyapa ketiganya. "Apa sudah lama?" David bertanya.
"Baru saja, kami sedang bosan hingga jalan-jalan kemari." Ricky menjawab, di ikuti Ricko mengarahkan jari telunjuknya membenarkan kata-kata Ricky.
"Kalian kompak sekali." David ikut duduk bersama mereka.
"Mereka memang begitu, kalau orang mengatakan mereka kembar malah menolak." Anggara meledeknya.
"Jelas saja menolak, ibu dan ayah kami berbeda." Ricko sedikit lebih polos, membuat yang lain tertawa.
"Sebenarnya aku sedang janjian dengan Aldo. mereka malah ingin ikut." Ucap Anggara.
"Oh begitu, mungkin sebentar lagi dia datang. Atau jangan-jangan dia sedang sibuk membujuk istrinya agar tidak ikut." David terkekeh membayangkannya. Anggara hanya tersenyum mendengar itu, ada rasa iri di dalam sana, tapi mendengar dia bahagia itu sudah membuatnya lega.
"Maaf aku terlambat, apa kalian sudah lama?" Aldo datang dengan terburu-buru.
"Tidak, kami juga baru saja datang." Anggara melihat pria yang baru saja mereka bicarakan.
"Tumben istrimu mengizinkanmu keluar malam Minggu?" David mengatainya.
Aldo tersenyum penuh rahasia, tentu dia mengalami kesulitan membujuk istrinya David sudah tau itu yang terjadi. "Hanya sedang beruntung." Jawabnya tertawa.
"Baiklah, aku akan membantu Adi bekerja. Silahkan kalian menikmati kopi khas cafe kami." David mempersilahkan pelayan menghidangkan minuman hangat untuk rekan-rekannya.
__ADS_1
"Terima kasih." Mereka senang sekali dan langsung mencoba meminumnya.
"Kapan kita akan melihat lokasi proyek pertamamu?" Anggara kembali fokus berbicara bisnis.
"Kapan kau ada waktu, jika Minggu ini ku rasa belum bisa, David akan menikah Sabtu nanti." Aldo mengingatkan pernikahan temannya.
"Ah iya benar juga, kalau begitu setelahnya saja. Yang penting kau sudah siap." Anggara meyakinkan.
"Tentu saja, aku akan bekerja semaksimal mungkin, tidak mengecewakan istriku, juga tidak mengecewakanmu." Aldo menatap pria muda itu dengan sangat yakin.
"Aku percaya padamu." Anggara tersenyum.
Mereka minum kopi bersama hingga obrolan-obrolan santai itu semakin seru, ponsel Anggara berbunyi.
"Iya." Anggara menjawab singkat panggilan di ponselnya.
"......." Anggara tampak terkejut mendengarkan orang yang berbicara di seberang telepon.
"Baiklah, aku akan segera ke sana!" Dia mengakhiri panggilannya.
"Istri Abidzar meninggal." Jawabnya serius, sambil menyimpan ponsel di kantong jaketnya.
"Kita ikut ke sana!" Dua pengacara itu kompak saling memandang satu sama lain.
"Aku juga, tunggu aku memberitahu David." Aldo beranjak menghampiri David, dan segera menyusul yang lainnya di parkiran.
Mereka pergi bersama ke rumah Abidzar, Hingga tak berapa lama, mereka tiba di Rumah besar bertingkat milik Abidzar. Di sana terlihat sudah sangat ramai orang datang turut berduka.
Aldo dan yang lain masuk ke dalam menemui Abidzar rekan mereka, tampak pria berjenggot itu sedang bersedih menangisi istrinya yang sudah terbaring. Aldo ikut bersedih menyaksikannya, sungguh dia tidak bisa membayangkan jika dia berada di posisi rekannya itu.
"Maaf, kami baru datang." Aldo menepuk pundak Abidzar.
"Iya, terima kasih." Lirihnya, pria itu tampak lemas tak bertenaga. Aldo tak kuasa menyaksikan hal itu, dia memilih duduk di depan bersama dua pengacara Anggara.
"Aku ikut bersedih melihatnya." Ricky mengungkapkan perasannya, di angguki Ricko yang juga terlihat diam dan tidak mengatakan apa-apa.
"Aku juga, aku tidak bisa membayangkan kehilangan istriku." Aldo menunduk, teringat istri tercintanya di rumah.
__ADS_1
"Benar sekali." Kedua orang itu selalu kompak.
Tak jauh dari mereka David tampak datang tergesa-gesa. "Di mana Abidzar?" Tanya David dengan nafas yang masih memburu.
"Ada di dalam, kau temui saja." Aldo menjawabnya.
"Sebaiknya aku pulang dulu, istriku pasti sudah menunggu." Aldo permisi lebih dulu dengan rekan-rekannya itu.
"Baiklah, kami masih bujangan jadi tak ada yang menunggu, kami akan menginap." Ricky masih sempat bercanda, membuat Aldo tertawa mendengarnya.
"Sampaikan pada Abidzar, besok aku datang lagi." Aldo melihat di dalam sangat penuh dengan para tamu yang turut berduka. Aldo masuk ke dalam mobil setelah di acungi jempol oleh Ricky.
Melaju perlahan menuju rumahnya, ingin segera bertemu istri tercinta, sudah tentu dia tak akan tidur sebelum Aldo kembali. Sejak mengandung dia semakin manja dan tidak mau di tinggalkan walau sejenak saja.
Tiba di rumah, dia akan sangat kurang cepat untuk masuk ke kamar menemuinya, padahal setiap hari bersama tapi bukannya bosan rindu itu semakin bertambah. Terlebih lagi menyaksikan kehilangan dari rekannya membuat ia ingin segera memeluknya erat sekali.
Tangannya sudah memegang pintu. "Ah harusnya mandi dahulu." Aldo kembali turun menuju kamar tamu dan mandi di sana, setelah selesai mengganti baju yang ada di sana barulah dia naik ke atas menuju kamar dimana istrinya berada.
"Mas." Reva menatap heran dengan rambut suaminya yang basah, dengan baju kaos dan celana pendek.
"Aku baru saja mandi di bawah sayang, tadi aku dari rumah Abidzar, istrinya meninggal." Aldo langsung memeluk istrinya yang sudah menatap curiga itu.
"Benar begitu?" Reva masih tak percaya, mata bulat itu sedikit melotot.
"Benar sayang, David saja belum pulang dari sana." Jawab Aldo meyakinkan istrinya.
"Kenapa mandi di bawah?" Reva tak merubah ekspresinya.
"Kata orang sehabis dari melayat harus mandi dulu sebelum menemui istriku yang sedang mengandung. Ya, paling tidak dengan keadaan bersih, agar kau dan bayi kita sehat selalu." Aldo menatapnya penuh cinta.
"Begitu." Reva mulai percaya.
"Aku sangat menyayangimu, aku takut kau meninggalkan aku sayang." Aldo tak melepas pelukannya bahkan semakin erat. "Sedih sekali melihat Abidzar kehilangan istrinya." Ucap Aldo seperti sedang mengenang kesedihan rekannya.
"Jika Tuhan menginginkan itu terjadi, kita bisa apa mas." Reva menjawab lembut, membalas pelukan hangat itu.
"Aku ingin ikut denganmu sayang." Ucapnya mencium telinga yang di tutupi rambut, kata-kata itu sungguh ia ucapkan dari hati.
__ADS_1