Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
106. Kau dan aku satu


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Aldo dan Reva baru saja tiba di rumah. Seperti biasa Aldo membukakan pintu untuk Reva lalu menggandengnya masuk. Di depan pintu sudah berdiri pak Satpam dan bibi Tuti, tangan keduanya bertaut dan menunduk takut.


"Mau pulang kampung?" Aldo berkata sedikit keras, dan menatap tajam pada ke duanya.


"Enggak mas." Jawab keduanya serentak.


"Sekali lagi ini terjadi, langsung pulang kampung saja." Suara Aldo masih terdengar marah.


"Maaf mas." Bibi menjawab dengan masih menunduk.


"Mas, aku yang salah." Reva mengerti mereka kena marah pasti gara-gara Reva tak mendengar ucapan bibi tadi pagi.


"Memang salah!" Ucapnya menoleh wajah cantik yang tampak lelah di sampingnya.


Reva diam tak berkutik, hanya menurut saat Aldo merangkulnya masuk naik ke atas, walau dalam pelukan suaminya tapi wajah itu sungguh tidak terlihat mesra seperti biasanya. Hingga berada di dalam kamar Aldo masih tak mulai bicara, pria itu langsung menuju kamar mandi meninggalkan Reva yang duduk di ranjang. Tak lama kemudian dia keluar dengan kemeja di gulung.


"Mandilah!" Ucapnya melirik Reva sekilas, wanita itu diam tak juga beranjak. Aldo diam hingga beberapa saat, tapi Reva tak juga mandi. Aldo mendekati istrinya memeluk dan membuka resleting baju yang ada di belakang, melepas hijabnya dan sepatunya.


"Mas." Reva mendorong tubuh Aldo yang masih sibuk melepas pakaiannya.


"Mandilah, kau tahu aku sedang marah!" Aldo menjauh dan berbaring di ranjang.


"Kau memang suka marah." Reva mengerucutkan bibirnya beranjak dari ranjang.


"Sudah ku katakan berulang kali, jika ingin keluar beritahu aku! Aku akan mengantarmu atau pak Anton akan menghantarkan mu, jangan membuatku khawatir. Kemarin saat kecelakaan kau keluar tanpa izinku, aku takut, aku cemas, ingat di dalam sini ada anak kita, dia sudah besar hanya tinggal menunggu waktu berapa Minggu lagi dia akan lahir. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, tolong kau mengerti dengan kekhawatiran ku." Aldo bicara dengan hati yang masih kesal.

__ADS_1


"Tapi bukan hanya itu, kau marah karena ada Dev di rumah sakit. Kau cemburu tanpa bertanya kebenarannya!" Reva juga menjadi kesal.


"Sudah pasti aku marah, dia ada di rumah sakit sejak pagi. Lalu aku harus senang mendengarnya?" Aldo duduk menghadap Reva yang masih berdiri.


"Mas aku tidak bersamanya, dia baru datang saat kak Rey tiba, tadi pagi dia tidak ikut masuk!" Reva semakin kesal.


"Terserah saja, aku lelah." Aldo kembali tidur di ranjang.


"Terserah? Baru tadi pagi mengatakan tidak akan melepaskan aku walaupun aku menangis ingin kembali padanya, sorenya melepaskan pelukanku karena cemburu padanya. Tidak dapat di percaya!" Reva bersungut-sungut sambil melangkah menuju lemari pakaiannya. "Atau jangan-jangan kau ingin aku kembali padanya begitu?" Reva melangkah menuju kamar mandi.


Aldo berdiri dengan segera menahan tubuh besar itu dan membalikan badannya. "Katakan sekali lagi?" Ucapnya pelan, matanya terlihat sendu.


Reva terdiam dengan saling menatap, nafas ibu hamil itu terlihat naik turun seperti sedang membawa beban. Lama, tak ada kata-kata yang keluar dari mulut masing-masing hingga Reva melepaskan tangan Aldo yang sedang memegang kedua bahunya, Reva berbalik ke kamar mandi.


Aldo berdiri mematung dengan wajah yang semakin kusut, meraih handuk dan meninggalkan kamar, sepertinya dia mandi di kamar yang lain untuk mendinginkan kepalanya yang semakin panas.


"Ibu, apa sudah lebih baik?" Ayu mendekati ibu, setelah meletakkan buah dan makanan yang di bawanya.


"Ibu sudah baik, hanya di minta untuk selalu istirahat." Ibu tersenyum senang sekali melihat kedatang Ayu dan David.


"Maaf ibu, aku baru bisa datang." David mendekati ibu.


"Ah, tidak apa-apa nak."


"Hey, pengantin baru semakin tampan saja." Rey masuk dengan menyapa David.

__ADS_1


"Sayang aku menunggu di luar, takut mengganggu jika terlalu ramai." David meninggalkan Ayu dan ibu mengobrol, begitu juga Rey ikut keluar bersama David.


"Kak, aku ingin bicara denganmu." David mengajaknya duduk di kursi tunggu.


"Ada apa? Kau terlihat sangat serius." Rey tertawa tapi dia sedikit tegang.


"Ayu bercerita padaku tentang mertua kakak yang sedang tinggal di luar negeri. Aku butuh nama perusahaan dan nama ayah kak Alisa, nanti aku dan Aldo akan mencari informasinya."


"Aku akan mengirimnya, terima kasih kalian bersedia membantuku." Ucap Rey pada adik iparnya itu.


"Tidak perlu berterima kasih kak, dulu aku dan Aldo sering mengerjakan hal-hal seperti itu. bahkan kami tidak peduli seberapa bahayanya nyawa kami. Hingga kami bertemu adik-adikmu, barulah kami menyadari nyawa ini berharga. Jatuh cinta membuat kami menghargai hidup." Ucap David, dia tersenyum getir kala mengingat perjuangan mereka yang begitu keras.


"Kau tau, saat ini aku sedang berusaha mempertahankan anak dan istriku. Apapun yang terjadi aku harus mendapatkan restu ayahnya, tapi jika tak ku dapat juga, aku akan tetap membawanya pulang bersama ku. Aku berhak atas mereka." Ucap Rey.


"Itu benar." David tersenyum memberi semangat.


***


Reva keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai pakaian, melihat sekeliling tak menemukan suaminya yang tampan itu. Dia duduk lalu menyandarkan tubuhnya di ranjang yang empuk, mencoba memejamkan mata yang sejak tadi terasa lelah.


Aldo masuk dengan masih memakai handuk di pinggang, rambut basah itu terlihat sangat seksi di pandang mata. Reva membuang pandangannya karena masih sangat kesal dengan penolakan Aldo saat di rumah sakit, hatinya masih terasa membengkak.


Aldo menoleh, tampak wanita itu sedang melihat ke arah jendela. Wajah cantik dengan rambut terurai itu membuat Aldo menarik nafas. Ingin sekali bermesraan dengannya tapi ingat saat ini dia sedang marah, tanpa melihat istrinya Aldo berbaring di sisi ranjang dengan memainkan ponsel di tangannya.


Reva juga demikian, dia malas melihat wajah suaminya yang sedang merajuk. Dia berusaha memejamkan mata dengan menarik selimut dan berbalik arah. Hingga dua puluh menit wanita itu mulai terlelap, Seharian dia hanya duduk dan duduk saja menemani ibu membuatnya menahan pegal di punggungnya. Tidurnya tak nyenyak, berbalik kesana-kemari dengan perut yang besar sehingga sulit untuk bergerak bebas.

__ADS_1


Tak mampu menahan rasa rindu dan sayang, mengulurkan tangan dengan satu tangan memeluk dan mengelus punggung yang lebar itu. Amarahnya menghilang berganti dengan kasih sayang yang membuncah, wajah itu begitu dekat, bertukar nafas yang wangi saling mendamaikan hati, Aldo merindukannya. "Tidurlah sayang, kau dan aku satu, aku gelisah tidur tanpamu, kau pun juga akan gelisah tidur tanpa aku." Aldo ikut memejamkan mata menyatukan kening mereka berdua.


__ADS_2