Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
79. Hidup hanya sekali


__ADS_3

Pagi yang cerah, Aldo sedang bersiap untuk kembali datang ke rumah Abidzar. Merasa jika dia harus menemani teman barunya itu di saat-saat berduka, sudah tentu rekan-rekan yang lain juga ada di sana.


"Mas, aku boleh ikut?" Reva merasa jika seharusnya dia turut berduka.


"Tidak sayang, biar aku saja yang datang, lagi pula nanti aku akan ikut ke pemakaman. Kau dirumah saja, jaga diri dan anak kita." Aldo mengusap perut istrinya sambil mengecup pipi mulus itu dengan mesra.


"Baiklah, tapi setelahnya langsung pulang." Pintanya pada Aldo.


"Tentu saja, aku akan cepat pulang untuk menghabiskan waktu bersama istriku." Aldo tersenyum hangat.


"Iya." Jawab Reva senang, senyumnya mengembang sempurna.


Aldo masuk ke dalam mobil melaju pelan meninggalkan kediamannya, dia langsung menuju ke pemakaman dan menunggu di sana. Selama proses pemakaman, rintik hujan turun begitu halus, seakan menggambarkan betapa cinta yang ia tinggalkan begitu besar. Abidzar masih terduduk lesu ketika semua orang sudah meninggalkan tempat itu, hatinya ikut terkubur bersama kepergian istri tercinta.


"Kau duluan saja, aku akan menemani Abidzar terlebih dahulu." David berbicara dengan Aldo.


"Aku akan pergi ke Dealer terlebih dahulu. Ku pikir kau akan ikut untuk menjual mobil Ayu." Ucap Aldo.


"Kau duluan saja, aku tidak mungkin meninggalkan dia. Lagi pula Anggara sudah duluan karena ada yang harus dia urus di rumah Abidzar." Jawab David.


"Baiklah, aku duluan." Aldo berbalik menuju mobilnya meninggalkan David.


Sementara tak jauh dari mereka tampak gadis belia itu mendekat, dia memakai kerudung hitam melilit di antara rambutnya, dia juga memakai kaca mata hitam dan baju senada.


"Kak, mari kita pulang, Akbar sedang menangis." Ucapnya lembut, Abidzar menarik nafas dalam mendengar ucapan itu. Dia harus kuat untuk putra tersayangnya, buah cintanya dengan Lena.


"Lena, Abi pulang ya. Sekarang sudah ada Allah yang menjagamu, membebaskanmu dari rasa sakit yang membuatmu menderita. Abi akan selalu menyayangimu, tunggu Abi di tempat terindahmu." Pria itu mencium pusara istrinya, mengelusnya, lalu perlahan beranjak menemui anak semata wayang belahan jiwa istrinya, hanya itu yang tersisa.


David menunggunya dengan setia, membukakan pintu mobil dengan sabar untuk rekannya yang kehilangan tenaga itu. David melajukan mobilnya perlahan, sesekali David melirik wanita yang bersama Abidzar di belakang. Teringat semalam dia sedikit menasehatinya. "Apa dia sedang memikirkan nasehatku semalam?" Gumam David di dalam hati. Dia tak peduli, asalkan itu yang terbaik untuk semua, dan yang lebih penting tidak mengganggu hubungan siapapun.

__ADS_1


Ditengah jalan Bella meminta David untuk berhenti sejenak di sebuah pusat perbelanjaan, dia turun sendirian membeli sesuatu dengan segera lalu kembali ke mobil dengan terburu-buru.


"Ayo pulang, Akbar sedang menangis, mungkin dia haus karena tadi susunya tinggal sedikit." Bella tampak khawatir. David hanya mengangguk dan melajukan mobilnya dengan sedikit lebih cepat.


"Terima kasih." Abidzar hanya mengucapkan itu, dengan sedikit menatap Bella lalu kembali memandang keluar melihat jalanan yang tak berujung.


Bella hanya tersenyum, hatinya ikut bersedih, tapi melihat susu formula di tangannya hatinya menjadi hangat, dia jadi berandai-andai jika dia sedang mengurus anaknya. Sungguh bahagianya hidup bersama orang yang dia cintai dan memiliki buah hati. Bibir merah itu sedikit tertarik, senyum tipis yang tidak dia sadari.


"Apa yang kau pikirkan?" David membuyarkan khayalan anak gadis itu.


"Ah. Tidak ada, hanya sedang menikmati hidup yang hanya sekali ini." Bella menjawabnya dengan kata-kata yang bagus sekali.


"Haha.. Ku rasa kau menjadi dewasa dalam waktu semalam." David mengatai gadis itu.


"Hanya mencoba untuk menerima." Senyumnya masih tergambar hal yang membuatnya putus asa.


"Jika kau menyukai satu hal perjuangkanlah tanpa menyakiti hati orang lain. Gunakan kesungguhan hati, karena usaha pasti akan membuahkan hasil. Jika usahamu baik, hasilnya akan baik, jika usahamu tidak baik, sudah pasti hasilnya akan tidak baik." David berbicara panjang, sambil melirik Abidzar yang sedang tertidur menyandar di samping Bella.


Wajahnya terlihat lebih baik dari sebelumnya, hingga mereka tiba kembali di rumah Abidzar, Bella turun lebih dulu dengan belanjaannya susu dan entah apa di dalam kantong plastik itu.


David akan akan segera turun, tapi tak sengaja matanya menangkap seseorang yang bersepeda motor melewati pagar rumah Abidzar yang belum sempat di tutup. "Seperti pernah melihatnya?" David mengernyitkan dahinya, sejenak lalu dia turun dari mobilnya membangunkan Abidzar yang masih terlelap. David menutup pintu setelah rekannya itu bangun dan keluar, dia kembali mengingat siapa pria tadi, lalu kemudian mengabaikannya.


***


Di rumah ibu, Ayu sedang kesal karena David belum juga datang menjemputnya, padahal hari ini dia akan membeli cincin pernikahan mereka.


"Ada apa dengannya, baru saja semalam merayuku ingin segera bersama, hari ini malah menghilang!" Ayu menyandarkan kepalanya di sofa ruang keluarga. Tangan kecil itu memutar-mutar ponsel yang ada di antara jarinya. Karena sudah sangat penasaran akhirnya dia memutuskan untuk menghubunginya.


"Hallo sayang!" Suara David di seberang sana.

__ADS_1


"Kau ada di mana? Aku sedang menunggumu." Ayu bersungut.


"Ah ya ampun, sayang tunggulah sebentar lagi aku datang." David seperti sedang melupakan janjinya pada Ayu, tentu itu membuat Ayu semakin kesal saja.


"Jika kau sibuk batalkan saja." Jawabnya ketus.


"Tidak, aku akan segera ke sana." David mengakhiri teleponnya.


"Apa maksudnya, rasanya aku ingin sekali menggigit pria itu, biar dia juga merasakan kesalnya menunggu, sakitnya di lupakan, dan bencinya pada orang yang lupa janji." Ayu mengepalkan tangannya.


"Itu berlebihan sayang." Suara ibu mengejutkannya.


"Ibu." Ayu jadi salah tingkah.


"Kakakmu juga begitu saat Aldo mengerjainya, kakakmu berpikir Aldo tak akan menjemputnya padahal dia sudah menunggu di depan sejak lama." Ibu tertawa mengenang saat Reva akan menikah. Wajah Ayu menjadi merah merona, malunya ketika dirinya ketahuan sudah tidak sabar menunggu David.


"Assalamualaikum ibu." Suara David terdengar setelah beberapa saat.


"Wa'alaikum salam David." Ibu tertawa menyambutnya, lalu meninggalkan mereka berdua bicara. Tampak Ayu masih merengut malas bicara.


"Sayang maaf, istri Abidzar baru saja dimakamkan, kemarin dia meninggal jadi aku menemaninya dari semalam." David mencoba menjelaskan


Kenapa tidak mengabari aku?" Ayu masih kesal.


"Tak perlu, di sana ada Bella juga." Jawabnya dengan sabar.


"Kenapa dia disana?" Ayu jadi penasaran.


"Istri Abidzar itu sepupu jauh Bella, sepupumu juga." Jelasnya lagi, membuat Ayu tercengang.

__ADS_1


"Aku tidak tau." Jawab Ayu masih terkejut.


"Tak apa, aku sudah ada di sana dari semalam, sama artinya aku mewakili dirimu." David tersenyum hangat, gadisnya tak lagi marah.


__ADS_2