Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
55. Malam kedua tanpamu


__ADS_3

Aldo menyetir dengan perasan tidak menentu, ia berharap segera bertemu dengan kakek tua itu secepatnya. Tiga jam perjalanan menuju ke lokasi hotel Anggara Aldo menepikan mobilnya di sisi kiri jalan, dia turun melihat kesana kemari tapi terlihat sepi, tak ada orang disekitarnya.


Aldo melihat bekas kejadian yang mengerikan itu terlihat masih ada garis polisi. Beruntung Reva tak apa-apa, tapi malah di tahan, Aldo sangat gusar mengingatnya. Lama dia menunggu tapi tak seorangpun bisa di tanya, bahkan tak ada manusia di sana kecuali dirinya.


Aldo masuk ke dalam mobil duduk sejenak, "Kenapa aku lemas sekali?" Gumamnya. Kemudian dia ingat dia belum makan bahkan meminum apapun.


Aldo menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melaju, dia ingat di depan sana ada kedai bakso tempat ia dan Reva pernah makan berdua. Saat dia hamil muda makan dengan lahap dengan kuah dan bakso yang masih berasap, Aldo tersenyum sendiri, tapi kemudian senyum itu hilang. Hingga tak lama dia berhenti di depan kedai Bakso.


"Pak, saya pesan satu." Aldo duduk tak jauh dengan gerobak bakso, sengaja dia dekat dengan penjual itu agar bisa bertanya tentang orang yang berjualan di sekitar sana, mungkin saja dia mengenal kakek tua itu.


"Ini mas, silahkan." Penjual itu tersenyum hormat dan ramah.


"Terima kasih pak, ah saya ingin bertanya." Aldo mengajaknya mengobrol.


"Tanya apa mas." Bapak itu duduk tak jauh darinya, karena memang pengunjung tak begitu ramai.


"Apa bapak mengenal penjual pisang yang berjualan di ujung sana, tidak jauh dari Hotel baru yang besar itu?" Aldo menunjuk ke arah yang agak jauh.


Penjual bakso itu tampak berfikir, "Enggak mas, perasaan nggak ada yang jualan di sana, kan sepi!" Jawabnya sangat yakin.


Aldo menelan ludahnya sendiri mendengar jawaban yang mengecewakan sekaligus membuatnya bingung. "Kalau kakek-kakek yang tinggal di sekitar sini ada tidak pak?" Tanyanya lagi.


"Kalau kakek-kakek ada sih, cuma ga tau kalau ga kenal namanya susah juga mas." Jawabnya serius.


Aldo mengangguk-angguk mulai kehabisan akal, dia juga butuh nutrisi untuk berfikir. "Mungkin lebih baik makan dulu agar tidak bodoh." Dia bergumam di dalam hati.


Hingga sore menjelang sore hari dia tak menemukan kakek yang berjualan pisang yang di ceritakan Reva ataupun Ayu.


"Halo." Aldo menerima panggilan, ponselnya berbunyi.


"Kau ada dimana?" Terdengar suara kakak iparnya menjawab.


"Aku di lokasi kecelakaan kemarin kak, mencari penjual pisang itu tapi aku tidak menemukannya." Jelas Aldo terdengar kecewa.

__ADS_1


"Aku baru saja menemui Reva, ini sudah di jalan menuju rumahmu." Memang benar terdengar suara deru kendaraan.


"Apa Reva sudah makan?" Aldo tiba-tiba ingat tadi pagi dia tidak bertanya istrinya ingin makan apa.


"Sudah, aku juga membawakan buah jeruk untuknya." Jawaban Rey membuat Aldo sedikit tenang.


"Aku akan pulang." Aldo mengakhiri panggilan teleponnya lalu mulai melaju menuju rumahnya.


***


"Apa kami akan terus di tahan." Ayu menatap David yang duduk di dekatnya.


"Tentu saja tidak, kami tidak akan membiarkanmu di tahan." David meyakinkan wanita yang duduk bersandar di ranjang itu.


"Aku khawatir kakak sedang mengandung." Ucapnya sedih.


"Kami akan berusaha." Ucap David lagi. "Aku juga tidak ingin kau di tahan, aku sudah tidak sabar ingin menikahimu." David menatapnya sangat dekat.


"David jangan melihatku begitu!" Ayu mendorong pipi pria tampan itu, dia masih membayangkan David melihat aset-asetnya.


"Tentu saja aku malu." Dia merengut kesal.


"Tapi aku suka, dan ingin melihatnya lagi." David sengaja mengerjainya, di dalam hati dia sangat ingin tertawa.


"David aku mohon." Ayu menatapnya dengan wajah yang memelas.


"Apa sayang, kau ingin apa?" David mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Ayu dengan satu tangan bertopang di dekat dia menyandar. Sudah tentu membuat Ayu ingin menghilang dari sana, seandainya itu bisa dia lakukan satu detik berhadapan dengan David itu sudah terlalu lama. Bisa-bisa jantungnya melompat keluar dari rongga dada.


"Aku ingin istirahat." Ketusnya tak peduli, lebih tepatnya berusaha tidak peduli.


"Baiklah, aku akan menjagamu disini." David tidak merubah posisinya, Ayu menjadi kesal dan ingin berbalik.


"Ahh, ini menyakitkan." Ayu tak sengaja menekan tangannya yang patah membuat David terkejut.

__ADS_1


"Jangan berbalik." David membetulkan posisi tidurnya, bahkan seperti memeluknya.


"David, aku sungguh malu padamu." Kali ini Ayu bicara serius, menatap wajah David sangat dekat.


"Kenapa harus malu karena kita akan selalu bersama. Aku akan menjadi suamimu berarti akan menjadi milikmu, kaupun begitu akan menjadi istriku yang berarti milikku." David juga tak kalah serius. " Aku tidak menyentuh apapun milikmu, Aku menyayangimu." Jelasnya lagi.


"Terimakasih."Jawabnya tulus, tatapannya sangat lembut dan menenangkan. Entah jika esok, yang pasti detik ini dia gadis yang manis dan penurut, tak ada sikap garang yang membuat David menciut.


***


Mobil berwarna hitam itu memasuki halaman rumah, tampak Rey sudah menunggu sambil berbincang dengan satpam yang berjaga.


"Sore mas." Pak satpam menyapa Aldo.


"Iya." Jawabnya singkat, tampak wajah yang lelah itu begitu kehilangan cahaya.


"Kau lemas sekali, apa tidak makan seharian


" Rey beranjak dari duduknya mengikuti Aldo masuk ke dalam.


"Makan bakso tadi di pinggir jalan kak." Jawabnya sambil duduk di sofa. Rey geleng-geleng melihat adik iparnya yang selalu keren dan percaya diri itu sekarang sangat berantakan.


"Ayo makan, aku lapar." Rey berjalan lebih dulu menuju dapur. Mau tak mau Aldo mengiringinya di belakang.


Tampak di dapur bi Tuti sibuk menyiapkan makanan, "Dari kemarin mas Al nggak kelihatan makan." Ungkapnya mengadu kepada Rey.


"Kalau kau sakit siapa yang mengurus adikku." Rey mengambil nasi dan mengisi piring adik iparnya yang terlihat melamun.


"Kalau gak makan, nanti gantengnya ilang. Non Reva nyari yang lain." Celetuknya tanpa sengaja kemudian menutup mulutnya dengan jari. Sedikit melirik Aldo sudah melotot.


Rey ingin sekali tertawa, asisten di rumah ini cukup unik pikirnya, melihat bi Tuti sudah menghilang secepat kilat.


Aldo segera makan bersama Rey, walaupun pikirannya kemana-mana tapi karena perutnya sudah lama tak berjumpa dengan nasi akhirnya habis juga. "Aku harus mengantar makanan untuk Reva." Dia beranjak akan kedapur.

__ADS_1


"Sebaiknya kau istirahat, aku sudah menitipkan pada petugas makanan dan buah untuknya." Ucap Rey, tentu saja dia kasihan melihat adik iparnya yang tidak kenal lelah jika sudah berhubungan dengan Reva.


Aldo menoleh lalu duduk menyandar terlihat putus asa. "Ini malam kedua istriku menginap di sana!" Ucapnya menunduk sedih sekali.


__ADS_2