Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
145. Lama-lama kau menyebalkan


__ADS_3

Pagi itu mobil mewah memasuki halaman rumah Aldo, seorang laki-laki muda, tampan dan gagah turun dengan langkah elegan. Senyum manis terukir di bibir tipis dengan tatapan hangat dari mata coklatnya terus menelusuri setiap anak tangga menuju ke atas, hanya tubuhnya berhenti di ruang tamu yang luas itu.


"Kenapa pagi ini kau tampan sekali?" Aldo yang baru saja menuruni anak tangga langsung menyapa rekan bisnisnya dari atas.


"Mana Zahira?" tanya pria itu enggan berbasa-basi.


"Kau berdandan rapi begini hanya untuk bertemu putriku?" Aldo menunjuk pakaian rapi Anggara setelah kakinya menginjak anak tangga terakhir.


"Anggap saja iya." Anggara tersenyum lebar, kepalang ia lanjutkan saja gurauan yang kemarin membuatnya kesal.


"Ku kira kau akan merajuk lagi." Aldo tersenyum mengejek.


"Cepatlah, aku sudah tidak kuat menahan rindu." Anggara tak mau kalah dengan ejekan Aldo.


"Lama-lama kau menyebalkan." Aldo melempar bantal ringan yang sempat ia pegang saat baru saja duduk.


Anggara tertawa lebar, ternyata tak bisa selalu bersikap serius jika ingin dekat dengan Aldo. Anggara belajar banyak hal darinya, termasuk bagaimana pria itu memperlakukan istrinya. Tapi itu hanya membuat sedikit sesal, mengapa tidak dari dulu Anggara memiliki sikap jahil seperti Aldo, mungkin saja Reva akan simpati dan memilihnya. Oh ayolah, jangan memikirkan hal itu lagi!


"Mas, makanannya sudah siap." Reva datang dari dapur dengan membawa Zahira.


"Iya sayang." Aldo menyahuti, pria itu beranjak dengan menarik Anggara untuk ikut makan bersamanya.


"Aku sudah kenyang." Anggara melepaskan tangan Aldo dan menghampiri Reva yang sedang menggendong bayi kecil itu.


"Jangan harap di jalan akan berhenti untuk sarapan." Aldo kesal sekali melihat tingkah Anggara.


Dia tidak perduli bahkan semakin asyik bermain dengan gadis kecil yang kini dalam pelukannya.


"Sayang, cepatlah besar." ucapnya dengan mengecup pipi bulat itu.


Tangan kecil Zahira memegang pipi mulus Anggara, membuat pria itu semakin kegirangan.


"Kau wangi sekali, aku jadi semakin gemas ingin menggigitmu." ucapnya lagi.


"Ayo berangkat!" Aldo sudah selesai, meraih dan mengecup pipi istrinya.

__ADS_1


"Oh baiklah. By sayang, i love you." ucapnya sebelum mengembalikan Zahira pada Reva.


"Aku rasa kau memang jatuh cinta pada putriku." Aldo berlalu meninggalkan Anggara.


Pria itu hanya tersenyum semakin mengerjai Aldo. 'Daripada aku bilang i love you pada istrimu?' bisik hati Anggara.


Hari ini mereka akan pergi ke Bali untuk memulai proyek baru bersama Anggara, tentu kepergian mereka akan sedikit lama. Untuk pertama kali kedua orang pasangan suami istri itu berpisah walau di hanya beberapa hari, Namun sudah dapat di pastikan rasa rindu akan menghiasi hari-hari mereka.


Reva menatap kepergian Aldo hingga mobil Anggara hilang tak terlihat lagi, rasa rindu itu sudah menyerang bahkan saat sebelum mereka berpisah.


*


Satu bulan setelah hari di pantai itu, Dev mulai sibuk mengurus berkas pernikahan hingga akhir pekan ini mereka sudah resmi menikah. Hidup berdua dengan wanita yang baru, ia berharap dapat melupakan semua masa lalu.


"Masuklah Reina, biar aku saja yang membawa barangmu." hari ini Dev membawa Reina pulang ke rumahnya setelah dua hari yang lalu mereka sepakat untuk kembali.


"Terimakasih sayang." jawabnya manja. Dia memang selalu ingin nomor satu.


Dev tersenyum manis melihat istrinya begitu manja, walau bagaimanapun juga dia adalah lelaki normal yang butuh kemanjaan seorang wanita, dia bahkan mampu memanjakannya dengan cara yang luar biasa, namun selama ini selalu tertahan dengan rasa tak percaya diri atas sakit yang di deritanya. Namun kini wanita itu sudah sah menjadi istrinya, rasa bahagia, bangga dan sungguh sangat berbeda jika hanya sekedar pacaran.


"Selamat pagi kak!" sapaan dari rumah Aldo terdengar berbeda, Dev sampai bingung dengan siapa orang yang memanggilnya.


"Aku adik kak Reva, kami tinggal di sini karena aku membawa adik Perempuanku. Kak Aldo memintaku tinggal selama kami bekerja." jelas pria manis itu, masih tampak muda dan logat Jawa-nya sungguh masih terdengar jelas.


"Oh baiklah, jangan sungkan! Aku adalah sahabat Aldo dan_" Dev menghentikan ucapannya sedikit berpikir bahwa hubungannya dengan Reva hanyalah teman atau keluarga, ah dia pusing sekali.


Adi menatapnya heran.


"Aku mengenal baik mereka berdua, aku sangat senang mendapat tetangga. Aku baru saja menikah dan istriku juga bukan orang sini, dia pasti butuh teman." Dev begitu senang dengan adanya Adi, selama ini ia hanya sendirian dengan rumah kosong milik sahabatnya.


"Adikku juga akan menyukainya, dia gadis biasa yang pendiam." Adi menjelaskan perihal adiknya.


"Tak masalah, istriku orang yang suka berbicara dan dia pasti akan cocok." Dev kembali membawa tas terakhir yang berisi pakaian istrinya masuk ke dalam. "Masuk saja, walaupun rumahku pasti berantakan.". guraunya lagi.


"Oh, aku harus bekerja Kak, di cafe milik kak Aldo." jelas Adi dan memang dia sudah rapi.

__ADS_1


"Kalau begitu sampai nanti." Dev melihat tetangga barunya pergi berjalan kaki, mungkin dia harus naik taksi di depan sana.


"Siapa dia?" Reina yang mendengar suara suaminya berbicara membuat ia penasaran.


"Itu adik Reva, doa tinggal di sini mulai sekarang." Dev duduk di samping istrinya sejenak.


"Memangnya rumah mantanmu itu ada dimana?" tanya Reina, seperti biasa dia akan penasaran dengan berbagai hal.


"Tiga puluh menit mungkin, mereka tinggal di rumah elit." Dev tak pernah berbohong.


"Kita juga bisa membeli rumah elit, bahkan aku sudah sejak lama ingin membeli rumah yang bagus." Reina menatap suaminya penuh semangat.


"Nanti kita akan membelinya setelah uangnya cukup." Dev meraih tubuh yang berisi itu, memeluknya erat melupakan semua kepenatan hari ini.


"Aku punya banyak uang, kau tak perlu khawatir." bisiknya begitu mesra, entahlah apa yang gadis itu pikirkan hingga langsung ingin membeli rumah.


"Yang penting kita habiskan hari ini di rumah saja." Dev membuatnya lupa segalanya.


*


Sore itu Anggara tampak sedang meraba seluruh kantongnya, mencari dan mencari tapi tidak menemukan juga.


"Ah sial! Aku kena copet." Anggara melihat semua anak-anak yang berkerumun di dekat pantai tampak biasa saja, matanya semakin tajam melihat dan satu anak ia curigai.


"Sini!" panggilnya kesal.


Anak itu berlari kencang sekali, Anggara berusaha mengejar hingga jauh sekali, sersan muda itu kalah tenaga sepertinya.


"Copet! Dia mengambil dompetku." ucap Anggara menunjuk anak yang sudah jauh sekali. Namun tak di sangka salah satu anak mengejar dengan begitu cepat, hingga membuat Anggara kembali bersemangat mengejar anak itu lagi.


"Berhenti, aku akan menghabisi mu jika kau tidak berhenti!" seru anak itu sekitar enam atau tujuh tahun.


Hal tak terduga dia berhasil mengejar dan mendapatkan dompet Anggara, dada kecilnya tampak kembang kempis dengan dompet di tangannya.


"Kau mengenalnya?" Anggara juga sedang kesulitan mengatur nafas.

__ADS_1


"Dia temanku." jawabnya. Namun sekilas Anggra seperti tak asing dengan wajah dan tubuh anak laki-laki itu.


"Ayo kita makan bersama, sebagai tanda terimakasih." Anggara merangkulnya, tentu ia tak ingin di tolak.


__ADS_2