Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
166. Senyum aneh.


__ADS_3

"Pergi." jawab Dimitri, tentu ia tak akan mengerti apa yang di maksud pergi.


"Baiklah, habiskan makananmu." perintah gadis yang baru memulai memakai kerudung itu.


"Bibi lebih cantik." puji Dimitri pada gadis itu, sungguh ia menyukai penampilan baru Erita.


"Terimakasih." jawab Erita senang.


*


"Dimitry!" panggilan dari luar rumah terdengar menyebut nama anak kecil yang saat ini tidur di rumah Erita.


Erita keluar dengan memakai kerudung barunya, "Dimitri sedang tidur." ucap gadis itu dengan lembut, seperti biasa dia tak mau menatap wajah Dev jika sedang bicara.


Dev menatap kagum pada wanita muda itu, dia tampil cantik dan anggun sekali hari ini dengan kerudung dan pakaian panjang seperti Reva. Mata laki-laki normal memang akan sulit berkedip jika menyaksikan pemandangan indah.


"Maaf dia merepotkanmu, aku ada pekerjaan mendadak tadi sehingga membuat aku pulang malam." ucap Dev pelan dan sopan.


"Tidak masalah, dia anak yang baik." Erita tersenyum sedikit, tapi lagi-lagi dia menghindari tatapan Dev.


"Ini aku belikan martabak coklat untukmu dan Dimitri." Dev menyerahkan dua kotak makanan.


"Tidak perlu repot, kami sudah makan tadi." jawabnya lagi.


"Tidak repot, aku sudah menduga anakku akan mendatangimu dan mengganggu." Dev tersenyum manis sekali.


Erita mengambil kantong plastik itu, ia tak mungkin menolak berulang-ulang. "Terimakasih." ucapnya sopan.


"Apa Aji ada di rumah?" tanya Dev melihat ke dalam.


"Kakak sedang bekerja, dia akan menginap karena rekan kerjanya tidak masuk hari ini." jawab Erita polos.


"Oh." Dev sudah tahu, itu pasti ada kaitannya dengan kejadian malam itu. Dev duduk di kursi depan rumah Erita, pria itu masih memakai seragam militernya.


"Maaf tak bisa mengajakmu masuk." Erita berpikir pria itu ingin mengobrol.


"Tak apa, aku mengerti." jawab Dev menoleh sejenak.

__ADS_1


"Kemana istrimu?" tanya Erita, dia sangat penasaran.


"Kami sudah berpisah, mungkin dia tinggal di rumah yang berhadapan dengan kakakmu, aku sudah memberikannya." jawab Dev menyandarkan kepalanya, dia lelah.


"Maaf!" ucap Erita, ia masih berdiri di pintu.


"Jangan berdiri di pintu, nanti kau jadi perawan tua." Dev menggodanya.


"Benarkah?" tanya Erita langsung keluar dari rumahnya dan berbalik melihat pintu.


Dev terkekeh lucu melihat gadis polos itu, melihat ekspresi wajahnya yang manis membuat rasa lelahnya menghilang.


Erita sungguh malu ditertawai begitu, ia benar-benar serius menanggapi kata-kata Dev tentang perawan tua.


"Aku hanya bercanda, tapi memang berdiri di pintu itu tidak baik." Dev masih tertawa kecil.


Erita duduk di kursi yang satunya lagi, jarak yang agak jauh berbatasan dengan pintu masuk.


"Ku lihat tadi kau ada di rumah saat aku mengantar Dimitri pulang." Dev memulai obrolan yang baru.


"Kak Reva istirahat hari ini, jadi aku juga istirahat. Lagi pula kak Aldo sedang tidak sibuk, hanya bekerja sebentar." Erita melirik sedikit.


"Aku memang ingin bekerja, tapi kak Reva sedang butuh aku. Mungkin sebentar lagi setelah proyek luar kota kak Aldo selesai, jadi aku bisa bekerja di Cafe bersama kak Aji." jelasnya.


"Hidup di kota seperti ini jangan mudah percaya pada siapapun, apalagi orang yang baru kau kenal, kau harus hati-hati. Di cafe kakakmu itu sangat ramai, banyak orang luar bekerja di sana, banyak juga macam-macam orang dengan berbagai pergaulan yang bebas, kau harus benar-benar menjaga diri." Dev sedikit menasehati.


"Iya." jawab Erita, ia benar-benar mendengarkan ucapan Dev.


"Kau sudah punya pacar?" tanya Dev halus.


"Aku_ aku tidak punya." jawabnya malu-malu.


Dev tersenyum sedikit, ia sungguh gemas jika melihat gadis yang lembut dan malu-malu, itu mengingatkan dirinya pada Reva, gadis yang masih menghuni hatinya hingga saat ini.


"Bagus, aku suka dengan gadis yang tidak menyukai pacaran. Seperti kakakmu dia begitu menjaga diri, aku dekat dengannya selama tiga tahun dan tak pernah menyentuhnya sama sekali. Dia begitu indah tak tersentuh. Begitu juga dirimu, jadikan dirimu yang cantik itu semakin indah tanpa tersentuh selain suamimu." Dev masih memandangi gadis yang tak mau Menatap wajahnya.


Erita jadi salah tingkah mendengar pujian itu, ia memang tak pernah dekat dengan siapapun.

__ADS_1


"Sepertinya Dimitri nyenyak sekali, apa sebaiknya ku gendong saja." Dev menatap ragu, ia takut gadis itu terganggu.


"Tidak usah, biarkan dia di sini kau tak perlu khawatir aku akan menjaganya." jawab Erita kali ini ia melihat wajah Dev.


"Tapi dia akan merepotkanmu?" Dev terlihat khawatir.


"Tidak, aku tidak repot."


"Baiklah, aku harus mandi dan istirahat. Kau masuklah ke dalam hari sudah malam, di sini sepi." ucap Dev pelan, ia sedikit perhatian.


"Iya." jawab Erita singkat, gadis itu beranjak masuk, langkahnya yang pelan dengan pakaian panjang itu terlihat indah sekali, Dev menyukainya.


Hari-hari berlalu, hingga tiga bulan kemudian proses perceraiannya dengan Reina sudah selesai. Wanita itu tak pernah terlihat semenjak hari itu, entah bagaimana keadaannya juga rumah barunya. Mungkin saja dia masih di sana, atau sudah pergi ke rumah Adi, Dev tidak peduli.


Dev tersenyum melihat berkas di tangannya, ia puas dengan perpisahan ini setidaknya memberi kebebasan pada wanita itu tanpa takut ia akan ikut berdosa. Dan lagi ini akan lebih baik untuk Dimiri, anak laki-laki itu bebas melakukan apapun di rumahnya sendiri.


"Dimi, ayahmu sudah pulang." ucap Erita pada anak kecil yang selalu menghabiskan waktu di rumahnya itu.


"Kenapa ayah sudah pulang, bukankah biasanya sore hari." dia heran melihat ayahnya di pukul dua siang sudah kembali.


"Bibi tidak tahu, kau pulanglah dulu melihat ayahmu." ucap Erita merayunya.


"Iya Bibi." jawabnya patuh, anak itu berlalu keluar segera menemui ayahnya.


"Hay sayang, hari ini kita jalan-jalan apa kau mau?" Dev meraih tangan kecil itu, sungguh ia menyayanginya sepenuh hati, itulah sebabnya perpisahan dengan Reina tak terasa menyakitkan.


"Tapi aku sudah janji dengan Bibi untuk jalan-jalan di taman belakang sana, kami akan membeli jagung bakar dan es krim sore nanti." jawab Dimitri polos.


Dev tampak berpikir, kemudian dia sedikit tersenyum. "Apa ayah boleh ikut?" tanya Dev penuh harap.


"Aku hanya akan pergi berdua dengan Bibi." jawabnya lagi, membuat Dev putus asa.


"Baiklah, ayah akan mengalah." Dev tak mungkin memaksa.


Hingga sore hari Dimitri sudah mandi dan berganti pakaian terbaiknya, anak kecil itu terlihat tampan dengan senyum mengembang dan gigi besar di bagian depan.


"Kau akan pergi?" tanya Dev pada putranya.

__ADS_1


"Iya." jawabnya meraih tangan Dev dan menciumnya.


Dev hanya membiarkan ia berjalan lebih dulu, pria itu tampak berpikir dengan senyum aneh di wajahnya.


__ADS_2