Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
151. Ayah yang ini


__ADS_3

"Memang harus begitu, ini rumahmu, rumah kita." Aldo tersenyum manis.


Dia kembali menunduk.


"Ayo tidur, Ayah antar ke kamarmu." Aldo meraih tangan kecilnya dan segera mengajak Dimi ke kamarnya yang besar.


Anak kecil itu langsung naik ke atas ranjang, meluruskan bantal dan menyiapkan selimut, namun ia belum berbaring.


"Tidurlah, bukankah besok kau harus sekolah?" Aldo merayunya lagi, memintanya segera berbaring, membuka selimut dan menyelimuti tubuh kecilnya.


"Besok aku ingin di jemput pak sopir saja Ayah." pintanya, membuat Aldo sedikit mengernyitkan keningnya.


"Tentu sayang, memangnya ada apa?" Aldo sungguh ingin tahu.


"Aku tidak ingin pulang ke rumah Ayahku, aku lebih suka tinggal di rumah Ayah yang ini." tangan kecil itu menunjuk dada Aldo.


Aldo sedikit tertegun mendengar ungkapan itu, namun terselip tanya yang membuatnya penasaran.


"Tentu, kau akan tinggal disini, bersama Ayah dan Ibu, juga adikmu." jelas Aldo menenangkan anak itu, ia tahu ada yang sedang ia pikirkan namun lagi-lagi anak itu pandai sekali menyembunyikan perasaan. Dia Dewasa karena keadaan, hidup dengan kesulitan dan terpaksa mengadu keberanian.


"Terimakasih." Dimi tersenyum.


"Tidurlah anak tampan tidak boleh banyak berpikir." ucap Aldo menghiburnya.


"Tampan seperti Ayah." balasnya memuji Aldo.


"Itu sudah pasti, itu sebabnya ibumu sangat menyayangi Ayah." Aldo jadi bersemangat mendengar pujian anak kecil.


Mereka tertawa bersama, hingga sejenak akhirnya Dimi tertidur.


Aldo meninggalkan kamar itu menuju lantai dua, pria itu sudah tidak sabar ingin bertanya tentang Dimi hari ini.

__ADS_1


"Kenapa lama Mas?" tanya Reva yang sudah menunggu sejak tadi.


"Hanya menemani Dimi sebentar sayang, tadi dia belum tidur saat aku di bawah dan sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu." Aldo ikut menyandar di ranjang besar bersama istrinya.


"Tadi Dev meminta izin padaku untuk membawanya pulang mas, tapi setelahnya Dimi kembali kemari dengan Erita juga." jelasnya.


"Pantas saja, sepertinya dia tidak suka tinggal di rumah Dev, dia bilang lebih suka tinggal di sini. Apa ada hal yang membuatnya tidak nyaman di sana?" Aldo jadi memikirkannya.


"Entahlah, tadi Erita mengatakan Dimi datang ke rumahmu dan makan bersama Erita. Lalu setelahnya pulang."


"Apa istrinya tidak suka dengan Dimi?" Aldi menebak-nebak.


"Entahlah mas, mungkin seorang istri akan sulit menerima kenyataan bahwa suaminya memiliki anak dari wanita lain, tapi dalam posisi seperti itu harusnya itu adalah rezeki yang luar biasa dan harus disyukuri." Reva jadi membayangkan kerumitan yang terjadi.


"Ah, memikirkan hal itu hanya membuang energi." Aldo memeluk istrinya erat sekali. "Lebih baik energinya kita habiskan untuk bercinta saja." ungkapnya mengakhiri bahan obrolan yang menyulitkan pikiran.


Reva terkekeh geli mendengar itu, Aldo tak akan pernah melewatkan waktu berdua dengan sia-sia, pria itu selalu menyukai saat-saat romantis bersama istri cantiknya. Menikmati malam yang indah hingga rasa lelah menyerang dan tertidur dengan rasa puas dan bahagia.


"Itu kata-kata milikku sayang." Aldo juga sudah lelah dan memejamkan mata.


"Aku belajar darimu." jawabnya tersenyum di dalam pelukan Aldo menikmati aroma wangi nafas suaminya.


"Lain kali akan ku ajarkan banyak hal padamu." Pria itu ikut tersenyum, ia sedang memikirkan hal yang membuat istrinya merasa geli sendiri.


Reva tak menjawab meski masih mendengarnya, dia sudah lelah dan ingin segera berlayar ke lautan mimpi. Sesekali memuji dan mengungkapkan perasaan pada pasangan akan membuat hubungan semakin mesra, bahagia yang sederhana, bersyukur dan menerima bukan membandingkan dengan milik orang lain.


Seperti biasa di pagi hari Reva sibuk dengan mengurus Zahira juga menyiapkan pakaian untuk Aldo bekerja. Dimi sedang mengganti pakaian bersama Tuti.


"Sayang, nanti aku akan pulang sore, minta sopir saja menjemput Dimi, dia bilang kemarin tidak ingin pulang ke rumah Dev." ucapnya dengan masih menikmati sentuhan Reva yang sibuk memasangkan kancing baju di dadanya, jari-jari itu sesekali terasa menggelitik walau pemiliknya tampak serius.


"Iya Mas." jawabnya, tangan kecil itu sudah selesai.

__ADS_1


Aldo memeluknya sejenak, menikmati keindahan di pagi hari, sungguh ia masih tidak menyangka dengan kebahagiaan sempurna seperti ini. Jatuh cinta dan menikah dengan wanita cantik pujaan hati, setiap hari hanya saling mencintai dan mengisi. Walau terkadang ada rasa takut akan cobaan yang mungkin saja sudah menghadang di depan sana, namun tidak! Ia yakin cinta mereka lebih kuat dari apapun juga.


Dua hati yang selalu meyakini "Kita akan selalu bersama."


*


Siang itu Dev kembali menjemput Dimi di sekolah, seorang Ayah tentu tak akan menyerah menemui anaknya, apapun yang terjadi rasa rindunya akan terus menuntut untuk ingin selalu dekat dengannya.


Sejenak ia mencari keberadaan anak itu, melihat satu-persatu wajah anak yang sudah keluar dari gerbang sekolah dasar. Hingga di urutan terakhir barulah anak kecil tampan dengan tas lumayan besar di punggungnya berjalan keluar dengan tanpa terburu-buru. Wajah imut yang sebagian mirip ibunya itu terlihat tampan dan menggemaskan, tangan kecilnya memegang kedua tali tas di dada.


"Ayah menjemputku?" tanya Dimi.


Dev tersenyum, ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Maaf Ayah, aku akan pulang ke rumah ibu saja." ucapnya dengan wajah polos.


Seakan tertusuk hatinya berdenyut nyeri, sungguh Dimi tahu Reina tidak menyukai kehadirannya.


"Iya, Ayah hanya ingin menemuimu saja Nak, Ayah rindu." jawab Dev dengan menahan kesedihan.


Dev berharap ada saat dimana Reina bisa menerima Dimi dan menyayangi seperti Reva yang selalu menyayanginya, namun entah hingga bukan sehari dua hari, tapi hingga berbulan-bulan Dev mencoba membujuk dan merayunya untuk menerima Dimi, percuma itu tak juga berhasil.


"Dia akan lebih betah tinggal di sana daripada di rumah kita." jawabnya di satu ketika Dev membicarakan perihal anak yang sudah berulang-ulang.


"Baiklah, bukankah kau ingin membeli rumah di sekitar kompleks elite itu? Kita akan membelinya tapi aku minta padamu, beri tempat untuk anakku." Dev sungguh putus asa dengan segala usaha membujuk Reina.


"Aku setuju, dengan syarat rumah itu atas namaku." jawabnya enteng.


"Ok." Dev meninggalkan istrinya beranjak keluar, menahan sejuta emosi yang sudah memuncak di ubun-ubun, tapi tak sampai meledak, hampir meledak.


Ia tak habis pikir istrinya akan berubah menjadi orang yang sombong, bermulut pedas dan tidak menyukai anak-anak. Bukankah awal bertemu tak separah itu, sungguh isi dunia ini lebih banyak yang palsu dan menipu. Dia kecewa, namun semua sudah terjadi dan masih dapat ia syukuri sebelum ia meninggalkan dunia ini Tuhan memberikan waktu untuk melihat anak satu-satunya penerus kehidupannya, Dimi.

__ADS_1


__ADS_2