Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
115. Bertengkar


__ADS_3

"Tidak ada sayang, hanya aku sedang banyak pikiran." Aldo sedikit tersenyum menatap wajah itu.


"Apa ada yang lebih penting dari pada aku?" Reva bertanya dengan suara lembut sekali.


Sejenak Aldo tertegun menatap wajah yang begitu ia sayangi. "Tidak sayang, kau yang paling penting bagiku juga anak kita." jawabnya pelan.


"Lalu apa yang sedang kau pikirkan jika bukan aku?" Reva sedikit memiringkan kepalanya, mencoba mencari tahu isi hati suaminya.


"Aku, aku hanya tidak bisa membayangkan jika harus berpisah denganmu." ucapnya dengan ragu.


"Kau ingin berpisah denganku mas?" Wajah polos itu bertanya.


"Tidak, itu tak mungkin ku lakukan." ucapnya dengan tatapan penuh kasih sayang, tangan itu membelai wajah istrinya.


"Tapi aku merasa kau berbeda? Tidakkah kau tahu aku sedang rapuh, kehilangan ibu dan ditinggal kakak membuatku merasa sendiri. Aku berharap setiap waktu bisa bermanja denganmu, tapi kau malah sibuk dan terkadang seperti tidak fokus saat aku bicara sesuatu. Apa kau tak bahagia menyambut kelahiran anak kita?" tanya Reva lagi, tangannya di genggam erat Aldo.


"Aku bahagia sayang, itu yang sedang aku tunggu." ucapnya, memeluk erat.


Reva tak menjawab lagi, begitu hangatnya pelukan pria itu membuatnya lupa untuk bertanya lebih jauh. Tak ada yang aneh memang, Aldo pulang lebih awal, dan pergi setelah yakin Reva tak butuh apa-apa. Tapi terkadang Aldo sering melamun, entah kenapa itu membuat Reva khawatir. Terlebih lagi ini adalah hari menjelang akan lahirnya anak mereka.


"Sayang, tunggu di sini aku ingin ke kamar mandi." Aldo melepas pelukannya dan berlalu masuk ke dalam.


Reva berjalan mengelilingi halaman dengan sedikit menginjakkan kaki lebih keras, ada rasa gatal di telapak kakinya yang begitu nikmat saat menginjak tanah dan rumput tanpa alas. Sesekali tangannya meraih tanaman yang tampak kurang rapi, dan mengelus bunga yang sedang mekar.


Kendaraan roda empat masuk ke halaman rumah itu, yang memang jika pagi pintu pagar selalu di buka lebar hingga Aldo berangkat bekerja. Reva menoleh.


Pria berseragam itu turun dari mobilnya, langsung menatap Reva dan mendekati. "Sedang apa?" tanyanya lembut, senyumnya begitu mendamaikan.


"Hanya menghirup udara segar mas." Reva menjadi serba salah, terlebih lagi dengan perutnya yang kian besar.


"Apa suamimu ada?" Dev melihat ke dalam.

__ADS_1


"Ada, mas masuk saja." Reva berbalik menyamping tak ingin berhadapan terlalu lama, dia merasa sangat tidak percaya diri.


"Tidak usah serba salah, kau masih cantik meskipun sedang mengandung." Dev tersenyum menatap wajah yang selalu malu-malu itu, tak ada keberanian untuk menentang tatapan darinya, semakin membuat pria itu kagum dan terus menatap walaupun wajah yang di pujinya sudah berpaling menatap bunga-bunga.


"Kau sedang menggoda istriku?" Aldo keluar, mendekat dengan tersenyum sinis.


"Tidak, hanya mengingatkan untuk tidak perlu sungkan padaku." Dev tersenyum.


"Ah benar juga, kau sedang menghitung waktu untuk menagih janji bukan?" Aldo menatap dengan keangkuhannya.


"Kau sudah tau?" Dev masih menatapnya dengan ketenangan.


"Apa yang tidak ku ketahui, apalagi tentang istriku." Aldo melirik istrinya sekilas, wanita itu sedang menoleh heran dengan apa yang mereka bicarakan.


"Ah aku jadi lupa untuk apa aku datang kemari, kalau begitu aku pulang saja." Dev melangkah mundur dan berbalik masuk ke dalam mobil yang baru di belinya satu bulan yang lalu, tanpa menoleh pria itu berlalu pergi.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Reva, dia heran dan bingung.


"Dia menuggu waktu yang sudah kalian janjikan?" Aldo mendekat. "Kau akan kembali padanya, dan aku akan meratapi perpisahan kita." Aldo tersenyum getir.


"Bukan aku, tapi kau sayang." Aldo merasa lega, sejak satu bulan yang lalu ia menahan beban itu sendirian.


"Aku? Kenapa aku mas?" Reva terlihat sangat heran.


Kali ini Aldo menunduk, berkali-kali menarik nafas dan mencoba menjelaskan semuanya. "Kau sudah berjanji dengan Dev untuk kembali padanya bukan?" ucapnya kemudian, memberanikan diri untuk menatap.


"Apa?" Reva sungguh tak habis pikir, bibir mungil itu menganga tak percaya.


"Aku mendengarnya saat dia berbicara pada kak Rey, dan entah apa lagi yang lainnya aku tidak tahu." Aldo menatapnya sendu. "Kau tahu sayang, aku begitu mencintaimu sepenuh hatiku, aku sangat takut kehilanganmu, aku rela melakukan apa saja untukmu, aku menggilai mu! Aku ingin segera memiliki anak darimu agar kau tidak bisa lari dariku, tapi ternyata kau sudah berjanji lebih dulu untuk kembali padanya, itu menyakitkan." Aldo terlihat putus asa.


"Aku tidak begitu mas." ucapnya lagi.

__ADS_1


"Dia menunggumu karena janjimu." Aldo tersenyum getir.


"Aku tidak seperti itu mas!" Reva kesal dan tidak terima.


"Tidak bagiamana? Aku mendengarnya. Setega itu kalian berdua mempermainkan aku." Aldo menatap Reva dengan kecewa.


"Kau bilang aku mempermainkan mu? Justru akulah yang merasa begitu. Jangan-jangan kau sedang berencana untuk melemparkan aku kembali padanya. Seperti waktu kau ingin melamar ku." ucapnya dengan kesal, Reva meninggalkan Aldo masuk dan menuju kamarnya.


"Reva dengarkan aku!" Aldo mengejarnya hingga ke atas.


"Aku tidak mau mendengar apapun kali ini. Sudah cukup kau dan dia memperlakukan aku seperti mainan, kemarin dia sedang bosan dan meminjamkan aku padamu, sekarang kau sudah bosan, kau kembalikan aku padanya. Kalian sudah tidak waras." Reva terlihat sangat marah, masuk ke kamarnya.


"Reva aku tidak begitu, aku benar-benar mencintaimu!" Aldo menarik tangan Reva.


"Kau pikir aku lupa! Dia juga bilang begitu, dia sangat mencintaiku tapi ku rasa saat ini cinta menurut kalian hanya mainan. Aku sudah muak dengan sandiwara kalian yang tiada akhir." Reva menyingkirkan tangan Aldo.


"Sayang aku tidak sedang bersandiwara, justru selama satu bulan ini aku merasa sedang berada dalam sandiwara kau dan dia." Aldo mencoba meredam amarah istrinya.


"Sandiwara apa mas! Aku yang sedang mengandung anakmu kau pikir sedang bermain-main? Setiap malam aku tidur denganmu lalu kau pikir setelah ini aku akan kembali dengan temanmu itu dan tanpa rasa malu aku menjadi istrinya juga mantan istrimu begitu!" Reva semakin marah.


"Reva dengarkan aku sayang, waktu itu kak Rey dan Dev sedang berbicara tentang hal itu dan aku mendengarnya. Kurasa kau memang pernah berjanji padanya." Aldo merendahkan suaranya.


"Sepenting itukah sebuah janji? Lalu bagaimana dengan ijab qabul yang kau ucapkan bersama kakakku, apa itu tidak penting?"


"Sayang kau tidak boleh begini, tolong kita bicara baik-baik." Aldo sangat khawatir karena Reva tak pernah semarah itu.


"Sebelum kau membuang ku dan meminta dia mengambilku, lebih baik aku pergi dan aku tidak sudi bertemu dengan kalian lagi." Reva mengusap air mata yang mengalir tanpa suara.


"Sayang." Aldo meraih dan memeluknya.


"Sudah cukup mas, sudah hampir satu bulan sikapmu berubah. Tidakkah kau menyadari aku sedang sangat membutuhkanmu!" Reva menangis dan marah, tangannya mendorong Aldo yang ingin memeluknya.

__ADS_1


"Reva, sayang aku minta maaf." Aldo terlihat memohon karena istrinya tak mau di peluk.


"Gara-gara temanmu yang plin-plan itu kau jadi mengabaikan aku. Kau hidup saja dengannya!" Reva menyingkir tangan Aldo dan menghindarinya.


__ADS_2