
"Apa kau sudah berangkat?" Suara telepon di seberang sana.
"Aku sedang di jalan mengantar istri ku, ada apa?" Aldo mengurangi kecepatan mobilnya.
"Bos ingin bertemu kita, di cafe tak jauh dari kantor. Dia bilang penting." jelas David lagi.
"Baiklah. Dua puluh menit lagi." Aldo mengakhiri sambungan telepon.
"Ada apa mas?" Reva menatapnya ingin tahu.
"Entahlah, tadinya kami sudah sepakat untuk mengundurkan diri hari ini. Tapi sepertinya ada yang penting." Aldo hanya sekilas menatap istrinya lalu kembali fokus menyetir.
"Aku tak apa jika kau berhenti mas." Ucapnya lirih. Sudah pasti lebih baik baginya berhenti, agar dia tidak berfikir macam-macam tentang Bella yang sering mengejar suaminya.
Aldo seakan mengerti apa yang di fikirkan istrinya, sejujurnya itu wajar. Karena memang kenyataannya Bella masih menginginkan menikah dengannya, bahkan mau menjadi istri kedua. Kalau sampai Reva tau, pastilah dia akan lebih posesif lagi. Aldo tersenyum memikirkan hal itu, betapa bahagianya berada di titik ini. "Dapat menikah dengan mu saja bagiku sudah seperti mimpi, apalagi dicintai dan dicemburui." Aldo bicara di dalam hati.
"Mas, kenapa tersenyum?" Reva merengut.
"Tidak sayang, aku sangat bahagia bisa memilikimu." Dia memarkirkan mobilnya lalu merubah posisi menghadap istrinya "Kau tau, aku sangat takut kehilanganmu. Jika aku yang macam-macam dan kau meninggalkan ku, aku tidak akan mendapatkan wanita lainnya seperti dirimu. Tapi sebaliknya, ada banyak pria yang menunggumu lepas dariku." Aldo memeluk dan mengelus kepalanya.
"Mana ada yang akan menyukaiku lagi mas, aku sudah milikmu." Reva mendongak menatap suaminya.
Aldo hanya tersenyum, dia tak ingin memberi tahu jika terkadang di malam hari ada pesan masuk di ponsel istrinya dengan simbol di bawah pesan, mawar putih. Memang pesannya tak ada yang aneh, hanya sebatas percakapan teman. Tapi tetap saja, Aldo juga laki-laki yang sangat tau alasan jika mengirim pesan dengan seorang wanita di malam hari. untungnya Reva tak pernah masalah ponselnya di pegang Aldo, bahkan jika libur Aldo lebih sering memakai ponsel istrinya dari pada miliknya sendiri. Cemburu, tentu saja karena alasan itu. Tapi beberapa hari ini ada kelegaan tersendiri, Reva semakin manja dan tidak mau jauh darinya membuat rasa percaya dirinya meningkat beribu-ribu kali lipat, "Yang terpenting kau milikku." Ucapnya kemudian membiarkan istrinya bekerja, Aldopun menuju cafe tempat dia dan David janjian.
"Selamat pagi pak!" Aldo menjabat tangan pria paruh baya yang menjadi bosnya.
"Selamat pagi, terimakasih kalian sudah datang." Ucapnya.
"Ada apa sebenarnya bapak menemui kami disini?" David bertanya.
"Begini, aku ingin kalian pertemukan aku dengan putriku Ayu Larasati." Tatapan matanya memohon kepada kedua bawahannya.
"Tapi,... Ah sebenarnya kami juga ingin menyampaikan sesuatu. Maaf jika ini menyinggung anda. Kami berencana untuk mengundurkan diri hari ini." Jelas Aldo yang sudah pasti membuat pria itu sangat terkejut.
"Kenapa kalian ingin berhenti. Tanpa kalian berdua apalah arti perusahaan ku?" Pak Hartawan menatap tak rela.
__ADS_1
"Maaf pak, tapi_"
"Apa karena aku memintamu menikah dengan putriku?" Tanya pria itu lagi masih tak habis penasaran.
"Itu salah satunya, asal Anda tahu alasannya adalah aku sudah menikah, istriku adalah Revalia Az-Zahra orang yang sudah bersama dengan putri anda yang lain dan menjadikan dia adiknya." Penjelasan yang tidak di tunda, pak Hartawan nampak kecewa, tapi kemudian menarik nafas dan berusaha tidak memperlihatkan kekecewaannya.
"Hanya itu?" Tanyanya lagi.
"Istri anda menahan pembayaran sisa kontrak kerja kita. Dan istriku saat ini masih menunggu pembayaran. Sebenarnya bisa saja mereka menuntut perusahaan kita, tapi belum mereka lakukan." Jelas Aldo lagi.
"Biar aku yang akan membayarkan sisa uangnya kau tak perlu cemas, tapi ku mohon pada kalian untuk tidak berhenti. Sejujurnya aku tidak suka istriku memimpin perusahaan, tapi aku hanya mencoba memperbaiki kesalahanku padanya." Wajahnya bersedih. "Dan ada yang lebih penting dari itu, aku ingin sebagian hartaku di berikan kepada putriku yang lain, Ayu. Aku hanya khawatir padanya, umur seseorang siapa yang tau." Pak Hartawan memberikan Amplop coklat itu kepada David.
David menatapnya bingung.
"Itu surat wasiat ku untuknya. Satunya lagi ada di pengacara." Menjawab tatapan penuh tanya dari David.
"Dan ini, uang untuk kalian berdua. Aku belum sempat memberikannya padahal sudah ku siapkan dari bulan lalu. Aku sangat berterima kasih pada kalian yang sudah menemaniku hingga saat ini, terutama kau Aldo. Kau bahkan membahayakan dirimu sendiri demi aku." Tangannya menyodorkan amplop uang pada kedua asistennya.
Kedua asisten itu saling pandang, tak biasanya pak Hartawan memberikan uang cash pada mereka.
"Sebentar pak, aku minta padanya dulu." Aldo mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan. Tak lama setelahnya pesan Aldo di balas, dan segera memberikannya pada pak Hartawan.
Terlihat ia mengetik nomor di ponselnya. "Kau katakan padanya, aku minta maaf." Lalu menyimpan ponselnya kembali.
"Pasti akan ku sampaikan, terimakasih pak anda baik sekali." Aldo memujinya, memang sebenarnya dia adalah orang yang baik. "Dan untuk putri anda, nanti sore kita datang bersama ke kantornya." Aldo menatap yakin, dan benar setelahnya diangguki pria berjas hitam itu.
*
"Assalamu'alaikum mas." Suara lembut yang terdengar menggoda walaupun setiap hari mendengarnya.
"Wa'alaikum salam sayang." Ucapnya begitu gembira.
"Mas uangnya sudah masuk. Terimakasih mas, jika tak ada dirimu aku tidak tau akan berbuat apa!" terdengar dia sangat bahagia di seberang sana.
"Jika tak ada aku, uangmu tak akan di tahan sayang." Aldo jadi merasa bersalah.
__ADS_1
"Ah sudahlah, tak usah kita membahasnya lagi. Aku rindu mas!" Ucapnya. membuat Aldo ingin melompat dari kursinya.
"Aku akan ke sana sekarang!" Tanpa menunggu jawaban dia segera mematikan teleponnya, dan langsung pergi.
"Hey kau mau kemana?" David yang baru saja keluar dari ruangannya terheran-heran melihat Aldo berjalan cepat.
"Kau yang bersama bos, aku duluan!" Teriaknya. David masih melongo melihat tingkah aneh Aldo. Sudah pasti dia ingin sampai duluan "Dasar pengantin baru, Dia sedang mabuk cinta"
Tak butuh waktu lama baginya, dia sudah masuk kedalam ruangan istri kecil yang baru saja memancingnya setengah jam yang lalu.
"Mas," Dia bahkan tak di beri kesempatan untuk bicara, Aldo sudah menutup mulutnya seperti sedang kehausan. Tak di beri jeda, tak di beri jarak, tak akan di lepas sebelum dahaganya menghilang hingga beberapa saat berlalu.
"Mas, menyingkirlah aku mau ke kamar mandi." Reva mendorong dada berkeringat itu.
"Sebentar sayang, aku sedang menghirup wanginya dirimu. ini nyaman sekali." Jawabnya sambil memejamkan mata.
"Mas, nanti Ayu akan mencari ku!" Reva berusaha bangun.
"Baiklah." Barulah Aldo melepaskannya dengan tak rela, tangannya masih memeluk sesaat.
*
David dan pak Hartawan baru saja tiba di kantor milik Reva, mereka duduk di ruangan tunggu. Tak lama setelahnya, Ayu keluar dengan langkah yang ragu-ragu. Dia menatap wajah pria yang sudah terbukti adalah ayah kandungnya, ada rasa yang sulit di artikan didalam hatinya. Dia berdiri di samping Pria tua itu tak melanjutkan langkahnya.
"Ayu."David berdiri melihat kehadiran wanita yang di cintainya. Tak kalah kagetnya pak Hartawan menatap wajah cantik semampai, dengan mata sipit dan pipi yang tirus seperti ibunya. Benar-benar sama, dia ingin sekali menangis meratapi betapa menderitanya Ayu karena dirinya.
"Anak ku." Ucap pria itu pelan dan bergetar.
Ayu diam membeku, tak bicara bahkan tidak berkedip. Semua anggota tubuhnya terasa kaku.
Pak hartawan mendekat perlahan. "Bolehkah aku memelukmu?" tanyanya setelah berhadapan cukup dekat.
Tetap tak ada jawaban bahkan pergerakan. Membuat Pak Hartawan langsung memeluknya erat sekali, dia menangis sejadi-jadinya sambil mencium kepala gadis yang terkenal garang dan dingin itu. "Maafkan papa nak, maafkan papa." di sela tangisnya. Tanpa sadar air mata gadis yang di peluknya jatuh mengalir seperti sungai. Tak pernah dia bayangkan akan ada laki-laki yang memeluknya sebagai papa, bahkan orang yang di anggap ayah kandungnya selama ini tidak pernah memeluknya semenjak dia di lahirkan. Rasanya begitu nyaman sekali, dialah laki-laki pertama yang memeluk sepanjang dia hidup.
"Papa..." Ucapnya penuh haru.
__ADS_1