Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
112. Mengingat masa lalu


__ADS_3

Bayangan masa itu begitu jelas terlihat, saat masih berseragam sekolah mereka sering kali mencari uang tambahan di luar, bahkan terkadang meninggalkan sekolah sebelum waktunya.


"Kau ikut aku saja!" ucap Dev kala itu dengan wajah memelas karena dia tak mau bolos belajar sendirian.


"Tapi aku harus belajar, lagi pula ini masih pagi." Aldo berusaha tak terpengaruh.


"Sekali ini saja, lain kali aku tak akan mengajakmu lagi." Dev tetap memohon, sungguh wajah polos dan memelas itu membuat Aldo goyah dan menuruti kemauannya untuk bolos sekolah.


"Kita mau kemana?" tanya Aldo kecil terus mengikuti langkah Dev yang lebih tua darinya.


"Kita mencari uang di tempat cuci mobil ujung sana." jawab Dev dengan tak menoleh Aldo.


"Apa ibu tak memberimu uang?" Aldo menanyainya lagi.


"Tidak, ini akhir bulan. Uang pensiun ayah hanya cukup untuk kebutuhan pokok saja jika di akhir bulan." jawab Dev kecil yang begitu paham keadaan di rumah.


"Baiklah, uangku juga sudah menipis. Kiriman uang sewa lahan milik ibuku juga baru di kirim satu atau dua Minggu lagi." Aldo tak keberatan. Dengan mata tajamnya Aldo melihat kiri dan kanan memperhatikan mobil yang berlalu lintas, wajah putih berlesung pipi itu terlihat lebih garang tapi juga menggemaskan. Berbeda dengan Dev yang memiliki wajah manis dan berpenampilan lembut juga sabar. Berdua melintasi jalanan yang begitu ramai kendaraan, hingga sore bahkan malam hari mereka berdua pulang dengan tubuh lelah dan kedinginan.


*


"Mas." suara manja itu terdengar merdu, membuyarkan lamunan masa lalu. Tangan lentik yang ada dalam genggaman itu bergerak-gerak diantara sela jarinya.


"Sayang, kau sudah bangun." Aldo menatap sendu, begitu ia mencintai wanita yang sedang mengandung anaknya. Wajah cantik lembut dan manja itu selalu membuatnya menggila, membuat seorang Aldo sanggup melakukan apa saja untuk memilikinya.


"Mas, aku haus." ucapnya dengan sedikit menggeliat.


"Tunggu sebentar sayang, aku akan mengambilnya." Aldo beranjak melepaskan genggaman tangan itu, menuju ke lantai bawah mengambil air minum serta makanan untuk istrinya.


Tak lama pria itu kembali dengan makanan dan minuman di tangannya. "Makan sedikit sayang, kasihan anak kita pasti kelaparan." bujuknya sambil memberikan air putih yang di minta istrinya.


Dia menurut, walaupun nasi dan lauk itu terasa hambar dan serat, seperti kapas kecantikan, pelan-pelan beberapa suap makanan berhasil masuk ke dalam perut ibu hamil itu, tangan kokohnya masih menyuapi dengan sabar, sesekali memberikan sentuhan di wajah yang lesu dan sedikit pucat.

__ADS_1


"Sudah mas." ucapnya sedikit merengek. Aldo meletakkan piring makanan di atas nakas, lalu merengkuh tubuh yang sedang lemas tak bertenaga itu.


"Kau tau saat kau tertidur anak kita bergerak-gerak, dia bermain dengan tanganku, dia begitu lincah di dalam sana. Jadi kau harus kuat demi anak kita, jangan bersedih lagi." Aldo menghiburnya.


Reva mendongak wajah yang selalu setia mendampinginya itu, menatap bola mata bening yang senantiasa penuh cinta. Ingat pesan ibu terakhir kali, untuk selalu menuruti suaminya, jangan membantah apa lagi melawan padanya. Terus menatap Aldo yang tersenyum manis mendamaikan hati, nafas hangatnya menghambur di seluruh wajah, dia terlihat begitu tampan sekali.


"Mas."


"Iya." Aldo masih menatap wajah itu.


"Kemarin aku melakukan USG di rumah sakit saat menemani ibu." Reva masih mendongak tak berkedip menikmati wajah tampan yang menggoyahkan iman.


"Lalu?" Aldo menatap penuh harap.


"Anak kita perempuan." ucapnya pelan.


"Benarkah?" Aldo membulatkan matanya, dia begitu terlihat bahagia.


"Iya, seperti keinginanmu mas." Reva tersenyum. Langsung di peluk Aldo dengan erat, tak henti menciumi rambut dan pundak serta seluruh wajah cantiknya.


"Iya mas, kau suami yang nyaris sempurna untukku, terima kasih sudah mencintaiku dengan sabar." Reva menyandarkan kepalanya di dada hangat itu, menikmati aroma wangi yang menghanyutkan, dengan deru nafas yang menenangkan.


"Ku pikir Tuhan tidak akan mengabulkan keinginanku. Mengingat aku bukanlah orang yang taat, sholatku hanya tiga rakaat saja, yang lainnya selalu ku tinggalkan. Hanya setelah bersamamu aku memperbaiki diriku seperti saat ini." ucap Aldo.


"Artinya kau masih ingat padaNya mas, dan Allah juga masih mengingatmu. Mulai sekarang jangan kau tinggalkan sholatmu lagi, karena semua keinginanmu selalu Ia turuti." ucap Reva lembut.


"Iya, Aku akan berusaha, demi anak dan istri tercintaku." ucapnya dengan gemas mengecup pipi mulus merona.


"Hari sudah mulai gelap, ibu sedang berbaring di sana." Reva kembali bersedih kala melihat keluar jendela.


"Dan Ayah ibuku juga sudah lebih dulu sayang, mereka sudah bebas dengan segala beban di dunia. Tak perlu bekerja, tak perlu menangisi kehilangan seperti kita. Yang ada mereka sedang menunggu kedatangan kita walaupun entah siapa yang akan lebih dulu tiba di sana." Aldo menempelkan pipinya memberikan ketenangan.

__ADS_1


"Andaikan itu aku." Reva kembali menangis.


"Lalu bagaimana denganku? Apa kau tega meninggalkan aku sendirian?" Aldo meraih dagu itu menghadapkan pada wajahnya.


"Apa kau akan menikah lagi mas?" Reva tiba-tiba memikirkan hal itu.


"Apa kau rela aku begitu?" Aldo semakin memancingnya.


"Tidak mas, aku tidak mau." Wajahnya sedikit merengut dengan tangan memeluknya.


"Ya kalau begitu jangan coba-coba meninggalkan aku." Aldo mulai menggodanya.


"Kita akan selalu bersama." ucapnya manja.


"Tentu saja, selamanya." Aldo kembali merayunya sedikit. "Ayo kita mandi!" ajak Aldo melihat istrinya sudah lebih baik.


"Tapi rasanya aku malas." Reva tak mau beranjak.


"Tapi ini bau sayang, yang ini juga bau, apalagi bagian yang lainnya." Aldo menunjuk leher dan ketiak istrinya, membuat ibu hamil itu geli dan menghindar.


"Aku tidak bau mas, bukankah kau bilang aku selalu wangi." jawabnya terdengar semakin manja.


"Itu karena aku sedang jatuh cinta." Aldo terkekeh geli.


"Lalu sekarang sudah tidak jatuh cinta lagi?" Reva tidak terima.


"Masih, tapi akan lebih jatuh cinta lagi jika istriku sudah mandi, rasanya sejuk dan menggoda sekali." Aldo bercanda dengan tatapan dan ekspresi nakalnya. Dia tertawa, dan begitu seterusnya akan selalu berhasil menghibur dan membuatnya bahagia.


Lepas sholat magrib rumah itu mulai kembali ramai, sanak saudara juga tetangga terlihat sudah duduk bersusun rapi turut berduka, memulai aktivitas mengaji, doa, Yasin dan sebagainya.


Reva duduk bersama tetangga wanita juga pegawai kantor miliknya, sedangkan Aldo bergabung dengan para tetangga dan rekan-rekan yang lain. Menyapa satu-persatu mereka yang datang, salah satunya adalah sahabat yang tadi sore mengganggu pikirannya, Dev.

__ADS_1


"Masuklah." ucapnya tak memperlihatkan wajah ramah, tidak juga memperlihatkan wajah tak suka.


Dev sedikit tersenyum, berlalu dengan tak menjawab apa-apa.


__ADS_2