Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
123. Dev & Aldo


__ADS_3

Di rumah itu, Dev duduk sendirian meratapi kehidupan yang begitu melelahkan.


*BELASAN TAHUN YANG LALU*


"Kau tidur di sini saja bersamaku." Dev kecil mengajak Aldo tidur di kamarnya.


"Tapi aku ingin pulang, aku ingin melihat foto ibuku." Aldo tetap beranjak dari duduknya, dan keluar dari rumah Dev.


"Baiklah aku akan menemanimu." Dev mengikuti Aldo berjalan menuju rumahnya.


"Aku benar-benar sendirian, ayah sudah pergi, ibu juga telah pergi. Apa kau juga akan meninggalkan aku?" Aldo bertanya dengan mata bening itu berkaca-kaca.


"Tidak, aku akan menemanimu. Tidurlah!" ucapnya dengan mengambil bantal dan tidur di samping Aldo.


"Terima kasih sudah menemaniku." ucap Aldo kecil, dia ikut memejamkan mata hingga pagi menjemput.


Mereka berangkat sekolah bersamaan, Dev kelas dua dan Aldo kelas satu sekolah menengah pertama. Saat pagi mereka saling menunggu, dan saat pulang sekolah mereka juga saling menanti. Saat akhir bulan Dev dan Aldo kekurangan uang untuk kebutuhan sekolah dan uang belanja, dan tak ada ongkos untuk pergi ke sekolah.


"Kita akan bekerja." Aldo kecil menatap tajam pada jalanan yang panas berdebu.


"Kita akan kerja apa?" Dev menyahut dengan penuh tanya.


"Kerja apa saja, jika kau mau ikut aku akan mencuci mobil di ujung jalan." Aldo menoleh Dev yang jauh lebih tinggi.


"Aku ikut, tapi aku belum pernah melakukannya." Dev tampak ragu.


"Aku juga belum pernah, tapi aku pasti bisa melakukannya." ucapnya begitu yakin.


Mereka pergi bersamaan, berdua menghabiskan hari hingga malam menjemput, Baju dan celana yang mereka pakai sudah basah, rambut juga ikut basah, kaki dan tangan sudah berwarna putih dan berkerut. Pulang dalam keadaan lelah, dingin dan lapar.


"Kau punya makanan?" Dev masuk ke dapur rumah Aldo, membuka kulkas dan lemari.


"Sepertinya tidak ada." Aldo menjawab dengan bibir yang bergetar.

__ADS_1


"Kalau begitu kita ke rumahku saja." Mereka berjalan keluar menuju rumah Dev.


"Mengapa sepi, apa ibu sedang pergi?" Aldo melihat tak ada orang di di dalam rumah.


"Iya, ibu sedang keluar kota, berkunjung ke rumah saudara ayah." jawab Dev, tangannya membuka lemari. "Ini ada roti, tapi hanya satu." Dev mengeluarkan roti tawar berukuran besar dan memotongnya menjadi dua.


"Terima kasih." Aldo menerima sepotong roti yang di berikan Dev padannya.


"Ini susumu." Dev menyodorkan gelas berisi susu hangat.


"Aku lelah sekali." Aldo menghabiskan susunya lalu menyandarkan di kursi.


"Kita tidur, istirahat." Dev berjalan lebih dulu menuju kamarnya, di ikuti Aldo yang yang sedikit mengusap sisa air susu di sudut bibir merahnya dan terlihat cantik itu.


Hari-hari yang mereka lewati bersama begitu sibuk dengan berbagai hal, tidak terasa mereka sudah beranjak dewasa. Hingga sekolah menengah atas kedua sahabat seperti saudara itu selalu bersama, bahkan saat ada orang yang mengganggu salah satunya maka mereka berdua akan menghadapinya bersama-sama.


Dan di suatu sore.


"Aku tidak mengganggu mu." Tiga orang anak berandal mendorong-dorong bahu Dev.


"Sudah ku katakan tidak ada." Dev mencoba melepaskan tangan seorang dari mereka.


Tarik-menarik terus terjadi hingga akhirnya Dev terjatuh, dan ketiga anak berandal itu tertawa senang.


Aldo datang dengan wajah datarnya, mata yang tajam itu begitu menusuk menatap ke arah tiga orang yang sedang tertawa. Dengan tanpa aba-aba Aldo memukul salah satu dari mereka hingga jatuh, lalu di susul perkelahian antara dua orang lainnya memukul Aldo bersamaan.


Perkelahian tak bisa di hindari, mereka saling memukul dan menendang hingga akhirnya. Aldo berhasil memukul hidung salah satu lawannya yang paling besar hingga berdarah.


"Mau lagi?" ucapnya terdengar menakutkan, matanya semakin memancarkan kebengisan. Langkahnya yang tegap dan pasti membuat ketiga orang lawannya berlari mundur dan tidak kembali lagi.


"Kau berkelahi sekejam itu?" Dev menatap heran pada Aldo yang saat itu masih mengepalkan erat dua tangannya.


"Kau tidak tau, aku bahkan sering melihat orang saling melukai hingga darahnya memercik di wajahku." Aldo mengulurkan tangannya meminta Dev segera berdiri.

__ADS_1


"Tapi tidak harus diikuti." Dev menatap Aldo dengan rasa khawatir.


"Jika terlalu lemah, kau akan di injak-injak, buktinya kau kalah dengan mereka." Aldo menunjuk arah ke tiga orang yang sudah menghilang.


"Kau jadi menakutkan." Dev masih menatap tak percaya.


"Aku tidak semenakutkan itu! Aku masih dalam tahap wajar." ungkapnya tertawa, lesung pipi yang sempat hilang dalam wajah dingin itu kembali terlihat.


"Syukurlah, aku hanya tidak ingin melihatmu menjadi sadis dan kejam." ucap Dev sambil berjalan beriringan dengan Aldo menuju bis kota, mereka pulang bersamaan.


"Kau tahu, aku akan ikut tes militer, apa kau mau ikut?" Dev melihat wajah tampan dan putih di sebelahnya.


"Aku masih kelas dua. Kau saja yang duluan!" jawabnya, menoleh sejenak lalu masuk ke dalam bis.


"Baiklah, nanti setelah kau kelas tiga, aku akan mengajakmu. Kau doakan aku agar lulus." Dev tersenyum dengan tangan berpegang pada pintu bis kota itu.


"Iya." jawab Aldo dengan tersenyum.


Hari-hari berlalu, sekian lama Dev menjalani tes militer, dan akhirnya dia lolos ke babak pendidikan.


"Aku akan pergi, kau jaga diri baik-baik." ucapnya pada Aldo yang sedang berdiri tegak memandangi sahabatnya yang sudah memakai seragam loreng.


"Kau tenang saja, aku bisa menjaga diri." ucapnya yakin, tapi wajah tampan itu terlihat bengis dan menantang.


"Jangan banyak berkelahi, nanti kau terluka dan cidera, akan sulit ikut tes militer seperti aku." Dev mengingatkan.


"Itu tidak akan terjadi." ucapnya tersenyum mendengar kekhawatiran sahabat baiknya.


"Aku pergi, tolong jaga ibu kita." Pesan Dev pada Aldo. Mereka berpelukan sebagai salam perpisahan, sampai akhirnya Dev pergi menghilang bersama rombongan yang lainnya.


Tinggallah Aldo sendiri dengan masa SMA yang hanya sebentar lagi, saat itu Aldo masih sering berkelahi namun sikap baik dan sopannya tidak ia tinggalkan, sampai pada titik dimana bertemu seorang yang butuh pertolongan, pria berjas hitam itu kebingungan karena sedang ditodong oleh beberapa orang. Mobil yang berhenti dengan pintu terbuka itu tampak sudah di masuki oleh salah satu dari empat orang. Dengan tak sengaja Aldo yang sedang berjalan sendirian melihat dan sedikit mengernyitkan keningnya, mata bening tajam itu mencoba membaca situasi.


Aldo mendekat tanpa bersuara dari balik mobil dan langsung memukul seorang yang menodong sampai pingsan.

__ADS_1


"Kau mau mati!" bentak seorang yang memegang senjata api.


"Itu senjata mainan." ucap Aldo tersenyum sinis membuat lawannya semakin emosi hingga pertengkaran tak bisa di hindari.


__ADS_2