
"Kak, kita makan dulu." Aldo menepikan mobilnya saat melihat kedai mie di pinggir jalan. Berkeliling perkebunan cukup membuat mereka lelah dan lapar, sebenarnya mereka bisa saja makan di rumah paman Didik yang mengelola perkebunan, tapi sepertinya Aldo sudah tidak tenang meninggalkan istrinya terlalu lama. Rey yang faham apa yang dipikirkan adik iparnya hanya menurut saja walaupun sebenarnya dia sudah lapar.
"Aku pikir karena ingin segera bertemu adikku kau sudah kehilangan rasa lapar?" Rey meliriknya sejenak dan tersenyum.
Aldo sedikit tertawa karena ternyata Rey mengetahui isi kepalanya. "Sudah dekat kak, satu jam lagi kita sampai. Jadi istirahat sebentar tak masalah." Jawabnya masih tertawa.
Mereka makan mie ayam yang menurut Aldo sangat enak, entah karena lapar atau benar-benar enak. "Mbak, di bungkus empat ya, tapi rumah saya jauh!" Aldo menatap wajah penjual seperti sedang mencari solusi.
"Saya pisah ya mas, mienya dimasak nanti sampe rumah biar gak mekar." Jawab penjual mie seakan tau maksud Aldo. Membuat Aldo mengangguk senang.
***
"Jadi kapan kau akan menikah?" Reva tampak bahagia mendengar Ayu sudah menerima lamaran David.
"Setelah urusan dengan papa selesai. Aku tidak mau jika harus berebut harta dengan wanita ular itu, Jadi David bilang papa akan membuatkan aku kantor baru sebagai induk dari perusahaan papa yang ada di luar kota." Ayu menjelaskan masalahnya.
"Baiklah, berarti setelah aku syukuran nanti kau sudah harus persiapkan pernikahanmu." Reva melihat wajah adiknya dengan senyum bahagia.
"Kapan kakak akan mengadakan syukuran?" Ayu bertanya, sepertinya dia juga harus serius membuat rencana pernikahannya.
"Dua bulan lagi. Kita akan mengadakan Pengajian dan mengundang anak yatim saja." Reva menjelaskan.
Suara deru mobil memasuki halaman rumah, Reva yang sedang berbincang bahagia sejenak menoleh dan berdiri menyambut suaminya.
"Sayang." Aldo memeluk istrinya yang baru akan melangkah. Aldo selalu terburu-buru jika sudah di depan pintu, ingin segera masuk dan menemuinya.
"Apa itu mas?" Reva penasaran dengan kantong plastik berwarna hitam di tangan suaminya.
"Ah tunggu sebentar." Aldo meninggalkan istrinya sejenak mencari bi Tuti di belakang. tak lama kemudian dia kembali.
"Apa sudah makan?" Tanyanya lagi.
"Dia hanya makan buah." Ayu menjawabnya.
"Baiklah, kita ke halaman belakang makan mie ayam bersama. Dan ada ceker kesukaanmu juga." Ucap Aldo menatap wajah istrinya yang sedikit lemas.
"Tau dari mana aku menyukai kaki ayam?" Reva bertanya terkekeh geli.
"Kak Rey memberitahuku." Jawabnya sambil mengulurkan telapak tangan untuk mengajaknya makan di halaman belakang.
__ADS_1
Benar saja aroma wangi menyeruak masuk menabuh lambung ibu hamil yang kosong. Mie hangat di lengkapi sayur, ayam dan ceker yang empuk membuatnya menelan ludah berkali-kali. "Makasih mas, aku suka!" Serunya senang sekali, mengaduk dan meniupnya sungguh dia sudah tak sabar ingin menikmatinya. Ayu menyaksikan itu dengan sangat heran, hingga tak jadi memasukkan makanan ke dalam mulut, lalu kemudian tertawa. Menurutnya itu sangatlah lucu.
***
Dua bulan kemudian.
"Sayang, aku minta izin padamu untuk datang kerumah Dev dan mengundangnya kemari." Aldo menggenggam tangan Istrinya yang selalu membuatnya nyaman.
"Iya, jika dia tak keberatan datang. Aku tak apa." Jawabnya halus.
"Aku hanya merasa tidak enak jika tidak memberitahunya, bagaimanapun juga dia adalah sahabatku, juga rekan kakakmu." Aldo menatap mata indah itu lagi, takut jika dia tidak menyukainya.
"Undang saja mas, lagi pula itu sudah lama. Ku rasa dia sudah melupakan semua." Reva tersenyum melihat suaminya yang sedikit tidak yakin.
"Apa kau juga sudah melupakan dia?" Aldo terlihat serius.
"Aku tidak melupakannya, dia orang yang baik karena sudah mengorbankan perasaanya untuk melepaskan aku. Tapi bukan cinta, cintaku hanya untukmu bahkan sudah tidak butuh apapun lagi selain dicintai olehmu. Kau suamiku, satu-satunya pujaanku, pemilik hatiku." Reva tersenyum tulus, membelai wajah tampan yang selalu penuh cinta setiap waktu.
"Aku sangat takut kehilanganmu. Bahkan sehelai rambutmu yang jatuh aku tidak rela laki-laki lain menemukannya." Aldo memeluknya erat.
"Aku hanya ingin dirimu mas." Jawabnya lembut sekali.
"Hemm, tapi jangan lama." Ucapnya masih didalam pelukan Aldo.
"Baiklah, apa sekarang boleh meminta yang berlama-lama?" Aldo mulai menggodanya.
"Jangan lama-lama." Jawabnya manja.
"Aku tidak yakin sayang."
***
Pagi-pagi sekali Aldo sudah berangkat menuju rumahnya yang dulu, karena hari ini sangat sibuk untuk persiapan syukuran atas kehamilan istrinya dia juga tidak mungkin berlama-lama.
"Dev!" Aldo tiba di depan rumah dan kebetulan Dev sedang berdiri di depan rumahnya menghirup udara segar.
"Hai, Ada apa pagi-pagi sekali sudah ada disini. Jangan bilang kau sedang ribut lagi?" Dev tampak jengah melihat wajah sahabatnya itu.
"Kau ini, apa kau tidak rindu padaku?" Aldo memulai gurauannya.
__ADS_1
"Kecuali kau sudah berubah memakai bikini!" Jawabnya tak peduli.
"Aku tidak punya barang seperti itu." Aldo meninggalkan Dev masuk ke dalam rumah, sudah pasti Dev mengikutinya.
"Kenapa kau kemari?" Dev masih penasaran.
"Aku sengaja mencarimu, nanti malam di rumahku ada acara pengajian. Aku mengajakmu datang kerumah, ada kak Rey juga." Ucapnya sedikit ragu.
"Aku tau, Rey sudah memberitahu ku." Dia duduk di ruang tamu seperti biasa.
"Aku harap kau datang." Aldo menatapnya serius. "Aku minta maaf untuk yang lalu waktu di cafe aku sempat menuduhmu." Kali ini Aldo menunduk merasa bersalah.
"Tak apa, aku bahagia jika kau sangat menyayanginya." Dev tersenyum.
"Terimakasih untuk semuanya." Ucap Aldo lagi. "Aku harap kau juga menemukan kebahagiaan." Tambahnya lagi.
"Semoga saja." Dia tersenyum getir. Entah iya entah tidak, jalan hidup orang tidak ada yang tahu.
"Baiklah, aku tunggu kedatanganmu. Aku harus pulang." Aldo memberikan kunci rumahnya pada Dev.
"Iya, aku akan datang." Jawabnya pelan.
*
Selepas magrib Reva bersiap sedikit berdandan dengan make up tipis, wajah cantiknya selalu tersenyum.
"Mas." Suara lembut itu memanggilnya, membuat pria itu berbalik.
"Kau sangat cantik sayang." Aldo menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, gaun panjang berwarna putih dengan renda pink muda, serta hijab panjang berwarna putih senada membuat aura kecantikannya semakin sempurna. Aldo memeluknya seakan enggan kemana-mana, mengusap pinggang yang langsing dulu kini sudah penuh berisi. Tentu itu sangat membanggakan bagi suami yang sedang menikmati masa kehamilan istri tercinta.
"Apa di bawah sudah ramai?" Reva melonggarkan pelukan hangat itu dari tubuhnya.
"Sudah sayang, semua sudah datang ada Dev juga bersama kak Rey di luar." Tatapan yang tersirat keraguan sudah tentu masih takut sekali kehilangan.
"Aku milikmu mas." Ucapnya lembut, meraih tangan Aldo dan menempelkannya di perut yang sudah mulai berisi. Mengukir senyum penuh keyakinan antara keduanya.
Di halaman rumah yang lumayan luas itu, sudah ramai dua ratus anak yatim dan lima puluh tetangga pengajian. Suasana hangat tercipta diantara semua orang yang hadir, disambut hangat dan bahagia oleh tuan rumah yang ramah dan penuh perhatian.
Pengajian di mulai dengan hikmatnya terlebih lagi para anak yatim juga ikut membaca surah Yasin, surah pendek dan doa-doa yang tulus mereka panjatkan. Semua orang yang hadir diselimuti rasa haru bahkan sebagiannya meneteskan air mata menyaksikan khusyuknya mereka berdoa.
__ADS_1