Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
99. Dapatkan restunya


__ADS_3

"Sayang kau sedang apa?" Aldo menelepon istrinya.


"Aku sedang merapikan bajumu mas." Jawabnya di seberang sana, suara itu selalu terdengar menyenangkan.


"Kenapa tidak meminta bibi saja yang mengerjakannya, kau tidak boleh lelah sayang." Suara Aldo terdengar khawatir.


"Hanya menyusun saja mas, aku sangat menyukai aroma baju-bajumu. Aku jadi berpikir apa aku ini sedang mengidam?" Jawabnya tertawa.


"Apa kau sedang merindukan aku sayang?" Aldo menggodanya.


"Itu selalu ku rasakan, tak perlu kau tanyakan lagi mas." Suaranya halus sekali, membuat gemas orang yang mendengarnya.


"Ah, rasanya aku ingin segera pulang." Ungkap Aldo.


"Tidak, baru berapa jam kau bekerja." Reva tak mau membuatnya pulang mendadak.


"Baiklah sayang, sebelum Ashar aku sudah di rumah. Tunggu aku ya!"Ucapnya dengan bisikan nakal.


"Iya." Jawabnya singkat.


"Assalamualaikum sayang." Ucapnya lagi.


"Wa'alaikum salam mas, aku mencintaimu." Jawabnya lalu memutuskan panggilan.


Aldo tersenyum lebar menatap ponselnya, dulu dia sering sekali mengucapkan kata itu lalu meninggalkannya pergi, tanpa jawaban dia tetap akan mengatakannya berulang kali. Kini dia membalas, membuat senyum itu tak bisa berhenti, sungguh rasanya bahagia sekali.


Sedangkan rekannya sedang sibuk memperhatikan karyawan dengan satu tangan sibuk memeluk istrinya. Pemandangan yang sangat aneh sekali mengingat istrinya adalah wanita yang tidak suka di dekati apalagi di ganggu.


"David jika setiap hari seperti ini pegawaimu bisa sakit." Ayu melihat jam tangannya, sudah lewat waktu jam makan siang, tapi mereka masih sibuk malah semakin ramai pengunjung.

__ADS_1


"Mereka makan bergantian sayang, sebagiannya sudah makan dan sebagiannya belum." David tertawa melihat Ayu yang khawatir dengan pegawainya.


"Oh begitu." Ayu kembali bermain ponsel dengan menyandar di bahu David. Kali ini dia tak mau jauh-jauh dari suaminya yang tampan itu.


"Kau sudah lapar?" David menoleh wajah yang sedang bermanja padanya.


"Nanti saja, kita makan bersama." Jawabnya masih tak bergerak.


"Jika kau lelah, tidurlah di kamarku sayang." Ucapnya lagi.


"Bersamamu?" Ayu mendongak menggoda suaminya.


"Atau kita pulang saja." David mendekatkan wajahnya, senang sekali wanitanya itu sudah tidak merajuk. Tapi itu membuat orang lain tidak suka, wanita itu menunduk dan berlalu dengan melangkah cepat.


***


Siang itu Alisa dan Rey sedang berkemas, Rey memasukkan baju Ayra dan Alisa juga ke dalam tas besar miliknya.


"Kita makan bersama Rey." Jawabnya pelan.


Rey menutup tasnya dengan rapi dan memastikan tak ada pakaian yang tertinggal, kemudian Rey mendekati istrinya. "Alisa, aku akan bersamamu apapun yang terjadi. Kau tidak usah memikirkan apapun, aku akan mendukung apa yang menurutmu baik. Dan satu lagi, aku akan menemui papa dan mama terlebih dahulu sebelum kau bertemu dengan mereka. Aku pastikan jika mereka ingin marah itu hanya padaku, apapun yang terjadi yang paling penting aku akan mempertahankanmu disisiku." Rey membelai wajah yang sedang gundah itu, istrinya yang cantik.


Alisa memeluk erat tubuh Rey, rasanya memeluk Rey adalah obat dari segala kegundahan yang ada di dalam hatinya. Rasa nyaman yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, sungguh dia sangat jatuh cinta pada Rey Arya Dinata.


"Aku tau, kau tidak akan membiarkan aku sendirian." Alisa mendongak menatap wajah tampan di atas wajahnya.


"Tentu saja sayang." Rey mengecup bibir merah itu, memberinya ketenangan dan menghilangkan kegelisahan. "Aku tidak akan melepaskanmu." Ucap Rey di sela nafasnya yang memburu, membuat Alisa semakin hanyut dan tidak mau melepas pelukannya.


Entah mengapa, Alisa merasa sesuatu yang besar akan terjadi. Ayahnya adalah orang yang berkuasa dan memiliki segalanya, memisahkan dia dan Rey bukanlah hal sulit untuknya. Alisa merasa kali ini suaminya juga sedang gelisah, mungkin Rey juga merasakan ke khawatiran yang sama. Jika di rasa perpisahan semakin dekat, maka sedikit waktu sangat berharga.

__ADS_1


Terkadang dia berpikir untuk memutuskan kontak dengan orang tuanya, tapi Rey tidak memperbolehkan itu, Rey selalu bilang jika orang tua tetap harus di hormati dan selalu memberi kabar walaupun mereka tidak menyukainya.


"Aku mencintaimu Rey." Ucap Alisa sangat tulus.


"Aku juga sayang, aku sangat mencintaimu istriku, ibu dari anakku, cinta pertama ku, cinta terakhirku." Jawab Rey masih memeluknya erat sekali. "Apapun yang terjadi nanti jangan pernah tinggalkan agama kita, karena Tuhanlah yang akan memberikan jalan untuk kita selalu bersama." Rey menatap wajah yang polos itu.


"Iya, aku janji." Alisa tersenyum, wajah tampan itu sungguh membuat hatinya tenang dan tidak takut apapun. Sejak dulu bahkan dia sanggup meninggalkan segalanya, hidup sederhana bukanlah masalah untuk Alisa. Demi cintanya pada Rey itu tidaklah sulit, justru yang sulit baginya adalah jauh dari laki-laki pujaannya itu, dia bisa gila.


Walau terkadang dia bingung memikirkan hal itu, dalam diri Rey tak ada yang istimewa, hanya pria itu sangat memperjuangkan dirinya walau tak di restui. Sebisa mungkin memberikan yang terbaik untuk Alisa, yang pasti cintanya itu luar biasa.


"Makanlah dulu sayang." Ibu sedang menyiapkan makanan di meja, sekilas dia melirik tangan Alisa dan Rey saling menggenggam erat.


"Iya ibu, maaf aku tidak membantu." Alisa duduk melihat wajah ibu.


"Tidak apa-apa sayang, bibi yang masak." Jawab ibu tersenyum.


"Ibu, kami akan pulang sore ini, besok kami harus bekerja." Rey mulai mengisi piringnya.


"Baiklah, nanti ibu akan ke sana jika butuh bantuan untuk menjaga Ayra." Jawab ibu yan juga ikut makan bersama.


"Ibu, mungkin dalam waktu dekat aku akan ke luar negeri, aku akan menemui papa dan mama." Rey kembali bicara.


"Kau yakin Rey?" Tanya ibu, wajah ibu terlihat khawatir.


"Aku yakin, aku tidak bisa jadi pengecut terus seperti ini. Aku harus kembali berjuang dan kali ini demi Ayra." Rey menatap wajah Alisa yang menunduk menikmati makanannya.


"Sebenarnya tinggal satu itu lagi beban ibu saat ini, ibu ingin kalian mendapatkan restu." Ucap ibu, wajahnya terlihat sedih.


"Aku akan berusaha ibu, apapun yang papa minta. Jika pekerjaanku harus di korbankan juga tidak apa-apa, asal aku bisa bersama dengan Alisa." Rey diam sejenak." Tapi bagaimana dengan ibu, apa ibu merestui kami jika aku harus ikut dengan Alisa." Rey terlihat khawatir dengan wajah wanita yang sudah berkerut itu, sungguh kasih sayang dan pengorbanannya tidak sedikit.

__ADS_1


"Ibu tidak masalah nak, disini ada adikmu, apalagi nanti dia butuh ibu untuk merawat anaknya." Ucap ibu menahan sedih membayangkan harus kehilangan anak menantu yang selama ini lebih sering menghabiskan waktu bersamanya. "Yang paling penting dapatkan restunya terlebih dahulu." Ucap ibu sedih sekali.


__ADS_2