
Aldo menunggu dengan sangat tidak sabar, tak selang berapa detik matanya kembali melihat pintu kamar mandi yang belum juga terbuka.
Tapi sejenak kemudian Reva sudah keluar dengan wajah yang di tekuk. Aldo langsung berdiri segera mendekati Istrinya yang mematung di depan pintu kamar mandi.
"Sayang!" Aldo menatapnya penuh harap. Lalu Reva mengeluarkan tiga buah alat tes pack dari tangannya.
"Aku hamil mas!" Ungkapnya sangat bahagia. Aldo tak kalah bahagia matanya berkaca-kaca, sejenak kemudian langsung memeluk istrinya erat sekali.
"Terimakasih sayang, terimakasih. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Kali ini air mata bahagia itu benar-benar lolos dari mata bening hitam pekat milik pria tampan penuh cinta luar biasa itu. Hatinya benar-benar di banjiri kebahagiaan hingga merasa tak mampu menahannya lagi, air mata bahagia meluap begitu saja seperti sebuah wadah yang sudah terlalu penuh terisi, terus mengalir hingga membasahi seluruh jiwanya.
Reva melonggarkan pelukannya, tertegun menyaksikan air mata seorang suami, tangan lembut itu mengusap butiran bening yang mengalir di pipi. "Indah sekali di cintai olehmu mas." Ucapnya lembut, Aldo mengeratkan kembali pelukannya.
Cinta tulus tak selalu lahir dari hati seorang wanita, tapi laki-laki yang sungguh mencintai wanita akan selalu merasa beruntung memiliki dirinya. Percayalah itu melahirkan kebahagiaan yang tak ada tanding. Sejatinya bahagia itu sederhana, mampu memberi dan menerima. Memberikan kelebihanmu dengan ikhlas dan menerima kekurangannya dengan ikhlas. Kuncinya sangat sederhana bukan? tapi tidak semua orang mampu melakukannya. 'Aku mencintaimu Aldo Bramastya.'
*
"Assalamualaikum Ibu." Malam itu Reva segera menelepon ibu untuk berbagi kabar bahagia.
"Wa'alaikum salam sayang." Suara ibu terdengar hangat di telinganya.
"Ibu aku memiliki kabar bahagia. Aku hamil ibu!" Reva sudah tidak sabar dan langsung saja mengatakannya.
"Wah benarkah sayang, ibu sangat bahagia. Alisa, Adikmu sedang mengandung!!" Terdengar suara riuh ibu dan kak Alisa di seberang sana. "Selamat ya sayang." Ibu dan Alisa bergantian mengucapkan kata selamat.
"Terimakasih kakak, ibu. Kapan ibu bisa pulang." Reva ingin sekali bercengkrama berbagi kebahagiaan secara langsung.
"Maaf sayang, untuk sementara ibu belum bisa. Tapi ibu janji bulan depan ibu akan pulang sekalian kita syukuran. Sementara kau bermanja-manja menghabiskan waktu bersama suamimu." Terdengar ibu berkata sambil tersenyum.
"Ah ibu." Sudah pasti wajahnya merona, di iringi gelak tawa di seberang sana.
"Kau jaga kesehatanmu baik-baik sayang. jangan terlalu berat bekerja."
"Aku akan menjaganya, ibu tak perlu khawatir." Aldo yang sejak tadi hanya menyimak angkat suara.
"Ibu percaya padamu." Begitu akhirnya panggilan telepon itu selesai.
__ADS_1
"Sayang, mulai besok kau tidak boleh terlalu berat bekerja, Aku yang akan mengurus semua pekerjaanmu. Kau harus lebih banyak istirahat, dan makan yang banyak."
"Mas, aku hamil bukan sedang sakit." Reva merenggut mendengarnya.
"Tidak. Sebisa mungkin kau lebih banyak di rumah, tugasmu hanya makan dan istirahat." Aldo berkata tegas, tidak terima bantahan atau protes.
"Mas aku akan bosan. Aku juga tidak mau di tinggal sendirian di rumah, aku ingin ikut bersamamu." Sungutnya.
"Tapi aku harus mengerjakan semuanya, pekerjaanmu dan pekerjaanku." Aldo berusaha meyakinkannya.
"Mas.." Rengekan yang akan membuat Aldo mengalah. Aldo mengakhiri ucapannya, menatap wajah yang merengek cantik seperti anak kecil yang sedang meminta di belikan mainan. Membuatnya menarik nafas dalam dan menghembuskannya.
"Kau pintar sekali hem." Aldo memulai aksi sesuai kode yang di minta istrinya, menghabiskan malam panjang dan bahagia hingga istri kecilnya puas dan lelah tertidur pulas didalam pelukan hangat dan lembut darinya. Bibir merah itu melengkung indah, menatap wajah yang begitu damai dengan tarikan nafas yang teratur. Lelah? ah dia tidak pernah lelah untuk menyayangi dan mencintai istrinya, hanya ketika istrinya lelah dia akan beristirahat melakukanya.
***
Pagi-pagi sekali Aldo sudah berangkat bekerja, sengaja meninggalkan istrinya yang masih tertidur dengan selimut yang hangat.
"Kau sudah datang?" David menatapnya dengan heran.
"Kenapa begitu, bukankah kau sudah lelah satu Minggu masuk bekerja di siang hari." David duduk di hadapan Aldo.
"Istriku sedang hamil, aku kesulitan membagi waktu." Aldo menghentikan aktifitas mengetiknya.
"Wah, selamat ya kau hebat sekali." David tertawa senang.
"Apa istrimu mengidam yang aneh-aneh hingga membuatmu kesulitan?" David jadi semakin penasaran.
"Tidak, hanya dia lebih manja dan selalu meminta jatah." Aldo memijat keningnya. Sudah pasti membuat David tergelak hingga memegang perutnya.
"Bukankah itu yang kau harapkan sebelumnya, kau harus berbahagia Tuhan sedang mengabulkan doamu." David melanjutkan gelak tawanya.
"Dia menyukainya di banyak waktu, Aku harus berangkat pagi sekali sebelum dia bangun jika tidak maka aku akan terlambat bekerja sebelum membuatnya lelah." Sepertinya dia sedang mengeluarkan keluhannya.
"Haha.. Aku jadi membayangkan sesuatu. Bagaimana caranya meminta padamu?" David menatap gelas yang di pegangnya.
__ADS_1
"Kau membayangkan istriku?" Aldo meraih gelas di tangan David dengan paksa, matanya menatap tajam.
"Aku hanya membayangkan keseruanmu. bukankah istrimu itu pemalu dan tidak banyak bicara. Lalu bagaimana caranya kau bisa membuatnya berubah agresif seperti itu?" David sangat ingin tahu.
"Nanti setelah menikah kau akan mengetahuinya. Makanya kau cepatlah menikahi singa galak itu." Aldo sedikit mengangkat telunjuknya.
"Aku masih ingin berpacaran." David berkilah, padahal hatinya mengiyakannya.
"Untuk apa berpacaran, mau memperbanyak dosa?" Aldo menatap David yang sedang berusaha mengelak.
"Hey bukankah kau juga melakukannya?" David membalas.
"Tidak, aku tidak berpacaran." Aldo tak mau kalah.
"Tidak berpacaran, tapi kau selalu menatapnya seperti sedang lapar. Itu juga dosa!" David juga tidak akan mengalah.
Aldo terkekeh geli mendengar ucapan David, itu memang benar. "Kau pintar sekali." Aldo masih tertawa. " Tapi sebaiknya kau melamarnya, soal di terima atau tidak itu urusan nanti yang penting kau sudah mengungkapkan isi hatimu." Kali ini Aldo ingin memberi nasehat.
"Itu kata-kata yang ku ucapkan dulu saat kau ingin melamar istrimu!" David menatap sengit padanya.
"Justru itu aku kembalikan padamu, bukankah itu kata-kata yang tepat untuk posisimu saat ini?" Jawab Aldo lagi.
"Sok tau!" David meninggalkannya berdiri.
"Aku tau." Aldo meninggikan suaranya agar di dengar David yang sudah melangkah. Sepertinya dia akan pulang, atau menikmati akhir pekan bersama gadis pujaan hatinya.
***
David mendatangi rumah bercat abu-abu dengan banyak bunga di halaman rumahnya. Tampak seorang gadis cantik bermata sipit dengan rambut panjang lurus terurai. Dia sedang sibuk menyiram bunga kesayangan ibu, melihatnya sibuk begitu membuat David tersenyum sendiri. "Dia cantik sekali." gumamnya.
"Pak Kirman buka pintunya!" Ayu meminta satpam untuk membuka pintu pagar karena dia tau mobil yang sedang berhenti di depan itu adalah David.
"Kau tidak bekerja?" Ayu menyapa David yang sudah turun dari mobilnya.
"Tidak, Aldo sedang bekerja pagi, Reva sedang hamil jadi dia tidak bisa bekerja di malam hari." David mendekati Ayu dengan tersenyum hangat. Tidak di sangka tatapan yang di contoh dari sahabatnya itu membuat wajah Ayu merona malu-malu. "Ah kurasa aku harus belajar banyak darinya" Ucapnya di dalam hati, itu membuatnya ingin melompat bahagia. Tentu saja tidak akan dia lakukan, menjaga image yang baik di depan kekasih itu sangat penting.
__ADS_1