
"Kak Reva." Sapanya pelan dan terbata-bata, mata redup dengan sedikit membiru di sekeliling kantung matanya.
"Iya." Reva bahkan bingung harus bersikap seperti apa, meskipun usianya lebih muda tapi sudah jelas, hari yang lalu dia sempat merebut suaminya.
"Maaf kak, aku permisi." Dia menunduk dan berlalu, langkah yang pelan itu sungguh membuat Reva kasihan, tapi apalah daya kasihan dengan orang yang ingin mengambil miliknya, sungguh sulit untuk di ungkapkan. Reva terpaku dengan berbagai perasaan, antara percaya atau tidak percaya gadis itu sudah menikah dengan suaminya, lalu diceraikan suaminya, entah apakah itu benar atau tidak pikirannya kacau sekali. Mendadak penglihatannya gelap dan berputar, Reva berusaha mencari dan meraba apa saja yang bisa di jadikan pegangan, tapi sangat sulit melihat apapun hingga ia terjatuh dan tak ingat apa-apa.
Beruntung Aldo yang baru saja selesai dari toilet sudah berjalan menuju arahnya, hingga saat Reva terjatuh Aldo segera menangkap dan memeluknya.
"Sayang!" Aldo sangat panik sekali, segera menggendongnya menuju mobil.
"Pak belanjaannya bagaimana?" Pegawai toko itu memanggil.
"Di kemas saja, nanti akan ada yang mengambil." Aldo tergesa-gesa dan meminta tolong seseorang pegawai toko untuk membuka pintu.
Sepanjang jalan Aldo memegang tangan istrinya yang masih pingsan menyandar di sebelahnya, wajahnya panik luar biasa.
Tiba di klinik terdekat Aldo langsung membawanya ke dalam, beruntung dokter wanita itu langsung memeriksanya.
"Bagai mana dok, ada apa dengan istri saya?" Aldo yang dari tadi masih memegang tangan istrinya langsung bertanya.
"Saya perlu bicara dengan anda." Dokter wanita itu meminta Aldo ikut dengannya.
"Ada apa dok?" Tanya Aldo setelah berada di ruangan dokter.
"Begini pak, dari segi kesehatan istri anda sehat, bayinya juga sehat, tapi ada beberapa hal yang membuat ibu hamil bisa pingsan mendadak, lelah, atau stres."
"Benar Dok, dia memang baru saja mengalami hal yang penuh tekanan." Aldo menjawab apa adanya.
"Sepertinya istri anda mengalami tekanan yang lumayan hingga membuat dia merasa tidak nyaman. Saya sarankan agar moodnya di jaga, tidak boleh lelah dan jauhkan hal apapun yang memicu stres. Sebagai suami andalah yang paling mengerti." Dokter wanita itu kemudian memberikan resep untuk istrinya. Aldo langsung menebus obat dan vitamin tersebut dan kembali ke ruangan.
"Mas, aku dimana?" Ternyata Reva sudah sadar dari pingsannya, tangan kecil itu mengusap mata.
__ADS_1
"Di klinik sayang." Aldo mengusap kepala istrinya itu, menggenggam tangannya dan duduk di samping ia istirahat.
Reva terdiam sejenak, kembali memejamkan matanya.
"Ada apa sayang, apa yang membuatmu pingsan?" Aldo mendekatkan wajahnya.
"Tadi ada Bella mas." Jawabnya pelan, Reva memandangi wajah Aldo yang sangat dekat dengan wajahnya, mencari sesuatu di mata bening yang tajam itu.
"Biarkan saja sayang, yang penting bagiku adalah kita selalu bersama, aku tidak peduli dengan siapapun juga selain dirimu dan anak kita." Aldo memegang perut istrinya.
"Entahlah mas, aku sulit mengendalikan pikiranku sendiri." Reva mendekatkan kepalanya pada Aldo.
Aldo mengelus dan mencium kepalanya, menyalurkan rasa kasih sayang yang tulus untuk menenangkan istrinya. "Jangan memikirkan apapun, selain aku dan anak kita." Bisiknya lagi.
"Kita pulang mas." Pintanya sedikit merengek.
"Baiklah, memang tidak perlu menginap sayang, hanya kau istirahatlah sebentar." Aldo menatapnya penuh cinta.
"Iya, kita langsung pulang." Aldo membantunya berdiri, dan merangkulnya perlahan-lahan.
Aldo segera membawa Reva pulang ke rumah mereka, memang jaraknya lebih dekat dan tentunya di rumah itu sangat menenangkan, tidak ada kenangan yang buruk, yang ada hanyalah tentang mereka berdua, setiap hari hanyalah kisah kemesraan saja yang terbayangkan.
Tiba di rumah Reva langsung menuju ke atas, sudah tidak sabar ingin istirahat di kamarnya. Aldo menutup pintu dan mengambil ponsel untuk menghubungi ibu.
"Assalamualaikum." Suara ibu di seberang sana.
"Wa'alaikum salam ibu." Aldo menjawabnya.
"Ada apa nak?"
"Ibu, Reva meminta untuk pulang ke rumah dia bilang ingin istirahat di kamarnya. Jadi aku membawanya pulang." Aldo menjelaskan keinginan istrinya.
__ADS_1
"Ah tidak apa-apa ibu hamil memang begitu, kau harus sabar menghadapinya." Ibu terdengar tenang dan tidak masalah.
"Aku hanya takut ibu khawatir." Jelas Aldo.
"Tidak, ibu mengerti."
"Terima kasih ibu, aku tutup teleponnya."
"Baiklah, Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam ibu." Aldo menutup teleponnya. Dia menoleh istrinya sedang memeluk guling dan memejamkan mata. Aldo mendekat melihatnya, ternyata dia sudah tidur. Aldo menatapnya lama sekali, apa bawaan mengandung dia ingin tidur disini? Aldo tersenyum gemas melihat istrinya yang sangat polos, bahkan kesehariannya dia adalah wanita yang tidak banyak menuntut. Dalam ukuran CEO harusnya dia lebih arogan dan mengatur, tapi dia tidak pernah memperlihatkan itu. "Istri yang penurut, pemalu dan manja." Gumamnya, itulah yang sangat di sukai Aldo darinya.
***
Sementara di taman pinggir kota, David dan Ayu sedang menikmati hari libur mereka.
"David, bagai mana dengan orang tua mu, apa mereka tak masalah punya menantu seperti aku?" Ayu merasa rendah diri dengan hidupnya yang tanpa orang tua.
"Tentu saja mereka setuju, ayah dan ibuku orang biasa sayang, mereka hanya petani sederhana dari desa. Tak ada yang istimewa dari mereka, sama seperti aku, aku bukan siapa-siapa, sejujurnya aku yang harus bertanya padamu tentang hal itu, apa kau tidak menyesal menikah denganku?" David melihat wajah cantik di sampingnya.
"Tentu saja tidak, aku akan aman bersamamu, hanya kau saja yang tahu semuanya tentang hidupku." Ayu menunduk.
"Tentu saja aku tau, kau Putri bos ku, apalagi sekarang kau sudah kaya raya. Pak Hartawan mewariskan sebagian hartanya di luar kota, dan beberapa di sini. Aku jadi merasa tidak percaya diri jadi suamimu." David tersenyum kecil.
"Aku tidak merasa kaya David, aku tetaplah Ayu, sekretaris kakak yang berusaha kuat walaupun terkadang aku sangat rapuh." Ucapnya sedih.
"Dulu aku sempat berharap begitu, aku malah tidak ingin kau menjadi putri Hartawan yang kaya raya, aku takut bos ku itu tidak merestui." Kenangnya tersenyum.
"Benar, tapi sungguh David aku sangat sedih mengetahui papa yang menabrakku dan meninggal seketika. Bahkan aku baru sekali di peluk papa." Ayu memandang langit yang jauh, nafasnya sangat berat.
"Sabar sayang, Pak Hartawan sangat bahagia bisa menemukan dan memelukmu sebelum dia meninggal. Dia sangat bersyukur, dia juga pernah mengatakan bahwa dia ingin sekali bertemu Reva untuk mengucapkan terima kasih karena dia sudah menjaga mu dan menyayangimu selama ini." David teringat hal yang terakhir dia bicarakan.
__ADS_1
"Aku harus merelakannya, karena ini sudah kehendak Allah semata." Ayu memejamkan mata menahan sesak rindu kepada ayahnya.