
Reva duduk mencoba menguatkan diri di sofa ruang tamu, sepeninggal Aldo dia menyandar dengan di temani Ayu, mata teduh itu sudah bengkak dengan warna merah di sekeliling bola matanya.
"Reva." suara itu mendekat dengan tak ragu-ragu menghampirinya.
"Gara." Reva menyebut nama pria itu dan kembali menangis.
"Jangan menangis, ibu sudah bahagia di alam sana!" Anggara menghiburnya, lalu pria itu melihat sekeliling tak menemukan Rey atau Aldo. "Dimana suamimu?" tanya Anggara lembut.
"Sedang di Masjid bersama yang lain." Ayu menjawab pertanyaan Anggara kali ini.
"Oh, kalau begitu aku akan menyusul." Anggara sedikit tersenyum kepada Reva dan Ayu, lalu kemudian dia beranjak keluar menyusul Rey dan yang lainnya.
Banyaknya tetangga dan rekan-rekan kerja yang datang masih tak mengubah kesedihan wanita itu, air mata tak henti membasahi, lupa minum, lupa makan dan tidak beristirahat. Hingga kemudian mereka semua bersama-sama pergi ke pemakaman.
Rey sudah berada di dalam liang lahat untuk menyambut jenazah ibu, di bantu Aldo dan Beberapa orang untuk memposisikan jenazah ibu sebelum benar-benar di makamkan. Dev yang terlihat diantara pelayat yang hadir di pemakaman itu hanya bisa diam tak melakukan apa-apa. Niat hati ingin ikut memakamkan seperti yang dilakukan Rey kala itu membantu memakamkan ibunya, tapi berbeda saat ini, ada Aldo yang sudah bersama sahabatnya, dan yang paling penting Aldo adalah menantu ibu saat ini bukan dirinya.
Perlahan tanah galian itu menutupi jenazah ibu yang sudah beristirahat mengarah kiblat, akhir dari hidup yang hanya sementara ini, hidup yang hanya sesingkat ini. Bukankah kemarin kita masih bermain di temani ibu, ibu yang selalu menjerit dan berteriak kala diri ini membuat masalah, ibu yang marah mengoceh kala diri ini bermain tak ingat pulang, ibu yang menasehati dengan kata-kata bijak yang membuat telinga menjadi panas dan kata-kata itu terabaikan. Lalu setelahnya tangis ibu ketika kita menikah mulai menjalani hidup yang baru, ibu yang ikut senang kala ia akan menimang cucu. Dan setelah itu, cucunya beranjak besar, dan kita baru sadar bahwa ibu sudah tak seperti dulu. Wajah lelah itu sudah keriput, binar mata yang terlihat selalu tangguh itu berubah redup, hari itu kita baru menyadari, kapan lagi menyayangi seorang ibu. Tatkala masa tuanya wanita yang sudah tua itu terdengar semakin cerewet, semakin menjengkelkan dan begitu tidak tahan saat seharian bersamanya. Tak jarang kata-kata cerewetnya mendapat jawaban yang menurutnya menyakiti hati ibu. Entah berapa lama masa itu, jika sehari saja terasa lama lalu jika setahun berapa banyak jawaban yang menyinggung perasaannya. Dan akhirnya dia pergi untuk selamanya.
"Ibuu." Reva terlihat histeris walaupun dengan suara lembutnya namun hati yang pedih itu begitu tak bisa ia tutupi. Tubuh yang sudah lemas itu tak terkendali ingin melangkah namun tenaganya sudah tak ada, hingga ia jatuh. Ayu yang semampai tak mampu menahan tubuh ibu hamil itu, hingga nyaris terjatuh dan beruntung Dev tak jauh dari mereka hingga sempat menahan tubuh Reva yang semakin terduduk lesu. Reva menangis dengan tanpa suara namun sesenggukan di aliran nafasnya itu masih bisa terdengar.
__ADS_1
"Reva sadar, kau tidak boleh begini." ucap Dev tak berani berbuat banyak, hatinya ingin sekali melakukan banyak hal, menenangkan dan menghiburnya seperti saat ia dulu juga mengalami hal yang sama. Gadis itu terlihat selalu bersamanya kala itu, selalu menghiburnya dengan rayuan manis yang terucap dari bibir mungil dan suara yang merdu. Sayang, kenangan itu hanya berlalu tanpa bisa membalas hal yang sama. "Andai saja kita bertemu tidak dengan keadaanku begini." ucapnya di dalam hati, menatap wajah yang terduduk sedih itu membuat lamunannya semakin menjadi.
"Minggir!" Aldo meraih tangan Dev yang sedang menahan bahu istrinya dan membuang tangan itu sembarangan, pria itu sedikit terdorong kebelakang dengan posisi duduk terjengkang.
"Dia lemas sekali." ucap Ayu terdengar panik.
"Kau bawa air minum?" Aldo meraih tubuh lemas itu dan memeluknya.
"Tidak." jawab Ayu, melihat kesana-kemari.
"Sayang, kita pulang." Aldo berusaha mengajaknya berdiri, namun tubuh itu terlalu lemas, hingga Aldo ikut terduduk kembali.
Dev yang sudah menjauh menjadi kesal dan serba salah, meraih sesuatu yang ada di mobilnya dan dengan terpaksa kembali mendekat. "Dia biasa minum ini." Dev mengulurkan tangannya dengan satu kaleng susu.
Aldo menoleh dengan tatapan kesalnya. "Kau!"
"Ini bukan waktunya untuk berdebat." Dev meninggalkan susu itu di tangan Ayu, pria itu meninggalkan pemakaman lebih dulu.
Aldo beranjak menggendong tubuh lemah itu membawanya ke mobil di iringi Ayu, membaringkannya di kursi belakang. "Sayang jangan membuatku khawatir." Aldo mengelus wajah itu terlihat sembab dan basah.
__ADS_1
"Minum ini kak." Ayu membuka kaleng susu dan memberikannya pada Reva. Sejenak stelah minum sedikit, lalu kemudian Reva tertidur di pelukan Aldo, sungguh berjam-jam menangis tanpa makan dan minum membuatnya begitu lelah.
"Kita pulang." Aldo meminta Ayu untuk menyetir. Pria itu tak akan melepaskan pelukannya, terus berada di sampingnya dan mengelus kepalanya.
Tiba di rumah Aldo menggendong Reva segera naik ke atas, di ikuti Alisa yang terlihat sangat khawatir.
"Ada apa dengannya?" Alisa ikut masuk ke dalam kamar, meraba kening adiknya dan meraba tangan serta kaki. "Dia kehabisan tenaga, juga tidak ada makanan di perutnya."
"Tadi meminum sedikit susu." Aldo menjawab, karena Alisa akan memberikan obat.
"Ah, baiklah. Nanti kau paksa dia untuk makan, malam nanti baru kau berikan vitamin ini." Alisa menutup kembali botol vitamin yang sempat di bukanya.
"Iya kak."
Pria itu tak henti meremas jari-jari lentik yang terasa dingin. Memandangi wajah yang begitu dicintainya sedang tertidur lelah dan lemah, membiarkan nafas itu berhembus teratur walau hanya sejenak melupakan kesedihannya atas kepergian ibu.
Di luar hujan turun begitu deras, seakan mengungkapkan kesedihan yang sedang di alami istrinya. Aldo tak kalah bersedih mengingat kembali saat ibunya meninggal disaat ia masih sekolah, harus menjalani hidup sebatang kara. Bersekolah dengan biaya dari hasil sewa lahan peninggalan ibunya, terkadang tak memiliki uang di akhir tiga bulan setelah sewa itu terpakai habis, ia harus mencuci mobil di jalanan untuk mendapatkan uang, pulang dengan baju yang basah, uang hasil bekerjanya juga ikut basah. Kadang hanya sendiri, tapi terkadang berdua dengan Dev, sahabatnya dari kecil hingga saat ia telah menikah.
Mendadak ada rasa menyeruak akan hal persahabatan itu, masa-masa yang panjang itu pernah mereka lalui bersama seperti saudara.
__ADS_1