
"Dev aku mohon jangan pergi!" ucapnya sambil menangis.
"Jangan pergi kau bilang?" Dev ingin sekali bicara banyak namun sepertinya ia kehabisan kata-kata. Dev meraih tubuh kecil itu kesamping hingga terjatuh di tanah, dia sungguh tidak peduli.
"Dev...!!"
Gadis itu berteriak keras memanggil nama kekasihnya namun percuma, Dev berlalu tanpa menoleh melaju kencang seakan tuli dengan teriakan dan tangisan gadis yang sedang terluka. Sudah tentu Dev lebih terluka, mencintai wanita yang menipunya mentah-mentah.
Malam itu Dev melewati detik demi detik dengan gelisah, marah, kecewa, terluka dan rasa-rasa yang lainnya bercampur aduk kecuali bahagia, tak ada bahagia di dalam hatinya. Teringat betapa bahagianya saat bersama Mey, namun kemudian akhir dari bahagia itu lebih menyakitkan dari pada perpisahan yang selama ini mereka sering bicarakan.
"Mengapa Mey?" ucapnya begitu frustasi, mengurung diri di kamar membuatnya seperti orang yang tidak waras. Terkadang menangis lalu sejenak ia tertawa, hingga akhirnya tertidur dengan keadaan yang sangat kacau, tergeletak tak berdaya di temani bekas minuman yang sudah kosong.
Sedangkan di puncak bukit yang sepi, rumah mewah itu tampak gelap dengan tak ada satupun lampu yang menyala. Tampak gadis kecil itu duduk di lantai menyandar di ranjang besar yang dari segala sisi sudah habis berantakan. tak ada satu barangpun yang masih utuh, semua termasuk lampu di atas nakas sudah padam pecah tak berbentuk. Gadis itu meringkuk, diam tanpa berucap juga tidak menangis. Malam yang gelap seakan mewakili perasaan kedua orang yang sedang patah hati.
Pagi yang cerah seperti biasa suara burung berkicau berlomba memamerkan suara-suara merdunya, puncak bukit yang begitu indah namun tidak untuk gadis kecil yang meringkuk tidur di lantai tanpa selimut dan juga bantal.
Seperti biasa setiap jam delapan pagi seorang wanita paruh baya naik ke lantai atas untuk membersihkan seluruh sudut rumah, dan betapa ia terkejut mendapati nona majikannya tergeletak pingsan dengan wajah pucat dan tubuh yang lemas tak berdaya.
Dering telepon berbunyi berkali-kali sengaja mengganggu waktu istirahat seorang pria yang sedang tergeletak nyenyak. Seakan tanpa beban tidur dengan posisi berantakan namun sejenak kemudian bulu matanya bergerak-gerak, ia mencoba membuka mata dengan rasa pening di kepalanya masih terasa begitu berat dan berputar. Kembali memejamkan mata lalu kemudian ia membukanya, seakan tak percaya Dev melihat bosnya sedang menelepon.
__ADS_1
"Iya pak." jawaban Dev atas telepon itu, ia terkejut.
"Dev maaf aku tahu kau sedang bekerja, tapi bisakah kau pulang dan mengurus Mey, dia pingsan." suara di seberang sana terdengar sangat khawatir.
"A_ aku." Dev berpikir sejenak, jika menolak maka pria itu pasti akan curiga. Tapi jika menerima? Dev menghela nafas berat. "Baiklah." jawabnya kemudian.
"Terimakasih, aku akan kirimkan uang bonus untukmu." ucap pria itu lalu kemudian mematikan teleponnya.
Mau tak mau Dev beranjak dengan tubuh yang tidak seimbang, ia berjalan menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri sebelum akhirnya ia harus kembali menuju rumah mewah yang begitu di bencinya saat ini.
Sampai di rumah itu, tampak wanita paruh baya sedang menanti kedatangan Dev, dia segera mengikuti Dev masuk hingga naik ke lantai dua. Dan begitu Dev masuk ke dalam kamar, tampak wanita bertubuh mungil masih terbaring lemas dengan mata tertutup.
Ada rasa iba di dalam sana, namun teringat kembali pergumulan panas antara gadis itu dan bosnya membuat Dev membuang pandangannya sejauh mungkin.
"Belum pak, tadi nona sempat sadar dan dia bilang jangan panggil dokter, tapi kemudian dia pingsan lagi." jelas wanita itu menunduk.
"Baiklah, ibu masak saja makanan kesukaannya, biar aku yang mengurusnya." ucap Dev meminta wanita itu segera turun dari lantai dua.
"Baik pak." jawabnya sangat sopan dan segera pergi.
__ADS_1
Dev mendekati Mey perlahan, di tatapnya wajah cantik itu, lalu tangan kecil yang kukunya terlihat putih. Dev duduk di sisi gadis itu walau kesal dan marah tapi hatinya tidak bisa berbohong ia tak tega melihat gadis yang pernah mengisi malam-malamnya itu terbaring lemas.
"Mey." panggilnya lembut, Dev mengambil minyak angin di atas meja. Kamar itu sudah rapi dan bersih, tentu saja sudah di bersihkan asisten rumah tangga yang tadi.
Dev menggosok kaki kecil yang selalu menjadi mainan Dev saat duduk santai di sofa, sedikit memijat dan mengelusnya bergantian. Lalu tangan kecilnya, perlahan menggosok dan mengusap dari lengan hingga jari, dan terakhir kening dan tengkuknya. Setelah beberapa saat tangan dan kaki Mey kembali hangat dan sepertinya jari tangan itu bergerak.
"Uhh..." ucapnya sambil mengernyitkan kening dan mata masih tertutup, tubuh kecilnya menggeliat. Pelan namun pasti mata indahnya mulai terbuka, dan hal yang membuat mata itu enggan berkedip adalah kehadiran Dev disisinya.
Dev diam tak berkata, hanya menatapnya dengan wajah datar. Lama kedua orang itu saling diam membisu hingga akhirnya Dev beranjak dan berdiri.
"Dev." ucapnya meraih tangan Dev.
Dev menoleh sedikit tapi tak berbalik.
"Maafkan aku Dev, andai saja aku bisa tidak menjadi wanita yang menjijikan seperti ini. Tapi inilah takdirku, aku sama sekali tidak menginginkan ini terjadi padaku namun apalah daya, aku harus menjalaninya." ucapnya pelan, berharap Dev tidak meninggalkannya.
"Lalu aku harus percaya?" jawab Dev sinis.
"Jika aku menginginkan ini, harusnya aku tak perlu di jaga olehmu Dev, harusnya aku senang menjalaninya. Tapi seperti yang kau tahu aku di kurung dan diasingkan, aku tak di beri akses ke mana-mana kecuali denganmu, aku tidak di beri ponsel kecuali hanya menyimpan nomor ponsel dia dan dirimu. Aku tak bisa apa-apa, aku hanya berharap sedikit bahagia bersamamu dan memilikimu walau hanya sebentar saja, dan itu alasannya aku ingin punya anak darimu." jelasnya terdengar sedih.
__ADS_1
Lagi-lagi Dev tak berdaya mendengar rintihan dan ucapan lembut yang keluar dari mulut mungil itu. Walau ia berusaha untuk tidak terpengaruh, namun hatinya merasa kembali luluh. Dev melepaskan tangannya dari tangan kecil yang masih memegang jarinya itu, Dev meninggalkannya sendiri. Tak peduli gadis itu masih terisak dan begitu menyedihkan, ia keluar untuk mencari udara bebas, butuh tempat untuk melepaskan beban yang semakin berat di dalam hatinya.
Rasa sedih dan haru menyelimuti hati Dev kali ini, ingin rasanya mundur teratur tapi kembali bayangan kebahagiaan yang sudah mereka lalui itu memanggil, seakan mengikat hatinya dengan Mey. Mencoba berpikiran jernih namun hasilnya kembali membuat ia gelisah, berbeda jika bersama Mey, beban itu semua hilang entah kemana.