Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
22. Cemburu


__ADS_3

Aldo berjalan menuju kamar dimana Reva di rawat, ternyata pintunya tidak di tutup, terlihat dari luar pujaan hati nya telah bangun. Aldo masuk perlahan melangkahkan kaki.


"Kau sudah bangun?" Aldo mendekatinya dengan senyum mengembang.


"Iya." Reva membalas senyumnya.


"Aku baru saja makan bersama kak Rey, kau mau makan apa biar aku belikan?" Ucap nya bersungguh-sungguh.


"Aku baru saja minum susu, sebentar lagi aku makan bersama Ayu. Aku pikir kau sudah pulang." masih dengan suara lembutnya.


"Aku memang akan pulang, aku harus bekerja. tapi siang nanti aku akan kembali kesini, apa kau sudah lebih baik?" Aldo duduk mendekati Reva.


"Iya, aku sudah lebih baik." Reva diam sejenak. "Maaf aku sudah merepotkan mu." Ucapnya lagi.


"Aku yang minta maaf, kalau saja aku tidak melamarmu, kau tidak akan celaka begini." Wajahnya penuh dengan penyesalan.


"Aku tidak menyalahkanmu." Ucapnya.


"Ah iya, semalam kak Alisa sudah melahirkan, bayinya perempuan." Aldo memberitahunya.


"Benarkah. Aku ingin melihatnya." Reva terlihat sangat bersemangat.


"Boleh saja, apakah bisa menungguku siang nanti, aku juga ingin melihatnya." Aldo tak kalah semangat.


"Emmmh, Baiklah. Sepertinya Ayu juga harus bekerja jadi aku akan menunggumu." Reva sudah tidak sabar, tapi mengingat kakinya sakit dan tidak bisa berjalan sendiri terpaksa menunggunya, ibu pasti sibuk mengurus bayi, Kak Rey juga harus menjaga kak Alisa.


"Kalau begitu aku akan datang secepat nya. tunggu aku ya!" Aldo memasang senyum manis dan tak lupa tatapan yang penuh cinta.


"iya." Jawabnya singkat.


Aldo kemudian beranjak keluar meninggalkan Reva. Reva kembali mengatur posisi tidurnya, ada rasa bahagia mendengar kabar lahirnya keponakan yang sudah lama di tunggu-tunggu.


Reva menoleh pintu, tiba-tiba ada yang datang. Ternyata Aldo, entah kenapa lagi dia kembali.


"Aku membeli buah dan kue untukmu, jangan lupa di makan." Aldo tersenyum lalu pergi lagi. Reva menatap kepergiannya tanpa sepatah kata.


Tak lama kemudian Ayu baru saja dari luar untuk membeli makanan. "Mau makan sekarang kak?" Tanyanya pada bos sekaligus kakaknya.


"Boleh, tapi jangan terlalu banyak." Reva mencoba untuk duduk.

__ADS_1


Melihat kakaknya kesulitan, Ayu kemudian membantu nya, menyusun bantal dan menyandarkan tubuhnya.


"Terimakasih." Reva bersandar dan tersenyum menatap adik kesayangannya.


"Kau pernah melakukan yang lebih dari itu pada ku, bahkan aku tak akan mampu membalasnya." Ayu menatap wajah kakaknya dengan penuh kasih sayang.


"Itu bukan hutang, jangan berfikir untuk membalasnya." Ucap Reva.


Ayu menyuguhkan makanan di pangkuan Reva, menyiapkan sendok dan melihat apakah makanannya lembut dan pas untuk di makan oleh kakaknya. setelah dirasanya pas, Ayu mengupas buah untuk di makan kakaknya.


"Siapa yang membeli buah ini?" Ayu mengeluarkan semuanya dari kantong plastik.


"Aldo yang membelinya." Reva menjawab sambil mengunyah pelan.


Ayu tidak menyahut, siapa lagi kalau bukan oppa KW yang bucin.


"Makanlah dulu, kau juga perlu mengisi perutmu." Reva melihat Ayu sibuk menyiapkan buah dan membersihkan kantong plastik bekas makanan.


"Iya kak." Ayu pun ikut makan bersama kakaknya.


"Kalian sudah makan." Tba-tiba, ibu datang dengan mata yang sedikit cekung seperti nya lelah sekali.


"Makanlah bu, ini aku sudah membeli beberapa untuk kita, tadi aku mencari ibu dan kakak, tapi tidak ada, aku pikir kalian pulang!" Ayu mengambil bungkusan makanan yang telah di siapkannya.


"Wahh, aku dapat keponakan?!" Ayu sangat senang mendengarnya.


"Iya, cantik sekali, hidungnya seperti kakak mu, mata dan bibirnya seperti Alisa." jelas ibu lagi.


"Ah sangat sempurna. Tapi ngomong-ngomong ibu makanlah dan beristirahat. kelihatannya ibu tidak tidur." Ucap Ayu


"Kalau begitu Ibu makan di kantin saja, tidak enak jika nanti dokter datang ruangannya berantakan." Ibu beranjak keluar.


"Benar juga." Ayu mempercepat sarapannya, "Nanti siang Aku ke kantor sebentar kak. Apa kau tak apa-apa jika ku tinggal sebentar.??" Ayu tidak yakin meninggalkan Reva sendirian.


"Nanti Aldo akan kembali ke sini setelah makan siang. Lagi pula ada ibu, kau tidak perlu khawatir." Reva meyakinkannya.


"Baiklah, aku berangkat jam 10. Tapi aku harus mandi dulu dan mengambil pakaianmu. Aku rasa Dokter tak akan mengizinkan mu pulang pagi ini." Ayu kembali merapikan bekas mereka makan.


"Iya, bajuku dari Kemarin belum di ganti." ucapnya sambil menyandarkan diri.

__ADS_1


"Kalau begitu kakak beristirahat lah, aku akan pulang sebentar." Ayu kembali merapikan bantal dan menyelimuti Reva.


"Iya adik ku." Reva tersenyum menatap wajah Ayu yang imut, sebenarnya dia cantik sekali, hanya saja jika sedang bekerja dia tidak pernah tersenyum, memasang muka datar, dingin dan tatapannya membuat orang bergidik. Tak sedikit laki-laki yang ingin mendekatinya, tapi nyalinya menciut saat bertatapan dengan gadis kecil yang sangat pintar berkelahi. tak di pungkiri, itu juga yang membuat Reva nyaman bersamanya.


***


Siang itu Aldo kembali ke rumah sakit, ia ingat akan janjinya untuk melihat bayi mungil keponakan kekasihnya, tentu saja itu tak akan di sia-siakan Aldo untuk berduaan dengan Reva sang pujaan hati.


Baru saja Aldo tiba, ternyata Reva sedang di dorong menggunakan kursi Roda menuju ruangan Rawat. Dan yang mendorongnya adalah seorang laki-laki gagah, tak ayal itu membuat Aldo sangat cemburu.


Aldo duduk sejenak membuka ponselnya, mengetik sesuatu dan mengirimkan pada seseorang. tak lama kemudian ponselnya bergetar, Aldo membuka pesan dari seseorang dan Aldo terlihat semakin gusar setelah menerima pesan itu.


"Ternyata dia orangnya." Aldo mengusap wajahnya.


"Ada apa?" Rey menghampiri nya.


"Kak, apa dia Sersan Galih?" Aldo terlihat sangat tegang menanyakan itu.


"Iya. Baru saja dia datang!" Rey pura-pura tidak mengerti.


"Apa dulu mereka berpacaran?" Rey semakin gelisah dibuatnya.


"Mereka seumuran, waktu SMA mereka berteman, Sersan Galih kakak kelasnya. setelah lulus SMA dia masuk Akademi militer dan langsung diterima. Dia jarang pulang, tapi sering menelpon juga, bahkan pada ibu !!" jelasnya lagi. Membuat Aldo menunduk sangat dalam, pikirannya sangat kacau hari ini.


Tak lama setelah itu Galih keluar dari ruangan, terdengar suaranya berpamitan.


Aldo hanya meliriknya. Benar saja, dia gagah, tampan, kulitnya putih walaupun seorang militer, dan lagi, seorang CEO. Membuat nyali Aldo menciut.


"Aku harus menemani Alisa, kau mau tetap disini?" Rey semakin menggodanya, dia tau hati pria itu sedang tak karuan.


"Aku... akan ... menemui Reva. " Ucapnya setengah terbata.


Dalam hati Rey sangat ingin tertawa, ternyata adiknya sang predator Ceker ayam itu berbakat sekali membuat hati orang porak poranda.


Aldo berjalan gontai, ingin mengurungkan niatnya, tapi dia sudah janji. Perlahan dia mengetuk pintunya.


"Akhirnya kau datang juga aku sudah tak sabar ingin menggendong keponakanku." Reva tampak bersemangat.


"Tentu saja aku akan datang, aku sudah janji padamu."

__ADS_1


Aldo masuk lalu membantu Reva duduk di kursi Rodanya. Tak sengaja lengan Aldo menyenggol sesuatu dan membuatnya jatuh. Aldo mengambilnya, buket mawar putih yang sangat cantik,. perlahan dia letak kan kembali.


"Ayo kita berangkat!" Aldo berusaha menutupi kegalauannya dan mendorong kekasih hati menuju ruangan dimana bayi Rey berada.


__ADS_2