Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
81. Apa kau bahagia


__ADS_3

Akhirnya hari bahagia itu telah dekat, Reva dan Aldo sudah menginap di rumah ibu untuk mempersiapkan pernikahan Ayu esok pagi, Rey dan Alisa juga sudah tiba. Suasana ramai yang selalu di impikan seorang ibu, melihat anak-anak dan cucunya berkumpul menjadi satu.


"Alisa sayang, bisakah ibu minta tolong?" Ibu mendekati Alisa yang sedang menggendong Ayra.


"Bisa ibu, apa yang harus ku lakukan?" Alisa menoleh ibu.


"Ibu memesan kue di tempat langganan ibu, tapi rasanya ini kurang dan ibu sudah meneleponnya, tapi tidak aktif. Bisakah kau kesana sebentar?" Ibu tampak bingung.


"Tentu bisa, di mana rumahnya?" Alisa memberikan Aura pada Ayu.


"Di dekat taman samping restoran anak muda itu, di dekat air mancur." Jawab ibu mengarahkan telunjuknya.


"Aku akan menemanimu kak, aku tau rumahnya." Reva menawarkan diri.


"Apa suamimu mengizinkan?" Alisa melihatnya tersenyum.


"Tentu saja, kan tidak jauh." Reva ikut beranjak.


"Sayang aku menemani kak Alisa memesan kue di dekat taman." Reva mendekati Aldo yang sedang berbincang dengan Rey.


"Boleh, hati-hati sayang." Aldo merangkul pinggang istrinya yang sedang meraih tangan kanan Aldo dan menciumnya.


Reva tersenyum dan berlalu bersama Alisa, walaupun Reva menunjukan cara yang lebih patuh, tapi berbeda dengan Rey dan Alisa, Rey membebaskan istrinya untuk berbakti padanya dengan cara membuatnya nyaman, tidak menuntut untuk di hormati, tapi lebih kepada saling menghargai dan menjaga perasaan saja, jika soal rasa sayang, tentulah Rey sangat menyayangi Alisa. Rey memanjakannya dengan perlakuan yang lembut dan mengalah. Berbeda dengan adik iparnya yang terlihat terlalu overprotektif dan teramat sangat menyayangi. Meski begitu tetaplah dia mengerti, setiap orang akan mencintai pasangannya dengan cara yang berbeda-beda. Dan yang paling penting adiknya bahagia.


"Kau membeli mobil baru?" Rey bertanya pada Aldo yang matanya masih mengekori mobil Alisa yang sudah jauh.


"Iya, untuk adikmu kak." Jawabnya sedikit tersenyum.


"Itu mahal." Rey menunjuk mobil yang terparkir.


"Iya kak, tabunganku habis." Jawabnya, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Rey tertawa, "Kau itu terlalu bersemangat memberi hadiah pada adikku." Rey menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kapan lagi kak, selagi masih ada uang." Jawabnya.

__ADS_1


"Kalau begitu jual saja mobilnya yang dulu, untuk apa jika tidak di pakai." Rey memberi usul.


"Iya, kemarin aku sempat membicarakan itu pada Reva, tapi saat itu dia sedang trauma karena kejadian kemarin." Aldo tampak merasa bersalah. "Aku rasa biarkan saja dulu, tunggu Reva sendiri yang berniat untuk menjualnya, tapi untuk memakainya aku tentu keberatan." Aldo berbicara serius pada Rey.


"Ya, terserah kau saja. Aku hanya ingin yang terbaik untuk adikku." Rey memperlihatkan keseriusannya juga. "Apa kau sudah benar-benar menceraikan anak bos mu itu?" Rey menatapnya penuh selidik.


"Iya. Aku menceraikannya hari itu juga, masih di depan penghulu yang menikahkan kami." Jawabnya yakin.


"Kau yakin?" Rey menunjukan wajah yang tidak percaya.


"Iya kak, aku benar-benar melakukannya. Aku hanya ingin bersama adikmu." Aldo menatapnya penuh tanya, mengapa kakak iparnya seakan tidak percaya.


"Kau masih berhubungan dengannya?" Tanya Rey lagi, matanya tak beralih dari wajah adik iparnya itu.


"Tidak, aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya lagi." Aldo menjawab jujur.


Rey menarik nafas, "Maaf, tapi kau harus lihat ini." Rey membuka ponselnya dan memperlihatkan foto seorang wanita turun dari mobil di depan rumah mewah.


"Bella?" Aldo tampak bingung.


"Kak, apa kita makan dulu?" Reva menoleh Alisa.


"Kakak takut Ayra menangis jika ditinggal terlalu lama, kalau di bungkus saja bagaimana?" Saran Alisa pada adik iparnya.


"Boleh juga." Reva dan Alisa masuk di resto itu dan memesan Ayam bakar beberapa porsi. Lalu setelahnya duduk menunggu.


Entah kebetulan atau bukan, Reva melihat laki-laki yang sering menemaninya makan saat dahulu, kini dia juga ada di sana sedang mendekat dan menyapanya.


"Alisa, kalian disini?" Sapanya pada Alisa, tapi mata pria itu menatap Reva.


"Ah, iya ibu hamil sedang ingin makan ayam bakar." Jawab Alisa sedikit tersenyum. "Kau disini juga?" Tanya Alisa kemudian.


"Iya, aku sering makan di sini, bahkan hampir setiap hari." Jawabnya sekilas masih menoleh wajah yang lebih banyak menunduk di samping Alisa.


"Oh." Alisa hanya menjawab singkat. "Kakak ingin ke toilet, ku rasa tak apa ku tinggal sebentar." Alisa berbicara pada adik iparnya.

__ADS_1


"Iya kak." Reva menjawab pelan, Alisapun meninggalkan mereka sebentar.


"Apa kabarmu?" Tanya pria itu, melihat sekilas lalu mengalihkan pandangannya lurus ke depan.


"Baik." Reva menjawabnya singkat.


"Bolehkah aku bicara sebentar denganmu?" Tanyanya lagi, pria itu duduk berjarak di hadapan Reva.


Reva mengangguk, menatapnya sekilas lalu kembali menunduk.


"Apa kau bahagia hidup bersama suamimu?" Tanya Dev pelan sekali.


"Aku bahagia mas, kau tak perlu ragukan itu." Reva menjawabnya dengan jelas sekali, membuat pria itu menarik nafas.


"Bagaimana jika dia menghianatimu?" Dia menatap serius.


Reva sedikit terkejut, hatinya kembali berkecamuk. Tapi dia tak boleh larut dalam hal yang akan menyakitinya, nyatanya Aldo selalu bersamanya, menyayanginya dan tak pernah jauh darinya.


"Apa kau akan meninggalkannya jika dia menghianatimu?" Dia bertanya lagi.


"Tidak mas. Aku akan tetap bersama Aldo, karena aku sedang mengandung anaknya." Reva menahan nafasnya membayangkan kemungkinan yang buruk.


"Aku tidak rela itu terjadi, aku melepaskanmu karena ingin kau bahagia Reva, jika kau tak bahagia aku merasa bersalah seumur hidup. Jujur saja saat ini aku tidak tenang." Jelasnya.


"Apapun yang terjadi, aku akan tetap bersamanya mas, terkadang aku juga membayangkan hal itu, bahkan sudah ku coba meminta untuk berpisah, tapi pada kenyataannya akulah yang tersiksa. Aku benar-benar tak bisa jauh darinya, bukan hanya kata orang dia yang terlalu mencintai aku, tapi akupun terlalu mencintainya." Reva mengucap tulus.


"Apa kau sudah tidak mencintaiku?" Suaranya sedikit bergetar.


"Maaf mas." Reva menunduk.


"Kau benar-benar sudah melupakan aku?" Tanya Dev lagi.


"Aku tidak pernah melupakanmu mas, kau adalah orang yang baik, Allah mengirimmu untuk menghantarkan kebahagian lain untukku. Tapi untuk cinta, itu sudah tak ada, dosa bagiku menyimpan cinta yang lain selain suamiku mas." Reva memberanikan diri melihat wajah di hadapannya.


"Baiklah, aku hanya berharap dia tak menghianatimu. Maafkan aku jika aku menyakitimu, atau dia menyakitimu. Sudah pasti itu terjadi karena diriku." Dev tersenyum sekilas, laku meninggalkan Reva sendirian.

__ADS_1


__ADS_2