
"Mengapa kau ada di sini?" tanya Adi juga Reina bersamaan.
"Ok, ikut aku sebentar." Adi meminta Reina ikut dengannya.
Dan benar saja Reina mengikuti Adi keluar dari rumah itu, mereka menghilang entah kemana hingga acara makan di mulai.
Suasana ramai dan hangat tercipta dengan sendirinya dengan candaan dan gurauan masing-masing.
"Aji, bagaimana pekerjaanmu, apa kau betah bekerja di Cafe kakakmu?" Reva menanyai pria manis dan sopan itu.
"Betah kak, Alhamdulillah cocok sekali." jawabnya dengan logat Jawa yang kental.
"Tentu saja betah kak, berasa jadi bos!" jawab Erita meledek kakaknya.
"Baguslah, memang kalian bosnya. Kakakmu sedang sibuk membantu kakak di kantor, kau tahu sendiri kakak sedang tidak bisa membantu bekerja, Zahira masih sangat kecil." ucap Reva pada ke-dua adik beradik itu.
"Kak, aku lapar sekali." Ayu membawa piring makan dan makan dengan lahap di samping Reva, ibu hamil itu menyukai masakan rumahan buatan Reva.
"Makanlah yang banyak, kalian juga makanlah yang banyak, semua itu di sediakan untuk kalian." Reva berbicara pada Erita juga yang lainnya.
"Sayang apa kau melihat istrinya Dev?" Aldo melihat kesana-kemari tak menemukannya.
"Tidak ada mas, dari tadi aku tak melihatnya, mungkin sudah pulang." jawab Reva berkata sejujurnya.
"Oh, mungkin juga." Aldo mengangguk dan kembali ke depan, sepertinya Dev sedang mencari istrinya, tentu saja dia adalah sosok istri yang menghawatirkan, salah sedikit bisa beradu tinju dengan pembantu, mulutnya yang pedas itu membuat orang bernafsu ingin menumpahkan kecap dan saos.
"Abidzar mana kenapa tidak datang?" Aldo melihat rekan kerjanya kurang satu.
"Dia sedang sibuk pacaran dengan mantan istrimu." jawab Ricko.
"Wah, ternyata aku akan bersepupu dengan Abi!" David berseru, dia sungguh bersemangat.
"Dan aku akan bersepupu dengan mantan istrimu." Anggara ikut menyahut.
"Dan kita kan menjadi saudara." David menimpali Anggara.
"Benar sekali." sahut Anggara, mereka tertawa bersama-sama.
Namun berbeda dengan Dev, pria itu tampak heran dengan istrinya yang menghilang bak di telan bumi. Lama pria itu mencari namun tak ia temukan sehingga memutuskan untuk pulang lebih dulu, ia berpikir mungkin Reina sudah ada di rumah.
Sesampainya di rumah, Dev mencari keberadaan Reina hingga ke kamar Dimitri, namun tak ada, yang ada hanyalah Dimi sedang menulis dan menggambar sendirian.
__ADS_1
"Sayang apa kau melihat ibumu?" tanya Dev pada anaknya.
"Tidak, tadi ibu bersama ayah." jawabnya polos.
"Berarti Reina tidak pulang, Dev hanya takut wanita itu membuat ulah, selain itu ia tak masalah, bukankah dia adalah orang baru dan tak memiliki banyak teman.
Dev mencoba berpikir positif, mungkin ia sedang bersama temannya, atau masih di rumah Reva dan sebentar lagi akan pulang.
*
Di tempat lain, dua orang sedang duduk berdua sambil berbicara serius.
"Kemana saja kau tak pernah terlihat?" tanya wanita itu.
"Aku bekerja." jawab pria itu pelan.
"Oh, pantas saja penampilanmu berbeda, kau lebih keren." ucap Reina padanya.
"Tentu saja, tapi ngomong-ngomong mengapa kau ada di sana?" tanya Adi lagi.
"Aku sedang bersama seseorang." jawab Reina.
"Tidak." jawab Reina dengan wajah kesal.
"Kau sedang banyak pikiran?" tanya Adi.
"Iya, aku jenuh, lelah dan bosan." Reina menyandar pasrah.
"Mungkin karena kita sudah lama tidak bertemu, makanya kau jadi jenuh." Adi menggodanya.
Reina menoleh, ia tersenyum sedikit sudah tentu ia mengerti maksud dari pembicaraan Adi, beberapa bulan yang lalu mereka sering bersama dan menginap di sebuah hotel sederhana.
Ternyata itu sebab ia sering tinggal di di hotel itu, menemui Adi. Mereka sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama, Adi yang seorang duda sudah pasti menyukai pertemuan itu hingga pagi.
"Ayo!" Adi mengajaknya berpindah dari taman itu dan segera masuk ke dalam penginapan tempat biasa, hujan rintik mulai turun seakan memberi restu dan memaksa mereka mencari tempat berteduh.
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam dan lupa bahwa Reina sudah tak sendirian lagi, ada suami yang menunggu, ada suami yang harap-harap cemas khawatir akan dirinya, namun sebaliknya mereka sedang mencari kesenangan sendiri tanpa ingat apapun dan apa lagi suami, ia tak peduli.
"Dari mana saja?" pukul 02:00 Reina baru pulang, dan ternyata Dev masih belum tidur.
"Bosan dan keluar sebentar." jawabnya malas, Reina langsung masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Dev melihat istrinya sudah tidak beres, kancing kemejanya hilang satu dan penampilannya tampak berantakan. Namun untuk menghindari ribut dan berdebat di malam hari, Dev membiarkannya tidur di kamar, hanya sekilas melihatnya sedang tidur tak bergerak sama sekali.
Satu Minggu kemudian, Reina keluar di hari Senin dan pulang hingga sore, lagi-lagi Dev melihat istrinya pulang dengan berantakan. Kali ini Dev bertanya dan dia harus tahu kebenarannya.
"Aku hanya pergi bersama temanku, aku lelah Dev." Reina meninggalkan Dev masuk ke kamar.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Dev menyusul dan kembali bertanya kali ini dengan sedikit marah.
"Reina, jika kau ingin kebebasan maka mintalah baik-baik padaku. Aku tahu kau tidak merasa bahagia menikah denganku, Aku hanya ingin melindungimu dari diriku, aku tidak ingin kau sakit, aku tidak ingin kau tertular, itu sebabnya aku memasang pengaman dan tidak mencium bibirmu." Dev seakan tahu istrinya tidak puas dengan pernikahannya.
"Sudahlah aku lelah?" Reina malas harus membahas hal itu, memang benar adanya pengaman yang berlapis membuat ia tak merasakan apa-apa saat bercinta, namun itulah keadaannya, resikonya, dia harus paham sejak awal, tapi saat itu ia bersikeras untuk tetap menikah, bahkan terlalu berambisi untuk memiliki suami seorang militer.
"Aku juga lelah Reina, dan maaf mulai saat ini aku tidak akan menyentuhmu, besok kau periksa kesehatanmu di rumah sakit, jika tiga bulan ke depan kau sehat kita akan bercerai." ucap Dev tegas.
"Apa maksudmu, aku tidak mau bercerai!" Reina tidak terima.
"Jika aku tidak menceraikanmu maka dosaku akan semakin banyak, juga dosamu Reina, kau bercinta dengan laki-laki lain sedangkan kau punya suami." Dev membuatnya tersentak, Reina kaget setengah mati.
"Kau menuduhku?" tanya Reina dengan ragu.
"Aku tidak menuduh, aku adalah laki-laki normal dan aku tahu bagaimana wanita yang habis bercinta. Aku bahkan sangat hafal wajah orang yang baru saja mencapai pelepasan seperti dirimu." Dev tersenyum sinis dan meninggalkan Reina sendirian.
Reina menyusulnya keluar, dia tidak mau berpisah dengan Dev, tentu ia tidak ingin reputasinya sebagai istri tentara di kampung halaman akan rusak.
"Dev, pikirkan lagi keputusanmu, hanya aku yang bisa menerimamu apa adanya."
*
*
*
Hy guys, tinggal sedikit lagi, beberapa Bab lagi Novel ini akan benar-benar End, tadinya Novel ini akan panjang tapi karena satu hal penting yang tidak bisa di sebutkan maka lebih baik di End saja.
Terima kasih sudah membaca Novel sederhana ini, jangan lupa lanjut ke Novel ke dua dengan kisah lebih seru , jangan lupa dukungannya ya
😘😘😘😘
👇👇👇👇
__ADS_1