Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
163. Istrimu


__ADS_3

"Katakan!" Aldo membentak sedikit, pria itu sungguh kesal menatap wajah-wajah tukang gosip itu masih tak menjelaskan apapun.


"Kami_, kami hanya mendengar percakapan secara tak sengaja." ucap salah satunya gugup.


"Siapa?" Aldo menatap tajam pada wanita itu.


Diam tak ada yang menjawab, hingga membuat Aldo semakin kesal.


"Kalian berempat silahkan keluar malam ini dan jangan harap akan mendapat gaji atau pesangon." ucap Aldo dengan memasang wajah dinginnya.


"Bukan aku Pak Aldo." salah satu dari mereka memohon, ia sungguh ketakutan, begitu juga wanita di sampingnya, sudah gemetar dan pucat.


"Kami berdua mendengar percakapan pak Adi dengan Kiki." Jawab dua orang lainnya, sudah tentu mereka sangat takut, selama ini bos mereka itu tak pernah marah dan slalu memberi bonus setiap akhir pekan yang ramai pengunjung.


"Adi?" tanya Aldo.


"Iya pak, kami minta maaf." ucap mereka hampir bersamaan.


"Kalian tetap mendapat hukuman, sekarang keluar dan bekerja, jika terulang kembali kalian akan aku tendang dari Cafe ini." Aldo sungguh geram sekali, sayang lawannya kali ini adalah wanita, jika itu laki-laki sudah pasti ia hajar hingga meringis dan memohon.


"Adi." ucapnya pelan, tapi malam ini pria itu tak terlihat datang, padahal semua orang sedang berkumpul di cafe sebagai perayaan satu tahun, sebenarnya Cafe itu sudah buka lebih dari satu tahun, namun resmi mereka serahkan pada Adi dan di buka besar-besaran selama satu tahun.


Aldo keluar mencari Kiki, wanita itu sudah pasti tahu karena dia dekat dengan Adi. Tak berapa lama ia menemukan Kiki, wanita yang pernah menyukai David sahabatnya.


"Ikut aku sebentar." pinta Aldo langsung pergi masuk ke dalam ruangannya.


Kiki masuk dengan perasaan tak menentu, ia takut dan gugup, walaupun ia tak paham kesalahan apa yang dia sudah tak sengaja lakukan.


"Mengapa sampai Adi mengatakan padamu tentang istriku? Ceritakan dengan jelas." Aldo duduk dengan menatap tajam Kiki, menunggu semua apa yang akan di katakan gadis itu.


"Maksud Bapak?" tanya Kiki takut.


"Ceritakan saja apa yang kau tahu tentang istriku, yang di katakan oleh Adi kekasihmu itu." Aldo terlihat malas.


"Maaf pak, Adi tahu dari teman wanitanya kalau Istri anda punya anak lain bersama pria yang memukul anda waktu itu, dia sangat penasaran, tapi aku hanya mendengarkan, tidak tahu apa-apa." jawab Kiki jujur, sepertinya dia memang jujur.


"Lalu?" tanya Aldo masih belum puas.

__ADS_1


"Hanya itu." Kiki menunduk takut.


"Selamat malam Kak." tiba-tiba Adi masuk dengan langsung menatap Kiki yang ketakutan.


"Ada apa?" Aldo juga menatap kesal pada Aji.


"Kita butuh bicara berdua Kak." ucap Aji sangat sopan, pria itu meminta Kiki segera keluar.


Kiki keluar cepat-cepat, wanita itu seperti mendapat hadiah uang saat kepepet. Kedatangan Aji adalah dewa keselamatan untuknya.


"Apa?" tanya Aldo masih kesal, walaupun sebenarnya bukan kesal dengan saudara jauh istrinya itu.


"Mereka tahu dari kak Adi, dan kak Adi tahu dari wanita kekasihnya yang merupakan istri dari tetangga kak Aldo, Dev." ucapnya ragu, ia sungguh tak enak jika harus membuka rahasia rekan kerjanya, namun ia juga tidak tega dengan desas-desus yang beredar menjelek-jelekkan kakak sepupu jauhnya yang begitu baik dan memberikan pekerjaan pada keluarganya.


"Kau tahu dari mana?" Aldo menatap serius wajah Aji yang polos itu.


"Kemarin saat aku akan ke perkebunan milik kakak, aku datang ke rumah kak Adi, dan mereka berdua ada di dalam rumah dalam waktu lama." jawabnya lagi.


"Mereka punya hubungan?" tanya Aldo penasaran.


"Katakan pada semua pegawai untuk menjaga sikap juga mulut mereka, aku tidak mau istriku menjadi bahan gosip di Cafe milikku sendiri. Soal Adi, besok aku akan kesini untuk memperingatkan ini semua." Aldo menarik nafas walaupun masih menahan kesal di dadanya.


"Iya kak, aku juga sudah membantah cerita bohong itu, namun masih juga beredar sesuai mulut mereka." ucap Aji, ia keluar meninggalkan Aldo setelah berpamitan.


Aldo juga keluar dengan wajah masih menahan emosi, hanya berusaha terlihat lebih baik saat ia melihat istri tercinta duduk seorang diri menurut apa yang dia perintahkan.


Aldo memeluknya dari belakang, seperti biasa mengecup kening dan juga pipinya dengan mesra. Itu menenangkan, membahagiakan juga menghilangkan emosi.


"Mas, ada apa?" tanya istrinya lembut.


"Tidak ada sayang, hanya sedang ada masalah sedikit." jawab Aldo tersenyum, wajahnya begitu dekat menempel di bahu lembut itu.


"Tapi ku lihat ada wanita yang kau minta masuk keruanganmu?" tanya Reva dengan manja.


"Bukan apa-apa, mereka membuat kesalahan." jawab Aldo tersenyum.


"Ku pikir kau sengaja membawanya keruanganmu?" Reva melirik mata bening itu.

__ADS_1


"Untuk apa sayang, kau lebih menarik daripada seluruh wanita di dunia ini." Aldo merayunya.


"Aku tidak mau sayangmu terbagi, juga cintamu." jawab Reva menyandar di bahu hangat di belakangnya.


"Itu tak mungkin terjadi." Aldo senang sekali mendapat sikap manja dari istrinya, pria itu masih saja menginginkan perhatian lebih dari Reva walaupun sudah memiliki anak.


"Jangan sampai ada selimut lain yang menghangatkan mu Mas." ucapnya lagi.


"Kau saja yang akan menghangatkan malamku, hanya kau saja." Aldo tak mau kalah, ia akan merayu istrinya hingga meleleh.


"Mas, ayo kita pulang." Reva mulai menggoda pria tampan itu.


"Kita ke kamar saja sayang, Zahira sedang tidur bukan?" Aldo membalasnya.


Reva tertawa senang sekali, ia tahu suaminya sedang menahan sesuatu. Pria tampan itu mudah sekali di goda hanya dengan rayuan sedikit saja diakan menggila.


Aldo ikut tertawa senang dengan memeluk tubuh berisi itu, istri cantik yang menyenangkan hati, tutur kata yang lembut juga sikap yang gemulai membuat seorang Aldo merasa beruntung sekali.


Reva tahu wajah tampan itu sedang menahan emosi sejak keluar dari ruangannya, entah apa sebabnya pria itu terlihat menakutkan. Ia berhasil menenangkan, membuatnya kembali lembut dan manis.


"Aku mencari Dev sebentar sayang, janji tidak akan lama." ucapnya pada Reva, wanita cantik itu seperti enggan melepas lengan yang sedari tadi dipeluk manja.


"Tadi katamu akan ke kamar mas." rayunya sedikit tersenyum.


"Setelah ini sayang, aku akan menghabisi mu sampai tak bisa berdiri." bisik Aldo nakal.


Reva melepaskan lengan itu dengan terkekeh geli mendengarnya, bibir merah Aldo juga ikut tersenyum begitu menggoda.


"Aku ingin bicara denganmu." Aldo kembali mendatangi Dev yang duduk diam di kursi lobi.


"Bicara saja." ucapnya sudah tak nyaman ada di sana.


"Nanti setelah kita pulang dari sini." Aldo terlihat serius.


"Hal apa?" jawab Dev sedikit penasaran.


"Istrimu."

__ADS_1


__ADS_2