Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
50. Periksa


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan cepat.


"Bayinya sehat ya Bu, ini bisa di lihat pergerakannya aktif sekali." Hari itu Reva sedang memeriksakan kandungannya di sebuah rumah sakit, di temani Aldo yang tidak pernah melepaskan tangannya. Tergurat kebahagiaan yang luar biasa diwajah keduannya.


"Apa sudah bisa di lihat jenis kelaminnya dok?" Aldo sudah tidak sabar ingin mengetahui.


"Sepertinya perempuan, tapi kalau ingin lebih jelas tunggu dua atau tiga bulan lagi. karena saat ini janinnya masih sangat kecil sekali." Dokter wanita itu belum bisa menyimpulkan karena memang masih belum genap lima bulan.


"Baiklah, yang terpenting anak dan istri saya sehat." Ucap Aldo, menciumi tangan istrinya hingga berkali-kali.


"Jangan lupa jaga kesehatan, makan yang banyak, ibu hamil tidak ada pantangan ya silahkan makan semua yang di inginkan asal bersih dan sehat." Jelas dokter wanita itu dengan ramah sekali.


"Terimakasih dokter." Ucap Aldo, membantu istrinya berdiri dan mengajaknya keluar dari ruang pemeriksaan.


"Kita langsung pulang atau kau mau beli sesuatu sayang?" Tanya Aldo berjalan menggandeng istrinya.


"Hey, kalian disini?" Suara familiar itu membuat keduanya menoleh.


"Dev, kenapa disini apa kau sakit?" Aldo melihat wajah temannya itu tapi tidak terlihat pucat.


"Tidak, hanya menemani rekanku." Jelasnya, matanya tak beralih memandang wanita yang di peluk sahabatnya.


Reva sedikit tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. "Mas, aku ke ruangan dokter sebentar karena ada yang ingin ku tanyakan." Dia pikir lebih baik menghindar.


"Mau tanya apa sayang?" Aldo mengernyitkan keningnya.


"Urusan wanita. Mas disini saja." Ucapnya setengah berbisik, Aldo sangat menyukai itu membuat hatinya bergejolak tak menentu.


"Baiklah." Jawabnya melepaskan pelukannya.


"Cepat sekali prosesnya, dia sudah membuncit." Dev tersenyum meliriknya.


"Tentu saja, setiap malam dia merengek minta disentuh olehku, aku menabung lebih banyak hingga membuatnya sesak dan penuh." Jawab Aldo tak peduli.


"Kau sedang memanas-manasiku?" Tersenyum getir.


"Apalagi, kau melihatnya seperti ingin menelan bulat-bulat. Kau pikir aku tidak tau?"


"Bukankah dulu kau juga sangat suka memandanginya saat dia masih tunanganku?" Dia tak mau kalah.


"Kau masih mengingatnya. Beda jika sekarang dia istriku, didalam perutnya ada anakku." Aldo kesal mendengarnya.


"Aku tau, sudah jelas itu anakmu." Dev malas berdebat lagi.


"Benar sekali. Dia bahkan bisa bertahan hingga setengah hari bermain denganku." Aldo mendekatkan wajahnya setengah berbisik.


"Aku bisa menghajarmu disini." Dev sangat kesal dengan ulahnya.


"Jangan berfikir untuk mengambilnya kembali." Aldo meninggalkan pria yang sudah sangat kesal itu dengan sedikit tertawa.

__ADS_1


"Dasar anak kecil." Dev mengumpat sendiri.


***


Reva lebih suka menghabiskan waktu berdua di rumah. Sengaja hari ini Aldo tidak bekerja untuk menemani istrinya periksa ke dokter.


"Lelah sayang?" Aldo memintanya berbaring dengan bantal yang di susun setengah menyandar.


"Hanya punggung sedikit pegal mas, tidak terlalu lelah." Jawabnya, wajahnya terlihat lebih berisi.


"Sayang kau mulai gemuk." Aldo mengusap pipi mulus kesayangannya, lalu perutnya yang sudah mulai membesar.


"Aku sudah tidak cantik lagi mas, kau pasti tidak akan suka." Ucapnya sambil memegang perutnya.


"Kata siapa? Aku bahkan amat sangat mencintaimu setelah kau mengandung anakku. Kau terlihat sangat seksi dengan perut yang setengah membuncit ini." Aldo memeluknya gemas sekali.


"Aku malu mas." Reva menyembunyikan wajah di leher suaminya.


"Kenapa harus malu aku yang membuatmu jadi gendut, dan aku sangat menyukainya." Ucapnya dengan tatapan yang penuh cinta yang tak pernah padam setiap waktu.


Reva tertawa senang sekali, matanya yang teduh semakin terlihat indah saat dia tertawa bahagia. "Mas aku sangat mencintaimu." Ungkapnya menyandarkan kepalanya di dada Aldo.


"Aku juga sayang, tak bisa di ungkapkan lagi cintaku ini." Aldo memeluknya erat.


"Mas, jangan pernah meninggalkan aku. Aku tidak mau hidup tanpamu." Ucap Reva lagi.


"Besok kau pergi lagi ke perkebunan mas?" Tanyanya sambil memainkan kancing baju.


"Iya, sore aku sudah pulang sayang."


"Aku akan merindukanmu, satu hari itu sangat lama tanpamu." Dia berbisik dengan di iringi tangannya sibuk mencari sesuatu.


"Jangan merayuku sayang, aku bisa menggila dan tidak bisa melepaskanmu."


"Benarkah, seberapa gilakah suamiku?" Reva sengaja menggodanya


"Benar ingin tahu?" Aldo menatapnya dekat sekali, disambut ciuman hangat yang tak terduga dari istrinya. "Jangan salahkan aku jika aku menghabisimu sampai besok pagi sayang." Bisiknya di telinga yang tertutup rambut itu, si empunya sudah tidak tahan ingin di serang.


(bayangin sendiri ya Mak 😂)


***


"Sayang aku pergi dulu, kak Rey juga ingin ikut karena mengambil setoran pamanmu." Aldo tengah bersiap pergi ke perkebunan istrinya.


"Benar, kemarin paman juga mengabariku." Reva memeluk lengan suaminya.


"Uangmu nanti aku akan mengirimnya langsung ke rekening pribadimu sayang." Aldo mencium kening istrinya.


"Terserah saja mas, yang penting perutku kenyang." Candanya sambil mengantar Aldo menuju mobilnya.

__ADS_1


"Bukankah ini sudah kekenyangan." Aldo mengelus perut istrinya dan menciumnya. "Ayah pergi sebentar sayang." Dia bicara pada yang didalam sana. Rasanya sangat indah sekali.


"Hati-hati mas." Ucapnya melambaikan tangan hingga mobil hitam itu tak terlihat lagi.


Baru dia akan melangkah masuk, ponselnya tiba-tiba berdering.


"Assalamualaikum Ayu."


"Kak, hari ini kita ke lokasi hotel, sepertinya sudah 100%. Jadi kita lihat keseluruhan juga bagian-bagian kecilnya, jika masih kurang cantik kita harus menambahnya." Ayu berbicara terburu-buru sepertinya.


"Ah baiklah, apa kau bisa menjemputku?" Reva segera mengeluarkan baju untuk bekerja.


"Iya. Aku segera kesana." Ayu mengakhiri panggilan teleponnya. Reva bersiap untuk pergi bekerja.


"Apa yang kau bawa kak?" Ayu mengambil bag berukuran sedang dari tangan kakaknya.


"Aku membawa cemilan." Reva terkekeh kecil menjawab pertanyaan Ayu.


"Kau akan sangat gendut setelah sembilan bulan." Ayu tertawa meliriknya.


Reva masuk ke mobil sedikit tersenyum mendengar ucapan adiknya.


Tiga jam perjalanan menuju lokasi pembangunan Hotel. Reva turun dengan cantiknya, di iringi gadis semampai sekretaris yang satu Minggu lagi akan menikah.


"Semuanya terlihat sempurna Ayu. Ku rasa tidak ada yang perlu di tambahkan lagi." Reva sangat senang dan puas dengan hasil kerja timnya.


"Suamimu juga yang merekomendasikan penyelesaiannya kak." Ayu menggandeng Reva dengan hangat.


"Dia benar-benar membantu ku." senyumnya mengembang.


"Baiklah, ayo kita pulang!" Ayu segera mengajaknya kembali, karena sudah pasti dia ingin istirahat. Reva hanya menurut saja.


Belum 10 menit berjalan ada seorang kakek tua penjual pisang, Reva meminta Ayu untuk berhenti sebentar.


"Aku ingin membeli pisang, kau tunggu sebentar." Reva turun dan membeli pisang kakek tua yang tampak kelelahan membawa dagangnnya.


"Pak, Beli satu ya." Tampak kakek itu sangat senang sekali.


"Ini pisangnya nyonya." Dengan senyum yang bahagia.


"Ini uangnya ya pak, semoga berkah dan bermanfaat." Reva membawa pisangnya.


"Nyonya ini terlalu banyak, aku tidak bisa menerimanya." Kakek tua itu mengejarnya Reva, karena uang yang di terimanya terlalu banyak.


Reva menghentikan langkahnya. "Terima saja pak aku ikhlas."


kakek tua itu berterima kasih berkali-kali, lalu dia segera pulang dengan terburu-buru. Reva tertegun menyaksikannya, mungkin dia sangat membutuhkan uangnya. Lalu kemudian dia berbalik dan menuju mobilnya.


Belum sempat dia menutup pintu mobil, tiba-tiba datang mobil dari arah depan dengan kecepatan sangat tinggi dan tepat mengarah dimana mobil mereka berhenti. Kecelakaan tidak bisa di hindari lagi, mobil yang di tumpangi Ayu terseret oleh mobil yang mengebut tak terkendali itu. Reva terpental keluar dengan keadaan pingsan.

__ADS_1


__ADS_2