Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
43. Mangga muda


__ADS_3

"Mas, hari ini aku ada kunjungan kerja di proyek Hotel Anggara." Satu bulan sudah berlalu dari kejadian yang membuat suaminya marah dan cemburu. Tentu dia tak ingin mengulang kejadian yang sama.


"Aku akan mengantarmu." Jawabnya singkat, mengganti jas dengan kaos santai ala Aldo yang kepercayadiriannya melampaui artis ibu kota. Tak ingin kalah saingan dengan yang lebih muda tentunya.


Reva menatap sambil tersenyum, sebenarnya tadi Aldo akan berangkat kerja. Tapi apapun itu akan menjadi nomor dua jika sudah berhubungan dengan istrinya.


"Ayo." Aldo mengulurkan tangannya untuk di genggam istrinya yang cantik.


"Kita langsung ke lokasi atau ke kantormu dulu sayang?" Tanyanya setelah berada di dalam mobil yang melaju pelan.


"Langsung saja mas, Ayu dan pak Rudi sudah pasti sedang menuju ke sana." Jawabnya.


Tak lama kemudian mereka sudah tiba di lokasi pembangunan hotel. Tampak di depan sana rangka bangunan yang sudah di bentuk dan tersusun bata merah. Bangunan yang begitu besar ini adalah proyek luar biasa bagi Reva , tentunya dengan anggaran proyek yang tak sedikit. Aldo sudah memarkirkan kendaraan lalu ia keluar lebih dulu membukakan pintu untuk istrinya.


"Ayo sayang" Aldo tak mau kecolongan lagi, dia menggandeng istrinya dengan mesra. Terlebih lagi tak jauh dari mereka pemilik hotel sudah berdiri dengan gagah.


Tak disangka Galih Anggara menghampiri mereka dengan senyum ramah. "Apa kabar?" dia mengulurkan tangan ke arah Aldo.


Aldo juga tak mau harga dirinya jatuh di depan istrinya yang solehah, dia tersenyum dan membalas jabatan tangan rivalnya. "Baik." Jawabnya singkat.


Gara menoleh wanita yang sedang di gandeng suaminya itu, kali ini ia hanya tersenyum, tidak untuk berjabat tangan sekalipun.


"Apa sudah lama?" Reva mencairkan suasana.


"Tidak, aku baru saja datang bersamaan dengan sekretaris dan asistenmu." dia menunjuk Ayu dan pak Rudi sudah sibuk dengan pengecekan bahan dan kualitas bangunan yang sudah separuhnya berdiri.


"Aku bergabung dengan Ayu mas." Pintanya lembut sekali, Aldo tak akan mampu menolaknya. Dia sedikit mengangguk dan tersenyum manis sekali.


"Maaf untuk kejadian waktu itu." Tak disangka pria tampan dan muda itu bersedia minta maaf dengan sangat berani dan yakin.


"Tidak masalah, asal tidak terulang kembali." Jawab Aldo dengan sengaja.


"Tentu saja. Dia temanku, aku tahu batasannya." Galih kembali tersenyum dengan tenang dan bijaksana. Dia memilih berdiri bersama Aldo tidak bergabung dengan tim yang lain hingga merekalah yang menghampiri untuk membicarakan pekerjaan.


Seperti biasa, tak sampai satu jam mereka sudah selesai dan kembali ke kantor masing-masing. Tidak dengan Reva kali ini, dia ingin berjalan-jalan sebentar dengan suaminya.


"Sayang kita mau kemana?" Aldo menoleh istrinya.

__ADS_1


"Aku mau makan bakso yang pedas mas. Yang di pinggir jalan sana." Reva menunjuk pertigaaan di seberang kendaraan mereka.


"Apa tidak sakit perut sayang?" Aldo menatapnya heran.


"Tidak, aku sudah lama tidak jajan di sana." wajahnya sangat senang dan bersemangat.


Aldo berhenti di depan kedai Bakso yang di maksud. Mereka duduk di sudut setelah istrinya memesan bakso kesukaannya. Tak begitu lama, pesanan mereka sudah di hidangkan oleh pemilik kedai. Reva sudah tak sabar ingin menyantap dan menghabiskan kuah pedas yang di mintanya.


"Pelan-pelan." Aldo melihat istrinya memakan benda bulat yang asapnya masih mengepul karena memang baru keluar dari panci. Itu sama sekali tak dijawab dan terus melahapnya hingga habis.


"Mau lagi." Aldo menawarkan.


"Tidak. Perutku sudah kenyang." Reva menyandar di tempat duduknya sambil menunggu suaminya selesai.


"Pak dibungkus dua ya!" Aldo memesan lagi untuk di bawa pulang.


"Buat siapa mas?" Reva menatapnya."


"Untukmu, siapa tau nanti kau ingin makan lagi tinggal di panaskan saja." Aldo mengeluarkan satu lembar uang merah dari dompetnya lalu mengambil pesanan dan mengajak istrinya kembali.


"Mau kekantor atau pulang sayang?" Aldo melirik jam tangannya yang memang masih jam 11:09 siang.


"Baiklah, aku akan mengantarmu lalu aku akan bekerja." Jelasnya karena memang Aldo masuk pagi dan bergantian David di malam hari atau sebaliknya jika akhir pekan. David masih bekerja di perusahaan Hartawan di siang hari.


"Tidak boleh pulang malam mas." Ucapnya dengan nada ancaman.


"Iya, aku akan pulang cepat setelah ashar." Jawab Aldo lagi.


Kendaraan yang mereka tumpangi sudah tiba di rumah, Aldo mengantar istrinya masuk kedalam. Meski sudah berkali-kali mencium keningnya tapi tangan kecil itu masih tak mau lepas dan menyelip di pinggang.


"Sayang, apa aku tidak usah bekerja hari ini." Aldo ingin melepaskan tangan itu tapi pemiliknya seperti tak rela.


"Mas." Reva merengek dan terus menempel.


"Baiklah, ayo ku antar ke kamar." Aldo membalas pelukan istrinya mengantar ke atas. Tak ada cara lain selain membuatnya lelah hingga malas untuk bangun. Jika tidak, Aldo tak akan masuk bekerja hari ini.


***

__ADS_1


Reva terbangun dari tidurnya langsung menuju kamar mandi. Lima belas menit kemudian dia sudah selesai dan mengganti baju dengan dress yang panjang.


"Bi!" Panggilnya melihat ke sana kemari. Karena tak ada jawaban Reva mencarinya di halaman belakang. Benar saja bi Tuti sedang mengumpulkan daun mangga yang sudah jatuh. Dia mendekat dan melihat di atas pohon ada beberapa buah mangga, seketika air liurnya keluar begitu banyak minta di telan membayangkan betapa nikmatnya buah berwarna hijau itu jika di makan.


"Non, ngapain disini?" Sapa asisten rumah tangga itu.


"Bi, kita bikin rujak ya, sepertinya enak." Reva masih memandangi buah hijau yang tinggi.


"Aduh non, nanti sakit perut bisa habis saya sama mas Al." Jawabnya enggan menuruti keinginan Reva.


"Tapi aku mau bi," Wajahnya mengerucut mendengar penolakan bi Tuti. Heran dengan sikap ngototnya.


"Ya udah non tunggu sini. Biar bibi suruh pak satpam yang ambil." Melepaskan sapu di tangannya.


"Ambil apa bi?" Aldo sudah berdiri di belakangnya.


"Itu mas, non Reva mau makan mangga!" Jawabnya ragu-ragu dan takut.


Aldo menatap istrinya yang memasang wajah memelas dan sedih, membuatnya memijat kening dan pasrah. Aldo meletakkan tasnya juga melepas jas yang dia pakai, mau tak mau dia memanjat.


"Mas kau tampan sekali jika sedang memanjat." Reva tampak kegirangan. Bi Tuti menganga tak percaya dengan ulah majikannya yang aneh, mana ada pria terlihat lebih tampan jika memanjat.


Aldo turun dengan dua buah mangga di tangannya, dan berbalik tampak memikirkan sesuatu.


"Makasih mas." Reva mengambil pisau dan langsung mengupas, sedangkan bi Tuti sudah menyiapkan bumbu rujak yang di mintanya sambil sesekali melirik Aldo yang matanya tak lepas mengikuti gerak-gerik Reva, masih diam tak mengatakan apa-apa.


Benar saja, hingga menyisakan tiga potong mangga muda barulah dia merasa kenyang. Wajahnya bercahaya dengan bibir yang merah karena memakan bumbu pedas manis yang sudah habis tak bersisa.


"Sayang, kau hamil." Tiba-tiba Aldo memeluk erat sekali. Reva terdiam sejenak membiarkan Aldo memeluk dan menciumnya.


"Aku belum tau mas." Reva tidak yakin.


"Aku yakin sekali, kau sedang mengandung anakku. Anak kita." Matanya sudah berembun, hatinya sangat bahagia. "Kita ke dokter saja ya?!" Aldo mendekatkan keningnya hingga menempel di kening Reva, sebelah tangannya mengelus pipi mulus itu.


"Aku sudah beli alat tesnya. Dan sepertinya aku telat sudah lama." Reva mengingat kalender bulanan yang dia tandai, bibirnya tersenyum dengan binar bahagia.


"Sekarang?" Aldo sudah tidak sabar.

__ADS_1


Reva mengangguk dan segera di gendong suaminya ke kamar. Bi Tuti jadi garuk-garuk kepala, antara bahagia dan sungkan dia jadi salah tingkah sendirian.


__ADS_2