
Akhir pekan ini Dev hanya bisa menghabiskan waktu di rumah mewah terpencil itu, berdiam diri di rumah untuk seorang lelaki sangatlah membosankan. Tapi tidak untuk Dev, semenjak sering mengobrol dengan Mey membuat hari-harinya lebih berwarna, wajah cantik, tubuh langsing dengan kulit seputih susu itu mulai menggoda di malam-malamnya. Sebagai laki-laki normal yang tinggal satu rumah dengan wanita cantik itu sungguh beban yang tak bisa dilukiskan, namun begitu indah untuk dibayangkan.
"Mey, apa kau ingin jalan-jalan?" Dev menawarkan kebebasan untuk malam ini, seperti perintah ayahnya sekali-kali membuat Mey bebas dan bahagia tak masalah asal dalam penjagaan Dev.
"Apa boleh?" tanya gadis itu dengan mata dan wajah menggoda.
"Tentu saja asal bersamaku." Dev meliriknya dan tersenyum, sengaja lirikan itu sedikit nakal.
"Kalau begitu aku ganti baju dulu." Mey beranjak dari duduknya, segera naik ke lantai atas untuk mengganti baju.
Tak berapa lama, gadis imut itu sudah turun dengan dress di atas lutut dan bagian atas sedikit terbuka, sepertinya pakaian yang ia miliki hanya memiliki model-model pendek dan ringan saja, tak ada yang lebih sopan? Ah tentu tak ada. Begitu Dev berpikir dengan berusaha menguasai perasaannya, mata yang terkadang mencuri pandang pada gadis yang terlalu feminim menggoyahkan iman.
"Dev kita akan kemana?" tanya gadis itu menyandar dengan begitu manja di kursi bersebelahan dengan Dev. Hari itu mereka memakai mobil milik Mey yang sengaja di tinggalkan ayahnya untuk berjaga-jaga mana tau ada kepentingan mendadak, sedangkan untuk kuliah wanita itu selalu di kawal sopir yang lain.
"Kau ingin kemana?" Dev balik bertanya, menoleh sejenak lalu kembali fokus ke depan.
"Aku ingin makan di pinggir jalan." ucapnya melihat sekitaran jalan, namun belum menemukan tempat yang pas untuk ia nikmati bersama.
"Itu hal yang mudah sekali Mey, ku pikir kau akan menghabiskan waktu di mall atau di tempat-tempat mewah lainnya." Dev tersenyum mendengar itu.
__ADS_1
"Hal mudah namun tak mudah untuk aku menikmatinya, kau tahu aku tidak bisa bebas seperti orang lain." jawabnya terdengar lembut namun juga begitu sedih.
"Mey, boleh aku tahu mengapa ayahmu begitu menjagamu seakan takut sekali kau hilang, padahal kita sudah tinggal di sudut kota." Dev menatap Mey berulang kali.
"Nanti kau akan tahu sendiri, tapi untuk saat ini aku tak mampu menjelaskannya padamu." Mey terdiam sejenak. "Tapi bisakah kau selalu menemani aku selama kau menjadi orang kepercayaan papa?"
"Tentu saja, tapi yang aku takutkan papamu akan marah jika tahu aku dekat denganmu." jelas Dev, dia tidak menutupi bahwa ia menginginkan Mey untuk selalu dekat dengannya.
"Biasanya, orang kepercayaan papa hanya akan bekerja selama enam bulan atau paling lama satu tahun saja. Setelah itu kami akan pindah sesuai tempat bisnis papa yang baru."
"Artinya kita tidak akan bisa bertemu lagi." Dev menghentikan mobilnya, menatap gadis itu serius dan sungguh ia bersedih membayangkan hal itu.
"Apa kita akan sanggup menjalani hidup kita masing-masing setelah perpisahan itu terjadi?" Dev menatapnya, begitu ia jatuh cinta namun juga harus bersiap kehilangan. Rasa bahagia itu muncul bersamaan dengan kesedihan, walaupun pada kenyataannya masih ada waktu untuk bersama, namun setelahnya waktu berpisah juga sudah siap diujung bahagia.
"Aku tidak tau Dev, maka dari itu berikan aku tempat di hatimu. Aku ingin memilikimu walau hanya beberapa saat saja, aku ingin merasakan bahagia bersamamu walaupun akhirnya akulah yang akan lebih bersedih jika harus berpisah." ungkapnya bersungguh-sungguh.
"Tentu saja, aku juga sangat ingin bersamamu Mey, wajahmu selalu membayangi malam-malam ku akhir-akhir ini." jawaban Dev terdengar sangat romantis, wajah mereka semakin dekat di tempat yang minim cahaya itu, mengulang hal yang pernah mereka lakukan saat malam itu dan sungguh itu membuat keduanya sama-sama menginginkan dan mengulanginya. Dan kali ini melewati batas berciuman, tapi meraih bagian atas yang memang sudah terpampang jelas minta di sentuh sejak awal.
"Jangan tinggalkan jejakmu Dev, aku mohon." pintanya di tengah aktifitas panas itu.
__ADS_1
"Aku tau sayang." bisiknya dengan nafas yang menderu.
"Ayo kita makan di tempat yang kau mau." ajak Dev pada gadisnya, tangan kokohnya kembali menutup pakaian bagian atas itu.
"Iya." jawaban singkat itu di iringi pelukan di lengan Dev yang hangat, begitu manjanya gadis itu seakan tidak ingin jauh walau sejengkal saja. Senyum bahagia keduanya begitu jelas terlihat, cinta sudah membuat hidup mereka lebih berwarna.
Hingga pukul 23:30 keduanya kembali ke rumah mewah itu, tiba dengan tubuh yang setengah menggigil karena cuaca di puncak bukit terasa begitu dingin. Mereka masuk ke dalam rumah, dan kali ini Dev mengantar Mey hingga ke kamarnya. Seakan tak ingin di tinggalkan Mey memeluknya erat, menghisap wangi maskulin di dada lebar itu. Pria normal yang sedang jatuh cinta sungguh ingin melakukan hal-hal seperti itu terlebih lagi nafsu lebih kuat dari pada iman, dan akhirnya yang mereka lakukan di dalam mobil terulang lagi. Kali ini lebih puas namun tak sampai tuntas, Dev kembali menutup dan merapikan pakaian gadis itu dengan kecupan hangat di keningnya mengakhiri kebersamaan mereka. Dev kembali ke kamarnya dengan perasaan bercampur aduk, begitu juga Mey yang merasa sesuatu yang di inginkan belum ia dapatkan, mereka sama-sama tidur dengan gelisah.
Pagi hari, kembali suara burung-burung menyambut kedatangan sang mentari. Suasana sejuk yang selalu mereka nikmati setiap pagi dengan aroma khas alam yang belum tersentuh.
Mobil mewah kembali memasuki halaman rumah itu, dan tampak pria paruh baya itu datang namun tidak sendirian, ada dua orang pengawalnya yang turut serta dan sepertinya kali ini mereka akan melakukan perjalanan jauh.
"Mey." sapa pria itu saat melihat gadis kesayangannya menuruni tangga, pria itu langsung memeluk dan mencium pipi Mey. Mereka kembali naik ke atas dengan tanpa menoleh siapapun, termasuk Dev yang sedang duduk di ruang tamu.
Tak begitu lama, hanya sekitar lima belas menit ke dua orang itu kembali turun dan pria itu kembali menuju mobil tanpa berpamitan, berlalu pergi bersama dia pengawal pribadinya yang terlihat sangar.
Mey kembali turun dengan tergesa-gesa membuat rok mini yang di pakainya melayang terangkat kesana-kemari.
"Dev." panggilnya begitu bersemangat langsung memeluk dan membunyikan kepalanya di dada pria tampan itu.
__ADS_1