Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
23.Menerima lamaran


__ADS_3

"Dia cantik sekali..." Reva menggendong bayi perempuan itu dengan hati yang sangat bahagia.


"Tentu saja, Ayahnya tampan, ibunya juga sangat cantik." Ibu menimpalinya dengan senyum bangga. Alisa jadi ikut tersenyum senang mendengar pujian dari mertua yang selalu setia menemani dan mendoakannya.


Reva mengelus pipinya, memeluk tubuh mungil yang hangat itu.


"Kau sangat menyukai anak kecil." Aldo sedikit berbisik membuat Reva menatapnya.


"Aku sangat menyukainya." Dengan mata yang berbinar.


"Nanti... Kita akan memilikinya." Ucap Aldo lembut sekali.


Reva memandang wajah pria di sampingnya seperti tak mau berkedip. Dia membayangkan bagaimana rasanya menjadi ibu, juga membayangkan bagaimana laki-laki tampan di depannya akan menjadi ayah, itu adalah impiannya sejak lama. Ingin mempunyai keluarga kecil yang hangat, saling mencintai hingga menua bersama.


"Kita akan memiliki anak laki-laki yang tampan, juga anak perempuan yang sangat cantik, seperti dirimu. Dan mereka akan memanggilmu ibu." Aldo melanjutkan kata-katanya dan membalas tatapan gadis itu dengan penuh cinta.


Reva masih tak berkedip, bibirnya yang mungil sedikit terbuka. Aldo jadi gemas melihatnya, dia hanya tersenyum menikmati wajah cantik Reva sedekat ini.


"Ternyata kalian disini!" Alisa dan Rey datang untuk menyusui bayinya.


Reva terkejut dan memalingkan wajahnya. Hatinya berdebar kencang membayangkan ucapan Aldo. Apakah sebahagia itu bersama dengannya. Reva menggeleng-gelengkan kepalanya. Aldo masih setengah berjongkok, tak merubah posisinya bahkan saat Alisa mengambil bayinya dari tangan Reva. Barulah dia berdiri tegak dengan segala kepercayadiriannya.


"Aku sudah tidak tahan disini." Ucap Alisa. melihat ke sana kemari dengan tatapan lelah.


"Aku juga kak, aku ingin pulang." Reva ikut menimpali.


"Biar aku yang mengurusnya. Aku akan menemui dokter agar untuk dirawat di rumah saja." Ucap Aldo.


"Apa bisa? Reva tidak yakin karena kakinya masih bengkak.


"Akan ku coba." Aldo meyakinkannya.


"Aku juga akan menemui dokter mu, kurasa tidak ada masalah. Kau dan bayi kita sehat." Rey menatap Alisa dan putrinya bergantian

__ADS_1


"Kalau begitu sekarang saja." Aldo sudah tak sabar mengajak Reva pulang.


"Ayo." Rey berjalan lebih dulu di iringi Aldo untuk menemui dokter.


"Mereka akur sekali?" Alisa memandang nya heran.


Reva tersenyum mendengarnya, " Jika di perhatikan benar juga, kak Rey jadi sangat dekat dengan Aldo." Membuat Reva memikirkan hal yang sudah terlewatkan olehnya.


Tak lama setelahnya, dokter memeriksa keadaan Reva dan Reva di izinkan pulang. begitu juga dengan Alisa setelah di periksa Bayinya sehat, Alisa pun di izinkan pulang, tentu tak keberatan bagi dokter untuk mengizinkan Alisa pulang dan istirahat di rumah. Dia juga seorang dokter, sudah pasti dia lebih faham menjaga kesehatan dirinya.


***


Sesampainya di rumah, Reva masih menggunakan kursi roda. Dia melihat pagar rumahnya masih rusak dengan beberapa pot bunga yang tak ada di tempatnya, mungkin sudah pecah tertabrak mobilnya. Aldo ikut mengantar dan mendorong kursi Rodanya masuk ke dalam. Hari itu Alisa juga pulang ke rumah mertuanya.


"BI Inah!" Ibu memanggil bi Inah.


"Iya nyonya." Bi Inah membawa barang-barang di mobil kedalam. Ibu langsung menidurkan bayi Ayra, begitulah nama yang di berikan ayahnya. Di susul Alisa dan Rey untuk beristirahat, sungguh lelah karena semalaman mereka kurang istirahat.


"Kau tidurlah lebih dulu, aku yang menjaga Ayra." Rey menyandar di samping istrinya berbaring.


"Lelahku sudah hilang melihat putri kita." Rey merayunya dengan tulus.


"Sejak kapan kau pandai menggombal, dari semalam kau manis sekali." Alisa tersenyum sambil memejamkan matanya.


"Sejak aku sadar pengorbananmu sangat banyak untukku, aku jadi semakin mencintaimu." Rey ikut tersenyum mengelus kepala istrinya.


"Aku jadi jadi sangat beruntung memilikimu." Alisa berbalik memeluk pinggang suaminya.


"Tidurlah." Ucap Rey balas memeluknya.


Sementara di luar, "Terimakasih sudah mengantarku, boleh minta nomor rekening mu?" Reva mendongak menatap wajah pria yang mendorongnya, membuat pria itu beralih duduk di hadapan Reva.


"Sudahlah. Kau tidak usah berterima kasih, seandainya aku tidak melamarmu." Aldo menatap wajah gadis di depannya.

__ADS_1


"Apa kau menyesal sudah melamarku?" Kali ini Reva menatapnya dengan berani. membuat pria di depannya menjadi sangat gugup, matanya ingin bicara tapi bibirnya tak bisa mengeluarkan kata-kata.


"A.... Sebaiknya Kau istirahat, Aku harus pulang." Ucapnya kemudian.


Aldo beranjak akan berdiri, tapi tiba-tiba Reva meraih tangannya.


"Aku menerima lamaranmu." Ucap Reva masih memegang tangannya.


Membuat Aldo tak percaya, ia masih tak bergerak mencoba mencerna apa yang di dengar seperti halusinasi kemudian berbalik dan benar Reva sedang memegangi tangannya.


"Apa!" Aldo masih tidak percaya.


"Aku mau menikah denganmu!" Ulangnya lagi dengan sangat yakin.


Aldo kembali duduk setengah berlutut, menatap mata teduh gadis cantik dihadapannya. "Apa kau yakin?"


"Aku yakin. Aku ingin secepatnya menikah denganmu." Ucapnya seperti tidak memikirkan apapun, tak ada keraguan juga tidak malu-malu sepeti hari-hari sebelumnya dia tak akan seberani itu.


Bahagia, tentu saja Aldo sangat bahagia, tapi ada apa dengan gadis ini, berkali-kali Aldo menelan paksa ludahnya menahan rasa bahagia, heran dan sedikit aneh.


"Baiklah, kau harus cepat sembuh agar kita bisa menikah." Ucap Aldo berusaha menguasai diri.


"Aku pasti akan segera sembuh, hanya bengkak saja itu tak akan memakan waktu lama." Reva memperlihatkan pergelangan kakinya yang masih di balut perban.


Aldo menatap gadis cantik itu, ada kedamaian yang sulit di artikan di sana, semakin lama menatapnya membuatnya semakin ingin memiliki. Tapi apakah di dalam sana juga ada cinta?, entahlah. Aldo melihat tangannya masih dipegang, ada rasa hangat menjalar di sana, sungguh tak bisa di bayangkan jika tangan kecil itu bisa ia miliki untuk selamanya.


"Iya, istirahatlah yang benar, jangan memikirkan apapun selain aku." Ucapnya kemudian, dia tersenyum hangat.


"Iya." Jawabnya singkat.


"Kalau begitu aku pulang dulu, jangan lupa minum obatnya."


"Iya." Tangan kecil itu memegang jarinya, seakan tak rela untuk di lepaskan.

__ADS_1


"Aku mencintaimu." ucapnya lagi, lalu ia beranjak meninggalkan Reva tanpa berharap jawabannya.


Reva tersenyum menatap kepergian laki-laki yang menjaganya dari kemarin. Ada rasa yang sulit di jelaskan di dalam hati, sepertinya hari-hari akan sangat bahagia jika bersama dengannya. Tak sekali dua kali dia teringat saat Aldo menggendongnya dari kecelakaan kemarin, antara setengah sadar dia merasa pelukan Aldo sama seperti pelukan Ayahnya waktu kecil, merasa aman dan di cintai. Dia tidak ingin lagi memikirkan masa lalu. Tiba-tiba rasa ingin hidup bersama dengan pria yang baru dikenalnya itu muncul dengan cepat, seolah kehadirannya kali ini dapat menghapus masa lalu.


__ADS_2