
"Itu tidak benar" Ucap Reva dengan memiringkan kepalanya.
"Benar sayang." Aldo mencoba menggodanya.
"Lalu yang bertahan hingga setengah hari tanpa mengizinkanku istirahat itu apa?" Jawab Reva sambil melebarkan kedua bola matanya. Sudah tentu membuat Aldo tertawa gemas melihatnya.
"Sebenarnya aku sangat lelah, hanya aku tidak tega membiarkanmu selesai tanpa tertidur pulas." Kilahnya lagi masih tertawa.
"Ish, tidak mau mengaku." Dia menghindari wajah suaminya yang ingin menempel terus.
"Ayo kita pulang." Aldo menggenggam tangan kecil itu untuk mendekati David dan Ayu.
"Sudah selesai." David bertanya dengan tak acuh.
"Apanya?" Aldo balik bertanya.
"Pamer kemesraan di hadapanku." Ketusnya lagi.
"Itu sengaja, agar kalian cepat menikah." Aldo tertawa mengejek, lalu mengajak istrinya pulang meninggalkan dua orang yang masih perlu bicara.
Ayu menatap kepergian kedua orang suami istri itu dengan tersenyum. Bahagia sekali rasanya melihat orang yang di sayanginya bahagia, tentu takdir tuhan adalah rahasia. Cinta yang di pertahankan dengan luar biasa bisa jadi hanyalah sebatas pembelajaran hidup, dan Allah pertemukan dengan yang orang yang tidak terduga sebagai teman seumur hidup.
"Mereka bahagia sekali." David memecah lamunan Ayu yang semakin jauh.
"Iya." Jawabnya lalu menunduk.
"Aku ingin sekali membahagiakanmu seperti Aldo membahagiakan kakakmu." David melihat wajah cantik Ayu dari samping.
Ayu menoleh menatap pria berbulu mata lebat dan tampan itu, sejenak lalu kembali menunduk.
"Apa kau bersedia?" Tanya David lagi dengan suara lembut dan pelan. Ayu tak bergeming, entah jika dia tidak berani menatapnya. David melihat kedua tangan cantik itu bertaut, sepertinya dia gugup.
David memberanikan diri menggenggam kedua tangan Ayu, membuat mata yang bening itu mau tak mau membalas tatapannya. "Maukah kau menikah denganku?" Ungkapnya lagi.
Lama mata mereka beradu, seperti menyelami isi hati masing-masing. David tidak melepaskan momen yang sangat langka tentunya, dapat melihat wajah cantik Ayu dari dekat. Hingga akhirnya gadis cantik itu mengangguk.
Di senja yang indah ini ingin rasanya David berteriak kencang memberitahukan pada dunia bahwa dia berhasil melamar gadis pujaannya. Jantungnya berdegup seakan menembus dada, tangannya semakin erat menggenggam jari lentik dan putih itu. "Terimakasih, aku sangat bahagia dan aku berjanji akan selalu berusaha membuatmu bahagia." Ungkapnya penuh haru. "Aku mencintaimu." Tambahnya lagi, tentu membuat Ayu tersenyum bahagia.
***
"Sayang, besok kak Rey mengajakku ke perkebunan milikmu. Kau di rumah saja ya, jangan kemana-mana." Aldo berbaring di belakang istrinya yang sedang duduk merapikan rambut.
__ADS_1
"Apa aku boleh meminta Ayu datang kesini mas?" Reva menoleh Aldo yang sedang menempel mengelus perutnya.
"Tentu boleh sayang, jadi kau tidak sendirian." Aldo memintanya ikut berbaring.
"Mas, aku ingin minta sesuatu?" Ucapnya lembut.
"Katakanlah, aku akan menurutinya asal tidak membuatku jauh darimu." Aldo menyibak anak rambut di kening istrinya.
"Mas, aku ingin anak kita menjadi anak yang taat beragama." Reva bicara serius.
"Aku juga ingin anak kita seperti itu sayang, jika dia perempuan cantik dan Soleha seperti dirimu." Aldo memandangi wajah itu tak pernah bosan.
"Aku hanya meminta perbaiki sholatmu mas. Pergilah sesudah subuh, pulanglah sebelum gelap. Aku tidak menuntut uangmu banyak, aku ingin memperbaiki diri bersamamu." Reva menatap mata bening suaminya dengan lembut.
"Aku akan berusaha sayang. Aku tau kau tidak kekurangan uang, tapi aku takut tak bisa mengimbangimu dalam segala hal, termasuk dalam hal materi." Jawabnya.
"Aku mengerti mas." Jawabnya pelan.
"Lalu kenapa uang yang ku berikan tak berkurang sedikitpun, aku kecewa mengetahuinya sayang."
"Kau sudah mencukupi semuanya mas, aku bahkan tidak perlu belanja karena kau sudah menyiapkan makanan yang banyak. Kau juga sudah meminta bi Tuti untuk mengerjakan apapun termasuk mengurusku. Istri sejati tak butuh banyak hal, jika dapurnya tercukupi, batinnya terpenuhi itu sudah membuatnya bahagia. Adapun kebutuhan yang lain bisa menyusul." Reva mengelus wajah suaminya, tangan kecil itu sengaja merayu sambil berbicara banyak hal.
"Aku berharap kau menghabiskan uangku." Aldo tersenyum mengucapkannya.
"Aku menunggu masa-masa itu, dan mulailah dari sekarang. Aku akan sangat bahagia jika kau meminta sesuatu dariku."
"Aku sudah mendapatkan segalanya darimu mas." Suara halus itu terdengar bahagia.
***
"Jangan lupa makan yang banyak dan minum susunya." Pagi hari Aldo mencium kening istrinya berulang kali, karena akan pergi bersama Rey.
"Iya mas." Reva masih bergelayut manja.
"Sayang, rasanya aku tidak ingin pergi." Aldo kembali mengeratkan pelukannya.
"Pergilah, jika hari ini tidak jadi maka harus menunggu Minggu depan." Aldo masih tak bergerak.
"Sayang pergilah." Ucap Reva lagi melonggarkan pelukannya. Terlambat, Aldo sudah menggendongnya masuk menuju kamar tamu. Menutup mulut yang menyuruhnya segera pergi dan menyerang tanpa jeda, seperti sedang tergesa-gesa tak memulai pemanasan sama sekali.
10 menit.
__ADS_1
Selesai.
"Mas." Reva berusaha berbicara tapi jari Aldo segera menutupnya.
"Aku mohon, jangan bicara apapun. Aku bisa kembali mode on." Nafasnya tersengal-sengal.
Aldo segera beranjak masuk ke kamar mandi, secepat kilat lalu keluar memakai kembali pakaiannya.
"Jangan ulangi lagi memanggilku dengan panggilan seperti tadi jika aku akan pergi. Aku bisa menggila." Ucapnya setengah berbisik di wajah cantik itu, menciumnya lalu meninggalkannya pergi.
Reva masih menyandar di ranjang dengan wajah bingung tak mengucapkan apa-apa, hingga suara deru mobil suaminya terdengar melaju dan menjauh.
"Ternyata memanggilnya sayang bisa membuatnya menggila, sungguh besok aku akan mengulanginya." Reva terkekeh geli sambil beranjak ke kamar mandi.
*
Di tempat lain, Rey sedang menunggu adik iparnya. Sengaja menunggu di pertigaan jalan agar tak memakan waktu lama jika menjemputnya terlebih dahulu. Hingga Mobil berwarna Hitam itu datang dan berhenti di depannya.
"Kak, apa sudah lama?" Aldo bertanya saat Rey sudah duduk di sebelahnya.
"Tidak, aku baru saja." Rey memasang sabuk pengaman miliknya.
"Apa tempatnya jauh?" Aldo melajukan mobilnya sedikit lebih cepat.
"Tiga jam mungkin jika pelan." Aldo mengangguk mengerti.
Benar saja tiga jam kemudian sampailah mereka di hamparan perkebunan yang luas. Dengan aroma wangi semerbak bunga kopi yang sedang bermekaran.
"Ini milik istrimu." Rey menunjuk seluas arah memandang.
"Bukankah milik keluarga kak?" Aldo bertanya.
"Milik keluarga di sebelah sana, hasilnya di bagi dua aku dan Reva. Jika yang ini milik pribadi istrimu, dia membelinya." Rey menjelaskan kepada adik iparnya yang sedang terlihat bingung. "Kau bisa mengelolanya sesuka hatimu."
"Aku tidak_" Aldo ragu untuk menjawab.
"Adikku perempuan, tidak mungkin dia mengerjakan semua ini sendirian, kau harus membantunya. Lagi pula kau mampu melakukan hal ini, kau tidak kasihan pada istrimu?" Rey mengerti yang dirasakan adik iparnya.
Aldo diam tak menjawab. Ternyata istrinya memang tidak membutuhkan uang darinya, membuat hatinya sedikit kecewa. Tadinya dia sangat percaya diri dengan apa yang dia lakukan dan berikan, tapi nyatanya itu tidak seberapa di banding yang dia miliki.
"Apa yang kau pikirkan?" Rey melihat wajah adik iparnya kehilangan semangat. "Kau tau, Alisa juga tidak sebanding denganku. Dia anak orang kaya raya, dokter spesialis yang hebat, anak tunggal. Sedangkan aku? gaji ku bahkan tidak cukup untuk membeli sepatu miliknya." Rey tersenyum kecut.
__ADS_1
"Itu yang aku rasakan sekarang." Aldo mengungkapkannya.
"Cintai adikku sepenuh hatimu, dia butuh itu."