Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
76. Kenapa harus marah


__ADS_3

Sore hari Ayu melangkah keluar dari kantor itu dengan malas, duduk sejenak di tangga depan kantor memandang sekeliling dengan tanpa celah yang terlewatkan. Kesedihan itu kembali menyeruak, setelah satu Minggu dia tak akan lagi bekerja di sini.


Taksi datang menjemput, Ayu sengaja keluar lebih dulu karena Reva dan Aldo masih di ruangannya. Selain tak ingin mengganggu, dia sendiri sedang tak ingin bicara dengan siapapun.


Sedangkan di ruangan CEO kedua orang itu masih bersantai tanpa takut telat pulang kerumah, karena yang membuatnya ingin pulang ada di sana.


"Apa sudah selesai?" Reva melihat Laptop Aldo masih terbuka.


"Sudah sayang, Anggara mengirim Email proyek pertama yang harus di siapkan." Aldo menutup laptopnya dan memandang wajah yang cantik di hadapannya.


"Pulang." Pintanya manja.


"Baiklah sayang." Aldo mengenakan jas dan merangkul istrinya berjalan keluar.


"Mau makan apa? Atau ada yang ingin di beli?" Aldo membuka pintu mobil, memastikan istrinya duduk aman di dalam sana.


Reva nampak berpikir, Rujak saja mas di dekat taman di depan sana." Reva menunjuk tikungan di depan mereka.


"Ok, kita akan membelinya." Jawab Aldo, tangannya mengelus kepala istrinya yang selalu terbalut hijab.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di taman yang ada penjual Rujaknya. Aldo menepikan mobil tak jauh dari penjual itu.


"Sayang, ada telepon dari Anggara." Aldo memperlihatkan nama panggilan di ponselnya.


"Tak apa mas, aku saja yang membelinya, lagi pula tidak jauh." Reva turun dan melangkah menuju penjual itu sendirian. Seetiap gerak-geriknya tak satupun terlewatkan dari pengawasan pria yang sedang menelepon di dalam mobil itu.


"Bu, beli Rujaknya dua. Di bungkus saja." Reva memesan lalu duduk menunggumu.


"Pedas mbak?" Tanya ibu penjual rujak itu.


"Iya." Jawab Reva tersenyum ramah.


Setelahnya tak ada percakapan, hanya terdengar suara ulekan dari ibu-ibu yang sudah beruban itu.


"Bu, gado-gadonya masih ada?" Suara yang tak asing itu terdengar dari arah samping.

__ADS_1


Reva menoleh, begitu juga pria itu menoleh dan sedikit terkejut matanya belum juga sempat berpaling, Reva sudah menunduk.


"Ada mas." Suara ibu itu menjawab.


"Kau sendirian?" Pria itu memberanikan diri bertanya, matanya berkeliling mencari seseorang.


"Tidak." Reva menjawab singkat tangannya bertaut gugup.


"Mbak, ini pesanannya." Reva segera mengambilnya meninggalkan uang dan segera pergi.


"Tunggu!" Pria itu mengejar langkah Reva.


Sedangkan di dalam mobil, Aldo menatapnya tanpa berkedip, dia ingin segera turun tapi mengurungkannya, mengingat mobil yang di pakainya adalah milik David, dia hanya mengawasi dari jauh tanpa harus bertatap muka dengan pria yang sedang mengejar istrinya. Jika dia turun sudah pasti akan terjadi hal yang semakin membuat istrinya takut.


"Biar aku mengantarmu." Pria itu menghentikan langkah Reva, Reva menatap wajah itu sekilas lalu membuang pandangannya ke arah lain.


"Aku dengan suamiku." Jawabnya pelan.


"Aku tidak melihatnya." Dia ragu Reva berkata jujur, matanya masih tak lepas dari wajah yang menghindari tatapannya. by"Kau tidak usah takut, jika dia marah aku yang akan menjelaskannya." Pria itu terlihat khawatir.


Reva memberanikan diri melihat wajah pria itu. "Aku bersama dia mas." Ucapnya tegas. Lalu meninggalkannya secepat mungkin menuju mobil Aldo terparkir. Reva masuk tanpa menoleh, hanya pria itu saja masih menatapnya dengan khawatir.


"Sudah mas." Reva melihat wajah Aldo dengan tatapan yang agak takut, sudah pasti Aldo melihat semuanya.


Aldo segera meninggalkan tempat itu dengan sekilas melihat pria yang mendekati istrinya itu tanpa menyapa. Setelah agak jauh Aldo menoleh istrinya hanya diam saja, tangannya masih memegang bungkusan makanan yang dia pesan.


Aldo berhenti di ujung taman, mengajak istrinya turun dan menikmati suasana sore hari.


"Sayang duduk di sini." Aldo duduk terlebih dahulu dengan menggenggam tangannya erat sekali. Tangan yang satunya memegang kotak makanan yang sudah di buka. Pelan Aldo menusuk buah yang sudah bercampur bumbu itu dan menyuapkan dengan istrinya. "Sepertinya ini sangat enak?" Aldo meminta Reva membuka mulutnya.


"Memang enak mas!" Reva mulai menggigit dan menikmatinya.


Aldo tersenyum senang, Reva seperti tidak sabar makan dengan satu suapan dari Aldo, hingga dia mengambil dan menyuapkan potongan buah-buah itu sendiri.


"Lagi?" Aldo melihat istrinya masih makan dengan bersemangat sedangkan rujaknya sudah akan habis.

__ADS_1


"Sudah mas, nanti saja." Reva melipat kotak itu memasukkannya ke kantong plastik.


"Kita pulang saja, aku haus mas." Reva ingat ada air minum tapi ketinggalan di mobilnya.


"Jika itu maumu." Aldo tersenyum kembali memeluk istrinya.


"Apa kau tidak marah mas?" Reva menoleh.


"Untuk apa?" Aldo bertanya dengan senyum tak lupa dia pamerkan.


"Tadi kan?" Reva berbicara singkat.


"Tidak sayang, kenapa harus marah jika dia tidak mengganggu, lagi pula dia tidak akan melakukan apapun padamu." Aldo berusaha meyakinkan.


Reva hanya takut membuatnya marah, suaminya itu bisa seperti orang asing yang menakutkan jika sedang cemburu. Berbicara dengan laki-laki yang tidak dia sukai akan membuatnya darah tinggi, lebih baik menempel dan menikmati hari bersamanya. Toh dia sangat menomor satukan Reva, sungguh tak ada lagi yang kurang dari dirinya.


***


"Assalamualaikum ibu." Sore itu Ayu pulang dengan langkah yang gontai dan wajah yang sendu.


"Wa'alaikum salam sayang. David sudah menunggu." Ibu menunjuk kursi yang didudukinya.


Ayu mencium tangan ibu, lalu menghampiri David yang sedang memandanginya. David merentangkan tangan memintanya duduk di kursi yang sama. Ayu tak menolak.


"Ada apa hem?" David menatap wajah sedih itu dari dekat.


"Aku tidak di izinkan lagi bekerja di kantor kakak." Ayu menatap David seakan sedang mengadu.


"Tak apa, dia sudah di memberitahuku." David tersenyum. "Minggu depan kita menikah, kita akan menghabiskan waktu bersama, tentu banyak pekerjaan akan mengganggu. Dia sangat pengertian." David mencoba menghiburnya.


Ayu sedikit tersenyum, entah ia terhibur atau sedang menutupi kesedihannya, itu membuatnya merasa lebih baik. "Aku sangat takut dengan perpisahan David." Ayu menatap wajah pria tampan itu dengan penuh harap.


"Ini bukan perpisahan sayang, hanya sedang mengatur ulang kehidupan. Kita akan bersama setelahnya, jadi kau tak bisa bersama Reva selamanya karena ada aku yang menginginkanmu." David menjelaskan hal yang mungkin membuatnya tenang.


"Aku juga ingin bersamamu." Ayu terlihat rapuh.

__ADS_1


"Tentu kita akan selalu bersama, aku, kau, dan anak kita. Seperti kakakmu yang sedang menikmati hari bahagianya bersama Aldo, kita juga akan merasakannya." Tambah David lagi.


Sedikit senyum itu mengembang, nafasnya mulai terlihat lega ketika David menggenggam tangan kecil itu dan mengecupnya.


__ADS_2