
"Mungkin kau benar, aku juga merasa sangat kacau." Aldo mengusap wajahnya.
"Berdamailah dulu dengan diri sendiri, baru kau bisa mendamaikan hati istrimu. Dia tak kalah terkejut dan tak pernah menduga akan terjadi seperti kemarin, mentalnya sedikit trauma mungkin?" David mengangkat kedua bahunya. "Dia juga sedang hamil, jangan kau marah padanya, dia sedang ketakutan dengan berbagai pikirannya sendiri." David menjelaskan lebih banyak.
"Aku bahkan tidak bisa berfikir dengan jernih, aku rasa dia memang sedang trauma, hingga membuatnya takut dengan segala hal." Aldo menyadari kesalahannya. Dia langsung mengambil ponselnya dan mengirim pesan. "sayang, jika ingin keluar hubungi aku, aku akan menemanimu."
Lama Aldo menunggu ponselnya tak kunjung berbunyi. Sungguh dia sangat gelisah, jarinya mengetuk-ngetuk meja lalu berulang kali melihat layar ponselnya. Hingga setelah 30 menit berlalu terdengar suara notifikasi pesan.
"Iya mas" Jawaban yang singkat, padahal Aldo sudah menunggunya sangat lama. Aldo kembali mengirimnya pesan
"Makan sate di dekat taman mau? Sekalian beli buah" Aldo mencoba mencari kesempatan untuk berbaikan.
"Tidak mas, besok saja." Balasnya, Aldo menghembuskan nafas kasar dia tidak berhasil, tapi paling tidak dia menjawab. Itu sungguh membuatnya lebih lega untuk bekerja.
***
Sementara di rumah mewah Hartawan, Bella masih tidak mau keluar dari kamarnya. Dia marah dan kecewa dengan ibunya.
"Bella mama mohon, makanlah sedikit saja." Nyonya Amelia tampak kebingungan.
"Nanti saja ma, aku lelah." Matanya menatap jauh keluar jendela.
"Maafkan mama, mama bahkan tidak tau tentang sakitmu." Nyonya Amelia menyesali kesalahannya.
__ADS_1
"Mama memang tak pernah mau tau segalanya tentangku, bahkan kesalahan mama aku yang harus menanggungnya." Bella menolehnya sejenak.
"Apa maksudmu Bella?" Suaranya parau.
"Mama berusaha menghabisi anak papa karena takut harta papa di bagi, hingga akhirnya aku tidak bisa mengandung, dan harta papa hanya untuk mama saja, tidak untuk cucu mama sekalipun. Mama selingkuh di belakang papa, aku tak terurus dan sakit pun sendirian. Parahnya lagi, saat oppa Aldo membawaku kerumah sakit, orang suruhan mama menghajarnya hingga luka, dan dia masih berusaha menggendongku. Mama pikir aku tidak tau, mama meminta orang-orang mama menghabisinya karena dia tau mama berselingkuh dengan siapa." Bella menatap kecewa.
"Bella!" Wanita itu menatap tak percaya.
#Tiga tahun yang lalu#
"Papa, tolong perut Bella sakit sekali papa!!" Bella menangis dengan ponsel di pipinya.
"Sayang sabarlah sebentar, Aldo akan membawamu kerumah sakit." Jawab Pak hartawan, sungguh ia khawatir karena dia sedang bepergian ke Jakarta, sedangkan saat itu Bella berada di kalimantan karena memang menetap di sana.
"Masuk." Bella berteriak sekuat tenaga.
Aldo masuk dengan tanpa bicara dia menggendong Bella membawanya turun dan masuk kedalam mobil, saat itu hujan sangat deras Aldo menutup pintu mobil dan berbalik menuju pintu tempat dia akan mengemudi. Tapi tak di sangka tiga orang berbadan besar memukulnya hingga tersungkur, Aldo melawan tapi sungguh tenaganya tak sebanding, hingga Aldo Babak belur dan jatuh. Beruntung satpam yang berjaga di pos depan rumahnya keluar sehingga ketiga orang itu berlari.
Aldo segera berdiri dan mengemudi dengan terbatuk-batuk, wajahnya luka dan lebam. Baju di bahunya robek dan luka, dia bertahan demi membawa Bella, hingga tiba di rumah sakit, Aldo turun dan menggendong Bella meskipun dia terluka.
Bella sangat kagum dan terpesona dengan pengorbanan dan sikap pria tampan yang di anggapnya luar biasa itu. Tangannya memeluk pria itu, kepalanya menyandar didada bidang dan hangat begitu melindungi, wajah tampan yang terlihat khawatir, deru nafasnya menghembus di wajah Bella, hangat sejuk dan wangi menusuk hingga ke relung hati. Sungguh sejak saat itu Bella jatuh cinta padanya.
Aldo mengurus dan menjaga Bella tanpa lelah, saat itu Bella harus di operasi.
__ADS_1
"Maaf pak, nona Bella harus di operasi karena kistanya sudah sangat besar!" Dokter itu menjelaskan dan Bella di operasi. Aldo yang mengurus semuanya, dengan hanya menelepon Pak Hartawan dia melakukan segala hal untuk Bella, semakin membuat Bella jatuh cinta padanya.
Empat hari berlalu, Bella sudah keluar dari rumah sakit, tentu saja dia belum boleh melakukan aktifitas terlalu banyak, bahkan berjalan pun harus hati-hati. Aldo mengantarnya pulang dengan sabar, pria tampan itu tak banyak bicara, tapi apa yang dilakukannya selalu saja pas dengan apa yang di butuhkan Bella, membuat Bella merasa nyaman dan sangat tergantung padanya. Bella hanya tinggal dengan asisten wanita di rumahnya, setiap hari Aldo datang melihat keadaan Bella untuk di beritahukan kepada pak Hartawan segala perkembangannya.
Setiap melihatnya datang, Bella sangat senang dan dia berkhayal suatu saat akan menikah dengannya. Saat itu usia Bella 16 tahun, masih sangat belia, tapi sudah cukup besar untuk merasakan cinta.
Cinta memang anugerah yg luar biasa, datangnya bisa pada siapa saja. Cinta juga ibaratkan busur panah, datang melesat tidak terduga lepasnya meninggalkan luka.
Hari berlalu, bulan berganti, tahunpun ikut-ikutan meninggalkan pergi. Cinta itu semakin tumbuh dan subur karena seringnya bertemu, sayangnya cinta itu hanya sepihak saja bukan keduanya.
Dua tahun berlalu, saat pak Hartawan memutuskan kembali dari Kalimantan Bella memintanya ikut bersama, kebetulan kala itu Aldo memang ingin kembali, pak Hartawan sangat menyayangi Aldo karena dia tak mengenal takut melakukan apapun bahkan hal yang berbahaya sekalipun.
"Mulai saat ini, mama tidak perlu mengurus hidupku, biarkan aku mandiri tanpa campur tangan mama, lagi pula yang mama inginkan sudah mama dapatkan, harta dan kebebasan yang sudah bisa mama nikmati sepuasnya." Bella akan beranjak meninggalkan Nyonya Amelia.
"Bella maafkan mama, bagaimanapun aku adalah mama mu, aku yang mengandungmu Isabella!" Nyonya Amelia menangis sedih, membuat langkah Bella berhenti.
"Sudah terlambat mama, aku bahkan lebih merasa terhina dari pada anak papa yang sering mama sebut anak haram itu. Dia mendapatkan kasih sayang yang tulus dari orang asing yang selalu bersamanya, sedangkan aku, temanpun aku tidak punya, mereka hanya menempel padaku jika ingin meminta di belikan sesuatu. Aku ini seperti orang bodoh yang tidak bisa melakukan apa-apa." Ungkapnya lirih.
"Mama minta maaf." Nyonya Amelia semakin terisak. Dia baru menyadari putrinya sangat menderita selama ini, dia tidak pernah berfikir bahwa Bella butuh dirinya.
"Aku butuh waktu mama, aku ingin sekali pergi jauh dari semua ini. Rasanya sakit sekali menjadi diriku." Dia menunduk sedih, dan pergi meninggalkan ibunya yang terlambat menyesali.
***
__ADS_1