
"Maaf pak David anda tidak bisa masuk ke Aula, itu pesan nyonya Amelia." Salah satu penjaga pintu itu menahan David.
David tak bisa melawan. "Mereka banyak sekali seperti sedang menjaga harta Karun saja" Gumamnya dalam hati. Hingga beberapa saat, sebagian orang mulai keluar, barulah David bisa masuk mencari Aldo.
David melihat kesana kemari tidak menemukan sahabatnya, entah dimana dia berada sehingga David kesulitan menemukannya hingga ke belakang sekalipun.
"Apa kau melihat Aldo?" David bertanya pada salah satu asisten rumah tangga di belakang.
"Tadi dia berjalan ke depan setelah akad nikah pak." Asisten yang lain menjawab.
"Terima kasih." Jawabnya langsung berlalu.
Akhirnya David menemukan sahabatnya sedang duduk sendirian di sudut taman, rambutnya kusut dan bajunya terlihat acak-acakan, kemeja tanpa kancing karena di tarik istrinya.
"Aldo." Panggilnya terburu-buru mendekat. Pria itu hanyalah diam saja tak merubah posisinya.
"Aldo Nyonya Amelia tidak menarik tuntutannya, Galih Anggara yang membebaskan Reva dan Ayu!!" David menggoyang bahu pria yang lemas dan putus asa itu.
Aldo menatap tajam, sekaligus terkejut." Kau serius?" Tanyanya.
"Aku serius. Tadi pagi aku bertemu Anggara di kantor polisi bersama kakek tua dan dua pengacaranya. Tidak ada pengacara keluarga Hartawan di sana." Tegasnya lagi.
Aldo beranjak dengan wajah yang memerah penuh amarah, Berlalu dengan cepat di susul David di belakangnya.
Aula besar itu masih ada beberapa orang tamu dan penghulu yang menikahkan mereka, dengan penuh emosi Aldo berteriak lantang. "Nyonya Amelia yang terhormat, hari ini anda sudah melanggar kesepakatan yang sudah kita buat. Saya Aldo Bramastya menjatuhkan Talak pada istri saya Isabella Maharani binti Hartawan. Mulai detik ini, kau bukan lagi istriku." Aldo berlalu tanpa peduli panggilan Bella yang menangis meraung-raung menyebut namanya.
"Berhenti" Teriakan Nyonya Amelia membuat anak buahnya berjejer rapi menghadang Aldo.
"Kau sudah menyakiti anakku." Teriaknya lagi.
"Kau sudah menyakiti istriku dan menipuku. Itu cukup adil." Jawabnya. Aldo menatap wajah para pria yang menghadangnya itu, "Minggir atau ku patahkan tulang kalian satu persatu!!" Ucapnya dingin, David merapatkan diri pada Aldo bersiap jika harus berkelahi. Sepertinya anak buah Amelia itu merasa takut, karena mereka semua sudah tau kedua pria itu orang kepercayaan pak Hartawan sejak lama, sudah tentu berkelahi tidak asing bagi keduanya.
Aldo dan David berjalan dengan cepat tanpa menoleh, wajah menakutkan dari keduanya membuat orang melihatnya cepat menyingkir.
"Kita kemana?" David membuka mobilnya.
__ADS_1
"Aku naik motor saja, aku akan menyusul Reva ke rumah ibu."
"Aku ikut." David segera masuk menyalakan mobilnya.
Sementara di dalam rumah mewah itu, Bella menangis sejadi-jadinya meratapi pernikahan yang hanya berlangsung tak sampai satu jam. Bella berlari menuju kamarnya yang sudah di hias bak kamar putri raja, mengamuk, menghambur semua yang ada di meja, merusak hiasan yang bertengger di atas ranjang yang besar dan mewah, menarik seprei yang penuh dengan bunga hingga semua berantakan seperti kapal yang hancur diterpa ombak, sampai akhirnya duduk menangis.
"Bella." Nyonya Amelia masuk perlahan, kaki jenjang itu sedikit berjinjit menghindari barang yang sudah berantakan. "Sayang kau jangan menangis." Ucapnya lembut.
"Mama yang membuat aku menangis." Lirihnya.
"Sayang mama sudah berusaha." Ucapnya iba.
"Usaha mama bilang?, usaha apa ma?" Bella menatapnya tidak terima. "Kalau saja mama tidak egois, mama ikuti kemauannya aku tidak akan seperti ini!" Bella berteriak keras.
"Mama hanya tidak mau wanita itu merusak kebahagiaanmu!" Nyonya Amelia memohon pengertian.
"Merusak kata mama? Akulah yang merusak ma, aku bahkan tidak masalah untuk tetap menjadi yang kedua!" Bella sungguh emosi.
"Mama yang tidak rela kau menjadi yang ke dua!" Wanita itu membentak anaknya.
"Mama tidak tau apapun tentangku, bahkan mama tidak tau mengapa alasan aku mau menjadi istri keduanya." Bella menatap putus asa.
"Aku tidak bisa hamil mama!! aku tidak bisa memiliki anak!!" Bella terhempas di lantai kehilangan seluruh tenaganya. Tentu saja Nyonya Amelia terkejut tidak terima.
***
Mereka melaju dengan cepat menuju kediaman Ibu mertua Aldo, disana sudah tentu sangat kacau mengingat kejadian tadi yang membuat Reva menangis.
Tidak berapa lama Aldo dan David tiba di sana. Aldo langsung berlari masuk menuju tangga.
"Mau kemana?" Rey keluar dari kamarnya mencegah Aldo naik ke atas.
"Aku ingin bertemu istriku kak." Jawab Aldo, wajah pria tampan itu terlihat lebih tirus.
"Jelaskan dulu apa yang terjadi." Rey bersikap tegas kali ini.
__ADS_1
Aldo menunduk, dia tidak tau harus menjelaskannya dari mana.
"Biar aku yang menjelaskannya, kau temuilah istrimu." David mendekati Rey yang sedang menahan emosi.
Rey mencoba berfikir jernih, walau bagai mana Reva masih istrinya. Tidak ada hak untuk melarang Aldo bertemu dengannya.
Aldo naik dengan setengah berlari, hingga tiba di kamar istrinya. Reva masih duduk beringsut di dekat pintu balkon dengan rambut yang terurai tak di tata. Aldo mendekatinya perlahan, hingga tepat di belakangnya dia masih berdiri tegak dengan rasa bersalah yang luar biasa.
"Sayang." Panggilnya pelan.
Reva merasa tidak yakin dengan suara yang memanggilnya, tapi kemudian dia menoleh. Wajahnya sembab, tidak terkejut juga tidak bahagia, menatap kosong pada wajah suaminya yang sekarang duduk berjongkok mensejajarkan wajah dengannya.
"Maafkan aku." Ucapnya sedih. Aldo memeluknya erat, menciumi rambutnya dengan penuh kerinduan.
"Pergilah." Ucapnya lirih.
Aldo terkejut mendengarnya, tetap tidak melepaskan pelukannya walaupun dia mendengarkan. "Aku tidak akan pergi apapun yang terjadi." Jawabnya.
"Aku tidak mau bicara denganmu." Ucapnya lagi, ingin melepaskan diri dari pelukan Aldo.
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu."
"Aku ingin sendiri mas, aku butuh waktu untuk menata hatiku." Reva sama sekali tidak membalas pelukan Aldo, walaupun sebenarnya dia sangat merindukan pria itu, sungguh hatinya ingin di peluk lebih lama, tapi di satu sisi dia sedang kesulitan mencerna kejadian yang membuatnya sangat terguncang.
"Apa kau tidak percaya aku sangat mencintaimu?" Aldo melonggarkan pelukannya, menatap mata yang sembab itu dengan iba.
"Aku butuh waktu." Reva membuang pandangannya menghindari tatapan Aldo yang semakin mendekatkan wajahnya.
Aldo mencium bibirnya yang sedikit bengkak karena menangis, mengecapnya penuh rindu. Tentu saja rasa itu masih sama menjalar ke sekujur tubuhnya menghangatkan hati yang sangat merindu, tapi untuk membalas dia tak mampu.
"Aku sangat menyayangimu." Aldo memeluknya, menyandarkan kepala Reva dadanya.
"Aku akan tinggal di sini, ibu masih sakit." Ucap Reva setelah saling diam tak bicara.
"Baiklah, aku mengizinkanmu." Jawab Aldo.
__ADS_1
Reva memejamkan matanya, "Tentu saja kau mengizinkanku mas, kau sudah punya yang lain." Ucapnya di dalam hati, air matanya turun lagi.
"Sayang jangan menangis lagi, aku minta maaf. Aku tidak akan meninggalkanmu." Aldo mengeratkan pelukannya. Reva tidak menjawab, mencoba meredam gejolaknya sendiri.