Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
53. Tidur malam ini tanpamu


__ADS_3

Sore hari Aldo Pulang ke kediamannya, membuka pintu dengan malas karena orang yang membuatnya selalu terburu-buru masuk tidak ada dirumah. Ingin rasanya dia ikut ditahan untuk menemani istinya disana, atau jika mungkin dia saja yang menggantikannya. Aldo duduk menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Mas Al,mau minum atau makan?" Asisten rumah tangga yang baik itu mendekatinya perlahan.


"Buatkan makanan kesukaan Reva bi, jangan lupa potongkan buah yang banyak lalu di kemas untuk di bawa ke tahanan." Aldo menolehnya sejenak.


"Apa? Tahanan?" Tuti terkejut hingga setengah berteriak.


"Aduh bibi." Aldo jengah mendengar asistennya yang terlalu heboh. "Masaklah, habis Maghrib aku harus membawanya." Ucapnya lagi sambil memejamkan mata.


"Iya mas." Dia segera pergi.


Aldo mengeluarkan ponsel di sakunya, memencet tombol ponsel dan menelepon seseorang.


"David, apa Ayu sudah lebih baik?" Aldo menyandarkan kembali kepalanya.


"Sudah lebih baik, tapi lukanya masih basah, perbannya belum bisa dilepas. Di tambah lagi tangannya yang patah." David terdengar sangat sedih.


"Apa ada kabar dari Abizar?" Aldo memijat keningnya .


"Ah iya, tengah malam nanti dia akan kembali. Istrinya sudah di operasi. Mudah-mudahan ini cepat selesai." Ucap David lagi.


"Aku tidak bisa tenang David. Istriku harus menginap di tempat yang dingin itu, dia sedang mengandung. Aku benar-benar bisa gila memikirkannya.


"Aku tau, kau yang sabar. Semua pasti ada jalannya." Jawab David mencoba menghibur walaupun itu sia-sia.


Aldo mengakhiri teleponnya lalu pergi kekamar, mengambil mukena untuk istrinya sholat, dan menyiapkan sebuah selimut. Selesai sholat barulah dia turun dan membawa makanan serta mukena untuk istrinya.


***


Sementara itu di kediaman yang beduka cita.


"Sudahlah sayang,jangan terlalu bersedih. Lagi pula papamu sudah tenang di sana." Wanita cantik itu sedang berusaha menghibur putrinya.


"Aku merindukan papa." Jawabnya. Dia masih termenung.


"Harusnya kau bahagia Isabella, karena jika ayahmu masih hidup,dia akan membagi hartamu dengan anak haram itu." Ucapnya tersenyum sinis.

__ADS_1


Bella menoleh, lalu kembali melamun dia tak habis pikir dengan apa yang di katakan ibunya. Selama hidup hanya dialah tempatnya bermanja, kini dia sudah tiada. Dia teringat di saat masih sekolah, pak Hartawan begitu memanjakannya selalu khawatir sampai-sampai meminta asisten andalannya untuk mengantar jemput. Aldo, Bella teringat pada pria itu, pria yang selalu melindungi dan menjaganya, seandainya saat ini dia ada disini. Pikiran gadis itu melayang kemana-mana, membayangkan hal bahagia untuk menghapus kegelisahannya. Hingga malam semakin larut dia tertidur terlalu lelah berfikir.


***


"Pak saya ingin mengantar makanan untuk istri saya." Aldo meminta izin pada petugas yang berjaga.


"Di titip saja pak, siapa nama istri anda?" Jawaban petugas itu membuat Aldo kecewa.


"Istri saya sedang mengandung pak, saya mohon untuk bertemu sebentar." Aldo memohon.


"Tapi ini sudah malam pak." Petugas itu tampak keberatan.


"Pak, saya janji tidak akan lama." Aldo sangat memohon lagi.


"Baiklah, tapi sebentar ya pak." Akhirnya petugas itu mengizinkan, membuat Aldo senang sekali.


"Terima kasih pak." Ucapnya tersenyum.


Aldo mengikuti petugas itu masuk ke ruangan tahanan, dia sungguh tak sabar untuk bertemu dengan istrinya.


Demikian Reva sangat bahagia melihat kedatangan suami yang selalu di rindukannya. Dia langsung berdiri dari duduk termenung.


"Sayang ini makanan untukmu, kau harus makan yang banyak." Ucapnya sambil membelai pipi yang mulus itu, " jangan lupa sholat ya, mukena dan selimut untukmu aku titipkan pada penjaga di depan sini. Aku tidak bisa lama-lama sayang, aku hanya di izinkan sebentar menemuimu."


"Iya." Jawabnya pelan terdengar sedih sekali.


"Aku janji, akan segera membebaskanmu dari sini." Tak lupa Aldo mengecup keningnya dan hidungnya yang mancung, sungguh tak bisa di bayangkan malam ini harus jauh darinya, tidur tanpa memeluknya, bangun tanpa menggodanya, dan tanpa rengekan manja dari bibir mungilnya.


Aldo meninggalknya sendirian di sana. Demi apapun dia tak ingin pergi, jika di izinkan dia akan rela tidur disana asalkan bersama dengan istri tercinta.


"Aku akan melakukan apa saja asalkan kau bisa keluar dari sana, aku rela kehilangan apapun asal anak istriku bisa tidur di rumah. Aku tidak akan tinggal diam Amelia. Aku merasa ini sudah tidak benar." Aldo bergumam sendiri di dalam mobil memikirkan langkah apa yang akan dia lakukan esok pagi.


***


"Sayang kau sudah bangun?" Pagi itu David menyapa Ayu dengan mesra, dia sudah tidak takut lagi dengan tatapan tajam milik gadis kekasihnya.


"David, badanku sakit semua." Keluhnya berusaha bergerak kekiri dan kekanan.

__ADS_1


"Yang mana?" David mengelus lengannya dengan hati-hati. "Mungkin efek obatnya sudah habis." David menelus kepalanya juga.


"Bagaimana keadaan kakak?" Tanyanya lagi.


"Dia baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir!" David sedikit tersenyum.


"Aku haus."Ucapnya lagi.


David mengambilkan air minum dan memberikannya dengan sabar. "Lagi?" Tanya David dengan lembut, Ayu menggeleng pelan.


"Siapa yang mengganti bajuku?" Ayu menatap David dengan penuh selidik.


David tersenyum melihat Ayu begitu. "Tentu saja aku!" Jawabnya senang sekali.


"David jangan bercanda!" Matanya yang sipit itu sedikit melotot.


"Tidak, aku tidak bercanda." David terlihat serius.


"Kau melihat semuanya, David kau gila." Ayu merengut, ingin sekali dia marah.


David terkekeh geli, gemas sekali melihatnya merenggut tak mampu melakukan apa-apa David jadi semakin bersemangat untuk mengerjainya.


"Sudah, tidak usah di pikirkan yang terpenting kau cepat pulih." David berusaha untuk tidak tertawa.


"David." Kali ini dia merengek.


"Iya" David menjawab tak kalah mesra. Sudah pasti wajah ayu memerah bak kepiting rebus.


"Apa kau juga menyentuhnya?" Tanya Ayu dengan sikap yang salah tingkah, membuat David tersedak batuk mendadak.


"Aku tidak sengaja." Jawabnya lagi, membuat gadis itu lemas seketika. Ingin sekali David tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan konyol barusan. Tapi dia sedang menikmati sandiwara yang menguntungkan, dengan cara ini gadis galak kekasihnya menjadi jinak.


Ayu berbaring menutup wajahnya dengan bantal. Perasaannya sangat kacau membayangkan David melihat dan menyentuh aset-asetnya yang berharga.


"Aku pasti sudah gila" Gumamnya tertutup bantal. Tentu saja masih bisa di dengar pria di sampingnya, sungguh itu membuatnya geli sekali.


"Sayang aku mendengarnya." David membuka bantal yang menutupi wajah cantik itu, menatapnya sangat dekat.

__ADS_1


"Aku sangat menyukainya. Cepatlah sembuh agar aku bisa segera memilikimu." Ucapnya setengah berbisik. Tampak gadis itu sedang menahan nafas karena di tatap sangat dekat, David tidak menyia-nyiakan kesempatan emasnya, David mencium kening yang putih sedikit luka itu dengan lembut sekali. "Aku mencintaimu." Bisiknya lagi.


__ADS_2