
"Aku juga khawatir, ibu juga menanyakan Reva terus-menerus." Rey jadi ikut bersedih.
Aldo mengusap kasar wajahnya, sekali menunduk tapi kemudian dia menyandar, sungguh hatinya sedang gelisah.
"Bagaimana pengacara itu, apa perlu kita cari yang lain?" Rey juga merasa tidak sabar untuk mengeluarkan adiknya dari sana.
"Dia bisa di andalkan, tapi tetap harus ada bukti. Satu-satunya bukti adalah kakek tua itu." Jawab Aldo sedikit memejamkan matanya. "Aku rasa harus menemuinya." Aldo menatap Rey, seperti sedang mendapatkan ide yang bagus.
"Aku ikut." Rey mengambil jaketnya lalu mereka pergi bersama.
"Di mana rumahnya?" Tanya Rey setelah duduk di dalam mobil sambil menyetir.
"Aku tidak tau, tapi aku mengajaknya bertemu di cafe, dan sepertinya rumahnya tak jauh dari cafe kita." Aldo menyandar matanya menatap lurus ke depan.
"Baguslah, berarti tidak terlalu sulit menemukannya." Rey mengangguk.
Tidak butuh waktu lama kedua kakak adik ipar itu sudah tiba di cafe miliknya. Aldo langsung masuk kedalam di sambut bawahnya dengan hormat dan sapaan ramah.
"Apa semua baik-baik saja." Aldo bertanya pada Adi, yang bertanggung jawab di sana selama dia dan David tak ada.
"Semua baik-baik saja pak." Jawabnya sedikit menundukan kepala.
"Baiklah, sementara aku dan David tidak bisa masuk bekerja. Kau urus saja semuanya." Aldo meninggalkannya menuju meja dimana Rey berada, mereka menunggu kedatangan Abidzar.
"Kenapa lama sekali, apa dia tidak jadi." Ucap Rey setelah lama menunggu. Sedangkan Aldo membenamkan wajahnya bertumpu tangan di atas meja.
"Selamat malam." Seseorang mengejutkan mereka.
"Abidzar." Aldo tampak lega, begitu juga Rey yang langsung menjabat tangan pengacara muda tersebut.
"Maaf terlambat, tadi ada tamu yang datang ke rumahku." Dia duduk dan tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa, kami hanya takut kau tak jadi datang" Ucap Aldo.
"Mana mungkin aku tidak datang." Ucapnya santai. "Apa kau tidak ingat padaku?" Tanya Abidzar pada Aldo.
__ADS_1
"Aku?" Aldo bingung mendengar ungkapannya.
"Saat itu aku terlibat masalah dalam kerja sama tiga perusahaan, aku di fitnah menggelapkan anggaran hasil kerja sama tiga perusahaan itu. Dan parahnya lagi aku di tuntut ganti rugi, saat itu aku mewakili perusahaan ayahku." Pria itu menatap Aldo yang masih bingung dan juga heran. "Pak Hartawan yang membebaskan aku, dia mengutusmu untuk membongkar rahasia dua perusahaan yang menjebakku. Kau menolongku yang sedang di sekap dalam ruangan direktur di Kalimantan." Jelasnya lagi lalu tersenyum lega.
"Ah ya Tuhan aku baru mengingatnya. Maaf aku melupakan hal itu." Aldo menarik nafas lega, tapi menggelengkan kepala dia merasa konyol tidak mengingat hal yang juga pernah mengancam nyawanya.
"Aku hanya terlalu takut dan khawatir memikirkan istriku." Jawabnya lagi.
"Aku akan membantu. Tapi tetap saja kita harus menemukan kakek tua itu. Besok biar aku yang mencarinya di sekitar lokasi kejadian, kau bisa menemui istrimu. Sepertinya nona Ayu besok akan di bawa juga kesana." Abidzar sangat yakin.
"Kalau begitu aku ikut denganmu." Sahut Rey, dari tadi dia hanya menyimak.
"Tolong kau bantu istriku, berapapun aku akan membayarnya. Apapun akan ku lakukan asal dia bisa keluar dari sana." Aldo memohon dengan sangat.
"Kau harus sabar, kecuali jika Nyonya Amelia mencabut laporannya Ayu dan istrimu bisa langsung bebas." Abidzar memberikan solusi lain, tapi wajahnya mengatakan tidak yakin.
Berbeda dengan Aldo, dia terlihat mengernyitkan keningnya menarik nafas dan menghembuskannya.
***
Ingin rasannya menelepon hanya sekedar mendengar suaranya. Tapi ini sudah larut, dia tak yakin akan meminjam telepon petugas hanya untuk menghubungi suaminya.
Dia masih gelisah hingga entah karena lelah atau dingin akhirnya dia terlelap.
***
"Selamat pagi bapak Aldo ." Petugas itu menyapa, masih sangat pagi sekali Aldo sudah tiba di kantor polisi.
"Selamat pagi pak, jam berapa saya bisa bertemu istri saya?" Tanyanya pada petugas itu.
"Sebentar lagi pak, ini masih terlalu pagi." Jawabnya sambil melihat jam tangannya.
"Baiklah." Aldo menunggu di mobilnya sambil menyandar dan memejamkan mata, sungguh semalam dia tak bisa tidur, hingga satu jam berlalu kaca mobil di ketuk seseorang.
"David kau disini?" Aldo membuka kaca mobil dan menatap heran padanya.
__ADS_1
"Ayu sudah di dalam. Kenapa kau tidur di sini?" David juga heran menatap sahabatnya.
"Aku tertidur karena datang terlalu pagi." Jawabnya mengusap mata.
"Ayo masuk." David berjalan meninggalkannya lebih dulu.
Aldo bergegas menemui istrinya tanpa menoleh apapun dari semalam dia selalu memikirkannya.
"Pak, Istri anda sedang di periksa, dia demam." Petugas wanita itu mengarahkan Aldo ke ruangan yang lain.
"Sejak kapan istriku demam?" Wajah Aldo berubah sangat khawatir, matanya merah menahan kesal, rindu dan sedih luar biasa.
"Pagi ini pak, sepertinya kurang istirahat." Petugas itu meminta Aldo masuk ke ruangan dimana istrinya sedang di periksa dokter.
"Sayang." Aldo memeluknya erat sekali, mencium kening yang terasa panas. "Kenapa bisa demam, apa kau tidak makan?" Aldo merapikan hijabnya.
"Aku makan sedikit mas, tapi aku tidak bisa tidur." Ungkapnya sudah berurai air mata.
Seperti ada yang menusuk di hatinya, Aldo menatap wajah yang pucat dan lemas itu dengan sedih sekali. "Tentu saja tidak bisa tidur sayang, kau tidur di ubin yang dingin, tanpa selimut yang tebal dan bantal yang lembut." Ucapnya di dalam hati, tentu itu ungkapan yang menyayat hatinya sendiri.
Kembali Aldo memeluknya erat sekali, menahan gejolak yang luar biasa di dalam sana. "Mau makan sayang? atau ingin makan sesuatu?"
"Iya, aku lapar." Reva masih memeluk erat lengan yang sedang mendekapnya.
Aldo menciumnya lama sekali, lalu mulai membuka makanan yang di bawanya. Perlahan satu sendok nasi beserta lauk dan lainnya masuk ke dalam mulut istri tercinta, hingga tak terasa sudah habis dan itu membuat Aldo sedikit lega.
"Minumlah sayang, setelahnya kau harus istirahat." Aldo memberikan obat untuk diminum istrinya.
Reva hanya mengangguk menurut apa yang di ucapkan Aldo. Baru setelahnya Aldo mengatur bantal dan memintanya untuk istirahat. "Tidurlah, aku akan keluar sebentar menemui pengacara." Aldo menyelimuti hingga dada dan meninggalkannya keluar.
"David bagaimana?" Aldo bertanya setelah ada di ruangan yang lain.
"Ayu tidak bisa bebas dengan mudah, karena sebelum kecelakaan terjadi pak Hartawan sempat menghubungi Ayu. Dan itu yang membuat dua pengacara itu kuat." David menunjuk pengacara keluarga Hartawan yang baru saja beranjak keluar.
"Artinya istriku juga akan di tahan lebih lama?" Ungkapnya putus asa.
__ADS_1