
Hari demi hari berlalu, satu Minggu sudah Reva di tahan dan dua hari terakhir dia bersama Ayu. Demikian Rey semakin sibuk menyembunyikan kenyataan dari ibu yang setiap hari ingin berkunjung ke rumah Reva, hingga dia jatuh sakit. Keadaan semakin rumit, Aldo semakin tidak terurus, penampilannya kacau sering lupa makan juga kurang tidur, setiap hari mengkhawatirkan dan menemui Reva, juga harus mencari cara untuk membebaskannya tapi apalah daya keberuntungan belum berpihak padanya. Hari ini dia kembali mencari kakek penjual pisang. "Jika hari ini aku tidak menemukanmu, aku rasa Tuhan menginginkan aku mengambil jalan yang lain" Aldo turun dari mobilnya mulai menyusuri tempat itu lebih jauh lagi.
Sementara di rumah ibu, Rey sedang pusing memikirkan ibunya yang sedang sakit. Alisa dan Ayra diminta Rey menyusul ke rumah ibu, karena Rey sudah sangat lelah menempuh perjalanan bolak-balik menemui semua orang bergantian.
"Rey, bisakah kau jujur apa yang sedang terjadi?" Alisa mengajak Rey bicara serius di halaman belakang rumah ibu.
Rey masih diam hanya meliriknya sekilas.
"Rey katakanlah, aku tau kau sedang menyembunyikan sesuatu, kau sangat sibuk Minggu ini, aku yakin hal yang buruk sudah terjadi." Alisa menatap tajam pada suaminya.
"Reva di tahan di kantor polisi." Rey berbicara pelan.
"Kenapa bisa di tahan?" Alisa sangat terkejut.
"Mobil Reva dan Ayu ditabrak mobil, dan yang menabraknya meninggal. Dan saksinya tidak ada, Reva bilang ada tapi kami tidak menemukannya padahal aku sudah meminta rekan yang lain untuk mencarinya tapi tidak menemukannya!" Rey terlihat kesal sekali.
"Lalu bagai mana sekarang?" Alisa ikut bingung mendengarnya.
"Aku tidak tau, Aldo terlihat semakin kacau saja. Aku kasihan padanya tapi mau bagaimana lagi." Rey memijat keningnya. "Tolong rahasiakan ini dari ibu!" Rey meminta pada Alisa.
"Iya, aku mengerti. Aku harap ini cepat berlalu." Alisa memegang tangan Rey mencoba memberinya kekuatan.
***
Hotel Anggara tampak sudah ramai, beberapa petugas yang datang terlihat sibuk membawa properti bermerek masuk kedalam hotel, sepertinya hotel itu akan segera di resmikan. Beberapa saat setelah para bawahan Anggara masuk dan mengecek keadaan di dalam, mobil Galih Anggara tiba dengan dua orang Asisten perempuan dan laki-laki.
"Selamat pagi pak." Mereka yang bertemu dengannya bergantian memberi salam dan hormat. Anggara mengangguk.
"Hasilnya sempurna, Aku sangat menyukai ini." Ucap Gara tersenyum puas.
"Proses penyelesaiannya di bantu suami nona Reva, karena beliau sedang mengandung." Jelas asisten pria itu.
__ADS_1
"Oh." Gara hanya menanggapinya sedikit.
"Tapi saat ini nona Reva sedang di tahan polisi, kasus kecelakaan yang tidak jauh dari hotel kita ini." Asisten wanita itu menimpali.
"Kecelakaan?" Anggara berbalik, dia sangat ingin tahu.
"Iya pak, di depan sana. Bahkan satu Minggu ini ramai orang mencari kakek yang berjualan disana sebagai saksi. Bahkan tentara juga ikut mencarinya, mungkin keluarga dari nona Reva." Jelasnya lagi.
Gara tidak menjawab langsung pergi meninggalkan asistennya berdua. Dia menyalakan mobil dan pergi menuju tempat kejadian yang di maksud.
Mobilnya berhenti saat melihat mobil yang biasa mengantar Reva itu terparkir di tepi jalan. Gara keluar dan melihat ke sana kemari mencari Aldo, tidak lama setelahnya dia melihat dari kejauhan Aldo berjalan kaki.
"Apa sudah menemukannya?" Gara bertanya setelah mendekati Aldo.
Aldo menggeleng pelan, wajahnya yang lelah tampak putus asa. Kini pria pencemburu itu tampak pasrah, tak ada kekuatan untuk berbicara sekalipun.
"Aku baru saja kembali dari luar kota, aku baru mengetahui hal ini. Dan ku harap aku masih bisa membantu." Ucap Gara, sungguh dia kasihan melihat suami orang yang di kaguminya begitu putus asa.
"Kau jangan menyerah, demi orang yang kau cintai dan tentu dia juga mencintaimu. Itu sangat berharga." Gara menatapnya dengan tersenyum.
"Kau baik sekali." Aldo tersenyum kecut.
"Istrimu sangat baik padaku, dia penolong hidupku. Jika dia tak menemukanku saat itu, mungkin aku sudah mati." Jawabnya, dia berlalu masuk kedalam mobilnya. Seperti menelepon seseorang, Aldo hanya melihatnya dari jauh tidak berniat untuk mengajaknya bicara lagi, tenaganya sudah habis, bahkan rasanya nyawanya tinggal sedikit. Lelah sekali.
"Pulanglah, temui istrimu. Aku akan mencarinya sampai ketemu, aku janji padamu." Gara kembali mendekati Aldo.
"Terima kasih." Aldo masuk ke dalam mobilnya dan mulai melaju.
Kembali ke rumah mewah bertingkat itu, Aldo masuk tanpa mengucapkan apapun. Seperti sebelumnya di sangat di hormati di rumah itu.
Gadis cantik yang masih belia itu sedang berdiri di ruangan besar tempat Aldo saat ini berada.
__ADS_1
"Oppa." Ucapnya lirih, tentu hati yang rindu itu menjadi haru. Tatkala luka bertemu obatnya, seperti haus bertemu air telaga.
"Dimana ibumu?" Aldo tidak membalas tatapannya.
Gadis itu melihat ke arah asisten yang sedang berdiri, sepertinya dia tau apa yang di minta majikannya.
"Ada apa kau mencariku?" Kali ini Nyonya Amelia bicara lembut. Mungkin karena ada putrinya di sana, atau mungkin dia sudah tahu jika keinginannya akan segera dia dapatkan.
"Aku menyetujui keinginan mu, tapi bebaskan istriku, tarik tuntutanmu itu." Aldo berbicara serius.
"Akan ku lakukan. Tapi ceraikan istrimu." Ucapnya penuh penekanan.
"Aku tidak bisa, istriku sedang mengandung anakku. Dan sampai kapanpun aku tidak akan melepaskannya." Aldo tidak ingin bernego lagi.
"Aku tak apa mama." Bella masih berdiri di tempatnya.
"Kapan kau mencabut laporanmu." Aldo berkata tegas.
"Nikahi putriku besok pagi, besok pagi juga istrimu bebas." Sikapnya kembali Arogan, sepertinya dia sudah merasa menang. Senyum miring itu terukir sempurna.
"Aku ingin ada perjanjian." Aldo tidak ingin di tipu.
"Besok kita tanda tangan bersama." Amelia juga tak kalah cerdik.
Aldo pergi begitu saja tanpa permisi meninggalkan dua wanita yang sedang bahagia. Berbeda dengan hatinya yang sudah hancur tak beraturan.
Teringat saat dulu melamar Reva, dia berjanji untuk selalu setia. "Hanya ada aku di hatimu, akulah satu-satunya wanita di dalam hidupmu" Begitu suara lembut itu terngiang selalu sepanjang jalan. Begitu bahagia ketika dia mendengarnya, hingga akhirnya bisa memiliki seutuhnya.
Bayangan-bayangan bahagia melintas kesana kemari mengoyak hati yang memang sudah terluka. Setiap malam menghabiskan waktu bersamanya, tapi setelah ini?
"Aku takut kehilanganmu." Lirihnya, membayangkan saat Reva mengetahui pernikahannya, itu benar-benar membuatnya kesal.
__ADS_1
"Ya Allah. Aku akan menyakiti istriku, aku penghianat." Aldo menyandar di kursi kemudi, mobilnya berhenti. "Andai aku bisa memilih, aku lebih baik mati dari pada harus menghianati istriku. Bagaimana anakku nanti? Bagaimana jika dia mengetahui ini dan meninggalkan aku." Aldo menunduk membenamkan wajahnya yang sudah basah karena air mata.