
Hari ini Dev pergi ke kompleks rumah Aldo, ia akan segera membeli rumah yang di inginkan Reina, dan dia ingat bahwa kemarin ada rumah yang bertuliskan DIJUAL. Namun ia merasa tak enak hati, posisi rumah itu hampir berhadapan dengan rumah Aldo. Seharian ia berkeliling mencari unit rumah lain tapi hasilnya nihil, hanya ada satu rumah itu yang akan di jual.
"Reina!" panggil Dev di sore itu, ia ingin membicarakan perihal rumah baru.
"Iya." jawab Reina, mendekat dengan dress selutut ia terlihat modis.
"Aku sudah mencari rumahnya, namun hanya ada satu yang di jual yaitu rumah yang berhadapan dengan Aldo." Dev melihat wajah istrinya, apakah ia setuju atau tidak, jujur saja Dev sedikit keberatan karena ia malu jika harus dekat dengan mereka.
"Kita beli." jawabnya tanpa berpikir.
"Tapi itu dekat dengan Reva, apakah kau yakin untuk bertetangga dengannya." Dev tidak percaya dengan sikap yang selalu ingin bersaing itu akan membuatnya merasa semakin serba salah.
"Tentu saja aku yakin, apa yang harus dikhawatirkan." jawabnya lagi, keinginannya sudah tidak dapat di tahan.
"Baiklah." Dev hanya bisa pasrah, yang paling penting baginya adalah bisa tinggal bersama Dimi.
*
Dua Minggu kemudian.
"Dev, kau membeli rumah ini?" Aldo melihat sahabatnya sedang berada di halaman rumah berseberangan dengan rumahnya.
Dev mengangguk, ia malas berkata sedikit kencang karena mereka berada berseberangan jalan gang.
Aldo mendatanginya. "Baguslah, semoga suasana baru dapat membuatmu lebih semangat." ucap Aldo lagi.
"Terima kasih, ini ku lakukan demi anakku, ku harap dia betah dan mau tinggal bersamaku." ungkapnya sedikit tersenyum.
"Oh, itu pasti karena jarak antara rumah kita hanya berbatas jalan saja, dia bebas tinggal bersama siapapun." Aldo meyakinkannya.
"Terimakasih, aku tahu kau sangat mengerti keadaanku." Dev menatap sahabatnya yang masih berdiri.
"Tidak perlu, kita sudah biasa dengan keadaan ini." Aldo melihat istri sahabatnya sudah ada di dalam. Sekilas ia melihat wanita itu sedang sibuk menata isi rumah barunya, wajahnya tak terlihat ramah, wajar saja jika Dimi tidak betah dekat dengannya.
Aldo sibuk dengan pikirannya sendiri, daripada memikirkan hidup orang lebih baik ia pulang dan menghabiskan waktu bersama anak istrinya, itu lebih bermanfaat dan lagi, membuat bahagia.
__ADS_1
Malam itu Dev langsung menjemput Dimi di rumah Reva, Dev datang dengan istrinya yang tampak berjalan arogan.
"Ayo masuk." Aldo menyambut tamunya dengan ramah, bukan hanya sekedar tamu, tetangga sekaligus saudara.
"Terima kasih." Dev berusaha. menjadi tamu yang baik dan sopan bersama istrinya.
"Dimi, ada ayahmu nak!" Aldo membuka pintu kamar dan memanggil anak laki-laki itu.
Dia keluar dengan wajah basah, dia baru saja belajar berwudhu.
"Dimi sayang." Sapa Dev lembut, ia begitu bahagia melihat anak kecil itu wajahnya segar dan bercahaya. Dev mengangkat tubuh kecil itu duduk di pangkuannya.
Reina hanya diam tanpa tersenyum, hanya memperhatikan seluruh isi rumah dengan sesekali tatapannya tajam dan sinis.
"Mas!" Reva turun dan menghampiri Aldo.
"Sayang." Aldo meraih pinggang istrinya dan mengajaknya duduk berdekatan.
"Maaf kami mengganggu waktu istirahat kalian, kami hanya ingin menjemput Dimi." Dev memulai pembicaraan.
"Malam ini kita pulang ya sayang, Ayah tinggal di dekat sini itu karena dirimu." Dev berusaha membujuknya.
Dimi masih tak angkat bicara.
"Pergilah sayang, jika ingin pulang maka tinggal pulang saja." Aldo merayunya.
"Besok aku akan pulang Ayah." jawabnya pada Aldo.
"Iya." Aldo meyakinkannya.
"Non ini minumnya." Tuti membawa minuman untuk mereka semua.
"Terimakasih Bibi." Reva selalu sopan memperlakukan siapapun.
"Minumlah susumu, nanti tinggal tidur saja di rumah sana." Reva menunjuk susu di atas meja.
__ADS_1
Dev mengambil dan memberikannya, benar saja anak itu menghabiskan tanpa harus diminta berulangkali. Dia anak pintar dan penurut, Reina tak akan repot mengurusnya, Dev sedang memikirkan hal itu.
Berbeda dengan Reina, wanita itu tampak memperhatikan Reva dengan teliti, sesekali membuang pandangan namun kembali lagi ia masih penasaran, dengan tangan Aldo tak jauh darinya ia menjadi tidak suka dan merasa ia tidak jauh lebih baik dari mantan kekasih suaminya.
"Sepertinya ibumu itu sangat perhatian sekali padamu Dimi?" tanya Reina pada anak kecil itu.
Aldo menatap tajam pada Reina, ia tahu persis wajah seperti itu dengan segala tipe keburukan melekat padanya.
"Tentu saja." Aldo tersenyum dengan mata menyipit, ada serangan batin di dalamnya.
"Seperti ibu kandung untukmu." sambungnya lagi dengan nada menyindir.
Ingin sekali Aldo membalasnya dengan ucapan yang menyakitkan hati, namun ia urungkan karena sahabatnya segera mengajak Reina untuk pulang.
"Kalau begitu kami pulang dulu, hari sudah malam dan sepertinya Dimi sudah mengantuk." Dev sudah tidak sabar keluar dari rumah itu.
Reina ikut beranjak dengan selalu membusungkan dada, tanpa ikut berpamitan ia melenggang pergi berlalu begitu saja.
"Aku tidak suka dengan wanita itu." Aldo masih belum habis kesal.
"Biarkan saja Mas, dia sudah pulang dan jangan sekali-kali kau bertamu ke rumahnya, dia tidak menyukai kita." Reva sangat paham dengan raut wajah tak suka itu, namun ia tidak mau membalasnya.
"Tumben sayang kau berkata begitu?" Aldo tak pernah mendengar istrinya melarang bertamu ke rumah orang, bahkan di setiap waktu ia sangat senang jika mendapat teman baru.
"Aku hanya takut terlalu sering bersamanya akan membuatmu marah." jawabnya lagi.
"Ah, kau sangat mengerti aku sayang." Aldo segera memeluknya, tadi ia sempat berpikir bahwa Reva tidak menyukainya dan membencinya, tapi malah jawaban itu yang ia dengar. Sudah pasti Aldo akan marah, wanita itu tidak menyukai istrinya, bahkan berusaha menyudutkan istrinya.
Sedangkan di depan sana, rumah dua lantai itu tampak terang benderang dengan suasana sejuk, namun mencekam bagi anak kecil yang baru pertama tinggal di sana. Ia bingung harus bagaimana bahkan ia tidak berani bicara, langsung tidur nyenyak adalah pilihan tepat agar tidak menyaksikan kilatan mata tak suka.
"Reina, aku harap kau menerima Dimi dengan lapang dada, aku hanya butuh satu kamar saja untuknya, biarkan dia disini untuk menghibur diriku." Dev kembali mengajak istrinya bicara.
"Tentu saja aku menerimanya, tapi jangan harap aku akan kau samakan dengan mantanmu itu, sikap sok perhatian yang berlebihan itu membuatku jijik. Atau jangan-jangan dia itu anakmu bersamanya?" Reina menatap Dev dengan menyipitkan matanya.
"Jaga bicaramu Reina, aku mohon padamu untuk bisa mengendalikan diri dihadapan siapapun terutama dengan Reva dan Aldo." pinta Dev dengan wajah serius.
__ADS_1