Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
108. Jangan marah lagi


__ADS_3

Aldo masih berdiri melihat kepergian Dev dengan perasan belum puas, tapi bicara banyak-pun tak akan ada titik temunya. Mungkin nanti, ada masa dimana Tuhan saja yang akan mendamaikan keduanya.


"Ayo sholat." David dan Rey berlalu menuju Mushola rumah sakit, Aldo mengiringi di belakang mereka.


Yang ternyata di Mushola sudah ada Reva dan Ayu sudah memakai mukena dan bersiap untuk sholat. Tak sampai sepuluh menit sholat subuh nan hikmat sudah selesai, wajah-wajah berseri dengan hati yang sejuk itu perlahan keluar meninggalkan Mushola.


"Sayang." Aldo mendekati Reva yang baru saja melepas berdiri dari duduknya. Pria itu mengulurkan tangan yang segera di sambut dan di cium istrinya. Begitu juga David dan Ayu.


"Kita ke ruangan ibu, dari tadi aku memikirkan ibu." ucap Reva pada semuanya.


Tiba di ruangan rawat, Reva segera mendekati ibu yang terlihat sudah duduk di atas kasurnya.


"Ibu ingin sholat nak." ucap Ibu yang pagi ini wajahnya terlihat segar dan bersih.


"Aku akan membantu ibu." Reva membawanya ke kamar mandi dan tak lama setelahnya ibu sholat dengan berdiri seperti sudah sehat sekali. Reva menyaksikan itu begitu senang bahwa ternyata ibu sudah sehat dan tak perlu di rawat.


"Sayang." panggil ibu pada Reva setelah ia mengakhiri sholatnya.


"Iya Ibu." Reva mendekat membantu merapikan mukena yang sudah di lepaskan ibu.


"Ibu ingin pulang, bisakah panggilkan kakakmu?" ucapnya masih duduk di tempatnya sholat.


"Sebentar aku akan memanggilnya." Reva keluar sebentar memanggil Rey untuk masuk kedalam.


"Ada apa ibu?" Rey mendekat, meminta ibu berdiri dan kembali istirahat di ranjang rumah sakit itu.


"Rey, nanti sore kau bawa istrimu ke rumah. ibu mau pulang dan ingin sekali rasanya berkumpul dengan kalian semua." Wanita itu berucap dengan tersenyum manis sekali.


"Baiklah ibu, aku akan bekerja hari ini, sore nanti aku akan kembali bersama Alisa dan Ayra." Rey melihat wajah ibu sudah lebih baik.


"Pergilah nak, nanti kesiangan." Ibu mengusap pipi Rey yang terlihat begitu tampan di matanya.


Rey meraih tangan yang sudah mulai keriput itu lalu menciumnya. "Aku pamit ibu." Ucap Rey kemudian.


"Benar ibu sudah sehat?" Reva memegang tangan ibu yang matanya masih mengekor kepergian Rey di balik pintu.


"Tentu, lihat saja nanti setelah dokter memeriksa ku, aku pasti di bolehkan pulang." jawab ibu yakin. Reva tersenyum memandang wajah yang baru saja bicara dan menenangkan hati.


"Sayang, apa ibu baik-baik saja?" Aldo dan yang lain ikut masuk.

__ADS_1


"Iya mas, ibu sudah sehat." Reva menoleh wajah pria yang datang langsung memeluknya.


"Aldo, ibu ingin pulang ke rumah ibu." Ungkapnya pada menantunya itu.


"Apa tidak di rumah saja Bu, kan sama saja?" Aldo mendekati ibu dengan lebih menundukkan badannya.


"Kalian saja yang menginap di rumah ibu." ucap ibu lagi, keinginannya tak mau di tawar.


"Baiklah, kami semua akan menginap di rumah ibu selama ibu mau." Aldo menghibur.


"Tentu saja, aku akan senang menghabiskan waktu di rumah ibu, apa lagi ada kakak ipar yang menyebalkan ini." Ayu menyambut gurauan di pagi hari.


"Rumah akan ramai jika ada Tom And Jerry Bu!" David juga ikut bercanda. Mengukir tawa yang bahagia dari semua yang ada di ruangan rawat ibu.


"Aku akan bekerja setengah hari saja, setelahnya akan kemari." Ayu memegang tangan ibu.


"Aku akan bekerja sebentar dengan Aldo, ada yang harus kami selesaikan. Dan ibu tak perlu khawatir, kami akan menyelesaikan masalah kak Rey." David mendekat dan meyakinkan ibu.


"Ibu percayakan saja pada kami." Aldo juga tak ketinggalan.


"Ibu percaya, dan ternyata sakit ku yang hanya sehari ini membuat ibu yakin kalian adalah anak-anak yang tidak akan saling melupakan. Ibu tenang sekarang." Ibu menangis haru.


"Baiklah, mari kita bubar!" David keluar lebih dulu karena suster masuk dan sudah tentu akan menyuruh semua orang untuk keluar meninggalkan pasien.


"Aku dan David bekerja sebentar sayang, apa kau tidak masalah jika ku tinggal sendirian?" ucap Aldo setelah mereka ada di luar, memeluk istrinya dan mengecup keningnya sekilas.


"Tidak apa-apa mas, tapi jangan marah lagi." ucapnya pelan.


"Ah, sayang aku terlalu mencintaimu." Aldo kembali memeluknya menikmati wangi hijab di pundak istrinya. "Aku baru tahu istriku juga bisa melawan saat aku marah?" ucap Aldo menatap wajah cantik itu dari dekat.


"Maaf mas." Reva menunduk, menyadari semalam dia mengomel dan menggerutu.


"Tidak apa-apa, itu bukan termasuk kesalahan, aku semakin gemas mendengar suaramu saat mengomel itu." Aldo tertawa menggoda istrinya. Reva diam tak menjawab, hanya menikmati perlakuan hangatnya sudah kembali.


"Hey, hentikan pamer-mu itu, kita segera berangkat ke kantormu." David meliriknya dengan malas.


"Sudah punya istri masih saja mengganggu." Aldo melepaskan pelukannya dan menghadap David.


"Apa tidak ganti baju dulu?" Ayu melihat Dua pria yang sama tampan di hadapannya.

__ADS_1


"Tidak usah, kita pakai mobilmu saja." David mengajaknya segera pergi.


"Aku pinjam kunci mobilmu, aku akan pulang sendiri dan bekerja." Ayu meraih kunci di kantong jaket David.


"Kau pakai mobil Reva saja, kemarin dia membawa mobil sendiri ke rumah sakit." Aldo memberikan kuncinya.


"Ah senangnya, aku mendapat mobil baru!" Ayu tertawa mengayunkan kunci mobil BMW keluaran terbaru milik kakaknya.


"Pakai saja jika kau mau, aku di belikan mobil tapi tidak boleh memakainya." Reva menyindir Aldo.


"Nanti setelah kau melahirkan." Aldo mengecup bibir yang mengerucut itu lalu pergi meninggalkannya, mereka semua pergi bekerja termasuk juga Ayu.


Hingga siang hari, kedua pria itu berkutat dengan laptop dan ponsel milik mereka, dengan segala kepiawaian bekerjanya mereka berdua tampak sudah menyelesaikan satu pekerjaan.


"Selesai." David bergumam, menyandar lelah di kursi empuk.


"Dia bangkrut." Aldo berkata, lalu ikut menyandar lelah menatap layar yang masih menyala.


"Banyak penghianat di dalamnya." David menjawab.


"Dia butuh bantuan sepertinya." Aldo masih melihat semua file yang berhasil di retasnya bersama David.


"Apa kita bantu saja?" David melirik tekannya yang masih menatap layar dengan serius.


"Kita hubungi kak Rey, dia harus tahu segera tentang masalah ini." Aldo meraih ponselnya.


"Ini sudah jam Dua, kita belum makan siang." David keluar, sepertinya akan memesan makanan.


"Kak Rey, aku sudah mengetahui kenapa mertuamu ingin bertemu kak Alisa. Penyebabnya adalah karena mereka bangkrut, saham mereka di ambil alih oleh asisten dan rekan bisnis yang menjadi pesaing juga penghianat. Dia butuh bantuan." jelas Aldo.


"Kalau begitu aku harus datang membantu." Suara Rey terdengar khawatir.


"Mereka tidak ada di London kak, Ayah mertuamu sedang di rawat di Singapura." jelas Aldo lagi.


"Berarti ayah mertuaku sakit!" Rey terkejut.


"Iya, mungkin sedang menghindari masalahnya. Hingga memilih Singapura." jelas Aldo lagi.


"Terima kasih, kalau begitu aku akan segera mengurus cuti, nanti sore aku akan ke rumah ibu bersama Alisa. Kita bicarakan saja di sana." Rey segera mengakhiri sambung teleponnya.

__ADS_1


"Semoga ini membuat ibu tak lagi banyak berpikir." gumamnya tersenyum.


__ADS_2