
"Menerima itu berarti cukup Reina, jika kau masih mencari kepuasan di luar artinya yang kau dapat dariku masih kurang." Dev menjawab lembut ucapan istrinya.
"Tentu saja kurang Dev, kau masih mencintai mantan mu, di tambah lagi adanya anak itu, aku merasa kehadiranku tak ada artinya." ucapnya dengan kesal.
"Maaf untuk kehadiran Dimitri, dia tidak salah Reina, dia bahkan sudah aku inginkan kehadirannya sebelum kita bertemu. Dimitri itu putraku, dia darah dagingku satu-satunya." ungkap Dev tak ingin ada yang di tutup-tutupi.
"Sudah ku duga dia anakmu bersama mantanmu itu, kalian benar-benar pintar. Percuma saja setiap hari menggunakan hijab panjang dan sok manis jika sebenarnya kalian pernah tidur bersama, wajar saja kau tak akan pernah bisa melupakan wanita itu sampai mati." ucapnya semakin geram.
"Bukan dia Reina, Reva tak bersalah. Dia wanita baik yang tak pernah tersentuh, dan itulah sebabnya aku sangat mencintainya akan mengingatnya hingga mati, seperti katamu." Dev tersenyum dingin.
"Kau hanya hidup di masa lalu Dev, aku kecewa denganmu." Reina meninggalkannya kembali ke kamar.
"Mungkin iya, tapi sungguh hanya masa lalu yang aku miliki." ucapnya pelan.
*
"Reina, kau mau kemana? Mengapa pakaian sekolah Dimi tidak kau cuci?" tanya Dev di pagi itu.
"Kau minta saja ibunya untuk mencuci, aku bukan pembantu." Reina menatap tak suka.
"Kau tega sekali, kasihan dia sampai tak sekolah karena pakaiannya kotor semua." Dev sungguh kesal.
"Jadi aku tidak bisa sekolah?" tanya Dimitri sedih.
"Besok kita sekolah ya sayang, ini sudah siang sepertinya beli baju dahulu juga kau akan terlambat." Dev membujuknya.
"Baiklah Ayah." jawab anak kecil itu, ia turun ke bawah.
Lama tak di izinkan keluar rumah membuatnya rindu bermain bersama Zahira, terkadang ia hanya bisa mengintip di gerbang depan karena gerbang rumah itu selalu tertutup.
Seperti hari ini juga, ia mengintip dan memasang telinganya di tembok pagar, mendengar apa saja yang di lakukan di rumah depan itu.
"Dimi!" panggilan dari dalam gerbang rumah itu terdengar.
"Paman, bisakah aku masuk, aku rindu pada ibu dan Zahira." ucapnya polos.
"Oh, emmm. Boleh, sebentar ya!" pak Dwi membuka gerbangnya, dia kasihan dengan anak kecil itu, sungguh wajah polos itu tak tau apa-apa.
"Terima kasih paman, aku ingin bertemu Zahira dan ibu." ucapnya langsung masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Pak Dwi hanya tertawa, benar sekali memang anak kecil itu rindu, sudah lama mereka tidak pernah bertemu, bahkan kedatangan awalnya adalah di rumah itu.
"Ibu!" panggilnya setelah ada di dalam rumah.
"Hay Dimi. Apa kabar sayang, kau datang dengan siapa?" Reva memintanya ikut duduk dan bermain.
"Aku sendiri ibu, aku rindu." ucapnya menatap wajah Reva dengan sendu.
Oh ya Tuhan, sungguh anak kecil tak mengerti apapun, salah jika gara-gara orang dewasa anak kecil jadi ikut di korbankan.
"Ibu juga rindu sayang." jawab Reva dengan hati yang sedih menatap wajah Dimitri.
"Apa aku di larang masuk Bu?" tanyanya lagi.
"Tidak sayang, hanya pak Dwi sedang sibuk dan tidak bisa selalu berjaga di depan." Reva membuat alasan.
"Aku ingin bermain di sini Bu, aku janji tidak akan nakal." ucapnya lagi.
"Iya sayang, jika ibu tidak sibuk ya!" Reva sedikit berjanji.
"Tapi mengapa kau tidak sekolah sayang?" Reva bertanya pada anak kecil itu.
"Kotor?" tanya Reva tak percaya.
"Iya." jawabnya yakin.
"Kalau begitu Dimi harus ingatkan ayah untuk mencucinya, jangan sampai tidak sekolah lagi." jawab Reva menenangkan anak kecil itu.
"Aku bisa mencuci sendiri ibu, ibu tak perlu khawatir." jawabnya dengan gaya yang merasa hebat.
"Benarkah?" Reva seakan memberinya semangat.
"Tentu saja, aku tak memiliki siapapun di rumahku, aku sudah biasa tinggal sendiri Ibu." jawabnya bangga.
"Kau hebat sekali sayang." ucapnya dengan mengelus pipi anak kecil itu.
Sepertinya Dimi menikmati sentuhan itu, anak kecil tentu menyukai kasih sayang, mereka memang butuh kasih sayang, sedikit pujian membuat ia memompa diri untuk lebih maju, sedikit belaian membuat ia bangga dan merasa di sayangi. Entah dia anak sendiri, anak suami, anak tetangga mungkin, jika sudah merasakan kasih sayangmu, dia akan selalu mengingatmu. Mereka adalah malaikat berbulu halus yang selalu ingin di belai, tak peduli dia laki-laki atau perempuan, mereka memiliki naluri yang sama, yaitu ingin di sayangi.
Sedangkan di depan rumah itu, wanita muda itu sedang kesal, mencari keberadaan anak kecil itu.
__ADS_1
"Dimi!" panggilnya.
"Sayang sepertinya ibumu mencari." Reva mendengar teriakan ibunya.
"Aku masih ingin di sini Ibu, apa masih boleh main lagi?" tanya anak laki-laki polos itu, matanya sedang memohon persis seperti mata Dev.
"Nanti bisa main lagi sayang, minta pak satpam saja membuka pintu. Sekarang Dimitri yang tampan pulang ya!" bujuk Reva padanya.
"Sebenarnya aku rindu pada Ayah tampan." ucapnya lagi.
"Nanti sore dia pulang sayang, nanti kau boleh datang lagi."
"Dimitri! Jika kau betah tinggal di sini mengapa kau harus pulang?" ucap wanita itu tiba-tiba sudah masuk di ruang tamu.
Anak kecil itu diam, menunduk dan berlalu berjalan lebih dulu.
Reva hanya memandangi wajah bulat itu, ia malas harus berdebat tak ada hasilnya.
"Jika kau mau mengurus anak itu harusnya kau urus saja, akan lebih baik seorang anak tinggal di rumah ibunya dari pada bersama ibu tiri." ucapnya sinis.
"Dia bukan anakku Reina, tapi aku mampu mengurusnya. Tidak sepertimu hanya mau dengan ayahnya tapi membenci putranya." Reva menatapnya dengan kesal.
"Tentu saja aku benci dengan anakmu." jawabnya dengan wajah sombong.
"Dia bukan anakku Reina, jangan menebar fitnah, aku tidak mau suamiku mendengarnya." Reva sungguh kesal.
"Kenapa takut? Apa jangan-jangan benar adanya?" wanita itu terlihat mengejek.
"Dengar Reina, suamiku menghabiskan malam pertamaku dengan susah payah, jadi dia tidak akan percaya dengan omong kosong mu." Reva menatap tajam. "Pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran."
"Oh, pintar sekali dia bicara, bilang saja kau masih berharap kembali dengan suamiku, murahan!" ucapnya masih enggan beranjak.
"Kau pikir aku tidak tau kau sudah tidak bersegel di malam pertamamu. Jadi jangan menganggap orang tidak baik jika diri sendiri sangat jauh dari kata baik. Sebaiknya kau pikirkan, yang murahan itu aku atau dirimu." Reva menunjuk dada gadis itu, membuatnya semakin marah dan kesal.
"Kau!" ucapnya kesal.
"Pergilah, jangan pernah datang kemari." Reva mengusirnya kali ini.
"Suami miskin ini yang sangat kau banggakan." ucapnya menunjuk foto Aldo, ia masih sempat menghina.
__ADS_1