
"Halo Rey." malam itu Dev menghubungi teman sekaligus rekan kerjanya.
"Iya, apa kabarmu?" suara Rey di seberang sana.
"Aku baik-baik saja." jawabnya.
"Aku pikir kau tidak akan mengingatku lagi."
"Tentu saja aku mengingatmu, sekarang aku merasa kehilangan teman baik sepertimu." Dev diam sejenak. "Rey, aku sudah memutuskan untuk segera menikah, dan melupakan adikmu."
"Benarkah, lalu siapa calon istrimu?" tanya Rey begitu penasaran.
"Dia bukan orang sini, tapi ku rasa dia memang cocok untukku. Tapi ada hal lain yang sedang aku pikirkan." suaranya sedikit pelan.
"Apa?" Rey mungkin bisa menebak.
"Adikmu!" jawabnya singkat.
"Apa lagi? Bukankah kau bilang akan melupakannya?" Rey bingung dibuatnya.
"Kau tahu aku pernah bersumpah untuk tidak menikah, aku jadi ragu karena itu." ungkapnya.
"Baiklah, agar kau tidak merasa ragu, aku akan meminta Aldo dan Reva menemuimu. Aku harap kalian bisa bicarakan baik-baik, dan kembalikan hubungan baikmu dengan Aldo. Dia tidak salah Dev, dia hanya mencintai adikku. Aku bahkan merasa takut jika bukan dia yang menjadi suami adikku."
"Aku tau Rey, itu juga alasan aku menikah. Mungkin sudah waktunya aku benar-benar merelakan adikmu." suaranya terdengar pelan.
"Besok mereka akan menemuimu." ucap Rey.
"Terima kasih." jawab Dev, pria itu menatap ponsel yang sedang dipegangnya.
*
"Dev akan segera menikah." Begitu pesan yang Rey kirim untuk adik iparnya.
Aldo tampak tertegun membaca pesan singkat itu, kemarin ia menolak Reva mati-matian dan bersumpah untuk tidak menikah. Lalu sekarang ia akan menikah? Aldo jadi ingat kata-kata Rey saat melamar Reva satu tahun yang lalu. Apa Dev sedang berlari dari kenyataan dan membuat kenyataan yang lain seperti yang di tanyakan Rey pada istrinya dulu.
"Mas, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Reva begitu lembut.
Aldo menoleh, "Dev akan menikah sayang." jawab Aldo menatap wajah Reva seakan mencari sesuatu.
__ADS_1
"Mungkin sudah bertemu jodohnya mas." jawab Reva tersenyum.
"Kau tidak terkejut?" Aldo masih penasaran.
"Untuk apa aku terkejut, aku tak mengharapkan dia sendiri seumur hidup, dia juga berhak merasakan bahagia." jawab Reva begitu tenang.
Aldo mengira Reva akan terkejut dan bertanya, ataukah sedih dan melamun. Tapi ternyata tidak, itu sungguh membuat Aldo yakin istrinya sudah tidak mengharapkan Dev.
"Aku akan menemuinya besok." Aldo harus menyelesaikan perdebatan panjang yang tidak jelas akhirnya.
"Kita akan ke pantai besok mas. Atau ajak saja dia ke pantai, aku juga ingin menyelesaikan kesalahpahaman antara kita." Reva menatap bola mata bening suaminya, berharap tidak ada larangan untuk itu.
"Baiklah, tapi tidak boleh terhanyut dengan wajahnya yang memelas itu, jangan harap aku akan sabar dan memiliki toleransi atas penderitaannya. Aku bisa saja menghajarnya hingga tak berbentuk!" Aldo tiba-tiba merasa geram sendiri.
"Mas!" Reva bergidik ngeri mendengarnya.
"Aku tidak bercanda." ucapnya lagi.
"Tidak boleh begitu! Aku sedang ingin menyelesaikan ini semua dan kita akan hidup bahagia selamanya, begitu juga dia dan istrinya nanti." jelas Reva sedikit meninggikan suaranya walau percuma, suara itu masih terdengar pelan dan menggemaskan.
"Tapi nanti dia akan sangat senang melihat wajahmu, jangan-jangan dia akan berkhayal bisa menyentuh dan mencium wajah ini." Aldo menunjuk pipi istrinya.
"Itu kamu mas!"
"Dulu kau sering memandangi wajahku, berarti kau sering berkhayal yang_" Reva menggerakkan Dua jarinya seperti tanda kutip.
Aldo menatap tak percaya. "Aku tidak begitu." jawabnya dengan menahan senyum.
"Aku yakin sekali kau begitu." Reva mengatakannya di telinga Aldo.
Pria itu terkekeh geli mendengarnya, meraih istrinya ke dalam pelukan yang begitu erat.
"Tapi aku sungguh mencintaimu, aku bahkan menahannya hingga saat kita menikah. Hanya sekedar berkhayal sedikit." kembali tertawa.
"Sedikit tapi membuatmu semakin mengejar ku." Reva ikut tertawa.
"Tentu saja aku mengejarmu, karena ku tahu kau hanya milikku, hanya aku yang boleh menyentuhmu."
"Besok kita pergi bersama ya mas?" pintanya lagi.
__ADS_1
"Baiklah, tapi ingat! Jaga pandanganmu." Aldo mengingatkannya dengan mesra.
"Apa kau takut kalah tampan?" Reva kembali mulai menggodanya.
"Ah tentu saja aku lebih tampan darinya, buktinya aku berhasil membuatmu jatuh cinta dan mengandung putri cantik itu." Aldo begitu percaya diri.
"Itu benar, aku sangat mencintaimu." Reva kembali mengeratkan pelukannya.
Memang benar kenyataannya, Aldo lebih tampan dan begitu mencintainya. Walaupun dulu Dev juga sangat mencintainya tapi Reva merasa Aldo sangat mengerti bagaimana membuat Reva bahagia. Terkadang sikapnya yang berlebihan itu malah membuat Reva sangat di sayangi, cemburunya yang keterlaluan itu juga terkadang membuat Reva merasa di miliki. Sungguh sempurna ciptaan Allah atas suaminya, semua yang di miliki Aldo adalah semua yang di butuhkan Reva tanpa terkecuali. Semua tampak pas dan nyaman, begitulah tulang rusuk dan pemiliknya tak akan pernah tertukar, dan akan bertemu di tempat dan cara yang sudah di tentukan.
*
"Aku menunggumu di pantai tempat kau dan Reva pernah jalan-jalan, kami ada di sana." Aldo mengirimkan pesan itu pada Dev, pagi itu mereka semua semua akan pergi bersama juga David dan Ayu yang semakin hari semakin sibuk.
"Aku akan datang." Dev membalas.
Aldo tersenyum membaca balasan itu, ada rasa bahagia bisa bertemu dengan teman juga saudara itu.
"Mas!" panggilan mesra dari istri tercinta yang tampak sudah menunggu di mobil bersama asisten rumah tangga yang super kepo kini tampak sedang menggendong Zahira.
"Iya sayang." Aldo menyimpan ponselnya, segera masuk ke dalam mobil dan mengemudi dengan kecepatan sedang.
"Ayu dan David sudah berangkat atau belum?" Aldo menoleh istrinya sekilas.
"Sudah mas, mungkin mereka sampai lebih dulu." jawab Reva.
"Sudah lama tidak bertemu mereka, aku jadi rindu untuk mengerjainya." Aldo tertawa sedikit memamerkan lesung pipinya.
"Kau selalu membuatnya kesal." Reva ikut tertawa.
"Itu menyenangkan, apalagi saat sedang mengandung sepeti ini."
"Dia sedang mengidam mas." Reva teringat kemarin David menanyakan mangga muda.
"Benarkah? Dia minta apa?" Aldo menoleh istrinya.
"Mangga muda yang seperti ku makan waktu dulu, tapi sedang tidak ada."
"Dia pasti kesal sekali dengan David." Aldo tak dapat membayangkan betapa sulitnya David saat ini.
__ADS_1
"Aku juga waktu itu ingin makan mangga mas, dan kau yang memanjatnya." kali ini Reva terkekeh geli. Aldo melirik Tuti juga ikut tertawa mengingat Aldo naik dan Reva begitu senang melihatnya.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di pantai nan indah itu, suasana yang sudah lama tak mereka rasakan. Ingat kala itu Aldo menghibur dan menyaksikan betapa sedihnya Reva karena tak bisa bersama Dev. Dan terakhir kali mereka datang saat setelah membeli cincin pernikahan, Aldo menggenggam tangannya begitu erat.