
Tak kalah mesranya di rumah yang lain sepasang suami istri yang selalu jatuh cinta sedang bermanja-manja. "Mas, aku ikut lagi ya?" Reva sedang merengek tak mau ditinggalkan, tangan kecil itu tak mau lepas melingkar di pinggang suaminya.
"Apa tidak lelah sayang, sebaiknya kau di rumah. Kandunganmu sudah semakin besar, bahkan kau tak tahan duduk di mobil terlalu lama." Aldo memeluknya, mengusap perut istrinya yang semakin penuh dan besar.
"Tapi kau sudah membuat kamar di ruanganku. Aku bisa tidur dan istirahat dengan tenang selama menunggu kau bekerja." Reva menyandarkan kepalanya dan memeluk semakin erat.
Aldo menarik nafas, "Ah, baiklah. Aku tak bisa menolak jika sudah seperti ini." Aldo tidak tahan dengan rayuan istrinya, semakin menempel dan mencium dada tempatnya bersandar.
"Aku akan bersiap." Ucapnya penuh antusias melepaskan pelukannya. Aldo tersenyum sambil merapikan kemeja yang belum di kancing sempurna.
"Tidak usah berdandan, kau sudah cantik." Aldo berkata di telinga istrinya yang sedang duduk di depan kaca.
"Kalau aku tidak berdandan nanti kau melirik perempuan lain mas." Reva melanjutkan riasan tipisnya, tangan lentik itu terlihat licah sekali menyapu blush on di pipinya yang mulus.
"Itu tidak mungkin, aku hanya melihatmu." Jawabnya tersenyum, matanya tak lepas dari wajah yang ada di kaca.
"Aku akan tetap berdandan agar kau hanya melihatku." Jawabnya melihat sekilas pada Aldo.
"Kalau kau berdandan terlalu cantik, pria lain akan melirikmu." Aldo masih memandanginya.
"Mana ada, aku sedang mengandung anakmu mas." Jawabnya lagi, Reva sudah selesai.
"Kata siapa, bahkan ada dua pria yang masih mengharapkanmu walaupun aku sudah membuat perutmu membuncit." Aldo terlihat kesal.
__ADS_1
"Itu perasaanmu mas, Anggara tidak begitu. Bukankah dia saat ini adalah temanmu?" Reva mendekatkan wajahnya.
"Tentu saja, dia memang lebih sopan dan baik sekali. Tapi untuk perasan yang tadi harus tetap di waspadai. Aku tau dia masih menginginkanmu, tapi dia terlalu baik dan selalu menjadi orang yang selalu mengagumimu." Aldo menatap wajah istrinya.
"Dia memang selalu menjagaku sejak saat masih sekolah. Dia tak pernah memaksakan perasaannya, hanya mengatakan dia menyukaiku tapi tidak memintaku membalasnya. Dia membebaskan aku untuk memilih siapapun asal aku bahagia." Jelas Reva.
"Memangnya apa yang membuatnya merasa berhutang padamu?" Aldo masih penasaran dari sejak saat mengobrol dengan Anggara.
"Saat itu aku adalah siswi baru, sedangkan Anggara adalah ketua OSIS. Dia termasuk laki-laki yang sangat di idolakan di sekolah karena dia adalah salah satu siswa jenius. Tentu itu mendatangkan rasa tidak suka dari anak laki-laki yang lainnya, terutama siswa yang sudah masuk di sekolah itu lebih dulu, sedangkan Anggara adalah siswa dadakan yang naik ke kelas tiga hanya karena dia berhasil melewati semua ujian kelas satu dan kelas dua secara bersamaan. Saat itu dia sedang melakukan ospek pada kami yang masih baru, hingga hari ke dua, dia menghilang. Semua orang sibuk mencarinya bahkan sudah dua hari, kakeknya sampai datang ke sekolah untuk ikut mencari. Semua orang mencari tapi tidak menemukan hingga ospek selesai. Hari itu aku pergi ke toilet sendirian, di sana sepi sekali hanya ada aku sendiri. Aku melihat ada gudang di ujung toilet, entah mengapa aku tertarik untuk mendekati gudang itu, perlahan mencoba memegang pintunya namun tertutup rapat dengan gembok berukuran sedang menguncinya, tak sengaja aku menyenggolnya mas, dan terdengar suara sesuatu terjatuh di dalam. Aku sempat takut, tapi ku beranikan diri kembali mendekat, mencari batu dan memukul kuncinya berkali-kali, sampai tanganku merasa sakit bahkan berdarah. Dan akhirnya pintu itu berhasil ku buka. Hal yang pertama ku lihat adalah sepatu, lalu ku beranikan diri masuk dan menyingkap kardus yang menutupi kaki manusia itu, dan ternyata itu adalah Anggara." Reva menghentikan ceritanya.
"Dia di kurung?" Aldo penasaran.
"Iya. Karena sudah dua hari lebih terkurung membuatnya sangat lemas, bahkan bicarapun dia tak mampu. Mulutnya terbuka sepeti sedang kehausan, hingga aku berpikir untuk mengambilkan dia air. Sayangnya tak ada tempat untuk membawa air, hingga aku menggunakan tanganku yang sudah sedikit terluka untuk membawakan air untuk memberinya minum. Aku menampung air dari keran dan membawanya ke gudang, dia minum dari tanganku bercampur sedikit darah yang keluar dari jariku." Reva seakan kembali ke masa menakutkan itu.
Aldo ikut terbawa suasana, dia menarik nafas dalam sekali membayangkan hal itu. Sungguh dia faham dengan keadaan Anggara, wajar saja sampai sekarang dia masih tak melepaskan istrinya walaupun hanya berteman. Dan dia benar-benar laki-laki sejati, rela berteman dengan Aldo dan memberikan semua proyeknya agar persahabatannya dengan Reva selalu terjaga.
***
"Hari ini aku masuk kerja, kau di rumah saja istirahat." David sedang mengancingkan lengan kemeja panjangnya.
"Pulang jam berapa?" Ayu duduk di ranjang dengan menyandar.
"Sore sayang, hanya jika akhir pekan aku akan masuk kerja di malam hari, karena akhir pekan sangat ramai dan Aldo tidak bisa meninggalkan Reva sendirian." David duduk mendekati Ayu
__ADS_1
"Baiklah, aku akan istirahat saja." Ayu kembali menarik selimut di kakinya.
"Apa sangat lelah?" David tersenyum mendekatkan wajahnya.
"Tentu saja sangat lelah, kau menggempur ku hingga hampir subuh, milikku sampai terasa bengkak." Ayu mengerucutkan bibirnya.
"Maaf sayang aku tak bisa menahannya, kau benar-benar membuatku gila." David kembali menciumi wajah putih itu dengan gemas sekali. Walaupun yang di ciumnya hanya diam tak tersenyum sekalipun.
"Aku menyukai mata kecil ini, hidung kecil ini, dan semuanya milikmu kecil dan menggemaskan." David memeluknya erat.
"Jadi aku ini serba kecil, jangan sampai kau jadikan alasan untuk mencari wanita yang bertubuh besar!" Ayu menatap tajam pada suaminya.
David terkekeh geli mendengarnya, menikmati gadis kecil itu sedang curiga.
"Aku pasti akan menghajarmu jika itu terjadi." Tambahnya lagi, membuat David semakin tertawa.
"Tidak, aku janji tidak akan begitu." David menatap matanya.
"Sudah pergilah, aku ingin istirahat." Ayu mendorong tubuh lebar David, tapi David malah meraihnya, mengecup bibir tipis itu lahap sekali seakan tak ingin melepasnya lagi.
"David hentikan!" Ayu mendorong David lagi.
"Kenapa?" David masih tak melepaskannya.
__ADS_1
"Kumismu itu tajam sekali, menusuk ke sana sini." Ayu menunjuk bulu kasar di sekitar bibir dan dagu David.
"Benarkah?" David mengusap-usap jenggotnya. "Tapi semalam kau tidak protes, bukankah rasanya asyik sekali?" David menggodanya, tentu membuat wajah istrinya merona.