
Selesai sholat isya' berjamaah Seisi rumah itu benar-benar tampak sempurna. makan malam bersama hingga duduk di ruang tamu bersama, suasana hangat menyelimuti, kebahagiaan keluarga ini baru terulang setelah sekian lama semenjak ayah Reva meninggal. Reva yang baru saja turun dari atas, matanya mencari sosok seorang yang baru sehari menjadi suaminya.
Aldo tersenyum manis menatap wajah cantik itu mendekat. Aldo menepuk sebelah kursi yang diduduki mengisyaratkan untuk duduk bersamanya.
"Di mana David ?" Reva melihat sekeliling.
"Dia sudah pulang, katanya berkemas akan pulang kerumahnya." Aldo menjawab dengan tak henti menatap wajah istrinya dari samping.
"Apa kalian akan pindah?" Ibu ikut bicara dengan raut wajah yang sedih.
"Rencananya aku akan mengajak Reva ikut dengan ku, tapi jika dia setuju." Aldo memelankan suaranya.
Reva menoleh wajah suaminya.
"Itu terserah kalian, ibu hanya akan merasa kesepian." Ibu berusaha menutupi kesedihannya.
"Rumahnya tidak jauh ibu, ibu bisa tinggal di rumah, atau sebaliknya jika rindu." Aldo menjelaskan. Kemudian ia memandangi istrinya.
"Aku ikut dimanapun kau berada." Ucap Reva kemudian.
"Seorang istri memang harus begitu, seperti aku dan kamu, ya kan Rey?" Alisa menggoda suaminya.
"Ah iya, itu benar sekali, kalau begitu kita kekamar saja, aku lelah..." Rey mengerti candaan istrinya. Mereka berdua masuk meninggalkan yang lainnya.
"Aku juga mengantuk, ayo ibu temani aku." Ayu menarik tangan ibu.
Reva yang tidak mengerti tampak bingung melihatnya. "Kenapa mereka pergi?"
"Mungkin mereka lelah, ayo kita ke kamar, aku juga lelah." Aldo merangkul bahu istrinya.
"Sayang, apa benar kau bersedia ikut bersamaku?" Tanyanya setelah mereka ada di kamar.
"Aku istrimu, aku pasti akan ikut bersama mu." Jawabnya duduk di ranjang.
"Kau memang istriku, rasanya seperti mimpi saja." Aldo merebahkan badannya di samping Reva.
"Apalagi aku, aku bahkan tidak menyangka akan mengenalmu, dan menjadi istrimu." Reva ikut berbaring di dekat suaminya, matanya menatap langit-langit, seakan mencari sesuatu yang sulit di jelaskan.
Aldo merubah posisi tidurnya, dia menyamping memeluk tubuh kecil disampingnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Ucapnya setengah berbisik.
__ADS_1
Reva menatap lekat mata pria yang memeluknya. "Hanya tidak menyangka ada dititik ini bersama mu." Ucapnya lembut sekali.
"Aku tau, ini terlalu cepat untukmu, aku tidak akan memaksakan apapun padamu. Mulai hari ini, kita pacaran." Aldo tersenyum lebar, matanya menjelajahi kedalaman mata istrinya.
"Kenapa pacaran?" Suaranya sedikit tidak terima.
"Karena aku belum pernah pacaran." jawab Aldo.
"Aku istrimu, sudah tidak perlu berpacaran. Aku tidak suka." Reva berbalik menghindari wajah suaminya.
"Kenapa tidak suka." Aldo semakin bersemangat melihat tingkah istrinya.
"Aku mau tidur." Reva memejamkan matanya. tapi Aldo meraih dan membuat posisi mereka berhadapan.
"Sayang, aku sangat mencintaimu. Aku ingin kau bahagia bersama ku, aku ingin kau hanya milikku." Kali ini Aldo bicara serius.
"Kalau begitu, jangan biarkan aku memikirkan apapun selain dirimu." Reva menjawab dengan yakin.
"Tentu saja. Apa harus di mulai dari sekarang?" Aldo tersenyum dengan tatapan nakalnya. Membuat wajah istrinya merona. Mereka berpelukan hingga Reva lebih dulu terlelap dalam mimpi yang indah. Aldo tersenyum menciumi kening dan pipi istrinya.
Bahagia, sungguh hatinya sangat bahagia. Dia akan menanti dimana titik sempurna sebuah kebahagiaan itu berada, "Tentu aku akan bersabar, hingga kau yang memintanya padaku." Aldo tersenyum penuh arti, walaupun sebenarnya dia tidak mampu jika terus menahannya.
***
Hari itu mereka sibuk dengan masing-masing pekerjaan seperti biasa. Di kantor perusahaan Hartawan Group Aldo terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya. dia tidak ingin menunda, seperti janjinya pada Ayu mereka akan melakukan kunjungan ke Vila dan menyelesaikan kontraknya.
"Pak, besok pagi saya akan melakukan pengecekan di Vila anda, menurut laporan pekerjaan mereka sudah selesai." Aldo sedang berada di ruangan bosnya.
"Aku serahkan padamu, dan sepertinya aku akan jarang berada di kantor. Istriku akan menggantikan aku dalam beberapa waktu." pria itu menyandarkan tubuhnya.
"Itu tidak masalah, saya akan bekerja sesuai kemampuan saya." Jawab Aldo singkat.
"Apa istriku sudah bicara sesuatu padamu ?" pak hartawan ingin tahu.
"Iya, tapi maaf, saya tidak pantas untuk itu." Aldo menjawabnya dengan tenang.
"Aku harap kau memikirkan ulang keputusanmu. Aku ingin laki-laki yang baik mendampingi anak ku, lagi pula hanya kau yang bisa aku andalkan untuk itu. kau tahu istriku tidak mau harta ku di bagi dengan Ayu, dan dia menyetujui jika Bella menikah denganmu terlebih lagi, putriku menyukaimu." Pak hartawan menatapnya penuh harap.
"Tapi aku benar-benar tidak bisa." Aldo meremas jarinya sendiri.
"Kau tidak usah terburu-buru. Hari ini kau jemput putri ku ke kampus, dia sedang tes wawancara di kampusnya. Aku harap dengan kalian sering bertemu akan merubah keputusan mu dan melahirkan benih-benih cinta." Pak hartawan memegang tangan Aldo.
__ADS_1
"Baiklah, tapi besok pagi aku harus pergi ke Vila, mereka sudah dapat tender yang baru jadi tidak bisa di tunda lebih lama." Jelas Aldo lagi.
"Aku setuju." Pak hartawan tersenyum lega.
Berbeda dengan Aldo. wajahnya menjadi kusut setelah keluar dari ruangan bosnya itu. mau tidak mau dia harus menjemput anak kesayangan bos nya itu, demi Reva, "Ya demi istriku, jangan sampai dia terkena masalah apapun." Ucapnya sambil melakukan mobilnya.
Di luar kampus, sudah terlihat dari jauh Bella sudah menunggu dengan wajah yang sumringah. ketika mobil Aldo berhenti dia sudah tidak sabar ingin segera masuk. Aldo turun membukakan pintu untuknya, tentu saja itu membuatnya sangat bahagia. Bibirnya tak henti tersenyum duduk di samping pria ganteng dan fresh seperti artis Korea. Gadis Remaja tentu akan bertekuk lutut tanpa di lirik sekalipun.
"Oppa, terima kasih sudah menjemputku." Ucapnya setelah mobil yang di tumpanginya melaju.
"Iya." Aldo menjawabnya singkat.
Detelah itu tak ada percakapan lagi, hingga sampai di rumah kediaman Hartawan. Gadis itu turun dengan perasaan berbunga-bunga.
***
Tiba di rumah, Aldo langsung menuju kamar sudah tak sabar bertemu istrinya.
"Sayang." Aldo mencium kening istrinya yang baru saja selesai sholat Isya.
"Kenapa baru sholat sekarang ini sudah setengah sembilan. "Aldo melihat jam tangannya.
"Tadi aku mengobrol dulu dengan bi Tuti, sambil menunggumu pulang. Apa kau sudah makan?" Reva melepas jas suaminya.
"Sudah."Ucapnya.
Aldo duduk di ranjang, dia menarik Reva duduk di pangkuannya. Memeluk pinggang ramping dan membelai rambut yang halus bergelombang. Setiap hari dia selalu melakukan itu, tak pernah bosan menikmati wajah cantik yang selalu ada dalam ingatannya.
"Besok kita kunjungan kerja di Vila, aku akan pergi bersamamu." Ucapnya lagi.
"Vila?" Ucap Reva seperti mengingat sesuatu.
"Iya, di tempat kita pertama kali bertemu, dan aku jatuh cinta padamu." Ucapnya dengan binar jatuh cinta selalu ada di matanya.
Reva tersenyum lalu menunduk, mengingat semuanya.
"Tidak boleh mengingat apapun, selain aku. Hanya aku. " Aldo berbisik di dekat telinganya.
"Aku tidak mengingatnya." Reva mengerucutkan bibirnya.
"Kau harus siap-siap, kita akan menghabiskan waktu bersama. Dan .... Malam bersama ." Bisiknya lagi membuat wajah Reva memanas, degup jantung nya tak karuan.
__ADS_1